Senin, 05 Desember 2016

Yang Tersisa dari Castro

Yang Tersisa dari Castro
M Alfan Alfian  ;   Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Jakarta
                                         MEDIA INDONESIA, 03 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

"Every country must be absolutely free to adopt the type of economic, political and social system that it considers convenient."
-Fidel Castro

BAGAIMANA menimbang perjalanan eksistensial pemimpin politik? Dari konteks warisan kepemimpinannya. Tak semua pemimpin disukai selamanya. Juga terhadap Fidel Castro, legenda Kuba yang wafat belum lama ini, dalam usianya yang ke-90. Castro telah menjadi bagian sangat penting dari sejarah Kuba. Titik-titik kisar sejarah masa kini negara itu tak lepas dari jejak-jejak Castro. Terlepas dari konsekuensi kebijakannya yang menuai pro-kontra, pelajaran penting kepemimpinan politik Castro terutama adalah konsistensinya.

Setidaknya, dia konsisten dengan gayanya dalam memimpin sekaligus pilihan sistem pengelolaan negara. Publik mengenal Kuba sebagai negeri yang sistem ekonomi dan politiknya bertahan hingga Castro meninggal. Kuba sering menjadi contoh negeri komunis yang masih bertahan selain Republik Rakyat Tiongkok. Castro memberangkatkannya dengan suatu revolusi. Jargon-jargonnya populis-sosialistik. Pilihan-pilihannya membentuk sistem tak lepas dari keyakinan ideologisnya. Semangat revolusinya rajin diekspresikannya melalui retorika panjang menembus regional Amerika Latin. Castro ilustrasi pemimpin paling lama yang bertahan dengan gaya revolusionernya.

Merujuk Castro, salah satu ciri utama model kepemimpinan revolusi ialah kepandaian sang tokoh mengeksplotasi isu-isu populis. Ada janji-janji yang jelas tentang kemakmuran rakyat di satu sisi, dan di sisi lain mobilisasi kekuatan rakyat untuk melawan kaum kapitalis yang suka berbuat tidak adil dan membuat yang lain miskin belaka.

Pemimpin revolusi memosisikan diri bak juru selamat bagi rakyatnya, dan biasanya secara sengaja memunculkan diri dengan ragam simbol kebesaran. Untuk mempertahankan dukungan politik, selain jargon-jargon populis, biasanya model pemimpin revolusi membuat sistem yang mengarah pada satu kekuatan politik atau partai tunggal.

Keunikan Castro, dia sudah eksis semasa Soekarno. Sebagaimana Che Guevara, Castro dan Bung Karno telah menjadi ikon penting pemimpin revolusi dunia ketiga. Demikian pula dengan Mahatma Gandhi di India dan Ayatullah Khomeini di Iran pada 1979. Khusus Castro dan Bung Karno, mereka demikian akrab pada zamannya. Dalam sebuah foto lama, Castro dan Bung Karno bertukar sesuatu yang menjadi ciri khas masing-masing. Castro berpeci, Bung Karno mengenakan topi yang biasa dipakai sahabatanya itu. Keduanya punya kesamaan khas berpidato. Mereka singa podium simbol eksistensi dunia ketiga. Benang merah retorika mereka menegaskan pentingnya kedaulatan dan kemandirian bangsa.

Sistem dunia

Kutipan di awal tulisan ini menegaskan pandangan Castro di saat setiap negara bebas dalam menentukan jenis-jenis sistem ekonomi, sosial, dan politiknya. Castro mengklaim memberangkatkan sistem negaranya dari visi keadilan yang ia perjuangkan.

"I have always fought for concrete facts, for justice," kata Castro. Dari visinya itu, ia kritis dengan kapitalisme dan praktiknya yang tidak berpihak pada kaum papa. Pandangan demikian menegaskan visinya yang ia ekspresikan ke dalam pilihan-pilihan politik yang anti-Amerika Serikat dan menjadi sekutu Uni Soviet di era Perang Dingin.

