Senin, 19 Desember 2016

Mengapa Harus Sarkastik

Mengapa Harus Sarkastik
Jean Couteau  ;   Wartawan Senior KOMPAS
                                                    KOMPAS, 18 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Mencari tema untuk menulis Udar Rasa akhir-akhir ini menjadi kian sulit. Mengapa? Saya merasa terlalu sering serius dan normatif: lama-kelamaan saya bosan terus mengasihani nasib orang miskin atau menganjurkan orang Indonesia untuk terus toleran-sikap yang konon inheren dalam jiwa bangsa Indonesia, yang diilhami Pancasila dan diberkati Bhinneka Tunggal Ika ini.

Ya, bosan. Hingga kebosanan itu berdampak pada muka saya yang cemberut. Saya sebenarnya ingin menyindir apa pun dengan penuh sarkastik, termasuk diri- sendiri, dan tanpa harus berhati-hati setiap kali mau berujar. Saya memang bosan melihat bahwa yang paling aman saya sindir adalah orang bule, meski paling diminati oleh pembaca, dan saya bisa memaklumi alasannya. Akan tetapi, cukup adalah cukup: saya sendiri bule dan, kalau terus begitu, saya nanti akan dituduh mendukung rasisme di negeri ini. Seolah-olah pemerintah tak cukup repot dengan rasisme orang China terhadap orang pribumi, ada juga loh? Pendeknya bosan. Saya merasa bahwa hasrat saya untuk menyindir kian dibatasi mood sebagian bangsa ini. Meskipun menyindir adalah sangat sehat.

Yang salah di dalam semuanya ini dan orang yang paling saya "benci" karena itu adalah Gubernur DKI Jakarta yang non-aktif. Gara-gara dia, saya dalam Udar Rasa ini terpaksa bermulut kecil. Terlalu banyak hal yang kini saya tidak berani bicarakan. Misalnya perihal jubah. Saya diberikan sebuah jubah oleh menantu saya ketika saya mampir di Qatar baru-baru ini. Saya ingin berbicara panjang lebar tentang jubah itu; betapa enaknya dipakai karena memungkinkan angin masuk dari bawah dan hal-hal sejenis. Namun, entah kenapa, saya merasa pantang melakukan hal itu.

Jangan salah mengerti, dong.... Apabila pantang, bukan karena porno akibat enaknya dielus-elus angin yang masuk dari bawah itu, melainkan karena jubah adalah atribut identitas, benar, kan? Sementara identitas itu bukan identitas saya, si orang bule ini. Coba bayangkan bagaimana reaksi orang kalau saya memakai jubah di Jakarta. Kecuali tentu saja kalau saya juga berjenggot. Ya, begitu, deh! Kalau saya ngotot, pasti dianggap menghina. Atau rasis. Maka, saya terpaksa mengalah. Dan, kini jubah saya dari Qatar itu hanya saya pakai sebagai baju tidur. Masih untunglah istri saya cukup suka apabila saya memakainya meskipun saya tidak berjenggot. Absurd, kan?

Yang sebenarnya membuat saya takut memakai jubah itu adalah keputusan aneh dari Pemda Bandung baru-baru ini. Saya memakai istilah aneh oleh karena keputusannya, meskipun menyedihkan dan bahkan menakutkan, kini pasti "diketawain" bukan hanya di Indonesia saja, melainkan di seluruh dunia. Coba bayangkan betapa konyolnya: pemda menerbitkan surat edaran agar pengusaha tidak lagi meminta karyawan Muslimnya memakai topi Sinterklas, yang katanya merupakan atribut Natal, dan karena itu bisa jadi bakal digerebek kaum radikal. Ha-ha-ha-ha.... Saya bukan tidak mengetahui bahwa tutup kepala kerap menjadi tanda identitas, misalnya hijab pada wanita-paling sedikit sejak 20 tahun, tetapi baru kali ini saya mendengar bahwa topi Sinterklas adalah tanda identitas nasrani.

Kasihan sebenarnya si Santa Klaus ini, yang tiada lain adalah Dewa Musim Dingin yang disusupkan ke dalam budaya Eropa Utara, lalu diimpor oleh penjajah ke Indonesia. Jadi, ngapain dia di Indonesia? Menjadi alat Kristenisasi. Ha-ha-ha. Konyol benar. Sama konyolnya seperti menganggap Firaun sebagai sarana Islamisasi!

Kenapa saya tertawa, oleh karena mulai dari Pemerintah Perancis yang melarang baju mandi burkini atau burka, lalu pemerintah daerah di Indonesia yang mewajibkan pegawainya memakai jilbab, kelompok garis keras yang memaksakan universitas Kristen menurunkan baliho yang berisi foto wanita berhijab, dan kini dengan kekonyolan topi Sinterklas itu, kita kini bahkan tidak ada pilihan selain nyengir dengan penuh sarkasme. Ataupun terbahak-bahak sarkastik agar kita tidak terbawa demam identiter gila yang, dibantu oleh media sosial, kian mengancam hubungan damai antara sesama bangsa dan sesama manusia. ●