Jumat, 17 Februari 2017

Hubungan AS-Iran dan Nasib Irak

Hubungan AS-Iran dan Nasib Irak
Ibnu Burdah  ;   Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam;
Dosen UIN Sunan Kalijaga
                                                     KOMPAS, 15 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Irak sepertinya akan menjadi pusat konflik baru antara Amerika Serikat dan Iran. Menilik berbagai pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan para pejabat negeri itu, Irak bagi AS di bawah Trump  sangatlah penting.

Trump berargumen, AS sudah menggelontorkan dana dan tenaga sedemikian besar untuk "pembebasan" Irak dari Saddam Hussein. Menurut dia, AS telah menghabiskan 3 triliun dollar AS untuk Irak tanpa imbalan apa pun. Sebagai pedagang, itu bisnis yang benar-benar bangkrut.

Akan tetapi, pemerintahan Barack Obama meninggalkan begitu saja negeri itu tanpa perolehan yang berarti. Bagi Trump, keluar dari Irak adalah kesalahan yang sungguh fatal. Sebab, saat ini, AS seharusnya sedang mengambil laba sebesar-besarnya dari negara itu. Tentu yang paling diincar adalah sumber minyak.

Pengaruh Iran

Sebaliknya, Iran dipandang sebagai negara yang memiliki pengaruh sangat besar di Irak sekarang. Faktanya, kekuatan-kekuatan dalam negeri Irak yang sepertinya dalam komando Iran sangatlah kuat. Taruhlah kekuatan milisi Syiah terbesarnya, yaitu al-Hasyd al-Sya'biy, partai-partai politik Syiah, bahkan para penguasa negeri itu.

Dalam perang melawan NIIS di Irak saat ini, Iran juga memiliki andil besar.  Bagi Iran, Irak adalah harga mati. Irak adalah garis merah yang tidak boleh diganggu, jangan sampai pasukan AS kembali. Irak adalah bagian dari blok Syiah yang dipimpin Iran selama ini, di samping Lebanon-Hizbullah dan Yaman-Houtsi. Selama ini, dalam konstelasi konflik kawasan, Irak, kendati tak sevulgar Hizbullah, selalu berada di pihak Syiah, baik itu dalam perang Suriah yang sangat destruktif, di Yaman, dan lainnya.

Di sisi lain, Irak sepertinya tak mudah merestorasi stabilitas keamanan dan ekonominya, sekalipun, misalnya, mereka sebentar lagi mengalahkan NIIS di Mosul. Sebab, negara itu kemungkinan akan menjadi pusat ketegangan baru antara Iran dan AS. Apalagi jika Trump bersikeras membawa kembali pasukan masuk ke Irak. Resistensi kekuatan-kekuatan di negeri itu dan kawasan dipastikan akan sangat besar.

Nasib sejarah

Nasib sejarah bangsa Irak beberapa dekade terakhir sungguh kelam. Betapa tidak, lahirnya pemimpin diktaktor ambisius Saddam Hussein telah menjadi sumber prahara bagi negara itu. Ia menggeber perang total dengan tetangganya Iran-Persia selama delapan tahun (1980-1988).

Perang telah membuat ekonomi negara itu hancur dengan tumpukan utang yang sangat besar. Sementara negara-negara kaya yang ia lindungi tak mau lagi mengucurkan dana untuk restorasi Irak pasca perang.

Di tengah frustrasi dengan keadaan, Saddam Hussein menggebrak Kuwait yang kemudian melahirkan perang besar dua kali, yakni pada masa Bush dan Bush Jr. Implikasi dari perang itu tentu sangat besar. Apalagi pasca perang, Irak kesulitan mewujudkan stabilitas keamanan.

Pertarungan antarkelompok dan milisi semakin frontal. Hasilnya kurang lebih adalah Syiah berkuasa dan Kurdi memperoleh otonomi yang luas, sementara Sunni terpinggirkan.

Inilah yang antara lain menciptakan situasi bagi lahirnya kelompok yang kemudian disebut NIIS di bawah pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi dan beberapa pentolan militer masa Saddam Hussein. NIIS menjadi ancaman bukan hanya bagi Irak dan Suriah, melainkan juga bagi dunia.

Sepak terjang kelompok itu di Irak benar-benar mengerikan. NIIS berhasil memproklamasikan sebuah negara khilafah di wilayah luas Irak dengan pusat kota Mosul. Saat ini kota Mosul menjadi tempat perang kota yang kemungkinan segera mengakhiri kekuasaan NIIS di sebagian Irak selama 2,5 tahun lebih.

Prahara NIIS di Irak kemungkinan akan selesai tak lama lagi. Akan tetapi, Trump, sang pedagang, bertekad untuk mengambil "hak-haknya dan mengambil laba" dari kerja keras AS selama ini. Trump sepertinya bersikeras untuk mengembalikan uang 3 triliun dollar yang digelontorkan AS sekitar tiga dekade terakhir di Irak  dan tentu plus labanya.

Namun, hingga kini belum ada sinyalemen jelas langkah konkret apa yang akan diambil Trump untuk mengembalikan uang AS di Irak itu. Apa ia akan kembali menggeber pasukan di Irak? Jika Trump memaksakan kembalinya tentara AS ke Irak, itu pilihan yang mengerikan.

Ia mungkin saja mengambil opsi lain yang lebih lunak, yaitu  membela kekuatan-kekuatan Sunni atau Kurdi. Jika kelompok Sunni yang didukung, itu tentu akan menyenangkan sekutu-sekutu Arab Teluk mereka. Jika Kurdi yang didukung, itu bisa bermakna ganda yang menguntungkan mereka

Pertama, membuat kekuasaan Syiah  berkurang dan kedua membuat marah Iran karena itu berpotensi domino di Iran. Trump sepertinya tak begitu hirau dengan kemungkinan terpecahnya Irak jika aspirasi Kurdi didukung kekuatan besar. Yang penting bagi orang semacam dia adalah laba dan mungkin itulah yang ia maksudkan sebagai kejayaan AS.