Rabu, 01 Februari 2017

Merawat Gairah Prososial

Merawat Gairah Prososial
Khoiruddin Bashori  ;  Psikolog Pendidikan
                                            MEDIA INDONESIA, 30 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

MUSIM penghujan ialah musim yang banyak ditunggu petani, tapi membuat cemas sebagian masyarakat kawasan rawan banjir dan longsor. Di balik berkah tidak jarang tersembunyi bencana. Terdapat kemudian aneka kondisi kedaruratan yang memerlukan bantuan, pertolongan, dari seluruh pemangku kepentingan. Kenyataannya, sudah menjadi rahasia umum, orang yang tinggal di perdesaan cenderung lebih penolong daripada mereka yang tinggal di daerah perkotaan. Suasana kota yang padat dan kompetitif, disadari atau tidak, telah memengaruhi pola hidup penghuninya.

Di kota kecenderungan pola relasi transaksional sangat menonjol. Banyak hal dihargai dengan uang. Oleh karena itu, menjadi orang miskin di kota jauh lebih sulit daripada di desa.

Data BPS menunjukkan terdapat sejumlah daerah dengan budaya 'desa' yang masih guyub. Meski angka kemiskinan tinggi, tingkat harapan hidup dan level kebahagiaan warganya relatif tinggi. Mereka bahu membahu menjalani kesulitan hidup bersama-sama. Karena dipikul bersama, saling tolong menolong, persoalan yang berat sekali pun terasa ringan.

Dinamika psikologis

Rupaya perilaku prososial tidak terjadi begitu saja. Jika terdapat seseorang yang berbaik hati menolong orang lain, ternyata itu didahului adanya proses psikologis sebelum sampai pada keputusan menolong. Baron dan Branscombe (2012) mengemukakan respons individu dalam situasi darurat meliputi lima langkah penting yang dapat menimbulkan perilaku prososial atau tindakan berdiam diri saja. Tahap-tahap tersebut meliputi: Pertama, Tahap perhatian, subjek menyadari adanya keadaan darurat. Subjek mulai menyadari ada sesuatu yang tidak biasa terjadi. Keadaan darurat jelas merupakan sesuatu yang terjadi tiba-tiba. Karena situasi demikian terjadi begitu mendadak, secara tiba-tiba, sudah barang tentu orang tidak memiliki persiapan khusus untuk mengantisipasi kejadiannya, dan belum merencanakan bagaimana cara terbaik untuk menanggapi.

Kedua, menginterpretasikan keadaan sebagai keadaan darurat. Kejelasan informasi penting pada tahap ini. Ketidaklengkapan informasi dapat menyebabkan subjek gagal menginterpretasi kejadian sebagai keadaan darurat yang memerlukan pertolongan. Ketiga, mengasumsikan merupakan tanggung jawab untuk menolong. Manakala individu memberi perhatian kepada beberapa kejadian di lapangan dan yang bersangkutan menginterpretasikannya sebagai suatu situasi darurat, perilaku prososial baru akan dilakukan hanya jika orang tersebut mengambil tanggung jawab untuk menolong.

Keempat, mengetahui dan terampil mengenai apa yang harus dilakukan. Pada kenyataannya, meskipun individu sudah memperhatikan peristiwa yang terjadi, menginterpretasikannya sebagai keadaan darurat, dan merasa bertanggung jawab untuk membantu, belum tentu dia akan dapat melakukan sesuatu yang berarti, kecuali jika yang bersangkutan benar-benar mengetahui dan memiliki cukup keterampilan bagaimana cara menolongnya. Ada beberapa kasus, yang memang tidak memerlukan pengetahuan dan keterampilan khusus untuk menolong.

