Sabtu, 10 Desember 2016

Antara Politik Islam dan Islam Politik

Antara Politik Islam dan Islam Politik
Rachman Wellmina  ;   Mahasiswa Pasca Sarjana Filsafat Islam;
Pegiat di Rumi Institute Jakarta
                                                  TEMPO.CO, 07 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sebuah bangsa dibangun dengan hati penyair

Namun hancur ditangan politikus

(Dr. Mohammad Iqbal)

Dalam petikan sajak Iqbal, filsuf-penyair Pakistan tersebut menyelipkan pesan sinis terhadap politikus berkaitan nasib keberadaan sebuah bangsa. Sebaliknya Iqbal memuji peran penyair bagi keberadaan dan kelangsungan hidup sebuah bangsa. Mungkin karena Iqbal juga seorang penyair, maka wajar jika dia memuji kelompoknya. Namun kita tidak bisa serta merta berpikir demikian, mengingat Iqbal juga seorang aktivis politik. Berdirinya Pakistan, tak lepas dari upaya-upaya kerja keras perjuangan politik dan curahan pemikiran filosofis Iqbal. Maka tak mengherankan jika beliau digelari sebagai Bapak Spiritual Pakistan. Besarnya pengaruh dari puisi-puisi Iqbal tak hanya di India, tanah kelahirannya, namun juga menembus batas-batas negerinya. Para pejuang revolusi Iran yang terlibat dalam revolusi 1979 saat menggulingkan kekuasaan monarkhi Syah Reza Pahlevi, misalnya dalam diri Dr ‘Ali Syariati, Muthahari dan Ali Khamenei, mereka termasuk para pemikir Iran yang terinspirasi oleh puisi-puisi Iqbal.

Peranan seorang penyair bagi pembentukan dan kelangsungan hidup sebuah bangsa tidak hanya ekslusif dimainkan oleh Iqbal saja. Negeri ini pun memiliki kisahnya sendiri. Jika kita tengok sejarah negeri ini, kita juga memiliki Chairil Anwar, yang sajak sajaknya menginspirasi kaum pergerakan di revolusi kebangsaan. Sajak-sajak Chairil mampu mengobarkan semangat anak bangsa untuk bangkit memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan. Alhasil, kita dapat mengatakan penyair bukan hanya soal bergelut mengolah kata semata, namun juga soal menyuntikkan makna bagi segenap pembacanya agar bergerak mengubah keadaan.

Menimbang Pandangan Iqbal

Bapak Spiritual Pakistan, sekaligus filsuf penyair yang paling berpengaruh di abad 19, Dr Mohammad Iqbal, secara jernih membedakan antara “Politik Islam” dengan “Islam Politik”. Politik Islam adalah bagaimana nilai-nilai Islam dapat ditegakkan dalam kehidupan dengan berporos pada keadilan. Ini artinya perjuangan politik Islam tidak selalu harus berbentuk partai politik. Karena upaya mewujudkan terciptanya nilai-nilai Islam dalam konteks kehidupan berbangsa, dapat dilakukan di segenap lini kehidupan. Dengan konsepsi seperti yang diajukan Iqbal, maka kita menjadi lebih bisa memahami saat seorang pemikir muslim, Muhammad Abduh mengatakan, saya melihat Islam di Barat, tapi tak melihat muslim. Sedangkan di Timur saya melihat muslim, namun saya tak melihat Islam. Artinya Islam sebagai sebuah nilai, seperti keadilan, pembelaan kepada kaum tertindas (mustadh’afien), menghargai akal-keberpikiran dan mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan, sebagaimana banyak dinyatakan oleh Al Quran, belum tentu dapat terlihat pada sebuah komunitas muslim. Dan demikian pula sebaliknya, komunitas muslim juga tak serta merta merupakan manifestasi ideal dari nilai-nilai Islam. Atau dengan kata lain, Islam secara normatif, dimana nilai-nilainya begitu ideal, belum tentu sama dan selaras dengan Islam secara historis-sosiologis yang mewujud dalam kehidupan nyata secara sosial budaya dalam sebuah komunitas bangsa muslim.

