Minggu, 04 Desember 2016

Kearifan Panakawan

Kearifan Panakawan
Indra Tranggono  ;   Pemerhati Kebudayaan; Tinggal di Yogyakarta
                                                    KOMPAS, 03 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Panakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong selalu hidup rukun. Meskipun sering berselisih paham dan saling mengkritik serta mengejek, mereka tetap solid dan kompak.

Gareng, Petruk, dan Bagong tak pernah bersekongkol untuk makar dan menggulingkan kepemimpinan Semar agar mereka bisa lebih dekat dan masuk lingkaran kekuasaan Arjuna, bos mereka. Bagi mereka, menghormati pemimpin secara kritis merupakan etika yang mesti disunggi tinggi, termasuk menghormati Semar, sang pemimpin kultural dan spiritual. Semar adalah pengejawatahandewa, yang diturunkan di bumi untuk menuntun ksatria Pandawa.

Selain itu, Gareng, Petruk dan Bagong sangat meyakini bahwa keselarasan mampu menciptakan kerukunan. Prinsip mereka: rukun agawe santosa, crah agawe bubrah (kerukunan menciptakan kekuatan dan permusuhan menimbulkan kehancuran). Gambaran itu bisa didapatkan dalam lukisan kaca pelukis tradisional, seperti Citrowaluyo dan Sastrogambar, antara lain bertajuk ”Rukun Agawe Santosa”.

Sastrogambar dan Citrowaluyo jauh dari citraan intelektual. Mereka tak lebih dari pelukis yang lahir dan tumbuh dari rahim rakyat. Hidup mereka serba sederhana, jujur, dan polos. Namun, karya mereka mampu memberikan renungan sederhana dan mendalam tentang pentingnya moralitas dalam kehidupan.

Hari-hari ini, gagasan dan ajaran moral lukisan ”Rukun Agawe Santosa” menjadi relevan dihadirkan ketika kerukunan bangsa di negeri ini sedang bermasalah akibat konflik elite politik-kekuasaan. Persoalan itu meluncur dari hulu (lingkaran elite politik-kekuasaan) dan mengalir ke hilir (masyarakat). Ini persis pola konflik dalam lakon ketoprak, di mana konflik kaum elite selalu merembes ke akar rumput. Padahal, masyarakat akar rumput tidak otomatis tahu inti persoalan. Mereka hanya anut-grubyuk (mengikuti tanpa pikiran kritis) ke mana isu bertiup karena dimobilisasi agen atau makelar politik.

Orang-orang kecil itu persis bala dhupak (figuran yang dikorbankan) di dalam pementasan lakon ketoprak. Mereka belum tentu ikut menikmati kejayaan, tetapi kemungkinan luka, bahkan tewas, sangat tinggi. Adapun para pangeran duduk manis dan minum anggur di tempat mewah sambil menunggu laporan.

Basis keadilan

Kerukunan dapat dimaknai sebagai realitas sosial dan kultural yang dilahirkan melalui konsensus, kesepakatan, dan kompromi berkaitan dengan perbedaan, kepentingan, dan hak mendasar masyarakat. Basis kerukunan adalah keadilan, kebenaran, dan keindahan (kepantasan).

Bagi orang-orang biasa, kerukunan itu nilai yang make sense, terjadi secara natural danmenggelinding begitu saja karena mekanismenya telah luluh dalam pola pikir dan pola perilaku. Batasan yang pantas dan tidak pantas telah dipahami bersama.

Keselarasan hubungan sosial menjadi kunci penting di dalam kerukunan. Tenggang rasa, empati, simpati, solidaritas, toleransi, saling percaya, memberi, dan menerima merupakan nilai- nilai yang dijaga dan dijalani demi merawat keselarasan.

Jika ada konflik, hal itu diselesaikan dengan cara yang santun, elegan, dan bermartabat dengan tetap menjunjung kebenaran. Prinsip yang berlaku, kecekel iwake ora buthek banyune (menyelesaikan persoalan tanpa membuat keadaan kacau, keruh). Artinya, masyarakat kita sejatinya lebih mengutamakan harmoni dan tidak menyukai konflik terbuka yang mengancam kerukunan kolektif, kerukunan alamiah, kerukunan otentik.

Bagi kaum elite politik-kekuasaan, kerukunan adalah kerja sama dalam konteks tertentu (baca: proyek) dan bernilai guna (fungsional). Prinsip yang belaku: ”saya berperan apa dan mendapat apa”. Kepentingan dan keuntungan jadi tujuan utama. Maka, ketika dua hal itu tak didapat, pecah kongsi pun terjadi. Alasan perpecahan pun bisa dibuat sesuai versi masing-masing.

Kaum elite politik-kekuasaan bukan orang-orang biasa, rakyat jelata atau para panakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong yang paham ngelmu (ilmu) sak cukupe lan sak butuhe (pentingnya manusia memiliki batas atas kepemilikan). Kaum elite politik- kekuasaan cenderung tak mengenal rasa cukup, baik material maupun non-material, sehingga sangat ambisius dalam memburu dan mengeksploitasi kekuasaan.

Egoisme dan individualisme yang menebal mendorong mereka tidak peduli terhadap liyan. Bagi mereka, orang lain adalah neraka (istilah Jean-Paul Sartre) karena itu harus disingkirkan demi memuja eksistensi dan kebebasannya. Maka, kerukunan natural/alamiah atau kerukunan yang otentik, layaknya kerukunan orang biasa, menjadi nilai yang tidak disukai, bahkan ditolak, karena dianggap mengganggu dan mengurangi perolehan hasil dan kepemilikannya.

Elite politik dan kekuasaan merupakan kelas menengah/kaum intelektual yang semestinya menjadi kekuatan etik/ moral, kebenaran bagi bangsa. Hadirnya kekuatan moral menjadikan kekuasaan ramah pada rakyat dan memuliakan kemanusiaan. Jika fungsi kekuatan etik/moral itu diingkari, elite politik dan kekuasaan itu telah melakukan pengkhianatan intelektual (istilah Julien Benda). Akibat ”kelas menengah yang ingkar dan pengkhianatan kaum intelektual” adalah pembelokan konstitusi yang meletakkan negara-bangsa tak lebih dari obyek eksploitasi kelompok elite-kekuasaan, dengan dalih apa pun, baik ideologi, politik, ekonomi, maupun budaya.

Di level bawah, rakyat hidup sudah payah dihajar sejumlah kesulitan akibat salah urus negara, baik karena inkompentensi maupun tipisnya integritas dan komitmen penyelenggara negara. Sekarang, rakyat masih dituntut hidup waswas terkait terancamnya keutuhan bangsa akibat pertikaian elite politik-kekuasaan. Akankah dosis penderitaan rakyat terus bertambah?

Rakyat ingin hidup damai, guyup, dan rukun layaknya Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong seperti dalam lukisan Sastrogambar dan Citrowalyo. Namun, kini kerukunan itu jadi nilai yang mahal karena penajaman perbedaan yang direkayasa. Lamat-lamat, Semar pun berkata: ”Tuan mau cari apa lagi? Toh, Tuan sudah sangat kaya raya, penuh kejayaan. Sebaiknya Tuan menciptakan ketenteraman bagi rakyat.”