Senin, 19 Desember 2016

Mengungkit Pertumbuhan di Tengah Kelesuan Global

Mengungkit Pertumbuhan di Tengah Kelesuan Global
Gianie  ;   Litbang KOMPAS
                                                    KOMPAS, 19 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Perekonomian Indonesia 2016 masih mengalami pelambatan seperti beberapa tahun terakhir. Kondisi ekonomi global dan kekuatan fiskal pemerintah turut menentukan sejauh mana pertumbuhan ekonomi bisa dibawa pada tahun 2017. Kita masih sulit beranjak dari fase pertumbuhan yang moderat.

Indonesia bersama negara-negara lain di dunia tengah mengalami ketidakpastian yang kemudian dikenal dengan fenomena normal baru (new normal). Kondisi sekarang bisa dianggap sebagai tak normal. Resesi global berkepanjangan, rendahnya pertumbuhan ekonomi, menurunnya perdagangan, meningkatnya pengangguran, dan sebagainya saat ini menjadi fakta yang tidak bisa dihindari. Hal itu menjadi fakta baru dan harus dihadapi bersama sebagai normal baru.

Di antara negara-negara berkembang, perekonomian Indonesia terbukti masih dapat bertahan dari guncangan ekonomi global. Diperkirakan, perekonomian Indonesia selama 2016 ini bisa tumbuh hingga 5,1 persen. Ini angka pertumbuhan yang moderat dan realistis di tengah perekonomian yang lesu.

Dampak lesunya perekonomian domestik bisa dilihat dari meningkatnya angka pengangguran dan sulit tercapainya penerimaan pajak. Tingkat pengangguran terbuka per Agustus 2016 naik menjadi 5,61 persen (7,03 juta jiwa) dibandingkan enam bulan sebelumnya (5,50 persen atau 7,02 juta jiwa). Adapun realisasi penerimaan pajak sampai akhir tahun diperkirakan hanya mencapai 82 persen dari target penerimaan yang sudah direvisi menjadi Rp 1.137 triliun.

Negara mengalami beban fiskal berat sejak anggaran belanja dipatok selalu meningkat sementara pendapatan negara selalu di bawah target. Kondisi ini membuat defisit fiskal melebar mendekati 3 persen PDB. Menyikapi persoalan ini, kebijakan memotong anggaran dan menyesuaikan target penerimaan pajak yang dilakukan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjadi langkah penyelamatan, termasuk program pengampunan pajak yang memberi tambahan bagi penerimaan negara.
Sektor manufaktur domestik yang diharapkan menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi masih sulit diharapkan. Sementara di tingkat global, Indonesia belum masuk dalam apa yang disebut rantai suplai produksi.

Di dunia sekarang, produksi berada dalam satu rantai pasokan. Kini tak ada produk yang dihasilkan hanya dari satu negara. Setiap produk selalu ada kaitannya dengan negara atau pihak lain. Rantai produksi ibarat gerbong kereta api dan Indonesia belum masuk dalam kereta ini sehingga tidak bisa melaju.

Lanskap baru

Perekonomian Indonesia 2017 diprediksi tak akan jauh berbeda dengan situasi global yang sarat risiko dan ketidakpastian meningkat. Hal itu disebabkan beberapa hal. Pertama, meningkatnya kebijakan proteksi di sejumlah negara, termasuk AS. Gejala proteksionalisme muncul sangat jelas dalam kampanye presiden terpilih Donald Trump yang tegas mengusung jargon America First. Menarik diri dari komitmen Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) menjadi langkah AS yang memperkuat proteksionisme dan memperburuk inisiatif kesepakatan perdagangan.

