|
Djauhari Irawan Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 29 Oktober 2026
Tidak saya
sangka: masih bisa bertemu Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok, Djauhari
Oratmangun di Beijing. Bulan lalu saya baca berita: Presiden Prabowo sudah
menunjuk duta besar baru yang akan menggantikannya. Namanya: Irawan Ronodipuro,
putra seorang diplomat legendaris Indonesia, M. Yusuf Ronodipuro, pengurus
pusat Gerindra.
Memang untuk
jabatan duta besar tidak bisa langsung bertugas. Setelah diangkat ia masih
harus diusulkan ke pemerintah negara yang akan ditempati. Dalam hal Irawan,
pemerintah Tiongkok harus lebih dulu menyetujui penempatannya. Itu perlu waktu.
Bisa cepat, bisa lambat. Rata-rata perlu proses enam bulan.
Berarti Dubes
Djauhari masih akan tetap di Beijing, setidaknya, mungkin, sampai April tahun
depan. Karena itu ketika saya dan rombongan pengusaha ke Beijing masih bisa
bertemu.
Ada yang baru
di Kedubes RI di Beijing. Kini ada jabatan baru di sana: wakil duta besar.
Wanita. Muda. Langsing. Tinggi. I-nyi lima. Namanyi satu kata: Irene.
"Saya
lahir di Jayapura," ujar wadubes. Bapaknyi orang Pekanbaru. Ibunyi wanita
Jakarta. Dia seorang dokter yang jadi diplomat. Pendidikan S-2 nyi di
Universitas Pertahanan: bidang diplomasi pertahanan.
Dokter Irene
unik: pendidikan SMA-nyi di kota Dalian –satu kota cantik di provinsi Liaoning
–di seberang Korea. Dalian adalah kota pertama di Tiongkok yang berhasil
mengubah kekumuhan menjadi kota yang amat cantik. Setelah Dalian berubah
barulah kota-kota lain di seluruh Tiongkok mengikuti jejak kecantikannya.
Djauhari
Oratmangun memang legenda hidup. Ia duta besar terlama dalam sejarah diplomasi
modern Indonesia: sembilan tahun.
Dua tahun lalu,
ketika bertemu dengannya, saya menyangka ia sudah tercatat sebagai duta besar
terlama. Ternyata ia mengoreksi penilaian saya itu. "Duta besar yang di
UEA masih lebih lama. Beda satu bulan," katanya.
Satu bulan
setelah pertemuan itu sang duta besar UAE diganti. Berarti dua bulan kemudian
Djauhari sudah pemegang rekor terlama. Apalagi dua tahun berikutnya pun belum
diganti. Akan kian sulit mengejar rekornya.
Selama Djauhari
menjabat duta besar, hubungan perdagangan Indonesia-Tiongkok naik tiga kali
lipat. Menjadi yang terbesar. Pun bila dibanding dengan seluruh negara Eropa
dijadikan satu. Yang lebih hebat lagi: kini perdagangan Indonesia surplus dari
Tiongkok –seperti mustahil dicapai mengingat banjirnya barang Tiongkok ke
Indonesia.
Saya amat
jarang mampir ke salah satu kedutaan kita di luar negeri. Lain dengan Beijing.
Saya tergolong sering ke Keduataan Besar Republik Indonesia di Beijing. Ada
saja urusan. Pernah karena sulit cari tempat berlebaran Idul Fitri –saat kami
kebetulan di Beijing. Ke Kedutaanlah yang pasti ada ketupat Lebaran.
Pernah karena
diundang untuk mengisi acara Ramadan di situ –ketika didengar saya sedang di
Beijing. Pernah juga karena harus mengantar pasien transplantasi hati untuk
minta legalisasi dokumen.
Selasa malam
kemarin kebetulan ada acara penting di Kedubes RI Beijing: resepsi diplomatik.
Yang diundang kedutaan seluruh dunia di Beijing. Rombongan Disway Business
Adventures Vol. 5 kebetulan ke Beijing. Sekalian diundang.
Meski acara itu
mundur satu minggu kami tetap dijadwalkan ke Kedubes: makan malam. Horeee.
Gratis. Kebetulan sudah tiga hari rombongan dibombardir masakan setempat. Sudah
kangen masakan Indonesia. Bu Wiwik Oratmangun, istri duta besar, pandai sekali
masak –di samping sangat pandai menyanyi.
