Rabu, 01 Februari 2017

Melemahnya Keterampilan Sosial

Melemahnya Keterampilan Sosial
Ahmad Baedowi  ;  Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
                                            MEDIA INDONESIA, 30 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PERAN media sosial, tak bisa dimungkiri, memengaruhi hampir setiap sudut kehidupan masyarakat kita. Bisa dipastikan hampir seluruh lapisan masyarakat terkena dampak negatif dari media sosial. Yang lebih menyedihkan ialah melemahnya kontrol sosial dan terduksinya nilai-nilai kegotongroyongan yang guyub ke dalam sektarianisme berjenis agama dan ideologi tertentu. Media sosial, pendek kata, membuat mekanisme sosial masyarakat Indonesia hampir terpecah jika tidak dilakukan program keterampilan sosial, terutama bagi anak-anak sekolah yang rentan dan rawan dengan kemudahan memperoleh informasi.

Antisosial?

Di tengah marak dan vulgarnya kampanye menjelang pilkada serentak yang tak jarang mempertontonkan rasa kebencian, curiga, fitnah, egoisme berlebih, ingin menang sendiri, kasak-kusuk cari teman, mengidentifikasi lawan, menaksir strategi, hingga memetakan kemiskinan rakyat untuk kebutuhan parpol dan golongan tertentu, kesempatan untuk melihat pengaruh sosial terhadap dunia pendidikan sangat jarang dilakukan. Secara kasatmata jarang sekali ada komentar dari tokoh kita yang menggambarkan pemilu dan kegiatan kampanye sebagai sebuah kompetisi yang sehat, yakni kejujuran menjadi panglimanya, saling bersimpati, dan menuangkan banyak empati di ruang publik menjadi tolok ukur sebuah keberhasilan. Maka tak heran jika anak-anak di sekolah punya keputusan dan pandangan yang berbeda dari apa yang dipikirkan para politikus.

Fenomena dan pandangan anak-anak sekolah menengah kita yang antisosial boleh jadi merupakan hasil sebuah produk dari pengaruh sosial sistem kepartaian kita. Diam-diam anak-anak di sekolah sedang mencerna dengan kritis fakta sosial yang terjadi. Jangan-jangan fakta sosial dan lingkungan pendidikan kita malah dapat membuat anak-anak berpikir secara liar dan bebas dalam membangun sebuah kesimpulan. Non schola sed vita decimos! (Only the educated are free), demikian Epictetus berkata suatu ketika. Jika ini yang terjadi, pendidikan politik kita dapat dikatakan berhasil meningkatkan taraf kecerdasan sosial anak-anak kita meski pilihannya tidak lazim, yaitu menjadi antisosial dan antipartai.

Pengaruh sosial dapat terjadi kapan saja ketika kita melakukan sesuatu, baik karena keberadaan sesuatu (nyata atau dalam bayangan) orang lain, atau sebaliknya. Manusia ialah makhluk sosial. Oleh karena itu, semua akan selalu dipengaruhi orang lain. Itulah barangkali yang terjadi dengan anak-anal kita yang antisosial dan memilih kekerasan sebagai jalan keluar dari kepenatan di sekolah dan di rumah. Dalam bahasa teori atribusi, faktor-faktor lingkungan yang berinteraksi dengan faktor-faktor disposisional dalam menentukan perilaku, membuat anak-anak kita berkesimpulan sederhana tanpa melakukan analisis dan kajian lagi. Dalam konteks ini, pengaruh sosial dapat berakibat buruk di satu sisi, tetapi sekaligus dapat menjadi sebuah kekuatan sosial baru yang jangan-jangan berubah wujud menjadi partai baru, suatu ketika.

