Sabtu, 04 Februari 2017

Lampion Imlek dan Keluarga Saya

Lampion Imlek dan Keluarga Saya
Muchus Budi R  ;  Wartawan Detikcom;  Koresponden Solo
                                                  DETIKNEWS, 28 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Diam-diam sedikit banyak kami juga berasal dari keluarga berdarah Tionghoa. Namun karena sudah sedemikian lama melebur menjadi 'keluarga Indonesia' maka tak terlacak lagi identitas etnis manapun yang menjadi cikal-bakal keluarga kami.

Istri saya keturunan Babah, istilah untuk menyebut kelompok warga berdarah campuran Tionghoa dengan pribumi setempat. Nenek istri saya seorang keturunan Melayu - Tionghoa asal Singapura yang menikah dengan pemuda etnis Jawa dari Solo yang sedang studi musik di negeri Singa, yang saat itu menjadi jajahan Inggris. Dari pernikahan mereka lahir enam anak, salah satunya adalah ibu mertua saya.

Sedangkan ayah istri saya berasal dari keluarga berdarah campuran Jawa - Belanda asal Salatiga. Jadi, jika memang Anda merasa dipentingkan melacak 'kemurnian' darah untuk pemeriksaan identitas, akan sulit melacak hal itu pada pada anak-anak kami.

Sebagai keluarga yang selalu berusaha mengambil pendekatan kemanusiaan dengan meletakkan 'manusia sebagai pusat', kami merasa tak peduli lagi tentang identitas-identitas seperti itu. Sebagai keturunan bangsa terbuka, kami harus siap menghadapi konsekuensi logis bahwa kami akan selalu menjadi 'bangsa baru' yang terus meng-update pembaharuan-pembaharuan yang seiring juga dengan pembauran-pembauran baru.

Ke-Jawa-an, ke-Belanda-an, ke-Tionghoa-an, hanyalah sebuah penanda lahir bagi seseorang yang hidup di negeri terbuka bernama Indonesia; padang terbuka dan tengadah yang akan selalu menjadi muara arah singgah pembauran manusia dari segala penjuru dunia.

Pembauran itu bukankah sudah sejak lebih dari seribu tahun lalu terjadi, semenjak kapal layar mulai dirakit dan digunakan untuk 'penyatuan' umat manusia di dunia. Ciri-ciri kebudayaan atau kekhasan etnis kita bukankah telah menunjukkan bahwa nenek-moyang kita adalah bangsa yang sangat mumpuni sebagai 'peramu' peradaban dunia yang tanpa perlu gembar-gembor telah melakukan proses akulturasi dengan semangat 'menyatukan semua kelebihan untuk masa depan'.

Rembesan kebudayaan Tionghoa misalnya, telah sedemikian banyaknya kita terima sebagai bagian dari kebudayaan yang selama ini seolah menjadi 'kebudayaan asli' kita. Semua dilakukan dengan kesadaran dalam proses berabad-abad lamanya, yang kemudian secara jenius dilakukan proses domestifikasi dan dibarengi dengan reproduksi ide.

Arsitektur masjid dan bangunan kuno kita, sangat kelihatan pengaruh Tionghoa. Gamelan sebagai perangkat musik tradisi yang paripurna itu adalah pengembangan jenius dari peradaban zaman Dongson.

Penerjemahan karya-karya sastra Tionghoa telah dilakukan secara masif sejak Yosodipuro I mempelopori masa Renaisance Sastra Jawa. Demikian pula pengaruh karya-karya seninya. Fragmen tari 'Adaninggar - Kelaswara' dan lakon kethoprak 'Manggoloyudo Sudiro' yang melegenda itu adalah bukti nyata.

Bahasa Tionghoa pun banyak mempengaruhi berbagai bahasa, termasuk Indonesia. Seorang ahli bahasa menyebut terdapat 233 kata 'pinjaman' dari Bahasa Tionghoa yang kita pakai sehari-hari dalam percakapan Bahasa Indonesia. Pastinya ini belum ditambah lagi perbendaharaan Bahasa Tionghoa yang 'dipinjam' oleh bahasa daerah kita masing-masing.

