Rabu, 07 Desember 2016

Memanfaatkan, Bukan Memiliki

Memanfaatkan, Bukan Memiliki
Rhenald Kasali   ;   Pendiri Rumah Perubahan
                                              KORAN SINDO, 01 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PARA pengelola korporasi “era lama”, termasuk dari kalangan BUMN, perlu belajar dari cara “orang-orang muda” mengelola bisnis. Bagi mereka, di era akses dan peradaban open platform ini, “memiliki” sama sekali tidak penting. Sebaliknya mereka malah lebih memilih berbisnis dengan konsep berbagi resources, atau kita menyebutnya sharing economy.

Mereka juga menjalin kerja sama saling menguntungkan dengan para pemilik aset dan menjadikannya sebagai mitra. Ini disebut juga dengan istilah collaborative economy. Sebagian orang menganggap sharing economy dan collaborative economy sekadar cara baru dalam jual-beli. Salah besar! Konsep itu bukan sekadar cara baru, tapi justru sebuah perubahan besar.

Dulu, melalui media sosial, kita hanya bisa saling berbagi konten. Kini media sosial sudah menjadi medium bagi kita untuk saling berbagi barang, jasa, transportasi, ruang, dan bahkan uang. Semuanya terjadi dalam skala massif dan dengan kecepatan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Bayangkan, kini kita tak lagi hanya menjadi konsumen, tetapi sekaligus juga produsen, penjual atau distributor.

Inilah lanskap bisnis baru yang membuat “memiliki” menjadi tidak relevan lagi dan malah bisa berubah menjadi beban. Anak-anak muda tadi mengajarkan bahwa jauh lebih penting saling berbagi, saling memanfaatkan dan berkolaborasi, ketimbang memiliki.

Era Baru

Di lingkungan BUMN, pernah pada masanya kita menyaksikan betapa hasrat memiliki yang begitu besar pada akhirnya membuat banyak aset menjadi mangkrak alias idle. Lahan puluhan hektar hanya menjadi semak belukar. Bangunan rusak dan tidak terawat.

Alat-alat produksi yang dibeli dengan harga mahal kini berkarat karena tidak pernah dipakai. Manusia yang berada di dalamnya tidak menjadi sumber daya, karena tak pernah diberdayakan. Dan, masih banyak lagi potret buram sekadar karena ingin memiliki lainnya.

Tapi ini bukan hanya BUMN, kebanyakan orang yang berlebih juga sama saja. Kata kawan saya, filosofi mereka nice to have. Mau diapakan aset-aset tersebut? Banyak pengelola aset negara yang tak tahu mesti berbuat apa. Birokrasi didesain begitu rumit, sehingga membuat para eksekutifnya takut melangkah dan tidak berani mengambil keputusan.

Sementara, jajaran di atasnya juga sudah terlalu lama hidup dalam tradisi “menunggu petunjuk”. Akhirnya seiring berjalannya waktu, aset-aset pun tadi berubah menjadi liabilities.

Kini kita hidup di era baru. Era MEA atau Masyarakat Ekonomi ASEAN, era global. Persaingan mengalir deras. Setiap tetesan keringat harus membuahkan hasil. Setiap aset harus diberdayakan. Maka, tak sepantasnya lagi ada aset-aset negara yang mangkrak, apalagi berubah menjadi beban.

Itu sebabnya saya berharap bahwa apa yang dilakukan oleh anak-anak muda tadi—yang lebih mementingkan berbagi dan berkolaborasi, dan berbisnis tentu saja, ketimbang memiliki atau menguasai—bisa memberi banyak inspirasi untuk mengelola korporasi dengan cara-cara baru. Baiklah apa yang dilakukan oleh anak-anak muda? Saya cuplik saja beberapa kisahnya.

Anda tahu Airbnb? Sebagian besar anak muda paham benar bisnis ini, Brian Joseph Chesky mendirikan perusahaan aplikasi pemesanan kamar/rumah/vila secara online ketika usianya baru 28 tahun.

