Selasa, 13 Desember 2016

Meredam Trump’s Effect

Meredam Trump’s Effect
Tri Winarno  ;   Peneliti Ekonomi Senior Bank Indonesia
                                         MEDIA INDONESIA, 07 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

KELOMPOK antikemapanan Amerika Serikat telah membuat masyarakat dunia semakin terkaget-kaget dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden. Tahun 2016 yang ditandai dengan lesunya perekonomian global telah mengalami dua kejutan signifikan yaitu Brexit dan ‘Usxit’. Dipastikan kebijakan Trump yang dijanjikan dalam masa kampanye mudah diimplementasikan mengingat penguasa AS saat ini ialah republikan, mulai presiden, senat, dan kongres. Pasca-‘Usxit’ dunia dihadapkan pada ketidakpastian yang semakin mendalam dalam berbagai aspek. Dengan demikian, konsekuensi apa yang akan terjadi setelah terpilihnya Donald Trump?

Konsekuensi terpilihnya Trump

Pertama, pertumbuhan ekonomi AS akan melaju di atas pertumbuhan ekonomi rata-rata jika dibandingkan dengan masa pemerintahan kedua Barack Obama, yaitu lebih tinggi daripada 2,2% per tahun. Ini terjadi karena keengganan republikan terhadap ekspansi belanja publik dan kebijakan pemberlakuan batas utang publik untuk menutupi defisit fiskal, hanya berlaku tatkala demokrat seperti Obama yang memerintah di Gedung Putih. Namun, dengan presiden dari republikan, kongres akan menyetujui peningkatan belanja dan relaksasi batas utang publik, sebagaimana yang dilakukan semasa Presiden Reagan dan Bush. Dengan demikian, Trump akan dengan mudah mengimplementasikan stimulus fiskal untuk mendongkrak perekonomian. Stimulus fiskal ala Keynesian tersebut akan berdampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Kedua, kebijakan pengampunan pajak untuk perusahaan multinasional dipastikan akan diundangkan. Dominasi republikan akan dengan mudah menyetujui pemotongan pajak yang akan dikompensasi dengan pinjaman publik. Reformasi ini akan membuat defisit anggaran semakin membesar, semakin menstimulasi percepatan pertumbuhan dan inflasi. Ketiga, akselerasi pertumbuhan ekonomi AS akan dipercepat dengan deregulasi perbankan yang melonggarkan penyaluran pinjaman sehingga akan terjadi lonjakan konsumsi masyarakat. Deregulasi itu akan mendorong terulangnya kembali krisis keuangan global seperti yang pernah terjadi pada 2008.

Keempat, untuk pertama kali sejak 1930, AS memiliki presiden yang mempunyai pandangan proteksionis terhadap perdagangan internasional. Walaupun tidak dapat dimaknai secara literal, apabila Trump gagal memperkecil defisit neraca perdagangannya sebagaimana yang ia janjikan, republikan akan ditinggalkan konstituennya, terutama pemilih yang berada di daerah dan industri yang sedang mengalami penurunan. Dengan demikian, warna kebijakan AS ke depan dapat dipastikan mereduksi perdagangan bebas, globalisasi, dan pasar terbuka. Tak satu pun bisa memprediksi besarnya dampak secara pasti karena adanya perubahan rezim tata pengelolaan ekonomi global tersebut. Namun, dampaknya pasti negatif terhadap emerging economies dan perusahaan multinasional, yang model pembangunan dan strategi bisnisnya bertumpu pada pasar dan aliran modal yang bebas.

Kelima, dampak kebijakan yang terkait dengan pemotongan pajak dan peningkatan belanja publik akan mengakselerasi inflasi, meningkatkan tingkat bunga, dan kombinasi keduanya. Ditambah dengan proteksi perdagangan dan kebijakan penghapusan pekerja migran, akselerasi inflasi dan peningkatan tingkat bunga jangka panjang akan lebih dramatis. Dengan demikian, itu akan berdampak negatif terhadap pasar keuangan internasional. Terlepas dari apakah The Fed akan melakukan kebijakan moneter kontraktif, ataupun The Fed membiarkan perekonomian AS memanas sehingga inflasi meningkat selama satu atau dua tahun ke depan.

Keenam, dengan adanya ekspektasi percepatan pertumbuhan ekonomi AS yang disertai dengan peningkatan tingkat bunga jangka panjang, penguatan dolar AS akan menjadi risiko besar yang mengemuka. Menurut IMF, Juni 2016 dolar AS telah mengalami overvalue 10%-20%. Meskipun dolar AS mengalami apresiasi melebihi nilai fundamentalnya, dampak ekspektasi tersebut akan mengubah dolar AS semakin ‘perkasa’ sebagaimana pernah terjadi pada 1980 dan 1990.

Ketujuh, dengan menipisnya suplai dolar dan proteksionisme, negara berkembang akan menghadapi masalah perekonomian yang serius. Kecuali bagi negara yang strategi pembangunannya kurang bergantung pada perdagangan internasional dan pembiayaan yang bersumber dari dana asing, seperti Brasil, Rusia, dan India. Terakhir, konsekuensi paling berbahaya dari kemenangan Trump ialah efek tular pada kawasan Eropa. Kemenangan Trump, tepat seperti Brexit yang semula tak pernah diperkirakan, tapi hasilnya mengagetkan. Saat ini Trump merupakan penanda kuat yang dapat memicu krisis lanjutan dan mengancam stabilitas kawasan Uni Eropa yang sudah goyah.
Meredam Trump’s effect
Mengingat konsekuensi itu, ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam upaya meredam Trump’s Effect. Pertama, harus ada suatu inisiatif untuk mengambil alih komando tata perekonomian global yang baru. Tiongkok akan mampu mengambil peran tersebut karena telah mencapai upper middle income country. Perdagangan luar negeri mereka terbesar di dunia, tingkat perekonomian mereka terbesar di dunia jika menggunakan ukuran paritas daya beli. PDB mereka telah mencapai U 11,3 triliun. PDB per kapita mereka telah mencapai U$14 ribu. Tiongkok akan terus berkontribusi sekitar 30% dari pertumbuhan global setidaknya sampai 2020.

Kedua, Indonesia harus bertumpu pada kekuatan domestik karena berlimpah dengan sumber daya alam, jumlah penduduk yang besar, dan komposisi penduduk muda sebagai modal penggerak mesin perekonomian nasional. Terakhir, bagi negara yang tidak memiliki cadangan devisa yang berlimpah, mereka harus menggunakan cadangan devisa sehemat mungkin. Prinsip besar pasak dari pada tiang harus dihindari dalam pengelolaan cadangan devisa. Cadangan devisa hanya digunakan untuk hal-hal penting yang terkait dengan pembiayaan impor dan pembayaran pinjaman karena dengan cadangan devisa yang memadai akan memberikan rasa aman sehingga tidak mudah menjadi bulan-bulanan spekulator.