Senin, 05 Desember 2016

Agama di Kehalusan Budaya

Agama di Kehalusan Budaya
Radhar Panca Dahana  ;   Budayawan
                                         MEDIA INDONESIA, 03 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SALAH satu hal paling menarik dari doa bersama '212' kemarin, selain rasa sejuk dan damai yang menggenangi hati seluruh peserta doa, ialah tampil bersama--mungkin untuk pertama kalinya--pimpinan Front Pembela Islam (FPI) bersama kepala negara di panggung. Hal itu secara simbolis menggambarkan banyak hal.

Sekurangnya, FPI pastilah bukan pihak yang pernah diarah oleh persangkaan makar, baik oleh petugas keamanan bahkan pejabat pemerintahan. Kedua, FPI menjadi salah satu representan juga dari kesejukan dan kedamaian aksi doa bersama di atas. Ketiga, kita atau sekurangnya saya, mafhum--sejak lama sebenarnya--Muhammad Rizieq Shihab, Ketua FPI, sesungguhnya ialah pemikir dengan lidah yang cerdas dan nasionalis tulen.

Bahwa mungkin Rizieq Shihab yang juga dipanggil Habib itu sebagai cendekiawan muslim memiliki pandangan tersendiri--katakanlah tergolong keras bahkan radikal dalam mereaksi situasi mutakhir masyarakat dan negara kita, terutama dalam konteks keislaman--hal itu lumrah saja. Dalam sejarah republik ini yang 70 tahun lebih, bangsa ini yang ribuan tahun, ekspresi-ekspresi semacam itu merupakan bagian dari cara kita membentuk diri, memperkaya budaya, juga mendewasakan karakter kita bersama.

Sejarah Indonesia adalah juga sejarah para pemikir atau cendekiawan muslim, atau yang kita sebut juga secara jamak, ulama. Peran dan kontribusi mereka, baik yang merasa dirinya pribumi maupun yang nenek moyangnya berasal dari negeri seberang, entah Tiongkok, India, Persia, atau Arab, tercatat dengan baik bukan hanya dalam buku tertulis, melainkan juga dalam memori publik rakyat negeri ini.

Dalam kebudayaan di negeri ini, ulama (yang secara etimologis berasal dari bahasa Arab) memiliki padanan lokalnya: kiai. Kedua istilah tersebut bukan gelar, apalagi secara formal, yang disematkan dengan upacara, selebrasi, dan cap institusi ternama. Bukan. Kedua sebutan tersebut merupakan bentuk penghargaan, respek, dan rasa hormat publik pada seseorang yang karena ilmu atau kapasitas dan kapabilitasnya (dalam agama, misal saja) memberikan maslahat yang besar dan meluas di khalayak.

Frasa 'maslahat besar dan luas' di atas memiliki makna konotatif yang sifatnya tidak abstrak melulu, sebagaimana keilmuan atau kecendekiawanan. Frasa tersebut memiliki juga arti yang praktis atau material. Artinya, dalam budaya bahari kita, seorang kiai atau ulama dilihat tidak hanya dari kecanggihan pengetahuan serta retorikanya saja, tapi juga bagaimana ilmu itu menjadi jejak, menjadi tapak, menjadi kerja praktis yang melibatkan (banyak) orang lain, dan memberi manfaat langsung bagi perbaikan kehidupan.

Maka, boleh saja seseorang mengklaim dirinya seorang ulama atau kiai, tetapi pengujian sebenarnya ialah pada hati konstituen atau masyarakat yang ada di lingkungannya, yang melihat klaim tersebut dalam implementasi kehidupan sehari-harinya. Tidak mengherankan jika dalam penyebutan tradisional kita terdapat majemuk 'alim ulama' yang menunjuk pada kealiman, dalam arti--yang mungkin berbeda dari makna aslinya--memiliki tingkat kesalehan tinggi. Saleh di sini, tentu, dalam terminologi akidah, adalah akhlak atau perilaku yang mulia.

Kemuliaan, sekali dalam tradisi bangsa-bangsa Indonesia yang begitu kaya ragamnya, ialah sikap (berpikir, merasa, dan spiritual) yang mampu berada di 'atas' sentimen lokal, beyond of interests, mengatasi semacam chauvinisme daerah, asal usul atau dalam bahasa Orba ke-'SARA'-an. Pribadi seorang kiai atau 'alim ulama' ialah pribadi yang mengacu pada peribasa kita, 'Kian merunduk kian berisi'. Semakin ia saleh dan berilmu, ia kian tenang, kalem, dan merendahkan hati bahkan dirinya.

Jadi, baik itu ulama, ustaz, ataupun habib yang saleh, walaupun mungkin ia berisik lidahnya, tetapi pikiran dan hatinya tetap tenang, sejuk, dan damai. Itulah inti dari kebudayaan bahari, budaya yang ditanam, ditumbuhkan, dan diwariskan nenek moyang penghuni kepulauan ini. Apa pun bentuk ekspresi hingga ideologi yang dimiliki atau diyakini seseorang, termasuk kepercayaan juga agama, tetap memiliki kearifan kultural itu.

Belakangan ini, di masa dunia dipenuhi pergolakan yang sebagian dijiwai atau diberi alasan spiritual/agama, bangsa Indonesia selalu mendapat apresiasi dari seluruh penjuru bumi. Sebagai bangsa yang mampu melerai, menyelesaikan, dan menciptakan keharmonisan, kedamaian, dan kesejukan dalam hidup kebinekaannya, termasuk dalam agama, Islam terutama. Tentu saja, kita tidak akan mencederai standing ovation yang telah diberikan masyarakat dunia dengan jujur itu. Sebaliknya, kita mesti balas mengapresiasi apresiasi dunia yang penuh respek tersebut, dengan meningkatkan kemuliaan, antara lain kesalehan dari praksis beragama kita.

Maka kita bisa menguliti sejarah umat muslim di banyak negara. Seperti lebih dari 100 juta muslim (terbesar kedua di dunia setelah Indonesia) di Tiongkok, yang dapat hidup dengan sejuk dan damai walau dalam pemerintahan nonmuslim, ribuan tahun lamanya, termasuk dalam kekuasaan komunis yang ateis. Begitu ratusan juta muslimin di pelbagai negara nonmuslim, di Eropa dan Amerika, seperti Prancis tempat Islam menjadi agama kedua di negeri itu, dapat dengan baik menyelenggarakan hidup yang baik dengan sesama warga negara lainnya.

Indonesia, dengan kaum alim ulamanya yang memiliki sejarah cukup kuat dalam mengisi khazanah pemikiran Islam, selayaknya menjadi contoh bagi bangsa-bangsa lain, bagaimana Islam ialah agama yang menaungi dan melindungi semua umat manusia. Agama besar yang memeluk si kecil, agama yang penuh kasih, kelembutan dan rasa maaf tak terhingga, sebagaimana Rasul junjungannya, sebagaimana sifat Maha dari Allah yang disembahnya setiap waktu.

Bersyukurlah, doa bersama yang terjadi kemarin di seputaran Tugu Monas dapat menjadi simbol atau representasi agama yang memiliki kehalusan budaya di atas, budaya kita yang bahari. Sesungguhnya, tidaklah keliru jika proklamator kita, pencipta Pancasila, sebenarnya menempatkan sila pertama dalam frasa yang sejuk, 'Ketuhanan yang berkebudayaan'. Ketuhanan yang tak hanya toleran, tapi juga 'akseptan' terhadap ekspresi-ekspresi religius lainnya. Bukan hanya agama langit dan bumi saja, melainkan juga yang tradisional, yang dulu dipeyoratifkan sebagai paganistik.

Kekuatan budaya dalam agama itu, dalam Islam itu terutama, sesungguhnya ialah senjata dahsyat untuk melawan 'musuh' kita sebenarnya, musuh bangsa kita. Musuh yang belakangan ini ndompleng atau jadi penumpang-sembunyi dalam jargon-jargon modernitas.

Jargon-jargon, sebagiannya kini sistemis, yang telah memerangkap dan membungkus generasi muda kita dalam identitas yang virtual, artifisial, bahkan ilusif. Di sini para kiai dan alim ulama dapat mengambil peran, bahkan lebih utama dan signifikan ketimbang pejabat publik yang diberi amanah, dipercaya, dan dibiayai rakyat tapi justru mengkhianatinya.