Ini belum lagi sumbangan kebudayaan Tionghoa dalam hal olahraga dan adat-istiadat. Beladiri dan senam pernafasan Tionghoa, sangat populer di dalam kehidupan bagsa ini. Sedangkan pengaruh adat-istiadat Tionghoa yang paling populer dan sangat digemari bangsa ini adalah tradisi minum teh serta kebiasaan merayakan kegembiraan dengan memasang lampu hias (lampion) dan membunyikan petasan.

Lalu bagaimana melacak kemurnian itu? Sangat sulit. Istri saya, si peranakan yang sejak lahir memang dididik dan 'benapas' dalam ke-Indonesia-an tadi justru merasa asing ketika melihat 'tradisi asli' dari negeri leluhurnya itu disuguhkan di kawasan Pasar Gede, Solo, setiap malam selama hamper sebulan menjelang tahun baru Imlek. Hal demikian juga sepertinya dirasakan anak-anak kami ketika melihat atraksi seni etnis 'kemasan' para leluhur pribumi mereka sendiri, karena mereka telah berjalan jauh sebagai manusia Indonesia yang 'kesatuan' tadi.

Demikian juga saat mereka melakukan 'ziarah' ke negeri leluhurnya. Ketika istri dan anak-anak kami mengunjungi keramaian yang dikemas khusus menyambut Imlek di kawasan Chinatown, Singapura, saya merasakan mereka tak lagi hadir sebagai bagian dari perayaan itu. Mereka hadir sebagai pengunjung yang dengan genit berfoto sana-sini untuk mengabadikan kehadirannya di sebuah arena plesiran.

Tak perlu panik, tak perlu risau. Semua itu adalah konsekuensi logis perjalanan peradaban. Belum lagi ditambah proses-proses 'penyatuan dan pembebasan manusia' seiring keputusan-keputusan politik. Budayawan kenamaan, (Alm) Umar Kayam, pernah menyampaikan pemikiran yang layak kita renungkan;

"Konsekuensi membangun suatu republik kesatuan dan modern memang jauh. Dan seringkali juga mahal bayaran­nya! Salah satu esensi negara-kebangsaan yang kesatuan dan modern adalah 'penyederhanaan' dan 'penyatuan'. Akan banyak kekhasan etnik kita hilang, akan banyak wajah tradisi musnah. Pasti kita akan berusaha menyelamatkan yang dapat diselamatkan. Tetapi mencegah serat-serat tikar yang sudah mulai lapuk memang sulit! Yang akan lahir adalah suatu kebudayaan (dan kesusasteraan) yang baru meskipun masih akan banyak mengandung unsur-unsur lama dalam kurun waktu yang cukup panjang."

Meski demikian, tak salah juga Imlek dirayakan dengan berbagai tradisi dan atraksi yang lekat dengan tradisi asalnya. Justru itu perlu untuk memperlihatkan keragaman tradisi budaya di negeri yang menyepakati kebhinekaan dan kemajemukan. Apalagi saudara-saudara kita etnis Tionghoa juga perlu mengenalkan kepada keluarganya tentang tradisi moyangnya yang selama puluhan tahun dilarang oleh rezim Orde Baru.

Istri dan anak-anak saya juga boleh ikut numpang merayakannya. Karena 'bukan lagi' menjadi etnis Tionghoa, perayaannya cukup dengan bergabung dalam kerumunan warga yang setiap malam menyesaki kawasan Pasar Gede untuk ber-selfie di antara keindahan ribuan lampion Imlek.

Tapi ada juga yang perlu disayangkan. Sebagai yang bukan lagi 'keluarga etnis' maka anak-anak saya menjadi dilupakan tidak mendapat ucapan selamat tahun baru dengan selipan angpao..... ●