Yang terakhir
itulah yang kadang membuat saya takut ketemu pak Dubes Djauhari: takut disuruh
menyanyi. Pernah saya harus ada acara di Kedubes RI di Beijing. Saking takutnya
saya terpaksa mengajak teman yang bisa menyanyi: suami Janet. Aman.
Selasa malam
kemarin saya lebih aman. Dalam rombongan kami banyak yang bisa menyanyi.
Bahkan, salah satunya bisa menyanyi lagu yang saya belum pernah mendengar, pun
judulnya: Sesuatu di Jogja. Ia seorang doktor ahli politik kesultanan
Indonesia. Ia peneliti sultan-sultan yang pernah dan masih ada. Termasuk
mengapa ada sultan yang bisa terpilih jadi DPRD/DPR/DPD di Pemilu. Mengapa pula
tidak. Bahkan ada sultan yang di Gowa yang sudah enam kali ikut Pemilu selalu
kalah dari keluarga dinasti baru Syahrul Limpo.
Nama anggota
rombongan yang satu ini: Dr Bayu Dardias Kurniadi. Ia tahu jerohan kesultanan
di seluruh Indonesia. Sangat mendalam. Apalagi kesultanan Jogja dan Solo.
Keluarga Bayu
pengusaha pasir batu yang besar di Sumedang. Istrinya juga ilmuwan langka:
doktor antropologi kedokteran. Dua-dua dari UGM. Mereka tinggal berdua di
rumahnya di Jogja. Dua anaknya kuliah dan kerja di Belanda. Sudah setahun Dr
Bayu menjabat asisten staf khusus Mas wapres.
Anggota
rombongan lainnya, Sumantoro Radjiman, menyanyi lagu My Way yang dipelesetkan
jadi Disway. Danishara Maria Ulfa, putri pengusaha Demak Bu Mur, menyanyi lagu
mandarin. Dengan jilbab hitamnya dia menyanyikan lagu Qing Fei De Yi.
Di barisan
depan saya lihat Yosephin, putri pengusaha AC kereta dari Solo
menggerak-gerakkan kaki saat Danishara menyanyi. Saya tarik Yosephin ikut
nimbrung. "Saya tidak bisa menyanyi," katanyi. Banyaknyi yang
memaksanyi tampil. Ia cantik. Lulusan dan masih tinggal di Brisbane, Australia.
Begitu dia mau tampil ternyata hot: dia yang geraknya paling atraktif.
Tentu kita
semua menunggu tuan rumah menyanyi. Bu dubes menyanyi lagu Jawa dan Mandarin.
Pak dubes menyanyi Yue Liang. Wadubes dr Irene yang sudah hampir setahun
menjabat wakilnya Pak Djauhari, menyanyikan lagu Killing Me Softly.
"Saya
senang sempat berguru ke Pak Djauhari," ujar dr Irene merendah.
"Beliau adalah guru saya. Mentor saya," tambahnyi.
Menu malam itu
istimewa: pepes ikan, rendang, pecel Wonosobo, dan aksesorinya.
"Lho ada
ya Pecel Wonosobo," tanya saya ke Bu dubes. "Saya pikir di dunia ini
hanya ada Pecel Madiun," tambah saya.
"Ini
dinamakan Pecel Wonosobo hanya karena yang masak saya," jawab Bu dubes
lantas tersenyum.
Ada yang terasa
aneh di Pecel Wonosobo made in Bu dubes ini: sayurnya kacang panjang, kecambah,
irisan wortel, dan daun yang sangat hijau. Belum pernah ada pecel dengan sayur
seperti itu. "Maafkan, sulit cari sayur seperti di Madiun. Ini pakai sayur
kale," ujar Bu dubes.
Ups... pecel
dengan sayur kale. Di Indonesia sayur kale itu mahal sekali. Biasanya untuk
salad. Inilah kali pertama makan pecel dengan sayur kale. Ternyata sangat cocok
dengan bumbu pecelnya. "Saya akan minta istri kalau bikin pecel pakai
sayur kale," kata saya kepada Bu dubes.
Ludes.
Saya bangkit
dari meja makan. Saya ingin tambah pecel dengan sayur kale. Sudah habis.
Rupanya semua memperebutkan pecel. Sejauh-jauh bangau terbang akhirnya pecel
juga. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/976201/djauhari-irawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar