Jumat, 16 Desember 2016

Penyerangan Membabi Buta di NTT

Penyerangan Membabi Buta di NTT
Umbu TW Pariangu  ;   Dosen FISIP Undana, Kupang, NTT
                                                  JAWA POS, 15 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SEORANG pria, IS, menyerang dengan pisau secara membabi buta tujuh murid SD Negeri I Sabu Barat Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa pagi (13/12). Pelaku yang berprofesi sebagai pedagang keliling itu leluasa masuk dari bagian belakang gedung sekolah dan langsung menuju ruang kelas V serta VI. Dia lantas menyayat leher para korban di dua kelas tersebut. Tak ada korban jiwa dalam insiden penggorokan itu. Namun nahas, pelaku yang merupakan tersangka utama harus tewas diserbu massa yang kalap dan merangsek masuk ke ruang tahanan Polsek Sabu Barat.

Memang selepas peristiwa tersebut wakil bupati Sabu, Kapolda NTT, dan Danrem 161 Wirasakti Kupang langsung terjun ke lapangan untuk menenangkan massa yang meradang. Tak juga ketinggalan, kaum agamawan NTT (GMIT dan MUI) mengimbau agar targedi nir kemanusiaan tersebut diusut tuntas dan masyarakat setempat tidak mudah terprovokasi isu-isu menyesatkan. Sayang, reaksi yang boleh dibilang agak terlambat itu seakan membuka ruang eskalasi kekerasan yang memicu massa untuk bertindak anarkistis hingga menewaskan pelaku.

Eskalatif

Kita mengutuk sadisme terhadap anak-anak tersebut. Mereka adalah representasi kelompok yang rentan dan tak berdaya atau simbol minoritas yang selalu mudah diokupasi praktik kekerasan orang dewasa. Padahal, kekerasan terhadap mereka adalah simbol pencederaan kodrat kemanusiaan dan peradaban. Kahlil Gibran pernah mengatakan, anak adalah anak panah yang meluncur, sedangkan orang tua adalah busurnya. Jika diperluas maknanya, masyarakat dan negara adalah busur yang melesakkan anak panah (anak-anak) itu ke jantung sasaran.

Artinya, masyarakat dan negara berperan membentuk anak-anak sehingga tumbuh menjadi generasi yang berkualitas dan memiliki masa depan. Bukan sebaliknya, menjadi parasit destruktif yang merampok dan meneror jiwa anak. Tidak berlebihan pula jika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyebut peristiwa itu sebagai pelecehan terhadap pendidikan. Dunia pendidikan yang mestinya dilumuri tinta pengetahuan, kebenaran, dan peradaban malah dijejas dengan tinta kekerasan serta teror.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana kemarahan masyarakat pada Selasa pagi itu begitu cepat menjalar di media sosial (Facebook/FB). Informasi dan foto-foto yang terkait dengan penyanderaan dan penikaman tujuh siswa yang disebarkan di FB -sebelum media mainstream mewartakan insiden tersebut- dipenuhi bumbu provokatif dan desas-desus yang memperkeruh keadaan. Misalnya, dikatakan salah seorang korban telah meninggal atau leher anak salah seorang pendeta putus, termasuk isu bahwa pembunuh adalah teroris atau bagian dari ISIS. Konten tersebut pun memicu sahut-sahutan kemarahan di Facebook lewat hujatan, kecaman, hingga penghakiman verbal sebelum akhirnya meletup menjadi eskalasi kemarahan di jalanan yang anarkistis.

Imbauan agar masyarakat tetap mengendalikan diri, tak terpancing hasutan liar, tak lagi berarti. Yang masih berpikir jernih dan tak mau dikendalikan isu-isu liar terpaksa lebih memilih diam atau ikut arus menghujat pelaku agar tidak terisolasi dari atmosfer kemarahan konten di medsos, sebagaimana teori spiral of silence (spiral keheningan) Elisabeth Noelle-Neumann (1976) bahwa seseorang akan memilih menghindari isolasi terhadap dirinya karena mempertahankan sikap atau keyakinannya yang dianggap baik.

Mengkritisi Aparat

Dalam keadaan seperti itu, kita mengkritisi ketidakcepatan aparat untuk menetralkan keadaan sekaligus menutup potensi buncahan kemarahan massa yang menyebabkan pelaku dihajar hingga tewas. Apalagi, Kapolsek Sabu Barat tenyata sudah dua minggu tidak berada di tempat saat kejadian (CNN 13/12). Hal itu bisa saja menimbulkan pertanyaan tersendiri kalau tidak mau dikatakan negara (baca: aparat) sejatinya telah abai dalam mengantisipasi ancaman terhadap warganya. Ada semacam “eskapisme” dari aparat dalam memprediksi akan terjadinya gerakan massa untuk menyerbu polsek pasca penikaman. Padahal, standar sekuriti dalam konteks darurat tersebut mestinya bisa ditempuh jika ada koordinasi yang cepat serta baik antara aparat keamanan, tokoh pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat.

Kini kita berharap pemerintah setempat dengan dibantu tokoh agama, masyarakat, maupun aparat secepatnya menetralkan dan memulihkan situasi, termasuk memulihkan para siswa dari trauma sehingga tindakan anarkistis lanjutan bisa dicegah serta geliat kehidupan masyarakat kembali normal. Kita juga berharap semangat toleransi dan solidaritas antarumat beragama di Sabu tidak terusik dengan memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa aksi nir kemanusiaan tersebut tak terkait dengan agama, melainkan aksi parsial dari oknum-oknum yang ingin merusak anyaman kedamaian di masyarakat. Karena itu, kita percayakan sepenuhnya kepada aparat untuk menguak pelaku insiden, motif, dan jaringannya.