Kamis, 01 Desember 2016

Polarisasi Opini Kelas Menengah

Polarisasi Opini Kelas Menengah
Wasisto Raharjo Jati  ;   Peneliti di Pusat Penelitian Politik-LIPI
                                              KORAN SINDO, 30 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Polarisasi dan fragmentasi opini kelas menengah Indonesia yang didominasi kaum urban terjadi cukup kuat dalam ruang dunia maya akhir-akhir ini.  Dua fenomena tersebut muncul karena prilaku di dunia maya tidak sehat, yang mendominasi netizen dalam menyampaikan dan menerima informasi elektronik khususnya melalui media sosial. Menurut data Bareskrim Polri sepanjang Januari–September 2016, tercatat kasus kejahatan cyber didominasi oleh kasus penghinaan (638 kasus) dan penipuan informasi online (598 kasus). Dua bentuk ekspresi negatif tersebut merupakan bentuk dari produk literasi digital rendah dari netizen kelas menengah dalam mengakses dan menerima informasi dari internet yang didominasi perilaku membaca cepat (scanning) dan membaca sekilas (skimming).

Dua hal itu yang memicu publik–yang didominasi kelas menengah–kemudian mudah untuk teragitasi dan terprovokasi oleh berbagai macam variasi informasi di dunia maya tanpa melakukan verifikasi informasi sebelumnya. Berbagai macam bentuk informasi negatif tersebut sebenarnya merupakan imbas dari pola komunikasi yang bertujuan ofensif daripada konstruktif. Dikatakan ofensif karena para buzzer di dunia maya berupaya saling perang satu sama lain dalam memperebutkan follower.

Meski demikian, sifat ofensif dalam dunia online tersebut justru berkembang menjadi agresif dalam dunia offline bagi para pelaku netizen. Kondisi tersebut yang kemudian memicu ada konflik baik itu sifatnya laten maupun manifes dalam dunia nyata. Dalam ruang publik dunia maya berbagai macam informasi dapat dikategorisasikan dalam berbagai jenis baik itu hoax, real-time, incidental, maupun juga yang sifatnya edukatif. Kendati demikian, secara sosiologis netizen lebih menyukai tipe informasi yang sifatnya real-time juga incidental daripada yang sifatnya edukatif.

Hal ini karena rasionalitas pengetahuan yang dibangun oleh kelas menengah Indonesia saat ini lebih cenderung pada pola pengakuan dan pelemahan identitas pribadi dan kolektif. Identitas tersebut bisa dilihat secara lahiriah by ascribed maupun prestasi (by achieved). Netizen melalui ruang publik dunia maya berusaha untuk saling memengaruhi satu sama lain seraya menghakimi identitas lain agar mendapatkan kekuasaan baik itu dalam dunia online maupun offline.

Tentunya dengan melihat ada kontestasi identitas dalam ruang publik dunia maya sekarang ini sudah agak melenceng dari hadirnya demokrasi digital saat ini. Secara garis besar pemahaman demokrasi digital sendiri memadukan antara konsep demokrasi perwakilan dan demokrasi partisipatif melalui pertukaran informasi elektronik di dalam dunia internet (Andriadi, 2016). Pada dasarnya, ide dasar demokrasi digital adalah memberikan ruang sebesar- besarnya bagi setiap entitas netizen untuk sama-sama mendapatkan ruang afirmasi satu sama lain.

Demokrasi digital sebenarnya ruang alternatif yang meniadakan aspek mayoritas- minoritas yang terjadi di dunia offline untuk mendapat pengakuan di dunia online. Karena itulah, secara normatif kelompok minoritas sebenarnya mendapatkan peluang penting dalam demokrasi digital ini untuk mendapatkan pengakuan penting dari sesama pelaku netizen di dunia maya. Namun, justru dalam kasus Indonesia, ruang publik di dunia maya kini menjadi ajang penting untuk menggalang massa dan opini.

Dalam hal ini, konteks ”benar/salah” maupun ”hitam/ putih” menjadi kabur satu sama lain karena semua tergantung seberapa massa yang didapat dan kekuatan pemaksa yang dilakukan untuk menekan pada pihak lain. Kondisi tersebut berpengaruh pada saluran diskusi dan interaksi yang sebelumnya ditekan dalam demokrasi digital, malah justru tidak terjadi dalam kasus Indonesia. Polarisasi opini dalam netizen kelas menengah di dunia offline berimplikasi lurus dengan terbentuknya masyarakat yang terfragmentasi dalam komunikasi dan interaksi sosial.

Polarisasi tersebut memicu ada kebangkitan masalah sentimen identitas– yang sebenarnya itu merupakan masalah privat–, namun kemudian berkembang menjadi masalah publik. Dalam pengalaman Indonesia, ruang media sosial berkembang menjadi arena publisitas sentimen identitas yang lebih mengarah pada isu primordial berbasis SARA daripada material. Hal ini karena secara psikologis, ruang interaksi masyarakat netizen masih berupaya mencari persamaan komunikasi berbasiskan pada kesamaan identitas.

Kelas menengah Indonesia dapat melakukan pengelompokan ( social grouping) di dunia offline dengan terlebih dahulu melakukan pembilahan sosial ( social sorting) dunia online.Hal tersebut untuk memastikan, melegitimasi, dan menguatkan bahwa terjadi pembentukan kepentingan yang sama berdasarkan identitas tersebut. Implikasinya bisa kita simak pada pola interaksi dan diskusi kelas menengah netizen di dalam dunia maya dan dunia nyata yang kini justru menciptakan kelompok lovers dan haters dalam ruang diskusi multilateral.

Beragam isu kemudian dibahas dengan dibumbui masalah SARA yang pada akhirnya menciptakan pola relasi yang tidak seimbang satu sama lainnya. Pada akhirnya kemudian polarisasi opini berkembang menjadi fragmentasi, dan besar kemungkinan akan menciptakan ada segregasi bangsa karena pembilahan pendapat yang cukup sengit di dunia maya.

Tentunya kita tidak ingin ini menjadi kenyataan apabila segregasi bahkan disintegrasi terjadi hanya karena masalah polarisasi opini di ruang maya berlarut- larut tanpa penyelesaian. Ke depan perlu ada mekanisme rambu-rambu tersendiri yang menegaskan ada pengaturan komunikasi netizen di dunia maya tersebut agar tidak berdampak signifikan di dunia nyata.