Jika kekuatan sosial diartikan sebagai kemampuan untuk mengubah tingkah laku orang lain, pengaruh cara berpikir anak-anak kita di sekolah sangat boleh jadi akan memiliki kekuatan yang dapat digunakan untuk memengaruhi teman sejawatnya. Kekuatan sosial dapat berasal dari pemilikan akses terhadap berbagai sumber daya (ganjaran, hukuman, informasi, keahlian), dari posisi atau perannya (kekuatan absah), atau dari kondisi yang disukai dan dikagumi (kekuatan rujukan). Melihat kecenderungan anak-anak kita di sekolah yang akan golput, kekuatan rujukan dan kekuatan informasional merupakan pola yang sedang berlangsung saat ini.

Kepada para pendidik dan orangtua, apalagi para politikus, jangan sekali-sekali mencoba melarang apa yang sedang diputuskan oleh anak-anak kita saat ini untuk antisosial dan lebih senang dengan gadget di tangannya. Serangkaian penelitian yang dilakukan di Universitas Duke oleh Brehm (1966) menelaah gejala yang disebutnya reaktansi. Gagasan yang mendasari penelitian Brehm ialah bahwa orang cenderung mempertahankan kebebasannya untuk bertindak.

Bila kebebasan ini terancam, dia akan berusaha semampu mungkin untuk memulihkannya. Jika peningkatan tekanan dipandang sebagai ancaman terhadap kebebasan bertindak, orang akan melindunginya dengan menolak taat atau dengan melakukan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang diminta. Kita sering menyaksikan seorang anak yang ketika disuruh melakukan sesuatu mengatakan 'tidak mau'. Namun, ketika orang tuanya mengatakan 'baik, kamu tidak usah melakukannya', anak itu justru pergi dan melakukan apa yang diminta.

Solusi

Apa yang bisa dilakukan para guru untuk mengantisipasi munculnya sikap antisosial? Penting bagi mereka untuk memahami konsep kunci Skillstreaming, sebuah bentuk intervensi psycho-educational yang berakar pada ilmu psikologi dan pendidikan. Proses skillstreaming menitikberatkan pada empat instruksi langsung prinsip pembelajaran; modeling, bermain peran, umpan balik dan transfer. Keempat prosedur pembelajaran tersebut telah lama digunakan untuk mendidik berbagai jenis perilaku prososial murid di sekolah-sekolah yang memiliki kesadaran tentang pentingnya perilaku prososial siswa yang positif dan diinginkan.

Selain itu, ada juga empathic encouragement (memberi dorongan semangat dengan empati) ialah konsep kunci pertama dari mekanisme skillstreaming. Semua guru pasti sepakat bahwa memberi dorongan semangat dengan empati adalah sebuah strategi teramat penting. Di mana seorang guru dapat menunjukkan bahwa ia memahami kesulitan yang dihadapi murid dan selanjutnya menyarankan murid untuk berpartisipasi seperti yang diperintahkan. Threat reduction (mengurangi ancaman/gangguan) merupakan mekanisme kedua yang juga penting untuk diketahui para guru. Teknik ini akan membantu untuk mengatasi kegelisahan murid.

Mekanisme ketiga dari skillstreaming ialah prompting, yaitu sebuah upaya guru untuk menganjurkan/menyarankan sesuatu kepada siswa. Prompting dapat mencegah murid bersikap mengacau atau menganggu yang disebabkan rasa takut gagal. Salah satu fungsi utama seorang guru adalah untuk mengantisipasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi murid selama dalam kelompok dan bersiap untuk menganjurkan tanggapan yang diharapkan. Akhirnya adalah simplifying (penyederhanaan), cara lain untuk meningkatkan kemungkinan murid berhasil sukses dalam kelompok skillstreaming.

Para guru harus menyadari bahwa kemampuan murid untuk menyelesaikan beberapa tugas khusus berbeda-beda. Beberapa murid mungkin menghadapi kesulitan mengikuti serangkaian perintah, atau memahami perintah-perintah, atau mengetahui apa yang harus dikatakan dalam dan selama proses umpan balik. Karena itu memanfaatkan saat-saat yang tepat untuk memberi pelajaran (capturing teachable moments) dengan menggunakan metode skillstreaming akan berguna untuk mengelola kelompok yang memiliki problem perilaku. ●