Berbeda dengan Politik Islam yang mengidealkan terciptanya nilai-nilai Islam dalam kehidupan, Iqbal menjelaskan Islam Politik secara menarik. Menurut Iqbal, Islam Politik adalah upaya sekelompok orang dengan menggunakan simbol-simbol Islam untuk kepentingan meraih kekuasaan. Iqbal dengan tegas mengkritik mereka yang masuk kelompok ini, yang hobi menggunakan simbol-simbol Islam demi kepentingan pribadinya dan kelompoknya. Tak jarang hal ini akan sangat merugikan umat Islam secara keseluruhan. Karena seringkali aksi-aksi Islam Politik bersifat sangat pragmatis dan cenderung terkesan untuk sekedar memuaskan hasrat untuk berkuasa. Dalam kehidupan nyata, kita tak mudah untuk membedakan mana Politik Islam dan mana yang Islam Politik. Karena mereka yang sejatinya pendukung Islam Politik, takkan mungkin mau mengaku demikian. Sebaliknya mereka pasti akan mengaku sebagai perwujudan par excellence dari Politik Islam. Namun secara mudahnya, untuk membedakan Politik Islam dan Islam Politik, kita dapat melihat pada orientasi akhir dari arah perjuangan gerakan mereka. Mana gerakan yang ujung-ujungnya merupakan ekspresi dari upaya memuaskan libido kekuasaan, dan mana gerakan yang berorientasi pada terciptanya keadilan dan membela kaum kecil yang tertindas, terdzalimi dan terpinggirkan tanpa harus berkuasa.

Senafas dengan pandangan Iqbal, seorang pemikir modern, Bassam Tibi menguatkan pandangan Iqbal. Bassam Tibi lewat karyanya yang monumental (Islamism and Islam. 2012) membedakan antara Islam dan Islamisme. Islam adalah sebuah agama, sebuah keyakinan religius. Sedangkan Islamisme adalah tafsir politis keagamaan yang diturunkan dari konstruksi ideologi Islam. Bassam Tibi secara tegas membedakan antara dua hal ini, antara Islam dan Islamisme. Permasalahan muncul ketika pandangan kaum Islamis, yang merupakan tafsir politis atas agama Islam berusaha dibuat sedemikian rupa sehingga nampak sakral dan seolah menjadi benar secara mutlak. Hal ini tak jarang menimbulkan percikan-percikan keretakan sosial di dalam tubuh kaum muslim sendiri. Mengingat ekspresi politik kaum muslim tak pernah sama di sepanjang masa. Selalu ada perbedaan dan ada gradasi pemaknaan di segenap sendi-sendi ajaran agama dan kehidupan. Masih menurut Bassam Tibi, para pengusung Islamisme, tentu takkan menerima begitu saja saat mereka disebut sebagai kaum Islamis. Dan sebagai mekanisme pertahanan atas tuduhan tersebut, mereka akan mewacanakan Islamophobia. Mereka berdalih bahwa orang-orang yang anti Islam Politik adalah kaum Islamophobia, orang-orang yang memiliki ketakutan berlebihan dan tak berdasar kepada para aktivis Islam.

Mendefinisikan Ulang Kemenangan

Disadari atau tidak, perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh persepsinya atas segala sesuatu. Kepala dua orang boleh sama hitamnya, namun persepsi atas suatu peristiwa atau suatu hal yang sama, akan sangat berbeda persepsinya, antara orang yang satu dan orang kedua. Kita hidup di bawah kolong langit yang sama, namun horizon persepsi kita takkan pernah sama. Hal ini dikarenakan persepsi sangat bergantung kepada definisi yang kita lekatkan kepada segala sesuatu. Konsekuensi logisnya dari hal ini adalah, kita tidak melihat dunia sebagaimana adanya, melainkan kita melihat dunia sebagaimana yang ingin kita lihat. Contoh konkret dalam hal ini adalah bagaimana pemaknaan atas arti kemenangan disematkan oleh orang secara berbeda.

Perbedaan ekspresi keberagamaan antara Politik Islam dan Islam Politik, salah satunya dapat dilacak pada bagaimana cara mendefinisikan arti dari kemenangan. Sebuah kemenangan seringkali hanya diukur dari satu aspek empiris : berupa dominasi dalam pemilu, dan juga dominasi dalam berbagai jabatan publik. Akibatnya definisi tunggal kemenangan ini menyebabkan umat menjadi gelap mata untuk dapat meraihnya. Beragama diubah menjadi arena balap pacu untuk meraih kekuasaan publik.

