Sabtu, 10 Desember 2016

Mengevaluasi SNM PTN

Mengevaluasi SNM PTN
Budi Santosa  ;   Guru Besar Teknik Industri dan
Anggota Senat Akademik ITS Surabaya
                                                  JAWA POS, 07 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SALAH satu penentu mutu sebuah universitas adalah bahan dasarnya, yaitu mahasiswa. Dari situ mutu lulusan berawal. Pembelajaran jelas berpengaruh, tapi bahan dasar adalah kunci. Penerimaan yang tepat akan mempertinggi peluang menghasilkan lulusan yang bermutu. Tulisan ini akan membahas masalah dalam penerimaan mahasiswa baru di PTN, terutama yang masuk lewat jalur undangan atau SNM PTN.

Di PTN secara garis besar berlaku tiga prosedur cara masuk mahasiswa baru: melewati undangan atau seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN), melalui tes atau seleksi bersama masuk PTN (SBM PTN), dan seleksi mandiri oleh tiap PTN. Sejak beberapa tahun terakhir, porsi alokasi masuk universitas (negeri) melalui SNM PTN terus berubah. Pada 2013, porsinya masih 50 persen. Sebelumnya sempat sampai 60 persen dari keseluruhan mahasiswa yang diterima. Pada 2016, angka itu mulai turun menjadi 40 persen. Setelah beberapa tahun SNM PTN dijalankan, perlu kita lihat hasil pelaksanaannya.

Awalnya memang baik, SNM PTN digunakan agar siswa-siswa yang berprestasi secara stabil dan menunjukkan tren membaik di SMA mendapat penghargaan bisa diterima lewat jalur SNM PTN.  Selain itu, dengan sistem SNM PTN, sebuah PTN bisa mengatur distribusi asal siswa yang akan diterima masuk. Pemerataan bisa dicapai lewat jalur itu. Dengan begitu, PTN tidak didominasi orang-orang dari daerah tertentu.

Tanpa mengurangi apresiasi kepada mereka yang berkualitas, dari temuan di lapangan, kualitas mahasiswa yang masuk lewat SNM PTN rata-rata kalah bila dibandingan dengan mereka yang masuk lewat SBM PTN. Pada 2016, porsi yang diterima PTN lewat jalur SBM PTN sebesar 30 persen. Rata-rata kualitas yang kalah itu sudah menjadi kecenderungan beberapa tahun terakhir. Bahkan, pada level tertentu, mutu mereka yang masuk lewat undangan kurang memadai. Padahal, mereka dipilih dari lulusan terbaik SMA-SMA di tanah air.
Undangan telah menjadi target siswa-siswa untuk mendapatkan tiket masuk PTN pilihan tanpa melalui tes seleksi. Para kepala sekolah pun berlomba memasukkan sebanyak-banyaknya siswa di sekolahnya lewat jalur itu. Untuk mendapatkan porsi besar bagi siswanya masuk lewat undangan, sekolah-sekolah disinyalir telah merekayasa nilai.

Yang menjadi masalah, yang melakukan itu adalah para insan pendidikan yang mestinya memberikan teladan perilaku yang baik kepada masyarakat ataupun siswa. Perilaku mengatrol nilai itu telah ”merusak” iklim pendidikan kita.

Di sisi lain, mutu antarsekolah tidak memiliki standar. Nilai-nilai siswa tidak punya titik referensi yang sama. Nilai 7 di suatu sekolah di Jakarta sangat berbeda dengan nilai yang sama di sekolah lain atau provinsi lain, begitu juga sebaliknya.

Jika tujuan SNM PTN adalah pemerataan, harus dipikirkan distribusinya dan porsinya. Jangan sampai porsi yang melewati SNM PTN itu lebih tinggi daripada mereka yang mengikuti tes. Selain itu, jangan lagi kota atau daerah dengan tingkat diterima lewat SBM PTN yang sudah tinggi masih diberi porsi undangan yang tinggi. Jika demikian, tujuan pemerataan akan gagal.

Temuan lain yang juga penting adalah masalah dominasi gender. Itu barangkali cukup mengagetkan. Yang diterima lewat jalur SNM PTN ternyata didominasi siswa perempuan. Itu terjadi di banyak PTN, juga di banyak departemen (program studi). Dengan perbandingan yang bisa dikatakan sangat kontras. Hampir 80 persen yang masuk lewat undangan adalah perempuan. Sementara itu, di antara mereka yang masuk lewat SBM PTN, tidak ada kecenderungan seperti itu. Dalam SBM PTN, siswa pria sedikit lebih unggul dalam hal angka yang diterima masuk di PTN, namun cenderung lebih berimbang. Artinya, secara statistik, penerimaan melalui SBM PTN menghasilkan distribusi yang lebih adil dari sisi gender.

Padahal, untuk departemen atau program studi tertentu, mahasiswa perempuan kurang pas secara fisik sebagai perempuan. Itu sesuai dengan tuntutan fisik pekerjaan. Ada pekerjaan yang menuntut ke lapangan, di malam hari, ke medan-medan sulit. Itu dialami, misalnya, program studi seperti teknik sipil, geologi, atau geomatika. Namun sekarang justru diisi dengan mahasiswa-mahasiswa perempuan yang masuk melalui jalur SNM PTN. Itu melahirkan kekhawatiran para dosen yang punya interes terhadap pemenuhan syarat tersebut atau juga pihak industri sebagai pengguna lulusan.

Namun, memang perlu didiskusikan lebih jauh semata-mata karena alasan objektif berhubungan dengan masa depan pekerja di sektor tertentu. Porsi SNM PTN yang besar (40 persen) dalam penerimaan mahasiswa baru masih berpengaruh besar pada distribusi mahasiswa laki-laki dan perempuan pada jurusan-jurusan tertentu.

Memang siswa perempuan biasanya mempunyai tingkat kerajinan dan ketelatenan yang lebih tinggi dalam belajar. Tidak heran, nilai rapor mereka biasanya lebih unggul daripada siswa laki-laki. Karena itu, yang masuk PTN lewat jalur SNM PTN memang akhirnya didominasi siswa perempuan. Dalam pemilihan jurusan ketika mendaftar di PTN, tidak jarang para siswa atau kepala sekolah tidak memperhatikan nature pekerjaan yang akan dihadapi nanti gara-gara memilih jurusan tertentu.
Pertimbangannya lebih ditekankan pada peluang bisa diterima di PTN pilihan.  Sebab, bagi sekolah, itu juga merupakan catatan sejarah yang baik untuk penerimaan lewat SNM PTN pada tahun berikutnya.

Untuk mengatasi persoalan itu, pemerintah perlu mengevaluasi SNM PTN. Perubahan perlu dilakukan pada rasio jumlah mahasiswa yang diterima untuk tiap-tiap jalur masuk PTN. Kembalikan ke kebijakan era dulu, kala masuk PTN benar-benar lewat tes seleksi. Sebaiknya sebagian besar, hingga 80 persen, berikan kesempatan masuk PTN lewat jalur tes (SBM PTN).

Kalaupun masih akan ada porsi undangan dan saringan mandiri dengan alasan pemerataan serta penggalian dana untuk PTN, porsi keduanya harus dibuat kecil. Tidak perlu langkah perlahan atau pelan-pelan untuk mengurangi. Kemenristek Dikti bisa mengambil langkah drastis mulai tahun depan. Sebab, itu akan menentukan secara signifikan kualitas lulusan PTN beberapa tahun ke depan.