Rabu, 01 Februari 2017

Imlek, Tionghoa, dan Islam

Imlek, Tionghoa, dan Islam
Novi Basuki  ;  Alumnus Huaqiao University dan Xiamen University, Tiongkok
                                                    JAWA POS, 28 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

MUNGKIN ada baiknya histori relasi Islam dan Tionghoa dibahas saat Imlek. Sebab, hingga kini, di Indonesia masih ada saja yang terus-menerus membenturkan keduanya. Padahal, dalam bukunya, A World Without Islam, mantan Wakil Ketua Dewan Intelijen Nasional CIA Graham E. Fuller menegaskan bahwa Islam justru bisa dan berhasil berdampingan dengan pemikiran Khonghucu.

Islam di Tiongkok

Jauh sebelum Islam lahir pada abad ke-7, Tiongkok menjadi kekuatan utama dunia, terutama dalam aspek perniagaan. Tiongkok mencatat, pada abad ke-5, armada dagangnya sudah berlayar sampai ke Teluk Persia. Diakui pula oleh Abu Ali al-Marzuqi dalam kitab Al-Azmana wa al-Amkana, saat zaman Jahiliyah, pedagang dari Tiongkok berkumpul di Bandar Daba, sebuah kawasan di pesisir Oman.

Sesudah Islam berkembang, pada 651, Khalifah Usman mengirim empat utusan pimpinan Sa’ad ibn Abi Waqqas ke Tiongkok. Mereka bertemu dengan Gaozong, kaisar ketiga Dinasti Tang.Dua di antaranya wafat di Quanzhou. Kuburannya yang dikenal sebagai sheng mu (makam suci) masih ada hingga kini. Sa’ad mendirikan masjid huai sheng (merindukan Nabi) di Guangzhou –juga masih kukuh sampai sekarang.

Belakangan, tahun tersebut, selain dijadikan permulaan hubungan resmi Arab dan Tiongkok, dianggap sebagai awal masuknya Islam ke Negeri Panda. Sekalipun, Nabi Muhammad sendiri pernah mengutus delegasi ke Tiongkok pada 618–626, sebagaimana dinyatakan sejarawan Dinasti Song He Qiaoyuan dalam buku Min Shu (Sejarah Hokkien).

Selama setengah abad (651–800), kedatangan utusan Arab ke Tiongkok semakin masif. Terhitung ada 34 kali. Perinciannya, 17 delegasi pada zaman Kekhalifahan Umayyah dan 15 delegasi pada era Kekhalifahan Abbasiyah. Ketika masa Umayyah, perdagangan ke Tiongkok dilakukan melalui darat. Jalan itu kemudian diblokade karena terjadi Tujue Zhanzheng (Perang Turkistan Timur) sepanjang 620–657. Jalur laut pun menjadi alternatif.

Sejak masa Abbasiyyah pimpinan Al-Mansur (754–775), ibu kota dipindah ke Baghdad yang notabene daerah pesisir. Mulai saat itu, banyak saudagar muslim dari Arab yang menetap dan menikah dengan orang Tiongkok. Mereka bersama anak pinaknya bermukim di wilayah pinggir pantai seperti Guangzhou dan Quanzhou. Itulah cikal-bakal Hui, suku penganut Islam terbesar dan terluas persebarannya di Tiongkok.

Selepas Dinasti Tang, Islam makin maju. Apalagi selama periode pemerintahan suku Mongol Dinasti Yuan, posisi muslim ditinggikan. Saat Kubilai Khan bertakhta, Tiongkok terbagi menjadi 12 distrik yang dikepalai gubernur. Ahli tarikh Islam-Mongol Rashid al-Din Tabib dalam kitab Jami’ al-Tawarikh menyatakan, 8 di antara 12 gubernur adalah muslim. Wakil gubernur juga dipangku muslim di 4 distrik sisanya. Yang masyhur adalah gubernur pertama Provinsi Yunnan Sayyid Ajjal Shams al-Din Omar (1211–1279) –kemudian dilanjutkan Nasr al-Din, anaknya, sampai 1292.

Populasi muslim terus meninggi sehingga muncul istilah ’’yuan shi huihui biantianxia’’ (era Dinasti Yuan, Hui bertebaran di mana-mana). Bahkan, menurut Donald Daniel Leslie dalam makalah The Integration of Religious Minorities in China: The Case of Chinese Muslims, Pangeran Ananda (cucu Khubilai yang menaklukkan Kerajaan Tangut yang berkuasa di Gansu, Ningxia, dan Sichuan) juga memeluk Islam.

Tionghoa dan Islam di RI

Dengan berganti menggunakan jalur maritim, para pedagang muslim dari Arab yang menuju ke Tiongkok harus melalui Selat Malaka di Indonesia. Demikian pula saudagar muslim dari Tiongkok yang akan ke Arab. Jika bertepatan dengan pergantian angin musim, mereka singgah di wilayah yang membelah Pulau Sumatera dan Semenanjung Melayu itu.

Pada waktu yang sama, hubungan Java Dwipa (Indonesia) dengan Tiongkok yang terjalin sejak Dinasti Han Timur (25–220) juga sedang mesra. Karena itu, ketika 878–884 meletus Huangchao Qiyi (Pemberontakan Huangchao) yang menelan korban ratusan ribu muslim di Guangzhou, tak sedikit yang melarikan diri ke Indonesia, terutama ke Palembang. Demikian pula saat 1357–1366 pecah Yisibaxi Bingluan (Perang Ispah) antara kubu Sunni dan Syiah di Quanzhou.

Lagi, sewaktu ekspedisi Laksamana-Muslim Cheng Ho pada abad ke-15. Berdasar riset Tan Yeok Seong (2005), selepas penumpasan pasukan bajak laut yang dikepalai Chen Zuyi pada 1407 oleh armada Cheng di Palembang, Cheng mengangkat seorang muslim Tionghoa setempat bernama Shi Jinqin sebagai pemimpin komunitas (Islam) Tionghoa di sana –kemudian digantikan putrinya, Shi Erjie alias Nyai Pinatih, pasca kematiannya. Lalu, Shi yang kaya raya pindah ke Gresik. Dialah yang mengasuh Sunan Giri kecil: Raden Paku.

Begitulah Islam menyebar ke Indonesia yang kala itu masih menganut animisme, Hindu, dan Buddha. Kita tidak patut menafikan peran Tionghoa di dalamnya. Tahun Kambing telah lama berlalu. Saling mengambinghitamkan semestinya sudah tidak laku. ●