Ia mendirikan Airbnb pada Agustus 2008. Lewat konsep kolaborasi, dalam waktu hanya delapan tahun, Airbnb sudah mengelola 1,2 juta unit kamar/rumah/vila. Jauh melebihi Hilton, Grup InterContinental atau Marriott yang masing-masing “hanya” mengelola kurang dari 700.000 kamar hotel.

Padahal, InterContinental atau Marriott sudah mengelola bisnisnya lebih dari 50 tahun. Bahkan, kini usia Hilton sudah mendekati satu abad.

Iya, Airbnb kini menjadi perusahaan hospitality terbesar di dunia. Ini berkat konsepnya memberdayakan aset-aset idle. Chesky mempertemukan para pemilik kamar/rumah/vila yang ruangnya tidak terpakai dengan mereka yang membutuhkan penginapan dengan harga terjangkau.

Kini, bisnis Airbnb hadir di lebih dari 34.000 kota di 190 negara. Kata Chesky, “Kalau Marriott dalam waktu setahun ke depan mau menambah 30.000 kamar, Airbnb sanggup melakukannya hanya dalam waktu dua minggu.” Pongah, tetapi itu sangat mungkin.

Kisah Travis Kalanick dengan Uber Taxi pun serupa. Kalanick mendirikan Uber pada Maret 2009, saat usianya baru 33 tahun. Hanya dalam waktu tujuh tahun, Uber menjelma menjadi perusahaan dengan pendapatan USD1,5 miliar atau lebih dari Rp20 triliun. Uber kini beroperasi di 507 kota di 66 negara dan mempekerjakan 6.700 karyawan.

Melalui Uber Taxi, Kalanick mempertemukan para pemilik mobil yang kursi di sebelah atau belakangnya kosong dengan mereka yang membutuhkan tumpangan. Memang tidak gratis, tapi tarifnya terjangkau. Kalanick pun memungut komisi dari jasanya itu.

Kisah serupa kita temukan pada Grab Taxi, Grab Bike atau GoJek, yang semuanya sudah beroperasi di Indonesia, dan dalam waktu singkat tumbuh besar, mendominasi pasar, dan melibatkan ribuan pekerja.

Seandainya Saja

Hanya, yang merepotkan, bisnis mereka memang men-disrupsi bisnis-bisnis sejenis yang lebih dahulu hadir dan mapan. Maka, tak heran kalau kehadiran mereka memicu penolakan—meski tidak dari para penggunanya. Di Bali, Airbnb membuat pasar bisnis perhotelan turun hingga 35%. Hadirnya Uber Taxi dan Grab Car membuat bisnis taksi terpangkas 20%.

Beberapa pengamat yang sinis menyebut bisnis ala Airbnb atau Uber sebagai kapitalisme gaya baru atau neo-capitalism. Sebutan yang menggambarkan betapa kita sudah terlalu lama hidup dalam suasana saling curiga, atau kita tahunya hanya ekonomi klasikal saja. Padahal dunia sudah berubah, dikotomi juga berubah. Sebagian lain menyebut persaingannya tidak fair, karena platform bisnisnya tidak sama. Dan, lain sebagainya.

Kita lupakan saja debat tersebut. Bagi saya, itulah risiko sebagai pembaharu, dalam bidang apa pun. Namun, konsep berbisnis mereka membuat saya merenung, “Seandainya saja BUMN kita dan lembaga-lembaga lainnya bisa meniru konsep bisnisnya, memanfaatkan aset-aset idle, saling berbagi dan berkolaborasi. Mungkin banyak perusahaan kita dalam waktu singkat bisa menjadi raksasa-raksasa baru dan masuk dalam daftar Fortune Global 500. Seandainya saja…..” Tapi punyakah mereka porsi kaum muda yang cukup?