Rabu, 07 Desember 2016

Merayakan Kebinekaan

Merayakan Kebinekaan
Romanus Ndau Lendong  ;   Dosen Binus Jakarta;
Program Doktor Politik Universitas Indonesia
                                         MEDIA INDONESIA, 06 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

AKSI 212 berakhir sudah. Jauh dari yang dikhawatirkan, aksi berjalan aman, tertib, dan lancar. Bayang-bayang kekerasan yang sebelumnya terasa mengerikan tak terbukti. Indonesia sekali lagi menegaskan diri sebagai bangsa beradab, toleran, dan demokratis. Kepada rakyat kita patut berterima kasih. Pandangan yang mengecilkan rasa kritis dan kesadaran rakyat tak lagi relevan. Sebaliknya, rakyat kini menjadi role model pengembangan demokrasi. Demokrasi, bagi rakyat, tak lagi sekadar jargon, tetapi perilaku hidup yang memancarkan kejujuran, kesantunan, saling menghormati, dan toleransi.

Ini kabar baik bagi masa depan Indonesia. Pendidikan membuat rakyat semakin cerdas, kritis, dan mandiri. Nelson Mandela menegaskan pendidikan membuat rakyat maju, bisa menolong diri sendiri, dan mampu memilah serta memilih informasi. Pidato-pidato elite dan gempuran informasi beraroma kebencian dan balas dendam yang tersebar masif di media sosial tak membuat rakyat gelap mata. Tak sudi mereka bertaruh hidup untuk sesuatu yang tidak jelas, apalagi sekadar memuluskan gairah politik rendahan segelintir elite.
Meski demikian, demokrasi sejati masih memerlukan perjuangan terus-menerus sebab ada saat demokrasi harus memasuki fase-fase gawat, terutama menyongsong Pilkada Serentak 2017 dan Pemilu 2019. Sudah lazim hasrat akan kekuasaan membuat para elite terjebak dalam praktik-praktik menghalalkan segala cara. Jadi, demokrasi tidak bergantung pada kesadaran elite, tetapi lahir atas inisiatif rakyat. Pendidikan dan penyadaran rakyat akan luhurnya demokrasi mesti terus dilanjutkan. Ini langkah strategis untuk menjauhkan bangsa ini dari ancaman disintegrasi sosial dan politik.

Pribadi multiwajah

Konflik hari-hari ini seakan menjustifikasi benturan peradaban yang dikemukakan Samuel P Huntington. Dalam bukunya The Clash of Civilization and the Remaking of the World Order (1996), Huntington menebarkan tesis benturan antarperadaban. Inti tesis itu ialah benturan antarperadaban akan menjadi sumber ketegangan baru pascaberakhirnya perang dingin. Kekeliruan besar yang dilakukan Huntington ialah menempatkan agama sebagai sumber tunggal nilai peradaban. Seturut analisisnya, jumlah peradaban paralel dengan jumlah agama. Setidaknya ada empat peradaban utama yang akan saling bersaing, yakni Islam, Hindu, Kristen, dan Buddha.

Betul agama menjadi sumber penting nilai peradaban, tetapi bukan satu-satunya. Sumber nilai lain yang tidak boleh diabaikan ialah adat istiadat, norma sosial, ras, sistem kerja, organisasi sosial, pilihan politik, dan seterusnya. Tegasnya, manusia bukan makhluk beridentitas tunggal, pribadi multiwajah. Tesis Huntington benar-benar keliru sehingga sudah semestinya dikaji ulang.

Tidak sulit rasanya membuktikan manusia ialah pribadi multiwajah. Contohnya, selain sebagai orang Katolik, saya orang Flores, seorang dosen, penulis, Kader Partai Golkar, Kader Kosgoro 1957, aktivis LSM, dan masih banyak lagi. Di atas segalanya, saya warga negara Indonesia yang memiliki hak politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Atas dasar itu, saya berhak mendapatkan perlakuan yang sama di segala bidang kehidupan.