Kelima, mengambil keputusan untuk menolong. Tahap pengambilan keputusan merupakan tahap yang paling krusial dalam perilaku prososial. Meskipun individu telah melalui semua tahapan di atas dan bahkan telah mencapai tahap merasa bertanggung jawab untuk memberikan pertolongan pada korban, serta memiliki keterampilan memadai yang diperlukan untuk dapat menolong, masih pula terdapat kemungkinan yang bersangkutan memutuskan untuk tidak memberikan pertolongan. Berbagai kekhawatiran yang muncul dapat menjadi penghambat terjadinya pemberian pertolongan. Tahap akhir dari perilaku prososial ini, yaitu keputusan untuk menolong, dapat dihambat rasa takut. Penolong akan melakukan semacam kalkulasi matematis menyangkut peluang positif dan risiko negatif yang bakal terjadi jika ia menolongnya.

Peran keluarga dan sekolah

Sejak dini anak perlu dibiasakan dengan nilai-nilai prososial. Urgensi pengasuhan yang dapat menumbuhkan perilaku prososial semakin meningkat di tengah kepungan faktor-faktor situasional yang sulit dikendalikan. Dengan kuatnya nilai-nilai internal anak yang dibawa dari keluarga diharapkan anak tidak terlalu bergantung pada situasi-situasi eksternal, dan lebih yakin dengan standar-standar internal perilakunya sendiri (Baron & Byrne, 2000).

Berbagai studi menunjukkan, anak akan memiliki kontrol internal yang baik jika dibesarkan dalam keluarga dengan orangtua yang penuh kehangatan dan cinta. Bukan dididik dengan hukuman-hukuman fisik yang keras. Terdapat pola interaksi yang krusial antara orangtua dan anak. Anak-anak yang altruistik ternyata dibesarkan orang orangtua yang juga altruistik. Oleh karena itu, orangtua perlu menjadi model yang baik bagi anak.

Baron dan Byrne (2000) menyarankan perlunya mengurangi ambiguitas lingkungan dan mengajarkan perilaku bertanggung jawab. Penelitian menunjukkan keengganan orang untuk menolong salah satunya disebabkan ambiguitas situasi. Ketidakjelasan apa yang sebenarnya terjadi sering kali menyebabkan pemerhati gagal mengerti baru saja telah terjadi keadaan darurat yang memerlukan pertolongan.

Oleh karena itu, lewat pendidikan dan pelatihan, anak perlu diajari misalnya dengan berbagai simulasi kedaruratan dan kebencanaan agar mereka lebih sensitif dan tidak takut salah dalam memberikan respons yang semestinya. Di sekolah anak perlu diberi kesempatan yang lebih luas untuk berinteraksi secara positif. Para pendukung perspektif sosialisasi rekan sebaya berpendapat hubungan sebaya memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar dan berlatih keterampilan prososial. Interaksi kolaboratif dengan teman sebaya juga diyakini dapat memotivasi pengembangan keterampilan kognitif yang mendukung terbentuknya perilaku prososial.

Kedekatan hubungan guru dengan siswa juga memiliki peran penting dalam internalisasi nilai-nilai prososial. Kewibawaan guru dan kedekatan hubungannya dengan siswa akan memperkuat referent power yang dimilikinya. Referent power ialah kekuatan yang diperoleh atas dasar kekaguman, keteladanan, karisma, dan kepribadian dari seorang figur. Adalah sangat luar biasa pengaruhnya bagi perkembangan perilaku prososial siswa manakala para guru di sekolah dapat memerankan diri sebagai model ideal bagi nilai-nilai prososial.

Dalam konteks pembelajaran, model instruksional kooperatif dan kolaboratif terbukti lebih dapat menumbuhkan perilaku menolong. Dalam hal ini, diskusi aktif, pemecahan masalah, dan umpan balik elaboratif antarrekan sebaya yang berinteraksi satu sama lain dapat memfasilitasi berkembangnya keterampilan prososial. Hasil-hasil studi di lapangan juga menunjukkan kegiatan pembelajaran kooperatif yang paling sukses dalam mensosialisasikan nilai-nilai prososial ialah yang disertai dengan interdependensi positif di antara anggota kelompok, akuntabilitas individual, interaksi tatap muka langsung antarsiswa, dan belajar keterampilan sosial yang diperlukan untuk bekerja sama. ●