Jumat, 02 Desember 2016

"Tan Keno Kinoyo Ngopo"

"Tan Keno Kinoyo Ngopo"
Abdul Munir Mulkhan  ;   Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta;
Komisioner Komnas HAM RI 2007-2012; Wakil Sekjen PP Muhammadiyah 2000-2005
                                                    KOMPAS, 01 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Bulan Desember 2016 adalah bulan istimewa. Dalam bulan Desember ini,  ada dua peristiwa penting: kelahiran Nabi Muhammad Saw (12/12) dan Nabi Isa As (25/12). Kaum Muslimin dan Nasrani memandang hari-hari tersebut sebagai hari istimewa, dihormati sebagai bagian dari keimanan mereka.

Praktik keagamaan kedua kelompok pemeluk beda agama tersebut telihat penuh pengertian dan saling menghormati keyakinan masing-masing dalam memperingati hari suci kelahiran nabinya. Namun, konflik besar bisa terjadi, dipicu tindakan jika dinilai merendahkan apa yang diyakini sebagai sesuatu yang sakral atau suci tersebut.

Persoalannya, bagaimana memelihara sikap saling menghormati ketika pemeluk suatu agama meyakini bahwa Tuhan yang firman-Nya mutlak benar dan sempurna itu-amatlah jelas dan pasti-bukan yang lain.  Tuhan sebagai tan keno kinoyo ngopo (tidak bisa digambarkan seperti apa) sebagaimana gambaran dalam hikmah Jawa, tampaknya bisa dijadikan rujukan bersama ketika setiap pihak menempatkan rumusan keyakinannya sebagai mutlak benar dan sempurna.

Dalam surat As-Syuura Ayat 11, Allah berfirman, artinya: "(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (laista kamistlihi syai'un), dan Dia-lah yang Mahamendengar dan Melihat."

Potongan ayat dalam surat As-Syuura tersebut yang berbunyi "laista kamistlihi syai'un" sering dirujuk guna menjelaskan sifat gaib Tuhan. Kegaiban Tuhan itulah yang antara lain diberi makna tan keno kinoyo ngopo dalam tradisi Jawa.

Masalahnya, menjadi lain ketika Yang Mutlak Sempurna yang Mahagaib itu diterjemahkan dalam susunan kalimat atau rangkaian kata yang dimaknai secara materiil dan positivis. Pemaknaan secara demikian bisa berarti bahwa setiap rumusan yang berbeda sangat boleh jadi ditempatkan sesuatu yang bertentangan karena hanya ada satu rumusan yang tepat. Akibatnya, rumusan lain bukan hanya ditempatkan sebagai batal, bahkan bisa dipandang sebagai ancaman atas kemutlakan dan kesempurnaan yang diyakini sebagai Tuhan dengan firman-Nya tersebut.

Rasa direndahkan, dilecehkan, tidak dihormati bisa memicu emosi ketuhanan yang sulit dipahami orang yang berbeda keyakinan keagamaannya. Kecenderungan demikian bisa dibaca dari sensitifnya persoalan yang berkaitan dengan demonstrasi besar 4 November lalu.

Kisah kemanusiaan

Dalam tingkat sensitivitas emosi ketuhanan yang tinggi demikian, sebuah kisah kemanusiaan yang berlangsung di Madinah pasca hijrah Nabi Muhammad Saw berikut ini mungkin patut disimak.

Seorang kepala kabilah terbesar di sekitar kawasan Mekkah-Madinah yang selama ini secara sengit dan keji terus memusuhi dan memerangi Islam, Ibn Ustal, tertangkap. Rasul pun memperlakukan tahanan kakap itu secara istimewa. Setiap pagi Rasul mengantarkan sarapan pagi berupa susu unta milik Nabi sendiri. Setiap pagi itu pula, Ibn Ustal terus menghina Nabi. Namun, setiap kali pula Nabi menyambut hinaan demikian dengan sikap santun.

Tindakan Ibn Ustal yang menjengkelkan itu adalah tuduhan bahwa dakwah Rasul tidak lebih daripada hasrat Nabi Muhammad terhadap kekuasaan dan kekayaan. Bagi Ibnu Ustal, jika Nabi memang ingin memperoleh kekayaan dan kekuasaan, tidak perlu bersusah payah berdakwah, tinggal terus terang meminta kepada Ibn Ustal, pasti akan dikabulkan.

Di tengah cemooh dan hinaan yang dilakukan Ibnu Ustal demikian itu, Nabi tiba-tiba membebaskannya tanpa syarat. Terkejut melihat perlakuan Rasul yang aneh, di luar nalar manusia biasa umumnya, tanpa kata-kata Ibnu Ustal lalu meninggalkan kawasan Masjid Nabawi dengan seribu pertanyaan tanpa jawab.

Tiba di suatu oase, tidak jauh dari kawasan Masjid Nabawi, Ibnu Ustal bersuci, kemudian berbalik menuju Masjid Nabawi. Ia menghadap Rasul lalu bersumpah: "Hai Muhammad! Tidak ada orang di dunia ini yang paling aku benci sebelum ini kecuali engkau. Kini aku bersumpah; wallahi, tidak ada di dunia ini orang yang paling kucintai kecuali dirimu!" sembari mengucap syahadat. Wallahu a'lam.