Selasa, 07 Februari 2017

Membuat Perbedaan

Membuat Perbedaan
AS Laksana ;  Sastrawan; Pengarang; Kritikus Sastra yang dikenal aktif menulis
di berbagai media cetak nasional di Indonesia
                                                   JAWA POS, 06 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Seorang pria 70 tahun membacakan cerita di depan para ibu dan bapak yang mendengarnya dengan khidmat. Sebagian dari mereka menangis ketika cerita berakhir.

Adegan tersebut saya temukan pada video lima menit di YouTube, diunggah pada 2010. Pria yang membacakannya bernama Wayne Dyer, motivator dan penulis buku Your Erroneous Zones (terjual 35 juta eksemplar), dan ia memulainya dengan mengatakan, ’’Saya ingin membacakan cerita untuk kalian, cerita sangat menyentuh yang dikirimkan oleh seseorang melalui e-mail. Mudah-mudahan saya tidak menangis saat membacakannya.’’

Saya ingin mengulangi kisah Teddy dan Bu Thompson itu untuk Anda yang belum membaca atau mendengarnya.

Bu Thompson berdiri di depan kelas. Ini hari pertamanya mengajar murid kelas V dan ia menyampaikan akan menyayangi semua siswa dengan rasa sayang yang sama. Tentu ia tidak mampu membuktikan ucapannya. Di kelas itu ada siswa bernama Teddy Stoddard yang duduk ogah-ogahan di kursinya di barisan depan.

Teddy bukan kawan bermain yang menyenangkan bagi teman-temannya. Pakaiannya kumal dan tampak tidak pernah mandi. Tak ada yang bisa diharapkan dari perusuh kecil seperti itu. Setiap kali memeriksa hasil pekerjaan siswa-siswanya, Bu Thompson akan membuat tanda silang besar dengan tinta merah, khusus untuk kertas ulangan Teddy.

Di sekolah itu, setiap guru diharuskan membaca berkas laporan perkembangan siswa yang dibuat guru-guru sebelumnya. Bu Thompson melakukannya. Laporan tentang Teddy ia baca paling akhir, dengan perasaan malas.

Guru kelas I membuat catatan bahwa Teddy adalah murid yang pintar, periang, dan selalu menyelesaikan pekerjaannya secara rapi. Ia teman bermain yang menyenangkan bagi kawan-kawannya.

Guru kelas II menulis, ’’Teddy murid yang hebat. Ia disukai semua temannya, tetapi ada masalah besar di rumahnya. Ibunya sakit keras dan keadaannya menjadi sulit.”

Guru kelas III menulis, ’’Ibunya meninggal dan Teddy sangat terpukul. Ia sudah mencoba melakukan yang terbaik, tetapi ayahnya seperti tidak peduli. Perlu ada penanganan tepat agar ia tidak semakin terbenam.’’

Guru kelas IV menulis, ”Teddy semakin mundur dan tidak tertarik dengan sekolah. Ia menjadi penyendiri; kadang tertidur di kelas.”

Bu Thompson merasa malu pada dirinya sendiri setelah membaca laporan itu. Perasaannya semakin tidak enak ketika tiba hari Natal dan semua murid memberinya kado. Mereka membungkus kado dengan kertas warna-warni dihiasi pita cantik. Teddy membungkus kadonya asal-asalan, dengan kertas cokelat bekas tas belanja.

Satu demi satu kado dibuka dan seisi kelas tertawa saat melihat isi kado Teddy: hanya gelang yang beberapa manik-maniknya sudah tanggal dan botol parfum yang isinya tinggal setengah. ”Kado yang indah,” kata Bu Thompson. Ia memakai gelang itu dan mengusapkan parfum ke pergelangan tangannya.

Bel pulang berbunyi dan anak-anak keluar ruangan; Teddy menghampiri Bu Thompson, berdiri mematung beberapa waktu, sampai akhirnya bisa berucap: ’’Bu Thompson, hari ini Ibu seharum ibu saya.’’

Guru kelas itu menangis satu jam lamanya setelah kelas sepi. Sejak hari itu ia memberikan perhatian khusus kepada Teddy, dan si kumal pelan-pelan kembali menjadi murid cemerlang. Pada akhir tahun, anak itu menjadi salah seorang murid terpandai di kelas.

Bertahun-tahun berlalu, suatu hari Bu Thompson menerima surat dari Teddy, menceritakan bahwa ia sudah tamat SMA dan berniat melanjutkan kuliah, meskipun jalannya mungkin tidak mudah. Di akhir surat, Teddy menulis: ”Bu Thompson, saya ingin Ibu tahu bahwa Ibu adalah guru terbaik sepanjang hidup saya.”

Empat tahun berikutnya Teddy menulis surat lagi dan menyampaikan hal yang sama bahwa Bu Thompson adalah guru terbaik. Kali ini ia menuliskan nama panjangnya, lengkap dengan gelar sebagai lulusan fakultas kedokteran: Theodore F. Stoddard M.D.

Itu bukan akhir cerita. Teddy mengirimkan surat lain, mengabarkan bahwa ia hendak menikah. Ayahnya sudah meninggal, ia berharap Bu Thompson bersedia duduk di kursi yang biasanya untuk ibu pengantin pria.

Bu Thompson memenuhi permintaan itu. Ia datang mengenakan gelang manik-manik yang sudah ompong dan parfum dari Teddy. Mereka berpelukan. Dokter Stoddard berbisik, ’’Terima kasih Ibu telah memercayai saya dan membuat saya merasa berarti. Terima kasih telah meyakinkan bahwa saya mampu membuat perbedaan.”

Bu Thompson, dengan mata basah, membalas bisikan, ’’Teddy, kau yang telah mengajariku membuat perbedaan. Aku tidak tahu cara mengajar sampai bertemu denganmu.”

Cerita tersebut tersebar luas di internet dan banyak orang menganggapnya kisah nyata. Mungkin karena ia sangat menyentuh, dan orang berharap kehidupan nyata berisi kejadian-kejadian seperti itu. Namun, itu fiksi, sebuah modifikasi dari cerpen Three Letters from Teddy, ditulis oleh Elizabeth Silance Ballard di majalah Home Life, 1975, dan diterbitkan ulang di majalah yang sama setahun kemudian dengan keterangan: ”Cerita yang paling diminati pembaca sepanjang sejarah majalah ini.”

Ballard menyampaikan bahwa setiap orang bisa membuat perbedaan, dan tindakan-tindakan kecil bisa bermakna besar. Kisah itu menyentuh perasaan pada saat kali pertama diterbitkan, dan bertahun-tahun kemudian orang masih tetap menangis oleh rasa haru yang disampaikannya. ●