Jumat, 16 Desember 2016

Bom Istana dan Metamorfosis ISIS

Bom Istana dan Metamorfosis ISIS
Ibnu Burdah  ;   Pemerhati Timur Tengah dan dunia Islam;
Dosen UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta
                                                  JAWA POS, 15 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SUNGGUH beruntung, rencana sel teror ISIS untuk meledakkan Istana Negara telah tercium Densus 88. Jika tidak, betapa banyak korban dari aksi yang direncanakan pada saat pergantian Pasukan Pengamanan Presiden itu (11/12).

Pelaku rencana jahat ini telah tertangkap. Namun, otak dari semua ini sulit dikejar. Sebab, ia kemungkinan besar berada di wilayah teritorial ISIS di Syria.

Isis menjadi ancaman di mana-mana. Seperti pernah beberapa kali terjadi, peledakan sepertinya direncanakan serentak di Jakarta, Istanbul, Kairo, ‘Adn (Yaman Selatan), dan Mogadishu. Sebagian besar tudingan mengarah ke sel-sel ISIS.

Padahal, ISIS sudah jauh melemah. Struktur kenegaraan ISIS pusat, yaitu di Mosul, Iraq, sudah lumpuh. Tak ada kota besar dan penting yang mereka pertahankan secara penuh di Negara Seribu Satu Malam itu. Terbebasnya Mosul, ibu kota ISIS sekaligus pusat kekhalifahannya, tinggal menunggu hari.

Saat ini, kekuatan elite Iraq dibantu sejumlah tentara reguler dan banyak milisi menggempur kekuatan meliter ISIS. Lenyapnya ISIS sebagai kekuatan teritorial di Iraq tak akan lama lagi. Mereka tinggal berkuasa di beberapa daerah pinggiran di Syria.

Akankah kelompok ini kemudian segera bermetamorfosis kembali jadi kelompok teroris global tanpa basis teritorial seperti tandzim Al Qaeda, induknya dahulu? Kemungkinan itu sangat besar, khususnya bagi anasir ISIS di Iraq. Tak akan mudah bagi mereka melakukan eksodus teritorial ke Raqqa, Syria, misalnya. Sebab, musuh mereka telah mengepung dari berbagai arah.

Perpindahan ke Raqqa yang relatif jauh dari Mosul barangkali hanya terjadi di kalangan para pemimpin teras ISIS dan orang-orang terdekatnya melalui penyamaran yang sangat rahasia. Raqqa (Syria) adalah wilayah yang paling dekat dengan Mosul yang masih dikuasai secara penuh oleh ISIS. Saat ini, sebagian pentolan ISIS diberitakan sudah berada di Raqqa, Syria. Entah kapan mereka bergerak dan dengan cara apa bisa mengelabui kekuatan yang mengepung mereka. Yang jelas, ISIS sudah tak lagi mengontrol jalur Mosul-Raqqa.

Oleh karena itu, banyak eksponen ISIS di Iraq yang kemungkinan sudah menyebar dengan cara menyusup ke dalam barisan pengungsi. Penyebaran yang paling mungkin adalah ke kota-kota lain di Iraq, termasuk ke wilayah Kurdistan dan juga ke daerah-daerah perbatasan Turki.

Sebagian mereka bisa saja berhasil mencapai wilayah yang jauh seperti ke negara-negara Arab atau Timur Tengah lain hingga ke Eropa. Infiltrasi ISIS ke dalam barisan pengungsi menuju Eropa banyak diberitakan. Karena itu, sikap negara-negara Arab dan Eropa terhadap pengungsi sangat waspada.

Namun, ISIS sebagai organisasi teroris terbesar tampaknya tak mau menyerah. Mereka tak mau segera bermetamorfosis kembali jadi kelompok teroris global yang hanya ”bertamu” di banyak negara. Mereka berupaya habis-habisan untuk mempertahankan basis teritorialnya.
Bagaimanapun, basis teritorial adalah identitas mereka. Teritorial adalah inti sari ”ijtihad” al-Baghdadi dalam membangun organisasi teror baru bernama ISIS (al-Dawlah al-Islamiyyah fi al-Iraq wa al-Syam) atau IS (al-Dawlah al-Islamiyyah) ini. Ini pula yang menjadi pusat koreksi para jihadis terhadap organisasi teroris lama Al Qaeda yang hanya menjadi ”tamu” di setiap negara. Bagaimanapun, penguasaan atas wilayah tertentu dan membangun struktur kenegaraan di dalamnya membuat ISIS dipandang para jihadis sebagai kelompok yang lebih kredibel daripada Al Qaeda. Dengan penguasaan teritorial, mimpi utopia tentang khilafah itu tampak jadi lebih nyata. Karena itu, banyak sekali pengikut Al Qaeda yang eksodus loyalitas ke ISIS begitu ”negara khilafah” itu diproklamasikan.

Para pemimpin ISIS adalah orang-orang yang dikenal ahli dalam strategi. Mereka terdiri atas orang-orang yang sangat berpengalaman di arena-arena ”jihad” di dunia Islam, eks pimpinan teras Partai Baaths masa Saddam Hussein, dan lain-lain. Banyak di antara mereka sebenarnya bukan tipe manusia ideologis, tapi manusia rasional.

Ada kemungkinan para pemimpin teras ISIS sejak dini mempersiapkan skenario terburuk jika suatu saat seluruh basis teritorial ISIS tumbang. Faktanya memang demikian. Mereka hampir kehilangan seluruh wilayah di Iraq, terdesak di Syria, Libya, Sinai, dan Yaman. Mereka sepertinya juga sedang mempersiapkan diri jika harus bermetamorfosis jadi kelompok teroris global, termasuk menyiapkan sel-selnya di Eropa hingga Indonesia.

Mereka harus memiliki jaringan yang lebih banyak sebarannya, lebih kuat, dan lebih mumpuni daripada Al Qaeda. Mereka tentu mempersiapkan diri agar mereka berbeda dari Al Qaeda agar tetap dipandang kredibel oleh para pengikutnya dan jaringan jihadis global. Sebab, jika mereka tak bisa meyakinkan para pengikut sebagai kelompok teror nomor wahid, mereka hampir bisa dipastikan akan ditinggalkan banyak pengikut sebagaimana nasib Al Qaeda.

Bisa saja para pengikut ISIS itu kembali ke Al Qaeda kendati kemungkinan itu kecil sebab permusuhan ISIS-Al Qaeda itu sudah demikian mendalam. Kemungkinan lain, para komandan ISIS yang telah memiliki pengikut akan mendeklarasikan organisasi teroris baru. Ini yang paling berbahaya jika organisasi teroris itu kemudian bisa diterima komunitas jihad global dan mampu menghimpun mereka kembali dalam organisasi teror yang lebih menakutkan. Tetapi, hingga saat ini belum ada berita mengenai kepemimpinan baru yang sangat kuat yang melebihi al-Baghdadi di cabang-cabang ISIS. Metamorfosis ISIS tampaknya akan sangat ditentukan oleh perkembangan satu dua bulan ke depan di medan tempur Mosul, Syria Utara, dan Libya.