Senin, 05 Desember 2016

Guru, Radikalisme, dan Dunia Maya

Guru, Radikalisme, dan Dunia Maya
Siti Muyassarotul Hafidzoh  ;   Guru , Alumnus Magister Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta
                                         MEDIA INDONESIA, 02 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

TIDAK bisa dimungkiri bahwa persoalan terorisme merupakan masalah serius yang dihadapi bangsa ini. Bahkan sekolah harus benar-benar memberikan perhatian khusus terhadap pola pembelajaran bagi anak-anak didik, bagaimana mengantisipasi atau menihilkan pengaruh terorisme. Yang pasti tantangan pendidikan sekarang ini sangat kompleks. Salah satunya ialah terorisme. Sekolah tidak bisa tinggal diam dengan persoalan ini karena tidak sedikit anak muda lulusan sekolah banyak tergabung dalam barisan teroris.

Pendidikan di sekolah tidak cukup diberikan apa adanya, tetapi harus didesain dengan berbagai materi baru atau pelatihan sehingga siswa tidak buta dalam membaca laju peradaban zaman yang makin kencang. Kalau pengajar salah memberikan materi ilmu pengetahuan, siswa bisa terjerumus dalam peta terorisme global yang membahayakan. Guru menjadi faktor penentu karena siswa di masa depan jangan sampai menjadi korban, tetapi menjadi solusi bagi berbagai persoalan bangsa.

Di sinilah tantangan serius guru dan sekolah dipertaruhkan sehingga sekolah menjadi rujukan utama siswa dalam membaca peta dunia yang terus bergerak. Wajah terorisme hari ini mengalami perkembangan baru. Menurut Agus Surya Bekti (2015), terorisme menjadikan media sosial sebagai instrumen yang tidak hanya menghadirkan propaganda baru yang mengancam NKRI, tetapi juga didesain untuk merekrut kelompok remaja. Beberapa contoh dari berbagai negara yang bergabung dengan IS ke Suriah ialah kalangan remaja dengan kisaran usia 18-25 tahun yang sebagian karena terpengaruh melalui media sosial.

Anehnya lagi, dunia maya mampu merekrut kalangan terdidik dan kelas menengah. Agus mencontohkan seorang Ayman al-Zawahiri, pemimpin Al-Qaeda pengganti Osama, pada 2005 menuliskan pesan kepada pemimpin Al-Qaeda di Irak (AQI) Abu Musab al-Zarqawi, 'Kita sedang dalam peperangan dan separuh lebih dari peperangan itu terjadi di media. Kita sedang dalam peperangan media demi merebut hati dan pikiran umat kita'. Jelas sekali, peperangan media telah lama ditabuh kelompok teroris sebagai medan dan sekaligus strategi baru.

Pada 1988 Osama bahkan telah membentuk departemen media di dalam struktur organisasinya. Kini kehadiran media internet telah membuat medan perang itu semakin rumit. Media internet dimanfaatkan kelompok teroris sebagai kontranarasi dari media mainstream. Fakta ini harus menyadarkan bangsa Indonesia, khususnya lembaga pendidikan. Ini juga berangkat dari penelitian Sidney Jones, peneliti terorisme dari International Crisis Group (ICG), yang melihat sekolah banyak mengajarkan intoleransi, termasuk lahir dari rohis yang menjamur.

Komunitas rohis sering kali mengajarkan Islam yang marah sehingga melahirkan corak pemikiran keislaman siswa yang intoleran (ICG: 2011). Demikian juga dilaporkan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta (2012) dan Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Pascasarjana UGM (2012) yang menjelaskan sikap intoleransi banyak dilakukan di kalangan guru agama.

Tantangan pendidikan

Sekolah ialah sumbernya ilmu pengetahuan. Perilaku masyarakat dan bangsa ini sangat terkait dengan apa yang dipelajari dan diajarkan di sekolah. Dari sini, sekolah mempunyai peran penting dalam pembentukan masyarakat. Guru sebagai ujung tombak sekolah harus berada di garda paling depan dalam mewujudkan sekolah sebagai lembaga yang menghadirkan wacana dan aksi keberagamaan yang jauh dan menjauhkan terorisme. Untuk itu, guru harus bergerak dan bangkit dengan penuh semangat sehingga sekolah memberikan bekal yang kuat bagi peserta didik dalam menjawab problem terorisme global.