Salah satu makna mendasar kemenangan ialah, bagaimana kita agar senantiasa bejalan dan berlaku sesuai prinsip yang kita yakini sebagai kebenaran. Ketika seseorang menjalani dan bersikap sesuai dengan tuntunan nilai-nilai yang dia yakini, maka itulah kemenanga yang hakiki baginya. Tak peduli dalam dunia nyata dia terlihat kalah dalam kontestasi empiris, namun dia tetap berpegang pada kesucian prinsip-prinsip yang diyakininya sebagai kebenaran. Sayangnya, kebanyakan orang justru menggadaikan nilai-nilai prinsip yang diyakininya, semata-mata agar dapat meraih kemenangan secara empiris dan diakui publik. Kemenangan yang demikian ini, sesungguhnya merupakan kemenangan yang semu. Untuk apa meraih kemenangan jika dia harus kehilangan dirinya dan jati dirinya. Kehilangan harga dirinya.

Kemenangan Dalam Perspektif Mistis – Filosofis

Dalam perspektif mistis-filosofis, manusia bukan sekedar sebentuk makhluk darah dan daging semata. Namun juga meliputi ‘aql, ruh dan jiwa. Manusia merupakan makhluk mikrokosmos, tetapi di dalamnya sekaligus terkandung makrokosmos, seluruh alam semesta. Dalam diri manusia terdapat kerajaan-kerajaan batin yang sangat luas. Lengkap dengan ribuan atau mungkin jutaan tentaranya berupa pikiran, khayalan, imajinasi dan juga berbagai hasrat lainnya. Jika manusia menyadari akan besarnya kerajaan di dalam dirinya, mungkin dia akan mampu menginsyafi betapa kekuasaan tak selalu berkonotasi pada kekuasaan jabatan publik. Kekuasaan manusia terhadap kerajaan dirinya jauh lebih penting untuk diperhatikan. Syeikh Akbar Ibn ‘Arabi dalam kitab Tadbirat Al Ilahiyyah, secara panjang lebar mengingatkan kita akan kerajaan yang ada di dalam diri manusia. Dan kemengan sejati bagi kita, manakala kita mampu dengan baik mengelola kerajaan yang ada di dalam diri kita.

Dengan bahasa yang agak lain, dalam kata-kata Maulana Jalaluddin Rumi juga mengingatkan kita akan makna kemenangan sejati. Kata Rumi, “Raja sejati bukanlah dia yang pikirannya menguasai dunia. Melainkan dia yang mampu menguasai pikiran-pikirannya sendiri”. Jelas sekali Maulana Rumi hendak mengingatkan agar manusia hendaknya tidak lupa untuk menjaga dengan baik kerajaan diri. Dan yang demikian, baik yang disampaikan oleh Syeikh Akbar Ibn ‘Arabi maupun oleh Maulana Rumi, sebenarnya sejalan Sebagaimana firman Al Quran, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”. Dalam suatu riwayat dikisahkan bagaimana Kanjeng Nabi menyambut para Sahabatnya yang baru saja memenangakan pertempuran. Beliau berkata, “Selamat datang wahai kalian yang baru saja memenangkan pertempuran kecil. Dan masih harus berjuang dalam pertempuran besar”. Para Sahabat terkejut dan bertanya, apakah pertempuran besar tersebut ya Rasululah. Kemudian Kanjeng Nabi menjawab, “Sesungguhnya pertempuran terbesar adalah jihad melawan diri sendiri”. Betul sekali bahwa jihad melawan diri kita merupakan jihad yang terbesar. Karena musuh terbesar setiap orang sesungguhnya adalah masing-masing diri kita sendiri.

Redefinisi arti kemenangan dalam ber-Islam penting sekali bagi kita semua, guna menengok kembali cara ber-Islam kita. Dengan bebas memilih definisi kemenangan dalam berIslam, kita akan dapat melihat apakah kita cenderung kearah Politik Islam, ataukah sebaliknya cenderung kearah Islam Politik. Sehingga dengan demikian kita tetap dapat menjadikan Islam sebagai oase spiritualitas dan santapan ruhani atas kehidupan keseharian kita. Sehingga kita dapat lebih menghayati tujuan diutusnya Kanjeng Nabi untuk menyempurnakan akhlak. Tiadalah Rasulullah diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak. BerIslam dengan cara demikian dengan sendirinya akan penuh kesejukan dan kedamaian bagi jiwa kita dan bagi lingkungan di sekitar kita. Maka tidak selalu Ber-Islam harus diukur dengan ukuran tunggal kemenangan kekuasaan dan jabatan politik. Dalam bahasa puisinya Iqbal, “Hidup politik sejati tidak dimulai dengan klaim atas hak-hak, melainkan dengan pelaksanaan tugas tugas”.