Rabu, 07 Desember 2016

Dari Andalusia hingga Sunda Kelapa

Dari Andalusia hingga Sunda Kelapa
Ahmad Baedowi  ;   Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
                                         MEDIA INDONESIA, 05 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SEBELUM ajal menjemput, jikalau ada keluasan rezeki dan panjang umur, saya sungguh mengidamkan untuk bisa berkunjung ke Kota Andalusia di Spanyol, sebuah ikon dari perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan Islam di Eropa.

Andalusia adalah sebuah wilayah otonomi yang paling padat penduduknya, dan yang kedua terbesar dari 17 wilayah yang membentuk Spanyol.

Secara lughawi, nama Andalusia berasal dari nama bahasa Arab Al Andalus, yang merujuk kepada bagian dari jazirah Iberia yang dahulu berada di bawah pemerintahan muslim selama delapan abad.

Sebagai pintu masuk perkembangan dunia Islam di daratan Eropa, Andalusia jelas meninggalkan banyak jejak dan peninggalan yang patut dikenang dan diidolakan kembali sebagai tonggak awal sebuah rencana perjuangan.

Tentu, kita masih ingat akan sejarah kedatangan Thariq bin Ziyad bersama pasukannya pada Mei 711 M yang memasuki Selat Gibraltar di Teluk Algeciras, sebagai cikal bakal perkembangan kebudayaan Islam dan kerajaan-kerajaan Islam yang mulai bercokol di tanah Andalusia.

Dari sini lahir tokoh-tokoh muslim ternama yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan seperti ilmu agama Islam, kedokteran, filsafat, ilmu hayat, ilmu hisab, ilmu hukum, sastra, ilmu alam, dan astronomi.

Kita bisa mengingat nama-nama kesohor seperti Ibnu Thufail (1107-1185), yang merupakan guru dari Ibnu Rusyd (Averroes), yang karya terbesarnya ialah Kitab Kuliyah fith-Thibb (Encyclopaedia of Medicine) yang terdiri dari 16 jilid dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada 1255 oleh seorang Yahudi bernama Bonacosa, kemudian buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan nama General Rules of Medicine sebuah buku wajib di universitas-universitas di Eropa.

Karya lainnya ialah Mabadil Falsafah (pengantar ilmu falsafah), Taslul, Kasyful Adillah, Tahafatul Tahafut, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, tafsir Urjuza (menguraikan tentang pengobatan dan ilmu kalam), sedangkan dalam bidang musik, Ibnu Rusyd telah menulis buku yang berjudul De Anima Aristotles (Commentary on the Aristotles De Animo).

Ibnu Rusyd juga telah berhasil menerjemahan buku-buku karya Aristoteles (384-322 SM), sehingga beliau dijuluki sebagai Asy-Syarih (komentator).

Berkat Ibnu Rusydlah, dunia dapat menikmati karya-karya Aristoteles.

Selain itu, beliaupun mengomentari buku-buku Plato (429-347 SM), Nicolaus, Al-Farabi (874-950), dan Ibnu Sina (980-1037).

Ibnu Rusyd ialah seorang yang cerdas dan berpikiran ke depan sehingga sempat dituduh sebagai orang Yahudi.

Karena pemikiran-pemikirannya, dia pernah diasingkan ke Lucena dan sebagian karyanya dimusnahkan.

Doktrin Averroisme mampu memengaruhi Yahudi dan Kristen, baik Barat maupun Timur, seperti halnya memengaruhi Maimonides, Voltiare dan Jean Jaques Rousseau, maka boleh dikatakan bahwa Eropa telah berutang budi pada Ibnu Rusyd.

Selama delapan abad lamanya Islam berkuasa di Andalusia sejak 711 M hingga berakhirnya kekuasaan Islam di Granada pada 2 Januari 1492 M/2 Rabiulawal 898 H tepatnya 520 tahun lalu, Andalusia dalam masa kejayaan Islam telah melahirkan cendekiawan-cendekiawan muslim yang tertulis dengan tinta emas di sepanjang zaman.

Karya mereka yang masih ada banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa di penjuru dunia.

