Senin, 19 Desember 2016

Di Ujung Tahun

Di Ujung Tahun
Trias Kuncahyono  ;   Wartawan Senior KOMPAS
                                                    KOMPAS, 18 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Berada di ujung tahun laksana berdiri di puncak bukit. Dari atas bukit terbentang cakrawala yang begitu lebar. Dari puncak bukit, mata diberi kesempatan untuk leluasa memandang seluruh pemandangan di bawahnya, ke seluruh penjuru. Itulah sebabnya, dengan alasan strategi keamanan, banyak kota didirikan di puncak bukit: Jerusalem. Jerusalem berdiri di atas Bukit Yudea; kota kuno Byzantium berdiri di atas Bukit Pertama, di sana berdiri megah pula Hagia Sophia, Masjid Sultan Ahmed (Masjid Biru), dan Istana Topkapi.

Di atas bukit, suasana tenang. Jauh dari nafsu-nafsu dunia. Jauh dari ketidakamanan. Jauh dari ketakutan. Jauh dari teror yang terus mengintai dan mencekam kehidupan. Langit biru di atasnya terasa begitu dekat, memberikan kedamaian. Itu sebabnya, banyak pertapaan didirikan di atas bukit.

Dari puncak bukit, semua yang ada di bawah kelihatan: lembah dan ngarai subur dan gersang, lereng-lereng bukit yang masih berhutan lebat dan gundul karena semua pohon di hutan dibabati atas nama keserakahan. Dari atas bukit terlihat jelas hamparan persawahan yang suatu ketika hijau membentang, lalu di masa yang lain menguning padinya. Di atas bukit, sungai yang mengular begitu tampak indah, meliuk-liukkan badan mencari jalan.

Berada di ujung tahun seperti berdiri di puncak bukit. Semua langkah dan jejak, seluruh peristiwa yang terjadi sejak awal tahun hingga akhir, terlihat jelas. Berbagai peristiwa duka dan derita, tangis dan tawa, tragedi dan humor, benci dan cinta, persaudaraan dan permusuhan, toleransi dan intoleransi, curiga dan percaya, perang dan damai, semua masih tampak nyata.

Kalaupun ada peristiwa yang menggembirakan, tetapi tangis, derita, tragedi, kebencian, permusuhan, dan intoleransi lebih mendominasi peristiwa sepanjang 2016. Hingga Juli lalu (USA Today), serangan bom di seluruh dunia telah menewaskan 1.763 orang. Sumber lain, sejak Januari hingga 11 Desember, telah terjadi 1.690 serangan teror yang menewaskan 15.320 orang! Pada 10 Desember lalu, serangan teror bom di Istanbul (Turki) menewaskan 44 orang, di Aden (Aman) menewaskan 50 orang, juga di Peshawar dan Mogadishu. Hari berikutnya, 11 Desember, terjadi enam serangan teror: Kismayo, Somalia (4 tewas), Damaskus (5 tewas), Al-Fallujah (8 tewas), Maidugari (3 tewas), Kairo (25 tewas), dan Mogadishu (29 orang tewas).

Terorisme tetap menjadi persoalan global. Kelompok-kelompok seperti Al-Shabab (di Mogadishu), NIIS (tidak hanya di Suriah dan Irak, tetapi menembus batas banyak negara), Boko Haram (di Nigeria), dan kelompok-kelompok kecil yang mengklaim bagian NIIS melancarkan aksi mematikan di mana-mana. Dunia mengalami mimpi buruk. Serangan teroris nyaris terjadi saban hari, termasuk terjadi di Brussels (Maret) yang menewaskan 35 orang dan melukai 340 orang dan di Nice, Perancis (Juli, 86 tewas, 434 terluka). Bulan Juni, bom meledak di Orlando (5 tewas). Juli, bom bunuh diri di Baghdad menewaskan 292 orang! Masih banyak lagi.

Mengapa persaudaraan, toleransi, damai, dan saling percaya tidak mampu mengalahkan permusuhan, intoleransi, tangis, perang, dan kecurigaan? Di Jerusalem, Masjid Umar Ibn al-Khattab dan Gereja Makam Suci berdiri berdampingan, damai, bersaudara menembus zaman, menyebarkan kedamaian. Di Bethlehem, Basilika Kelahiran Yesus berdiri berhadap-hadapan dengan Masjid Umar Ibn al-Khattab, saling menghormati dalam kedamaian, persaudaraan bertahun-tahun. Di Jakarta, Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral St Maria Diangkat ke Surga hidup bersaudara dalam damai dari waktu ke waktu. Masih banyak yang lain, yang memberikan contoh-contoh tentang keluhuran peradaban manusia.

Namun, mengapa manusia hanya mampu membangun tempat-tempat yang menunjukkan tingginya peradaban, tingginya nilai-nilai kemanusiaan, tingginya persaudaraan, tetapi masih kurang mampu mewujudkan dalam hidup keseharian, tidak tecermin dalam kehidupan nyata? Seakan-akan kekerasan selalu mengiringi peristiwa-peristiwa kehidupan, sosial ataupun politik, di mana-mana, termasuk di Indonesia. Fenomena semacam ini oleh Hannah Arendt, seorang filsuf politik, disebut sebagai banalisasi kejahatan (tindakan kejahatan menjadi biasa).

Bagaimana tindakan kejahatan-termasuk membunuh, menyebarkan kebencian, tidak toleran, menindas yang kecil, serta berlaku sewenang-wenang-bisa dilakukan orang-orang tanpa ada perasaan bersalah? Apakah hal itu, terutama di negeri ini, karena adanya impunity, tiadanya sanksi hukum? Impunitas menyelubungi nurani dan perasaan bersalah. Impunitas mengabaikan dimensi sosial kejahatan: menciptakan suasana tiadanya perlindungan terhadap korban-korban potensial dan mendorong pelaku-pelaku potensial mewujudkan maksud jahat tanpa dibayangi sanksi hukum (Haryatmoko: 2003).

Apakah perdamaian dan kedamaian sungguh telah hilang? Kota-kota besar dunia, termasuk Jakarta, menjelang Natal dan di akhir tahun waspada terhadap segala kemungkinan. Karena nafsu angkara masih tetap melayang-layang di angkasa, tidak menginginkan dunia ini damai. Meski demikian, masih tersisa-walaupun kecil-harapan bahwa perdamaian, persaudaraan, toleransi, saling menghormati dan mengasihi, ada di banyak hati para pemimpin negara, pemimpin dunia.

Lihatlah yang terjadi di Iran. Zuhairi Misrawi dalam surat pendeknya dari Teheran, Iran, menulis, "Di Teheran, suasana Natal terlihat di hotel-hotel. Di tempat itu dipasangi pohon natal. Negara yang mayoritas penduduknya Muslim ini ikut menyemarakkan suasana Natal. Ayatollah Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi Iran, setiap tahun mengucapkan selamat Natal kepada warga Kristiani di seantero Iran. Umat Islam di Iran memandang warga Kristiani sebagai saudara yang telah menjadi bagian dari kemajuan Iran."

Dan, pada akhirnya, di ujung tahun ini, dari puncak bukit terdengar nyanyian merdu: "et in terra pax hominibus bonae voluntatis", dan damai di bumi kepada orang yang berkenan kepada-Nya. ●