Sabtu, 02 Februari 2019

Saya Ingin Menulis Buku Hitam Putihnya Basuki Tjahaja Purnama

WAWANCARA (1)

Saya Ingin Menulis Buku Hitam Putihnya Basuki Tjahaja Purnama

Oleh : ANDY RIZA HIDAYAT

KOMPAS,  1 Februari 2019 07:30 WIB


Sejak bebas pada Kamis 24 Januari lalu, Basuki Tjahaja Purnama atau BTP menemui orang-orang yang dianggap dekat dengannya. Salah satu dari orang itu adalah wartawan senior harian Kompas, Banu Astono, yang ditemui di rumahnya, Rabu (30/1/2019) di Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat. Seperti pada pertemuan-pertemuan dengan sejumlah orang setelah bebas, Basuki tampak ceria.

Pembicaraan berlangsung cair dan mengalir seperti tanpa batas. Sosok yang kini ingin dipanggil BTP itu datang ke rumah Banu pada Rabu pukul 14.00 bersama stafnya bernama Sakti Budiono. Siang itu, dia mengenakan kaus polo hitam, celana jins, dan sepatu kulit hitam.

Banyak orang bertanya, apa yang Anda kerjakan selama di penjara?

Saya banyak membaca buku dan sering terima tamu di sana. Aktivitas itu mendorong saya menulis semua yang saya alami. Rencananya akan saya buat buku, semacam jurnal. Ada lagi aktivitas ringan saya di sana, main band.

Buku tentang apa yang Anda tulis?

Buku tentang pemikiran dan perjalanan saya. Buku itu berupa jurnal harian saya setelah ketemu orang di penjara. Buku ini tentang hitam putihnya saya, kesalahan saya apa, dan apa yang harus saya lakukan. Saya ingin membagikan pengalaman saya ke semua orang.

Dari mana ide menulis buku?

Saya terinspirasi dari orang-orang yang datang ke Mako Brimob (tempatnya menjalani hukuman). Ide menulis juga datang dari buku-buku yang saya baca. Ada ribuan buku diberikan orang kepada saya saat dipenjara. Saya tidak tahu detailnya. Tidak semua sempat saya baca karena isinya mirip-mirip. Ada beberapa saja yang saya baca. Buku-buku yang saya baca itu saya kasih tanda dengan pensil warna.

Bagaimana menuliskannya?

Semua saya tulis pakai tangan di atas kertas putih, dari pagi sampai malam. Hasil tulisan itu mungkin bisa jadi tiga hingga enam buku. Jika capek, saya pakai untuk push up. Semua itu saya tulis selama 620 hari dari 625 hari di penjara. Lima hari pertama, saya tidak menulis karena tidak ada kertas di dalam penjara. Tanggal 15 Mei 2017 saya baru memulai menulis.

Judul bukunya apa?

Salah satunya berjudul I’m Doing My Best, yang mulai saya tulis 20 Mei 2017.

Lalu, bagaimana cerita tentang band yang Anda bentuk?

Nama bandnya Band Teman Penjara (BTP). Ini anggotanya macem-macem, ada orang Arab juga jadi anggotanya. Saya jadi vokalis dong. Masa Ariel (Noah) bisa buat band, saya tidak bisa. Saya tulis semua joke soal BTP itu di buku saya nanti.

Bagaimana Anda menjaga kesehatan di penjara?

Saya tidak makan setelah pukul 17.00. Makanan yang ada saya kasih ke orang-orang di sana. Jika lapar saya cukup minum air putih hangat. Berat badan saya bertambah dan kulit saya lebih putih karena satu bulan terakhir sering hujan di Mako Brimob. Setiap hari, saya banyak push up minimal 100 kali. Jika kerja (menulis) lebih banyak, push up saya tambah menjadi 200 kali.

Banyak orang bersimpati kepada Anda dengan memberikan barang-barang ke Anda, apa benar itu ?

Banyak sekali orang mengirim barang-barang ke Mako Brimob, dari buku, makanan, buah-buahan, jam tangan, dompet, hingga pakaian. Ada teman mengingatkan, kamu kan, bukan pejabat lagi. Apa salahnya menerima pemberian kami. Saya juga ingat pesan ibu, jangan bawa barang dari penjara. Bisa bawa sial.

Namun, saya berpikir lain, saya putuskan bawa pulang untuk menghargai pemberi barang. Ini tidak pernah saya terima barang sebanyak ini. Saya anggap ini sebagai rezeki. Saya pikir–pikir selama ditahan di Mako menjadi untung.

Bagaimana hari-hari pertama Anda setelah keluar penjara?

Di penjara, saya terbiasa ke kamar mandi di kamar. Sekarang keluar kamar di rumah terasa jauh. Di gereja, saya merasa panas setelah pulang dari penjara. Ternyata saya baru sadar, di Mako Brimob saya ke gereja cukup pakai kaus oblong celana pendek. Sementara saya ke gereja pakai lengan panjang daleman kaus. Sekarang saya juga tidak biasa pakai dompet dan mengantongi telepon genggam. Rasanya tidak enak. Ha-ha-ha.

