Minggu, 19 Februari 2017

Titik Nadir Ruang Keberagamaan Kita

Titik Nadir Ruang Keberagamaan Kita
Fathorrahman Gufron  ;    Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga;  Wakil Katib Syuriyah PW NU Jogjakarta
                                                   JAWA POS, 17 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

MENYAKSIKAN repertoar kasus Ahok yang sudah melewati sekian tahap gelar perkara di pengadilan, ada satu hal yang perlu direfleksikan bersama, yaitu ruang keberagamaan kita yang mengalami titik nadir. Disebut demikian karena kasus Ahok yang sesungguhnya bersifat ”picisan” mampu menggeliatkan hampir jutaan umat beragama untuk terlibat dalam adukan emosi yang kian tunggang-langgang. Adukan emosi itu kemudian berefek signifikan melemahnya kanal komunikasi antar perseorangan dan kelompok yang terlibat di dalamnya.

Bahkan, pada tingkat yang sangat miris, ruang keberagamaan kita yang selama ini biasa terlibat dalam kesepadanan ruang gerak peribadatan maupun ritus keagamaan secara perlahan juga mulai berjarak. Tanpa terasa, dengan tiba-tiba pikiran dan perasaan kita terbawa dalam satu titik kulminasi yang berjalan secara dikotomis.

Kita mungkin akan bertanya-tanya, mengapa kasus Ahok menjadi episentrum gelegaknya ruang keberagamaan kita? Bahkan dalam banyak hal, kasus Ahok mampu mengguncang ruang sosial kehidupan kita dan mengalihkan kita pada satu kondisi interalienasi, di mana kita tiba-tiba membangun ruang pemisah hubungan emosionalitas dengan ikatan kohesivitas yang sebelum ini terawat dengan sangat baik.

Dalam ruang alienasi, yang terbangun adalah perilaku keliaran yang lebih mengedepankan egoisme kedirian. Kita tak lagi bisa mengedepankan nilai-nilai keagamaan yang mengajarkan banyak kesantunan dan kedamaian. Akan tetapi, atas nama kebenaran yang kita pertaruhkan secara sepihak, kita terjebak dalam aneka rupa benturan. Tanpa disadari, sebenarnya yang berbenturan dengan diri kita adalah sesama kita sendiri yang selama ini terjalin dalam ikatan persaudaraan.

Benturan Sesama

Apalagi memasuki era teknologi informasi, di mana tiap orang sudah mampu berselancar dengan internet, tindakan membenturkan diri antar sesama semakin kentara dan dianggap sebagai sebuah kehebatan. Hal itu bisa dicermati dari serangkaian meme yang dijadikan bentuk personifikasi pelecehan antar sesama yang sering diunggah di berbagai laman media sosial. Selain itu, sesama kelompok, baik yang dilandasi emosi etnis, emosi profesi, lebih-lebih emosi agama, mulai terlibat dalam kondisi ketidakberadaban (uncivilized) dalam menggunakan media sosial yang justru berisi lebih banyak polusi kata-kata dan wicara.

Bahkan, secara diam-diam kehadiran internet yang sudah sangat accessible melalui smart handphone setiap orang memuat berbagai fasilitas perekayasaan kata-kata, nomor, foto, dan lain sebagainya, yang ujung pangkalnya adalah adu domba. Ironisnya, seiring perjalanan waktu, adu domba itu diproduksi secara masal, bahkan dijadikan sebagai kegiatan industrial yang bisa menghasilkan keuntungan. Adapun konsumen yang disasar adalah sekumpulan orang yang secara emosional memiliki keserupaan ideologis, kesamaan rasa, kesatuan keyakinan, dan bentuk keseragaman lain.

Dampaknya, hubungan perseorangan dan antarkelompok yang selama ini terjalin dengan baik mulai merenggang. Bahkan, pada titik kulminasi tertentu, dalam hubungan yang kian merenggang, jargon-jargon nihilisme seperti hoax yang sengaja diproduksi dan disebar pihak-pihak tertentu dijadikan sandaran untuk membenarkan apa yang menjadi keyakinan. Sebuah pilihan keyakinan yang selama ini tidak menjadi persoalantiba-tiba beralih rupa sebagai titik masuk untuk melempengkan praktik-praktik ketidakberadaban berupa permusuhan. Setiap orang yang selama ini berada dalam satu nasab tiba-tiba mengubah nasib yang kian tidak terarah. Petuah para leluhur dan kata-kata bijak yang dulu pernah diserap dalam tiap jenjang pendidikan tiba-tiba sirna dan tak menemukan ruang kristalisasinya.

Geliat Adu Domba

Ketika benturan sesama mulai menguat, ikatan kohesivitas mulai memudar, dan ujaran kebencian dijadikan keniscayaan sebagai pertahanan keyakinan secara sepihak, saat itulah perilaku adu domba mulai bergeliat.

Melalui ruang keberagamaan, praktik adu domba kian diaktifkan untuk mencerai-beraikan bangunan identitas yang selama ini sudah diperkuat dengan nilai-nilai kearifan dalam kehidupan kita. Ironisnya, oleh sebagian kita, adu domba justru dianggap sebagai ruang kontestasi untuk menunjukkan kekuatan kita sendiri sembari berupaya melemahkan pihak lain. Seolah-olah dalam praktik adu domba ada sebuah survival of the vittest untuk mengekspresikan kegagahan kita di hadapan pihak lain.

Celakanya lagi, ketika sebagian ulama seperti Gus Mus, Prof Quraish Shihab, Habib Luthfi Yahya, dan KH Maimun Zubair mencoba mengingatkan kita untuk berpikir jernih serta tenang dalam merespons kasus Ahok, justru yang kita lakukan balik menghardik para ulama tersebut dengan ujaran-ujaran stigma.

Kita semakin lupa dan abai bahwa kasus Ahok sesungguhnya adalah masalah sederhana yang tak perlu ditanggapi terlalu serius. Kalaupun masalah penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok harus diproses, biarlah pengadilan yang bekerja. Dan kita seharusnya kembali ke barak kita masing-masing untuk menjalankan tugas kita sesuai profesi masing-masing.

Tak usah lah kita mendadak menjadi kelompok tertentu yang harus membela mati-matian lantaran seseorang yang kita teladani ada dalam wilayah ”pembelaan” maupun ”penentangan” terhadap kasus Ahok. Sebab, disadari atau tidak, sikap demikian mencerminkan sebuah kepanikan yang mudah dijebak dalam arus benturan antar sesama dan praktik adu domba yang justru akan menjadikan ruang keberagamaan kita berada dalam titik nadir.