Senin, 06 Februari 2017

Cerita Hidup

Cerita Hidup
Samuel Mulia ;  Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                     KOMPAS, 05 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Izinkanlah saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada bapak, ibu, saudara, saudari sekalian. Apakah untuk membuat hidup ini lebih hidup, Anda melakukan sesuatu aktivitas yang bisa dikategorikan tidak baik?


Bab 1

Mengapa pertanyaan ini saya ajukan, bukan karena saya bermaksud menyindir, bukan juga untuk menyusahkan hari Minggu Anda agar saya mendapatkan sebuah data. Saya sungguh bingung dan terenyuh setelah satu minggu yang lalu mendengar cerita kalau ada seorang ibu yang memilih menghancurkan dirinya sendiri dengan cara yang kalau saya tuliskan, pasti sama seperti saya, Anda akan terenyuh sambil geleng kepala.

Beberapa hari kemudian, kebingungan saya bertambah saat saya makan siang bersama rekan kantor setelah melakukan presentasi. Tempat makan siang kami menempati sebuah ruko yang lumayan panas di tengah hari yang mendung. Dan suasana menjadi semakin panas ketika mendengar cerita bahwa ada manusia yang mencari nafkah dengan menjadi hater.

Waktu saya menceritakan cerita kedua ini kepada beberapa rekan kerja di kantor, mereka malah sudah tak heran lagi. "Ada banyak banget, Mas." Selama ini saya berpikir kalau ada banyak hater, itu memang karena manusianya saja senang jadi hater, bukan karena mereka dibayar untuk itu.

"Kamu mau? Udah pas tuh. Mulut gak sekolahan, suka iri hati, terus gampang banget dikomporin," kata suara nurani penuh belati itu. Seperti berkali-kali saya tuliskan, nurani saya itu selalu mengambil kesempatan emas untuk menyindir.

Setelah mendengar dua cerita di atas, saya mengajukan pertanyaan mengapa saya memilih mewarnai perjalanan hidup ini dengan berbuat ketidakbaikan? Mengapa saya menyusun sebuah cerita kehidupan menjadi hater, menjadi pengguna narkoba kelas berat, menjadi istri yang juga melacurkan diri.

Menjadi manipulator, menjadi agen kerusuhan, agen penyebar rasa takut, menjadi simpanan dan mengganggu kesejahteraan rumah tangga orang lain tanpa merasa bersalah, menjadi pedagang barang palsu. Ya tas palsu, ya obat palsu, ya oli palsu. Semuanya palsu.

Menjadi tukang palak, menjadi endorser yang mengelabui jutaan orang, menjadi sopir angkot yang tidak tertib, menjadi karyawan yang maling, menjadi manusia yang mudah sekali dibakar bahkan hanya dengan bensin yang hanya setetes, menjadi perampas hak orang.

Bab 2

Menjadi hakim yang tidak adil, menjadi pembuat laporan palsu hanya untuk menjerat dan menjadikan sesamanya sebagai kambing hitam, menafkahi diri sendiri dan seluruh keluarga, serta menyumbang dengan uang yang didapat dengan menjadi koruptor atau penjual manusia.

Seingat saya, saya pernah menulis bahwa banyak dari teman- teman saya menjadi pembaca setia kolom ini karena menurut mereka, tulisan saya itu seperti belati, menghujam dan nyinyir. "Menyetrum," kata seorang teman.

Tetapi, sekarang, banyak dari mereka tidak lagi membaca kolom ini karena menurut mereka tulisan saya sudah membosankan. Mau tahu alasannya? "Tulisan elo sekarang kurang gereget, kurang jahat. Kurang silet, cinnn.."

Gara-gara itu saya mulai berpikir, apakah membuat hidup semakin hidup itu adalah melalui kejahatan? Melalui sesuatu yang seperti silet, yang membuat berdarah. Baik itu melalui tulisan maupun dengan belati yang menghabisi nyawa orang?

Apakah untuk membuat hidup lebih hidup itu saya sukanya disetrum. Makin tinggi sengatannya, makin tinggi kenikmatan yang dirasakan. Begitu? Mengapa saya memilih sebuah eksekusi yang menyengsarakan diri dan orang lain, hanya agar sebuah kehidupan menjadi benar-benar tidak membosankan?

Saya sering mendengar ucapan macam ini. "Elo gak seru ahhh. udah deh sekali ini aja. Kan gak tiap hari." Ucapan itu selalu dihadirkan ketika seseorang menolak mabuk, menolak tak sadarkan diri, menolak sesuatu yang tidak baik. Sejujurnya pernahkah Anda merasa bosan bergaul dengan orang baik? Pernahkan Anda merasakan bahwa yang baik memang benar-benar tak ada geregetnya?

Apakah karena yang benar akan menelanjangi ketidakbenaran sehingga gereget dan setrumnya tak bisa dirasakan lagi? Mungkin berita di koran, sebuah adegan film, cerita dalam novel akan menjadi lebih menarik, kalau selalu ada kejahatan yang terselip di dalamnya.

Selalu ada friksi antara yang baik dan yang jahat. Dan harus saya akui, saya bisa berjam-jam, bahkan berbulan-bulan, menonton serial televisi karena ada kejahatan yang seperti setrum listrik. Di dalam pergaulan saya, kalau ada seseorang yang mulai mengajak melakukan hal yang baik atau menyarankan untuk menjadi baik, akan selalu ada suara berisik yang mengatakan seseorang itu sok suci. Mengatakan bahwa sesekali kita itu dimaklumi berbuat ketidakbaikkan. Begitukah? ●