Kami melanjutkan obrolan di meja makan. Istri Mas Banu (panggilan akrab Banu Astono), Mba Wiwik menyediakan soto dan es kelapa muda di meja makan itu. Soto ini disajikan dalam hidangan khas Surabaya tanpa santan. Basuki langsung mengambil dengan entong yang disediakan. ”Maaf saya tidak pakai nasi.”


Di meja makan, dia membicarakan tentang keinginan untuk mencoba nyetir mobil baru. Basuki sejak muda sudah hobi menyetir mobil. Tidak terasa, Basuki menambah lagi soto di hadapannya. ”Enak sotonya,” kata Basuki. ***

Rabu, 26 September 2018

Pajak Rokok

Pajak Rokok
Putu Setia (Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda) ;  Pengarang;  Pendeta;  Wartawan Senior Tempo
                                                  TEMPO.CO, 22 September 2018



                                                           
Kebenaran dan kebaikan bisa datang dari segala penjuru, termasuk dari tempat yang tak dikehendaki. Ungkapan ini bahkan termuat di berbagai ajaran tentang moral dan kebajikan. Kita diajarkan menerima kebaikan itu, meskipun datangnya dari sebuah tempat atau kebiasaan yang buruk.

Contoh teranyar soal kebiasaan merokok. Selama ini merokok disebut tidak sehat. Merusak paru-paru, memperpendek umur, dan seterusnya. Bahkan orang yang tidak merokok tapi mengisap asap rokok dari orang sekitarnya, juga ikut menanggung petaka. Pemerintah pun membatasi ruang merokok demi melindungi rakyatnya. Peraturan daerah dibuat untuk mempertegas adanya sanksi bagi pelanggar larangan merokok. Belum cukup, pemerintah menakut-nakuti pembeli rokok dengan slogan: Rokok Membunuhmu. Keburukan apa lagi yang lebih dahsyat dari kebiasaan merokok?

Tiba-tiba di hari belakangan ini, dari sebuah kawasan terburuk itu datang kebaikan. Pajak rokok menyelamatkan banyak orang karena bisa "menghidupkan kembali" Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang mengalami "musibah nasional". Sejumlah rumah sakit lumpuh karena tak punya dana lagi untuk membeli obat, dokter dan perawat tertunda gajinya gara-gara pembayaran dari BPJS tak kunjung cair. Sejumlah pasien tak dapat obat gratis sebagaimana biasanya dan harus menebus sendiri di apotek, padahal mereka rajin membayar iuran BPJS. Badan ini setiap tahun selalu defisit triliunan rupiah dan tak tahu bagaimana cara menyelamatkannya. Sampai pada akhirnya Presiden Joko Widodo berbaik hati mengeluarkan peraturan presiden yang membolehkan pajak rokok daerah diambil dananya sampai 75 persen untuk membayar klaim BPJS. Rokok tak lagi membunuhmu, justru pajaknya membuat kamu sehat.

Bulan depan pemerintah siap mengucurkan Rp 4,9 triliun pajak rokok untuk menyelamatkan BPJS. Rumah sakit daerah akan sehat kembali setelah menerima bayaran. Pasien BPJS kembali antre dengan tertib dengan obat yang terjamin. Terima kasih para perokok yang dengan pajaknya menyelamatkan banyak orang.

Lalu, masihkah kita melarang jika ada orang yang merokok di halaman rumah ibadah? Bagaimana kalau orang itu berkata: "Pendeta, Anda yang dulu terkena serangan jantung sudah bisa kembali mendapat obat pengencer darah Brilinta yang mahal dengan gratis, gara-gara aku yang merokok, mbok sadar." Masihkah berani kita membentak orang yang merokok di bus umum? Bisa-bisa kita yang dibentak: "Karena rokokku ini sekian juta orang jadi sehat, mbok kamu ikutan merokok. Perokok itu pahlawan tanpa tanda jasa."

Alkisah, konon alam semesta memang menciptakan rwabhineda–dua hal berbeda saling berdampingan. Ada siang ada malam. Ada baik ada buruk. Ada suka ada duka. Leluhur kita memberi saran, rwabhineda tak bisa dihindari karena datangnya silih berganti. Tapi bagaimana kalau dua hal yang bertolak belakang itu tidak berdampingan? Dan datangnya bukan silih berganti tapi menyatu dalam suatu waktu? Ini bukan rwabhineda, melainkan kaliyuga–suatu masa yang kalut.

Rwabhineda bisa disikapi dengan tenang, melakukan evaluasi, menyadari mana yang harus diperbaiki sambil berharap hal yang buruk segera berlalu. Tapi kaliyuga adalah kekalutan yang sulit diurai karena tak jelas lagi mana baik dan mana buruk, keduanya punya alasan yang kuat. Maka, ibarat komputer, satu-satunya jalan adalah restart dan instal program baru. Seperti itulah yang harus dilakukan pada BPJS dan "politik pertembakauan" yang di dalamnya ada pajak rokok. Restart dan instal ulang secara nasional. Bukan cara lain.