Senin, 19 Desember 2016

Kita dan Pasca ”Kasunyatan”

Kita dan Pasca ”Kasunyatan”
Bre Redana  ;   Wartawan Senior KOMPAS
                                                    KOMPAS, 18 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Oh, delusi… dunia virtual produk kemajuan teknologi digital telah membawa manusia pada tingkat evolusi seperti kita alami sekarang: kita hidup di alam delusi. Spesies ini menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah. Tadinya, untuk suatu informasi, kita perlu hadir guna menangkap dengan mata, telinga, pendeknya keserentakan raga, pikir, dan sukma. Kini, tanpa perlu melihat, mendengar, dan merasakan, otak kita dibanjiri informasi tentang kenyataan, baik kenyataan yang punya asal-usul, terlepas dari asal-usul, maupun tanpa asal-usul sama sekali.

Eloknya tubuh, ia menyesuaikan diri. Kita langsung bersimpati atau membenci tanpa perlu tahu apa yang benar-benar terjadi. Tak perlu pula pengertian sebab pengertian membutuhkan prasyarat kehadiran, mendengar, meneliti, menyimak dengan saksama. Lebih mudah—begitu saraf-saraf kita biasakan dengan teknologi yang memanjakan kita—untuk langsung menerima apa saja, langsung percaya, langsung cinta, langsung benci. Pengertian, understanding, bakal menjadi kosakata masa lalu.

Kebenaran—sebuah sistem kepercayaan tertentu memercayainya sebagai kenyataan di alam—telah menjadi pengertian alam kabur. Dilihat dari perspektif visual culture, dunia ini berubah menjadi sebegitu surealis. Tentang media, banyak orang hafal rumusan McLuhan, the medium is the message. Dengan ungkapan lain, Barthes menyebut a message without a code. Maksudnya lebih kurang sama saja: tak bisa dipisahkan antara obyek dan representasi. Dalam kata-kata Althusser, apa-apa yang jelas (obvious) dianggap benar (true).

Kebangkitan massa

Dengan rumusan ideologi ala Althusser itu, berkibarlah panji- panji massa. Apa yang jelas, apa yang didukung massa sebanyak-banyaknya dianggap benar. Ini berlaku di semua bidang, politik, religi, hukum, kesenian, dan lain-lain.

Perayaan kebangkitan massa menggejala di semua ranah. Tak perlu disebut ranah politik dan agama, yang karena sifatnya memang cenderung melumpuhkan nalar, tetapi juga wilayah-wilayah kreatif dan pemikiran. Produk bacaan yang dianggap utama, misalnya, adalah yang beredar di dunia maya dan menghasilkan crowd besar. Tolok ukur dunia maya pada budaya virtual di mana kita hidup sekarang adalah crowd. Orang harus pandai mengiklankan diri agar mendatangkan pengikut, menghasilkan crowd. Kasunyatan (truth) menjadi komoditas pasar. Hasilnya antara lain ilusi penggandaan uang dan bom bunuh diri.

Buku, produk yang selama berabad-abad sebelumnya menjadi fondasi pembangunan sivilisasi, kini, sekadar komoditas pop. Yang dipajang pada rak-rak terdepan toko-toko buku adalah produk yang serupa pop corn—enak dikunyah tanpa gizi. Buku-buku ”serius”, hasil penelitian, seperti nasib manusia-manusia serius di zaman ini, terdepak ke belakang.

Film, karya yang biasa dinikmati dalam suasana individuasi di ruang gelap sinema, dianggap sukses kalau ditonton ala menonton pertandingan sepak bola. Ada istilah nobar alias nonton bareng. Ramai. Apalagi kalau nonton bareng bersama pejabat. Para pejabat ini yang nantinya dianggap sangat brilian pendapatnya untuk menilai karya estetik tersebut.