Baru pada tahun ini, hubungan Amerika Serikat dan Kuba membaik seiring dengan kebijakan politik pasca-Castro. Disebut pasca-Castro karena sesungguhnya sejak 2008 ia telah menyerahkan kekuasaannya kepada adiknya, Raul Castro. Pengalihan kekuasaan itu strategi keluar (exit strategy) Castro. Ia lengser dan cukup berposisi inspirasional. Kebijakan negara lebih berada di tangan Raul yang akomodatif.

Hal-hal di atas menegaskan pemimpin revolusi yang hadir dengan terobosan berbeda dengan rezim sebelummya, justru karena berbeda dalam menyikapi sistem dunia. Mereka cenderung memakai pendekatan yang secara substansi terangkum dalam teori ketergantungan (dependensia). Teori ini dikembangkan para pakar ekonomi politik Amerika Latin untuk membedakan dirinya dengan teori modernisasi dan pembangunan (developmentalism).

Intinya, kekuatan politik dunia tidak simetris. Negara-negara kaya dengan kuasa mereka mengisap yang lain sebagai bentuk neoimperialisme baru. Mereka memosisikan diri sebagai pusat yang mengendalikan negara-negara satelit, justru untuk melestarikan ketimpangan atas nama pembangunan. Pemimpin revolusi menolak ketergantungan sedemikian, melawan para komprador dan bergerak ke isu-isu keadilan global.

Pascarevolusi

Orang sering berujar, setiap masa ada tokohnya. Setiap tokoh ada masanya. Hanya ada satu Castro di Kuba, pun satu Bung Karno di Indonesia. Tokoh terpaut dengan tempat pembentuk sejarahnya. Tak bisa satu sama lain dipindahtempatkan. Castro yang eksis dan berpengaruh di Kuba belum tentu mampu manakala dirinya menjadi pemimpin di tempat lain.

Demikian pula Bung Karno, Jawaharhal Nehru di India, atau Joseph Broz Tito di Yugoslavia tempo dulu. Inspirasi kepemimpinan diperoleh mereka dari tempat masing-masing. Bagaimana ia mampu meraih legitimasi politik, berkiprah, dan berlalu.

Castro telah memilih sistem dan kebijakan yang diyakininya, dan konsisten dengan itu semua. Meskipun orang sering mencatat dia sebagai dinosaurus di zaman kita, itu semata-mata mencerminkan kelangkaannya. Castro unik karena langka. Dunia berubah sedemikian rupa, tetapi mobil-mobil di Kuba masih bergaya 1950-an. Justru karena itulah Kuba romantik, terlepas dari beragam tantangan pembangunannya.

Kini di tangan Raul, transformasi Kuba pasca-Castro berada. Tampaknya, ia akan lebih akomodatif terhadap keterbukaan ekonomi dan sedikit demi sedikit meninggalkan gaya dan kebijakan model Castro.

Pada masa kini, jenis pemimpin revolusi cenderung semakin langka. Di beberapa negara Amerika Latin, kepemimpinan politiknya bukan lagi didominasi para pemimpin revolusioner.

Di Venezuela, misalnya, Hugo Chavez pun sudah mendahului. Di Iran, Imam Khomeini juga sudah lebih dulu meninggal. Ahmadinejad yang bergaya revolusioner juga sudah tak lagi berkuasa.

Perubahan dan akomodasi merupakan dua kata kunci yang sering kali dialamatkan ke pemimpin jenis ini. Yang terus mengumandangkan jargon perubahan ketimbang kemapanan atau akomodasi dinilai masih mempertahankan ciri pemimpin revolusioner. Yang tidak seperti itu, sebaliknya, cenderung dianggap sudah condong ke neodevelopmentalis yang minus jargon revolusi.

Pemimpin yang berjenis bukan dari genealogi kepemimpinan revolusi, dalam hal ini sesungguhnya bisa belajar dari sosok-sosok seperti Castro. Tema perubahan itu penting, termasuk ketika calon pemimpin telah terpilih dan memimpin secara formal dalam pemilu.