Selasa, 14 Februari 2017

Bagaimana Hipnotis Politik Melumpuhkan Nalar

Bagaimana Hipnotis Politik Melumpuhkan Nalar
AS Laksana  ;  Sastrawan; Pengarang; Kritikus Sastra yang dikenal aktif menulis
di berbagai media cetak nasional di Indonesia
                                                   JAWA POS, 13 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PADA waktu pertama membeli buku hipnotis pada penjual buku di trotoar dekat Pasar Induk Semarang, bertahun-tahun lalu ketika saya masih SD, saya membelinya dengan keyakinan yang dimiliki banyak orang, yaitu bahwa hipnotis adalah sebuah kesaktian yang memerlukan bantuan jin. Saya pikir setelah rampung membaca buku itu, saya akan bisa berwisata ke Jakarta dengan karpet terbang, mengelilingi Monas tiga kali, menikmati Taman Mini, dan setelah itu langsung terbang ke Pulau Komodo.

Manfaat lainnya, saya bisa membuat orang tertawa sepanjang hari; tinggal meminta tolong jin untuk menggelitikinya dari subuh hingga petang. Atau jika ada orang yang menjengkelkan, saya akan meminta jin pembantu saya untuk membuatnya tersesat di pasar dan baru menemukan jalan pulang satu bulan kemudian.

Saya lupa isi buku itu, tetapi masih ingat bahwa saya menyelesaikan buku itu dalam waktu satu malam saja. Mimpi untuk berwisata dan sebagainya gagal terwujud; saya bahkan tidak mampu memindahkan secuil kertas di atas meja dengan pandangan mata.

Sampai beberapa waktu lalu saya masih bertemu dengan orang yang meyakini bahwa setiap hipnotis pasti bekerja sama dengan jin. ”Ya, memang begitu,” kata saya. ”Saya bisa menghipnotis karena mendapatkan ilmu Nabi Sulaiman yang diwariskan kepada saya oleh seorang pengemis.”

Mungkin hingga sekarang tetap masih banyak orang yang meyakini adanya kerja sama antara hipnotis dan jin. Itu gejala khas pada spesies manusia. Jika akal sulit menjangkau dan pengetahuan tidak memadai untuk memahami sebuah fenomena, mereka akan mencari cara termudah untuk menjelaskannya. Pasti pakai jin.

Jika Anda mempelajari hipnotis dan berhadapan dengan orang dengan keyakinan seperti itu, sebaiknya disetujui saja keyakinannya, tidak usah dibantah. Dengan demikian, di mata orang itu, Anda orang sakti, kurang lebih setara dengan Nabi Sulaiman.

Padahal, jika mau membaca, mereka akan tahu bahwa hipnotis bekerja membuat orang trance dengan cara melumpuhkan pikiran kritis terlebih dulu. Caranya bermacam-macam, tetapi tujuannya satu, ialah membuat pikiran Anda kehilangan daya kritis sehingga Anda akan mudah dipengaruhi.

Seseorang tak dikenal menepuk pundak Anda dan kemudian bicara nyerocos, menjejalkan segala hal yang membuat pikiran Anda bekerja keras untuk memproses informasi yang memang sulit dicerna. Ia bisa juga mengajukan pertanyaan yang membingungkan, dengan tujuan sama: membuat pikiran Anda bekerja keras untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya.

Pada saat pikiran Anda masih bekerja keras, ia menyusulkan informasi baru atau pertanyaan-pertanyaan berikutnya secara deras. Terus seperti itu, sampai pikiran Anda kelelahan karena banyak hal yang harus ditangani dalam satu waktu. Itu akan membuat Anda ’’banyak pikiran”, yang artinya bukan cerdas atau memiliki pemikiran yang banyak, tetapi mumet.

Di saat pikiran kelelahan, kesadaran Anda melumpuh dan daya kritisnya tidak bekerja. Anda akan mudah mengikuti apa yang orang itu inginkan ketika pikiran Anda di puncak kelelahan dan sudah kehilangan daya kritis. Cara itu lazim dilakukan tukang gendam.

Peristiwa sehari-hari yang mirip dengan itu mungkin pernah Anda alami. Seseorang keliru menyangka Anda adalah temannya dan ia menyapa, ”Hai, apa kabar?” Anda terdiam beberapa saat, pikiran Anda bekerja mencari tahu siapa orang ini, dan pencarian itu pasti gagal karena Anda memang tidak mengenalnya. Bedanya dari peristiwa gendam, biasanya orang itu akan menyadari bahwa ia keliru dan meminta maaf. Anda tidak menjadi korban karena ia memang tidak punya niat jahat.

Hal lain yang membuat Anda amat mudah dipengaruhi adalah perasaan takut yang ditanamkan di dalam benak terus-menerus, sampai kemudian Anda menyepakati bahwa apa yang Anda takutkan itu memang benar-benar ada. Para propagandis bekerja antara lain dengan cara seperti ini. Mereka menanamkan ketakutan di benak kita terus-menerus. Mereka rajin menyebarkan kebohongan demi kebohongan, dengan cara sungguh-sungguh, sampai pada akhirnya kita tidak bisa mengenalinya lagi sebagai kebohongan.

Saya melihat itu yang terjadi pada masyarakat kita sekarang. Kita dibuat kelelahan oleh berbagai isu dan hasutan, dibuat bingung dan ”banyak pikiran” oleh orang-orang yang tega menyebarkan kebohongan tiap hari.

Beberapa orang bisa selamat dan mampu mempertahankan kewarasan karena memiliki cukup pengetahuan untuk menolak dan mengambil jarak dari gencarnya kebohongan dan propaganda. Ada banyak yang hanyut.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang yang kurang berilmu dan terbatas pengetahuannya memang golongan paling tidak kritis. Mereka itulah mangsa paling empuk bagi para penghasut dan propagandis. Mereka paling mudah trance, dan kemudian memasrahkan diri pada hasrat-hasrat politik para juragan, yang mereka yakini sebagai penegak kebenaran.

Para juragan politik itu, Anda tahu, sama sekali tidak bekerja sama dengan jin. Kawan karib mereka adalah para penyedia nasi bungkus.