Kritikus film? Senasib kritik di bidang lain, kini mereka tak dibutuhkan. Sedikit catatan, untunglah di bidang sinema ada beberapa sineas yang menghasilkan film-film bermutu meski barangkali kurang dibanjiri penonton. Festival Film Indonesia juga terlihat kembali menunjukkan kredibilitasnya sejak dipegang wajah-wajah baru perfilman, seperti Olga Lidya dan Lukman Sardi.

Bidang musik tidak semuanya seperti tontonan televisi yang bikin sepat mata. Jazz merambah kota-kota kecil dan desa-desa, membangkitkan suasana komunitas dan kekeluargaan baru. Belum lagi eksperimen-eksperimen yang dilakukan dengan berbagai instrumen dan formasi pendukung melibatkan seniman-seniman desa.

Biarlah hanya yang berkiblat pada industri yang menggerus orang menuju kedangkalan. Musik, film, tari, dunia literer, dan krida budaya lain diam-diam tetap banyak yang berlangsung di pelosok kota kecil dan desa-desa. Mereka tak terendus media massa. Sebab, media massa, apalagi yang besar, juga telah terseret arus industri, pelakunya menjadi pekerja rutin dan pas banderol, mengurusi apa-apa yang obvious saja sembari mengira apa yang obvious adalah benar. Jadi headline. Sayang sekali….

Pasca ”kasunyatan”

Seiring gelombang fundamentalisme massa, perlahan-lahan pudarlah individu beserta proses individuasi. Ruang individu bocor, dibocorkan sendiri oleh individu masing-masing. Dulu ada sejumlah hal yang orang ingin menyimpannya sendiri di ruang privat, seperti di buku harian. Taruhlah hal-hal yang ingin disimpan di ruang privat itu perasaan cinta, kegundahan hati, pengalaman spiritual yang mencerahkan, dan lain-lain.

Semua, kini, sengaja dibocorkan dan diumbar di ruang publik. Publik, massa, harus tahu dengan siapa kita berteman, hebatnya iman kita, kita pergi ke mana, pakai pakaian apa, mood sedang seperti apa, makan apa, kalau perlu bau kentut dan warna kotoran kita.

Lenyapnya proses individuasi berarti lenyapnya ruang dan waktu—sesuatu yang sejatinya melekat pada manusia. Ruang untuk berbagi, sesuai hakikat manusia sebagai makhluk sosial, waktu untuk diri sendiri, sebagaimana manusia hadir dan akan pulang sendirian, sekarang semua tergadai bagi kepentingan citra diri. Praktik banalnya: selfie.

Kehilangan hal esensial ruang dan waktu artinya manusia terjauhkan dari diri sendiri. Secara individu manusia teralienasi dari kesejatian, secara sosial menjadi bingung dan kehilangan pegangan pada era pasca kasunyatan, post-truth.

Realitas gadungan menyubversi apa pun, termasuk empirisme tubuh. Relasi sosial berlangsung tanpa kehadiran. Orang cukup ongkang-ongkang sambil berpraduga dan bercuriga sana- sini. Kebenaran, sebagaimana realitas, bisa diibaratkan sumber mata air yang kini lenyap bersama proses kemerosotan kualitas alam. Benci, simpati, dan prasangka adalah sungai yang mengalir dari suatu sumber yang tak jelas asal-usulnya. Jangan-jangan berasal dari prasangka dan benci itu sendiri….

Kita hidup dalam alam delusi. Yang kita kira kenyataan sebenarnya hanya ilusi. Maka, terkaget-kagetlah orang ketika Trump memenangi pemilihan presiden di Amerika. Terbawa oleh ilusi sendiri, tadinya banyak orang mengira dunia masih sebegitu indahnya bahwa rasisme pasti kalah, tak mungkin orang yang kita anggap gila menang. Nyatanya….

Hati-hatilah, apa yang kita kira tak bisa terjadi, pada era pasca kasunyatan ini bisa sewaktu- waktu terjadi, secara tiba-tiba, seperti ledakan bom! ●