Jumat, 16 Desember 2016

Sepak Bola dan Republik Ini

Sepak Bola dan Republik Ini
M Subhan SD  ;   Wartawan Senior KOMPAS
                                                    KOMPAS, 15 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Haarlem, Belanda, musim dingin pada 1914-1916. Kompleks lapangan bola HFC di Spaanjardslaan (Jalan Spanyol) bersalju. Tan Malaka, pejuang bangsa yang kala itu berstatus murid sekolah guru dan masih berusia belasan tahun, bermain untuk klub (bond) Vlugheid Wint. Ia satu-satunya pemain asing asal Hindia Belanda (sebutan Indonesia saat itu) di klub itu. Posisinya di lini depan, sebagai penyerang atau striker. Kalau bermain, tanpa sepatu alias bertelanjang kaki, seperti kebiasaan anak-anak di Hindia Belanda. Namun, gerakannya sangat cepat dan lincah. Serangannya begitu cepat, kerap merepotkan barisan pertahanan lawan. Dengan cepat, Tan Malaka mencuri perhatian penonton.

"Sebagai anggota salah satu perkumpulan sepak bola di Haarlem, saya dengan setia main dalam pertandingan setiap minggu di Haarlem atau di desa-desa di sekitarnya. Saya sama sekali tidak berpikir untuk melindungi diri dalam musim salju, dan andai kata saya memikirkannya, pasti saya tidak akan melindungi diri saya," tulis Tan Malaka (Harry A Poeze, Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik I, 1988). Ia memang cuek dengan dirinya (kemudian menderita sakit paru-paru), tetapi menurut teman-temannya, kala itu Ip (panggilan akrab Tan Malaka) sudah mulai menyinggung soal kemerdekaan bagi tanah airnya atau keinginannya untuk memajukan bangsa.

Sepak bola adalah olahraga terpopuler di jagat ini. Sepak bola pun dipandang sebagai alat untuk mempersatukan bangsa. "Kita ingin sepak bola mempersatukan, bukan malah menjadikan kita tidak satu," ujar Presiden Joko Widodo seusai menonton laga final Piala Presiden di Gelora Bung Karno, Jakarta, 19 Oktober 2015. "Olahraga (sepak bola) memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan menyatukan orang-orang," kata pemimpin Afrika Selatan, Nelson Mandela, saat negaranya menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010.

Memang, sepak bola mengajarkan semangat tinggi, kerja tim, sportivitas, hingga soliditas dan kebersamaan. Jujur saja sekarang bangsa ini tengah terkotak-kotak. Dalam tiga bulan ini saja publik terbelah terkait reaksi terhadap dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Sampai-sampai ruang publik pun terasa sumpek. Pilar-pilar kebangsaan dan kebinekaan seakan digerogoti karat. Ujaran kebencian, fitnah, dan amarah membuat oksigen kehidupan menipis.

Selasa (13/12) lalu saja kemarahan dan "kegilaan" seperti meletup di mana-mana. Di Sabu Raijua, ada seorang warga tak waras menikam tujuh siswa SD saat mereka belajar di kelas. Warga yang marah lalu mengeksekusi pelaku di kantor polisi. Di Jakarta, ada pegawai Mahkamah Agung marah dan mencakar seorang polisi di jalanan di Jakarta Timur. Di Bandung, delapan warga ditikam seorang pemuda. Seorang warga di antaranya tewas. Begitu mudah kemarahan membuncah.

Kemarahan dan kebencian membuat atmosfer negeri ini "berkabut". Kemarahan adalah asupan yang tidak sehat bagi pikiran masyarakat. Justru menjadi pengganggu bagi proses bernegara dan berbangsa. Energi bangsa pun terbuang percuma. Padahal, sekarang negeri ini tengah ditimpa bencana demi bencana. Banjir bandang di Garut dan Bandung; longsor di Lebak, Karanganyar, Trenggalek; kapal karam di perairan Batam, pesawat hilang di perairan Kepulauan Riau dan Papua; dan puncaknya gempa bumi yang merusak Pidie Jaya, Aceh, yang memakan korban lebih dari 100 jiwa.

Di tengah situasi yang berat itu, tak ada cara lain kecuali bangsa ini harus benar-benar kompak. Beda pandangan, beda partai politik, beda suku, beda agama; tetapi inilah Indonesia kita. Tanpa kekompakan, takkan ada kekuatan yang dimiliki bangsa ini. Senyampang Piala AFF 2016, seperti kata Jokowi dan Mandela, semoga sepak bola bisa menyatukan kembali masyarakat. Piala AFF 2016 semestinya menjadi momentum untuk memperlihatkan keindonesiaan bersama-sama.

Dalam laga pertama pertandingan final di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (14/12) malam, tim "Garuda" menunjukkan kehebatannya mengungguli juara bertahan Thailand dengan skor 2-1. Indonesia mampu membalikkan prediksi. "Sepak bola adalah magical game," kata David Beck-ham, mantan kapten tim Inggris. Semangat menyala-nyala terus dikobarkan untuk menghadapi laga berikutnya di "Negeri Gajah Putih". Saatnya sepak bola menjadi momentum untuk menunjukkan kembali kebersamaan bangsa ini. Agar Republik-seperti digagas Tan Malaka pada 1924 silam-ini terus jaya.