Gejala proteksionisme juga muncul di sekitar negosiasi Kemitraan Perdagangan dan Investasi Trans-Atlantik (TTIP), yang direncanakan akan menjadi blok baru antara AS dan Uni Eropa. Rencana ini menjadi salah satu pemicu keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

Kedua, perekonomian Tiongkok juga melambat. Tiongkok dengan kebijakan ekonomi ketat mengerem agresivitasnya dalam pembangunan infrastruktur, mengurangi ketergantungan pada ekspor, dan mendorong meningkatnya konsumsi dalam negeri. Kondisi ini mengurangi potensi ekspor dari negara lain ke Tiongkok, termasuk ekspor produk dari Indonesia. Dengan pertumbuhan yang kini hanya tinggal 6-7 persen, pertumbuhan dua digit Tiongkok menjadi masa lalu.

Lanskap perekonomian dunia pun bergeser dari menggenjot produksi ke meningkatkan konsumsi domestik. Dunia masih akan berproduksi, masih ada permintaan. Namun, yang diminta adalah barang konsumsi. Dan, konsumsi tertinggi masih seputar produk-produk teknologi informasi. Dalam lima tahun terakhir, misalnya, penjualan telepon pintar di dunia meningkat 220 persen dari 107,7 juta unit (2011) menjadi 344,7 juta unit (2016). Sayangnya, terkait dengan produk TI pun Indonesia belum masuk dalam rantai produksinya.

Perekonomian kita ke depan akan ditumpu tiga hal: pengeluaran pemerintah, investasi, dan konsumsi. Kegiatan ekspor dari manufaktur stagnan, jadi sulit menyumbang untuk pertumbuhan. Pengeluaran pemerintah masih akan bergantung pada kekuatan fiskal yang dimiliki untuk menopang pembangunan infrastruktur. Keberlanjutan pengampunan pajak bisa menolong penerimaan negara. Namun, yang lebih penting bagaimana aliran dana yang masuk dari program tersebut bisa membantu perbankan atau industri jasa keuangan membiayai infrastruktur.

Iklim investasi harus diciptakan kondusif agar dana yang masih ada di luar negeri bisa masuk dan dimanfaatkan untuk kegiatan yang memiliki daya pengganda. Salah satunya tentu terkait kebijakan suku bunga rendah. Sementara konsumsi akan meningkat jika pemerintah menjaga daya beli masyarakat melalui pengendalian inflasi dan mendukung peningkatan upah.

Jasa dan TI

Dengan lanskap perekonomian global yang berubah, Indonesia harus mencari celah yang bisa dimanfaatkan untuk mengungkit pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Salah satunya adalah menggenjot ekspor jasa yang bisa menjadi keunggulan. Selama ini kita tidak tahu seberapa besar potensi sektor jasa yang dimiliki karena lebih fokus pada sektor manufaktur yang ternyata tidak banyak berkembang.

Potensi ekspor jasa tersebut ada pada jasa pariwisata yang meliputi transportasi dan perjalanan, jasa telekomunikasi, komputer, dan informasi, serta jasa bisnis lainnya. Banyak karya anak bangsa yang sudah berkiprah dan diakui dunia internasional di bidang-bidang ini. Ekspor ketiga bidang jasa ini meningkat hingga tiga kali lipat dalam periode 2005-2014.

Perdagangan tetap penting untuk pertumbuhan. Hal itu karena pertumbuhan dalam perdagangan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Namun, trennya sekarang menurun. Jika dulu 2 persen pertumbuhan perdagangan bisa menambah 1 persen pertumbuhan ekonomi, sekarang perbandingannya 1:1. Penurunan yang lebih tajam terjadi pada perdagangan barang dibandingkan dengan jasa-jasa.

Di zaman milenial ini, di mana semua hal terhubung telepon pintar, tren perdagangan pun tak lepas dari inovasi berbasis teknologi informasi. Oleh karena itu, perdagangan lewat internet (e-dagang atau e-commerce) akan semakin marak, diikuti dengan sistem pembiayaan yang juga berbasis TI (financial technology) dan selanjutnya pada pemanfaatan big data.

Keseriusan menggarap potensi ekspor jasa dan mengembangkan industri berbasis TI akan menjadi alternatif bertahan dari gelombang krisis yang tidak pasti kapan berakhirnya.