Ada beberapa hal yang mesti dilakukan guru. Pertama, bagi guru agama, sudah saatnya menghadirkan wajah ajaran agama yang ramah, bukan agama yang marah. Ini harus diperankan guru agama dengan baik sehingga ajaran agama yang diberikan kepada siswa membangun mental siswa yang menenteramkan dan menyejukkan, bukan agama yang marah dan merusak orang lain. Guru agama juga harus membaca peta gerakan terorisme global sehingga tidak salah tafsir dalam memberikan penjelasan kepada siswa ihwal berbagai tragedi terorisme global yang mesti dipahami dengan baik oleh siswa.

Kedua, guru, apa pun mata pelajarannya, harus mengajak siswa untuk cinta kepada tanah air bernama Indonesia. Ajaran cinta tanah air ini akhir-akhir ini mulai pudar sehingga siswa menjadi kosong dan hampa dalam memahami kehidupan berbangsa dan bernegara. Cinta tanah air tentu saja harus dibarengi dengan berbagai kisah perjuangan para pendiri bangsa ini dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Jangan sampai siswa lupa dengan sejarah bangsanya sendiri. Atau dalam ungkapan Bung Karno, "Jangan sekali-kali melupakan sejarah (jasmerah)."

Ini akan mampu membentuk mental siswa yang cinta tanah air yang berpijak pada Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Ketiga, guru dan sekolah dalam berbagai kegiatan dan event harus menginternalisasikan nilai-nilai keindonesiaan untuk meneguhkan karakter siswa. Nilai-nilai luhur bangsa harus masuk berbagai ekstrakurikuler sehingga siswa menyelami makna luhur yang diciptakan para pendahulunya.

Nilai-nilai luhur bangsa harus selalu dihidupkan sehingga siswa mengenal lebih mendalam nilai hidup yang sudah tertanam ratusan tahun dan terbukti memberikan daya kolektivitas dan kedamaian bagi bangsa ini. Guru mesti mampu mengkreasikan dengan berbagai inovasi sehingga siswa mendapatkan sentuhan yang alamiah dan berkepribadian. Tiga hal itu harus digerakkan bersama-sama oleh seluruh guru. Siswa harus dilibatkan lebih aktif sehingga guru dan siswa mempunyai sinergi dan dialektika. Bisa juga menggunakan kreativitas lain, yang penting mampu membentuk karakter siswa yang cinta tanah airnya, toleran, menghargai jasa para pejuang, dan siap berjuang untuk Indonesia masa depan.

Desain ulang kurikulum

Tantangan terorisme global juga mesti dibarengi guru dengan memformat ulang desain kurikulum yang ada. Tantangan di depan mata selalu berkembang secara cepat, sedangkan desain kurikulum sudah baku sebagaimana dicetak Kemendikbud dan Kemenag. Untuk itu, dalam aplikasinya di kelas, guru harus mampu menghadirkan wajah kurikulum yang bisa menjawab berbagai problem aktual yang terus berkembang. Desain kurikulum tidak cukup hanya mengacu dalam kertas saja, tetapi juga mesti disinergikan dengan berbagai problem kemasyarakatan yang selalu muncul setiap saat.

Desain kurikulum bukan berarti mengganti kurikulum. Desain di sini ialah kemampuan guru untuk hadir dengan suasana dan pola yang menyegarkan, sesuai dengan problem yang sedang dihadapi siswa. Ini bukan saja membutuhkan belajar yang serius, tetapi guru juga mesti cerdas secara emosional dan rohani sehingga siswa mampu menangkap pesan universal setiap ilmu sebagai bekal kehidupan sehari-hari. Tantangan ini memang berat, tetapi jiwa guru harus selalu siap dengan 'takdir/jalan hidup' yang penuh keberkahan dan ketulusan.