Minggu, 04 Desember 2016

Anatomi Amuk Massa

Anatomi Amuk Massa
Budiarto Shambazy  ;   Wartawan Senior KOMPAS
                                                    KOMPAS, 03 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dua dasawarsa lalu, pendatang Inggris yang datang ke Asia Tenggara menyaksikan fenomena yang mereka sebut dengan kata ”amock”. Menurut mereka, ”to run amock” artinya seseorang atau sekelompok orang yang membunuh musuh-musuhnya untuk membalas dendam, yang didahului dengan ritual meminum candu sampai mabuk.

”Setelah mabuk kepayang mereka berhamburan dari rumah mereka untuk membunuh. Bahkan, orang yang mencoba mencegah mereka juga ikut dibunuh,” tulis Captain Cook. Secara perlahan kata amock berubah jadi ”amok”.

Ada yang menafsirkan amok sebagai ”bentuk ganjil dari ketidaknalaran akal manusia”. Ada pula yang melihat amok dari sisi psikologis sebagai ”perilaku sangat destruktif yang diikuti dengan amnesia, rasa lelah, bahkan bunuh diri”.

Namun, dalam ranah sosial ketidaknalaran akal itu semakin kasatmata karena para amuco juga memegang senjata dalam bentuk berbagai rupa. Amok atau amuk dalam bahasa kita kadang masih terjadi di negara ini, mulai dari di ajang politik sampai ajang sepak bola.

Hilangnya nalar kadang kala membuat kita, yang masih nalar, ikut terkesima seperti orang Portugis di masa lalu. Apa salahnya fasilitas umum sampai dirusak, apa pula salahnya mobil-mobil perpelat kota lain dipecahkan kacanya cuma karena yang terjadi di lapangan hijau?

Agak sulit menebak mulai kapan amok menjadi bagian dari kultur politik kita. Soalnya sejak kecil kita diajari bahwa Indonesia adalah bangsa yang ramah tamah dan suka gotong royong, sebuah antitesis dari sikap suka mengamuk.

Ada yang yakin kultur amok pertama kali berkembang karena sikap anti-Tionghoa pada era penjajahan Belanda. Kesalahan kompeni adalah menempatkan para pedagang Tionghoa di kelas sosial teratas bersama para pejabat Belanda.

Kita masih belum lepas dari penyakit amok terhadap etnis Tionghoa yang terus terjadi sampai kini. Beberapa teman Tionghoa saya sempat diliputi rasa takut akan terjadinya kekerasan terhadap mereka lagi sebagai penularan terhadap sikap anti sebagian orang terhadap gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama.

Kultur amok berkembang subur setelah terjadinya pembunuhan terhadap jenderal-jenderal kita pada tahun 1965. Tak lama kemudian terjadi pembunuhan terhadap mereka yang komunis ataupun yang bukan. Sampai kini jumlah korban akibat amuk massa itu belum diketahui persis.

Anatomi amuk massa perlahan berubah. Faktor penyebab amok semakin bertambah, mulai dari perbedaan tafsir agama, sengketa pilkada, sampai persoalan kecil seperti perlakuan kejam majikan terhadap pembantu rumah tangga.

Amuk massa juga menjadi bisnis yang menguntungkan karena Anda bisa datang ke begitu banyak entitas pengerah massa. Jika harga sudah cocok, Anda tinggal saksikan massa pro-Anda menyerbu ke mana pun.

Selama era Reformasi ini setiap tahun pasti ada amuk massa. Frekuensinya sangat tergantung dari seberapa persaingan politik di tingkat elite.

Amuk massa tentu juga mengalami desentralisasi. Anda sendiri melihat betapa banyaknya calon kepala daerah yang saling bertarung bukan cuma dengan tema-tema kampanye, melainkan juga dengan pengerahan massa.

Jangan salah, para pejabat yang memerintah juga mempunyai massa. Saya jadi ingat peristiwa di Jalan Sudirman pada 13 November 1998.

Penguasa di kala petang itu mengerahkan puluhan anggota pamswakarsa untuk menghadapi para mahasiswa.

Penguasa memang memiliki berbagai cara untuk mencegah terjadinya amuk massa. Ada demo tandingan, ada pawang hujan, ada imbauan, dan ada pula ancaman.

Semua orang pasti setuju Aksi Bela Islam I, II, dan III berjalan aman dan tertib. Sayang sekali yang kedua tanggal 4 November sempat diwarnai kericuhan kecil.

Sampai kini polisi masih belum mengungkap tuntas motivasi para pelaku kericuhan kecil itu. Namun, sejarah kekerasan di negeri ini selalu mengaitkan antara kerusuhan yang diotaki sang dalang yang berjudi untuk ambil keuntungan.

Ada juga pihak-pihak yang memanfaatkan massa, yang damai ataupun beringas, juga dalam rangka berjudi untuk memetik keuntungan. Itu sebabnya muncul spekulasi Aksi Bela Islam bukan mustahil ditunggangi mereka yang ingin memaksakan proses pemakzulan terhadap Presiden Joko Widodo.

Siapa yang mendalangi kericuhan 4 November dan siapa saja yang ingin memanfaatkan kemungkinan amuk massa untuk menggelar Sidang Istimewa MPR untuk memakzulkan Presiden Joko Widodo, mudah-mudahan akan terungkap.

Patut dipuji langkah Presiden Joko Widodo ikut shalat Jumat di Monas bersama para peserta Aksi Bela Islam III yang ternyata memang superdamai. Langkah Presiden dibutuhkan untuk menjamin ketenteraman kita menjalani kehidupan sehari-hari dan juga untuk menyemangati aparat keamanan yang bekerja profesional.

Sekali lagi, salut untuk Presiden Joko Widodo. Pada saat yang kurang mengenakkan belakangan ini, kita butuh pemimpin yang bernyali besar.