Selasa, 14 Februari 2017

Demokrasi Amerika Masih Hidup

Demokrasi Amerika Masih Hidup
Shamsi Ali  ;   Presiden Nusantara Foundation;
Koordinator rally ’’Today I am a muslim too’’ di New York
                                                   JAWA POS, 13 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

DALAM beberapa hari ini ada berita yang menggembirakan bagi banyak orang di Amerika Serikat (AS), khususnya komunitas muslim. Dan lebih khusus lagi komunitas muslim dari tujuh negara yang dilarang oleh Presiden Donald Trump masuk AS. Tujuh negara itu adalah Iran, Iraq, Syria, Libia, Yaman, Sudan, dan Somalia. Sebelumnya, mereka dilarang masuk AS dengan alasan menjaga keamanan negara dari serangan teror dari luar.

Pada hari ditandatanganinya keputusan itu, yang menimbulkan kekacauan (chaos) di berbagai bandara internasional Amerika, termasuk diadakannya demonstrasi besar-besaran, baik di luar maupun dalam bandara. Ratusan penumpang yang mendarat hari itu dari negara-negara termaksud ditahan di airport. Bahkan, imbas kebijakan ini juga merambat ke penumpang muslim lainnya, di mana mereka mendapat perlakuan yang buruk di imigrasi bandara AS.

Alhamdulillah, ternyata karakter anti-Islam dan muslim Donald Trump, khususnya dengan pelarangan orang Islam masuk AS ini, menumbuhkan simpati dan solidaritas warga secara luas. Berbagai demo di bandara-bandara internasional justru diinisiasi oleh warga AS nonmuslim, termasuk komunitas Yahudi.

Tekanan warga di berbagai kota di AS meninggi. Sementara itu, berbagai asosiasi pengacara melakukan gugatan hukum darurat menuntut agar kebijakan itu dibatalkan. Maka, pada hari yang sama peraturan itu diperlakukan, Pengadilan Tinggi Brooklyn menangguhkan pelarangan itu. Hasilnya, ratusan pendatang yang tertahan di airport itu bisa masuk AS pada hari berikutnya. Setelah Pengadilan Tinggi Brooklyn, peraturan itu kemudian dinyatakan batal dan tidak konstitusional oleh Pengadilan Tinggi Negara Bagian Washington.

Merespons atas pembatalan itu, pihak White House membawanya ke pengadilan menuntut agar pembatalan itu ditangguhkan. Artinya, Trump berusaha tetap memperlakukan pelarangan itu. Karena memang pelarangan itu disebutkan dalam masa tiga bulan.

Akan tetapi, sekali lagi Trump harus menerima kenyataan pahit bahwa pengadilan tinggi di San Francisco di mana pemerintahannya mengajukan peninjauan kembali atas pembatalan ’’executive order’’ itu ditolak secara aklamasi. Dari tiga hakim tinggi yang memutuskan itu, semuanya menyatakan menolak keinginan Donald Trump itu.

Trump, sebagaimana biasanya, menyampaikan unek-uneknya lewat Twitter ’’see you in court. The security of our nation at stake’’ (sampai ketemu di pengadilan. Keamanan negara kita dalam bahaya).

Sekali lagi, Trump menampakkan diri sebagai orang yang hidup dalam bayang-bayang dirinya sendiri. Di mana, dirinya selalu merasa terancam (insecured) dan hanya dia sendiri yang bisa menjamin keamanannya. Sebuah kepribadian yang terlepas dari realitas sekitarnya.

Benarkah bahwa dengan melarang orang Islam datang ke AS, negara dan bangsa ini akan lebih aman? Dalam sejarahnya, AS selalu teruji oleh nilai-nilai kemanusiaan universal yang dibanggakan. Bahwa AS adalah negara dan bangsa imigran, terbuka untuk imigran, dan selalu mengedepankan sikap berkeadilan kepada semua tanpa batas agama, ras, dan latar belakang kebangsaan.

Bersatu membangun solidaritas

Dari sudut nilai-nilai universal AS inilah yang membangun kesadaran bangsa bahwa apa yang dilakukan oleh presidennya saat ini salah. Sehingga wajar jika banyak warga AS saat ini yang bangkit dan melakukan resistansi terhadap kebijakan Trump itu.

Saya sendiri sejak awal kampanye hingga terpilihnya dan bahkan hingga kini banyak mendapat dukungan dari teman-teman nonmuslim. Baik itu secara langsung dengan menawarkan perlindungan apa pun yang diperlukan dalam menghadapi tantangan masa kini maupun secara tidak langsung dengan mengajak kerja sama dalam membangun komunitas bersama yang solid.

Salah satu bentuk nyata dari dukungan teman-teman nonmuslim adalah keinginan mereka untuk secara terbuka menyatakan rasa simpati dan solidaritas dengan mengadakan rally bertema ’’Hari ini kami juga muslim’’. Rencana kegiatan tersebut diadakan pada 19 Februari mendatang di jantung kota New York, Time Square.

Maksud dari tema ’’Hari ini kamu juga muslim’’ adalah menyatakan bahwa apa yang diperlakukan kepada umat Islam berarti itu juga diperlakukan kepada kami. Kesadaran ini bahkan diekspresikan oleh sebagian pembesar AS dalam kata-kata ’’kalau sampai komunitas Islam didata (registry), maka kami akan menjadi muslim’’.

Sungguh komitmen besar dan jujur dari sebagian warga AS. Komitmen yang menggambarkan karakter AS yang sesungguhnya. Dan disadari atau tidak, karakter inilah yang menjadikan banyak kaum mustadh’afin dari berbagai belahan dunia datang ke negara ini. Termasuk tentunya kakek dan nenek Trump datang dari Eropa mencari karakter yang (harusnya) kasih (compassionate) tadi.

Berbagai tokoh agama yang berpengaruh di Kota New York telah menyatakan kesiapannya untuk hadir berbicara, antara lain, Cardinal Dolan (pimpinan Katolik), Rabbi Joseph Potasnik (Majelis Rabi Yahudi di New York), Rabbi March Schneier (presiden FFEU), Rev. Chloe Breyer (direktur Interfaith Center of New York), dan banyak lagi.

Dari kalangan pejabat akan hadir gubernur New York, jaksa agung New York, wali kota New York, maupun anggota kongres yang mewakili New York di Washington DC.

Selain itu, juga akan hadir beberapa selebriti Hollywood. Salah satu di antara mereka yang memang menjadi bagian dari panitia pelaksana adalah Russell Simmons, raja hiphop yang sangat terkenal. Sekitar lima atau enam tahun lalu saya dan Russell Simmons pernah berkesempatan ketemu dengan Trump.

Rally yang rencananya akan diliput secara luas oleh media mainstream ini seperti CNN, NBC, ABC, MSMBC, bahkan Fox News maupun media luar seperti MBA, Aljazeerah, dan Al-Hurrah akan menjadi salah satu perhelatan akbar sebagai bentuk resistansi masyarakat kepada kebijakan Trump yang diskriminatif.

Sekaligus selain kekalahan Trump di pengadilan tadi, rally ini juga membuktikan bahwa demokrasi di Amerika masih hidup. Karena dalam dunia demokrasi, kekuasaan itu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Toh memang di awal konstitusi AS tidak dikatakan ’’I the president’’ (saya sebagai presiden). Tapi, ’’we the people’’ (kita rakyat). Sehingga bagi saya bahwa di tengah badai tantangan itu, di balik rintangan yang menggunung itu, ada sinar mentari tersenyum. Sehingga optimisme harus terus dibangun karena memang harapan itu selalu ada. Insya Allah!