Rabu, 01 Februari 2017

Menyudahi Lakon Buruk dan Para Aktor yang Menyedihkan

Menyudahi Lakon Buruk
dan Para Aktor yang Menyedihkan
AS Laksana  ;  ;  Sastrawan; Pengarang; Kritikus Sastra yang dikenal aktif menulis
di berbagai media cetak nasional di Indonesia
                                                    JAWA POS, 29 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SEBUAH pesan singkat masuk tidak lama setelah saya bangun tidur: ’’Mari kita bernostalgia nanti malam.” Saya membalas pesan dan menanyakan apakah ia sedang di Jakarta. Ia menjawab ya. Lalu kami menetapkan waktu dan tempat bertemu.

Malam itu kami menonton konser ’’Nostalgia SMA: the 80s are back” di Balai Sidang Jakarta. Halaman depan gedung tempat pertunjukan terlihat tidak begitu ramai.

’’Kok sepi,” katanya.

’’Ya mungkin memang cuma segini yang masih tersisa,” kelakar saya.

Ternyata penonton acara itu banyak juga, dan sebagian besar masih bugar. Generasi kami tentu saja masih segar bugar dan menjadi semakin bugar saat menikmati penampilan Fariz R.M., Ian Antono, Achmad Albar, Louise Hutauruk, Orkes Pancaran Sinar Petromaks, dan lain-lain. Daniel Sahuleka tampil membawakan dua lagu dan hampir semua orang ikut bernyanyi bersamanya.

Kawan saya terlihat sangat menikmati lagu Panggung Sandiwara Achmad Albar; ia sepertinya ingin ikut bernyanyi tetapi menahan diri. Lima belas menit sebelum acara selesai kami keluar karena perut lapar, kemudian makan di rumahnya dan bercakap-cakap sebentar sebelum saya pamit pulang.

Besoknya saya membuka Facebook untuk mencari tahu siapa saja teman saya yang juga menonton acara nostalgia itu. ’’Hati saya ikut bernyanyi ketika Achmad Albar membawakan lagu Panggung Sandiwara. Lalu terpikir, jika dunia ini panggung sandiwara, maka tugas kita bersama adalah mewujudkan cerita yang baik --mewujudkan panggung kehidupan yang terbaik bagi kita semua.’’

Itu status Facebook Saifullah Yusuf, teman yang mengajak saya bernostalgia dan terlihat ingin ikut bernyanyi ketika Achmad Albar membawakan lagunya. Kaget saya. Saya pikir ia hanya menyukai orkes gambus.

Saya mengirimkan pesan singkat untuk meledeknya, tetapi saya setuju pada ajakannya untuk bersama-sama mewujudkan cerita yang baik. Hari ini kita melihat banyak cerita yang menyedihkan: makian, teror, dan hal-hal yang terasa menekan dalam kehidupan individu di tengah masyarakat.

Kita memerlukan cerita yang bermutu, baik itu cerita kehidupan sehari-hari di mana kita yang menjadi pelakunya, maupun cerita yang kita baca dalam buku-buku. Cerita sehari-hari yang baik memberi kita kegembiraan dan harapan. Cerita rekaan yang baik memberi kita pengalaman yang tidak kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Cerita rekaan yang baik, Anda tahu, akan menyuguhkan kepada para pembacanya efek psikologis, sosial, dan emosional dari situasi tertentu yang penuh tekanan --mungkin kegelapan-- dan dari sana kita bisa banyak belajar. Kenikmatan semacam itu hanya bisa dialami oleh para pembaca buku.

Saya senang melihat orang-orang membaca buku, sebab cerita yang baik akan membantu kita memahami kehidupan dan pikiran orang-orang lain. Itu sebabnya harapan terbesar saya pada pemerintahan adalah bagaimana ia bisa menjadikan orang-orang gemar membaca. Saya pikir perlu ada kebijakan politik untuk mewujudkan hal itu.

Di negara-negara yang sistem pendidikannya bagus, orang-orang yang peduli pada pendidikan sibuk memikirkan bagaimana sekolah-sekolah bisa menghasilkan lulusan yang semakin berkualitas. Mereka risau, misalnya, ketika sekolah hanya memusatkan perhatian pada aspek kecerdasan intelektual dan mengabaikan kecerdasan emosional. Maka muncul orang-orang yang berseru agar sekolah memberi perhatian juga pada peningkatan kecerdasan emosional.

Respons setiap individu terhadap situasi, bagaimanapun, adalah respons yang tidak melulu melibatkan pemikiran, tetapi juga emosi --bahkan seringkali lebih banyak faktor emosinya ketimbang pemikiran. Dari pemahaman seperti itu, kemudian muncul saran bahwa pengajaran sastra sebaiknya tidak hanya memperhatikan aspek analisis terhadap bahasa dan alur cerita dan hal-hal yang hanya melatih pikiran analitis. Ada hal lain yang juga sangat penting, yaitu menanyakan respons emosional siswa setelah mereka selesai membaca buku cerita.

’’Proses memasuki dunia rekaan, mengalami kejadian-kejadian di dalam fiksi, akan membantu kita membangun empati dan memperbaiki kemampuan kita untuk memahami cara pandang orang lain,” tulis Keith Oatley dalam artikelnya berjudul In the Minds of Others.

Saya agak khawatir bahwa pendidikan mereka akan semakin baik. Jika pendidikan mereka terus membaik, itu berarti kita akan semakin tertinggal. Sampai sekarang sekolah-sekolah kita tidak mampu membuat murid-murid senang membaca.

Saya tahu bahwa keberhasilan pendidikan selalu dimulai dari rumah. Siswa-siswa yang hebat biasanya lahir dari rumah yang menjunjung tinggi pendidikan dan pengetahuan, rumah yang memiliki buku-buku dan di dalamnya ada orang tua yang gemar membaca buku setiap hari. Kebanyakan rumah warga negara Indonesia tidak seperti itu.

Dengan kondisi rumah-rumah yang kebanyakan nyaris tidak memiliki buku, maka seluruh urusan pendidikan anak dipasrahkan kepada sekolah. Dan itu berarti kita memerlukan sekolah-sekolah negeri yang standar mutunya bagus, sehingga orang-orang miskin --yang tidak sanggup membayar sekolah mahal-- memiliki kesempatan yang sama dengan anak-anak orang kaya untuk meningkatkan diri.

Dengan begitu setiap individu mampu membangun cerita yang bagus tentang dirinya sendiri. Dengan begitu panggung Indonesia Raya ini bisa mengakhiri lakon-lakon buruk yang dimainkan oleh aktor-aktor yang menyedihkan. ●