Satu hal yang harus kita renungkan sekarang, pelajaran apa yang bisa diambil dari sejarah Andalusia dan bisa dikembangkan bagi kemaslahatan umat Islam Indonesia?

Islam Indonesia

Jika kita menengok sejarah Islam di Indonesia, sebenarnya Sunda Kelapa pernah menjadi salah satu pusat pengetahuan, khususnya pengembangan dan pengajaran agama Islam serta pusat perdagangan terpenting di dunia sejak abad ke-15.

Belajar dari kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh Sunda Kelapa dan kondisi aktual negara-negara lain, saat ini dapat disimpulkan bahwa benang merah pemecahan masalah yang membelit ummat Islam ialah peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Hanya di tangan tenaga SDM yang berkualitas, keuntungan komparatif (comparative advantage), dan keuntungan kompetitif (competitive advantage) dari modal kapital, modal sosial, dan modal spritual umat Islam dapat dicapai untuk meningkatkan kualitas hidup komunitas Islam.

Selain masalah SDM, masalah lain yang menurut saya juga perlu untuk mendapatkan atensi ialah masalah kelembagaan.

Dalam bidang kelembagaan, institusi-institusi yang mengusung napas Islam seperti lembaga keulamaan, lembaga kemubaligan, lembaga kemasjidan, termasuk beragam Islamic Center yang tersebar di mana-mana, belum memberikan nilai tambah bagi peningkatan kualitas hidup umat.

Ragam lembaga keislaman tersebut belum mampu memberikan kontribusi nyata bagi penguatan modal kapital, modal sosial, dan modal spritual umat Islam.

Pada tatanan kelembagaan pendidikan secara umum, tantangan riil abad ke-21 bagi sektor lembaga pendidikan ialah munculnya high-pressured terhadap kondisi aktual lembaga pendidikan (sekolah, akademi, dan universitas) zaman sekarang dari berbagai pihak, baik yang menyangkut performance, quality assurances, dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan.

Dalam dunia industri pada abad ke-19, sistem pendidikan yang dirancang dalam satu ukuran untuk semua (one-size-fits-all) cukup membantu mengurangi pelecehan terhadap tenaga kerja anak dan membawa kesempatan bagi dunia luas. Pada 1950-an, banyak orang mampu mendapatkan pekerjaan layak dengan kemampuan yang terbatas.

Jujur harus diakui bahwa kesalahpahaman tentang Islam di Indonesia sesungguhnya diakibatkan kurangnya informasi tentang keberadaan Islam di Indonesia yang sesungguhnya.

Kekurangan informasi tersebut mungkin saja disebabkan beberapa hal.

Pertama, kurangnya penelitian-penelitian yang mendalam yang didasarkan pada sumber-sumber lokal (manuscript), sebagai bagian utama dari khazanah peradaban Islam Asia Tenggara.

Kedua, masih minimnya kajian-kajian yang dilakukan sarjana muslim Indonesia, yang tentu lebih memahami tentang keislaman di wilayahnya.

Ketiga, meski sudah banyak studi-studi yang telah dilakukan, hasil studi tersebut tidak dipublikasikan dan kemudian dikomunikasikan dengan dunia international sehingga informasi tersebut tidak terbaca komunitas intelektual yang lebih luas.

Keempat, ketiadaan suatu pusat kajian Islam yang lengkap--dikelola dengan baik, melakukan kajian yang terus-menerus maupun dilengkapi dengan ahli-ahli yang qualified sehingga mau tidak mau mereka berkonsultasi dengan data-data yang telah tersedia, yang sebagian besar ialah tulisan-tulisan para sarjana Barat dan tulisan-tulisan sederhana administrator kolonial sebagai bagian dari laporan birokrasi.

Jangan-jangan karena interaksi pengetahuan yang salah dari Islam Indonesia inilah yang menyebabkan masyarakat muslim Indonesia menjadi permissive dan mudah marah karena di antara mereka tak terbangun kesadaran tentang pentingnya ilmu pengetahuan yang dapat menjadikan seseorang lebih bijaksana.