Tidak tepat kalau saya diperlakukan berbeda semata-mata karena saya beragama Katolik. Di luar organisasi keagamaan, tidak ada posisi yang menjadikan agama sebagai preferensi. Saya juga tidak bisa diperlakukan semena-mena atau menanggung risiko semata-mata karena ada orang Katolik yang melakukan kesalahan. Hukum nasional kita mengajarkan setiap orang diperlakukan sesuai dengan tindakannya. Pemilahan ini penting agar kita terhindar dari fanatisme dangkal yang kerap kali menjadi sumber amarah dan darah.

Indahnya keragaman

Seorang filsuf mengatakan manusia seakan dilempar begitu saja ke tengah dunia. Dia tidak berhak memilih ayah dan rahim ibu yang melahirkannya. Dia juga tidak berhak merekomendasikan warna kulit, agama, dan tanah airnya. Itulah keterbatasan eksistensial manusia yang harus diterima secara sadar dan wajar. Bagi bangsa Indonesia, keragaman suku, agama, budaya, dan ras ialah kekayaan sehingga harus diterima dan dikembangkan. Keragaman itulah yang membentuk Indonesia ibarat taman raksasa yang indah dan memesona. Keragaman membuat kita saling belajar, bertoleransi, dan hormat-menghormati. Di atas segalanya, keragaman itu menjadi dasar kita untuk membangun mimpi besar menjadi bangsa Indonesia yang bersatu, maju, mandiri, adil, dan sejahtera.

Toleransi dan tolong-menolong antarumat berbeda agama sesungguhnya sudah lama dipraktikkan rakyat di berbagai daerah. Di Larantuka, Flores, rakyat berbeda agama sudah terbiasa saling membantu. Saat Natal dan Paskah, umat Islam menjadi panitia dan menjaga keamanan. Demikian sebaliknya. Saat Lebaran, tanpa pamrih orang Katolik menjamin keamanan dan ketertiban. Semua terasa indah. Pengalaman serupa tentu saja terjadi di tempat lain di negeri ini. Hidup di antara sesama dengan keyakinan keagamaan yang sama tidak selamanya berjalan harmonis. Selama kuliah di Fakultas Filsafat UGM pada 1990-an, saya mempunyai pengalaman menarik. Awalnya, saya tinggal di rumah indekos yang pemiliknya beragama Islam. Orangnya rajin beribadah, ramah, dan baik hati. Kalau terlambat kiriman uang dari orangtua, pemilik rumah indekos menyediakan makanan secara layak tanpa menanyakan kapan bisa membayarnya. Padahal pemilik rumah indekos itu hanya berjualan di pasar dan hidup sederhana.

Inilah pengalaman terbaik selama saya di Yogya. Di waktu lain, saya tinggal di rumah indekos yang pemiliknya satu agama dengan saya. Awalnya saya membayangkan pasti pemilik rumah indekos ini lebih baik. Ternyata itu hanya ilusi. Orangnya jarang senyum dan bertegur sapa. Bayaran indekos tidak boleh terlambat. Aturannya sangat ketat. Di mana-mana tertempel tulisan: ‘Dilarang Ribut’, ‘Dilarang Menerima Tamu’, ‘Tamu Dilarang Kencing’, dan sebagainya. Karena jengkel, di suatu malam saya mencopot semua tulisan tersebut dan menempelkan tulisan baru: ‘Dilarang Melarang!’

Saat hari raya tiba, saya membayangkan akan ikut merasakan nikmatnya hidangan ketika pemilik rumah indekos yang kaya raya ini merayakan ‘Natal Bersama’ atau ‘Paskah Bersama’. Namun, lagi-lagi itu tidak terjadi. Semua hidangan hanya nikmat di mata karena tak pernah ditawarkan ke anak-anak indekos. Bahkan, saat ke gereja setiap pagi di Kapel Kolese de Brito, pemilik rumah indekos ini naik motor sendirian, sementara saya susah payah berjalan kaki. Contoh ini tentu tidak memadai. Apa yang hendak saya katakan ialah keindahan hidup bersama tidak dengan sendirinya didapatkan saat kita berada di antara sesama dengan keyakinan keagamaan yang sama. Sebaliknya, hidup di antara orang yang berbeda keyakinan keagamaan belum tentu berbuah konflik. Semua bergantung pada kualitas individu. Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk menolak kebinekaan selain merayakannya.