Kamis, 15 Desember 2016

Menanti Sosok Searif Aa Gym

Menanti Sosok Searif Aa Gym
Iqbal Aji Daryono  ;   Praktisi Media Sosial; Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi
                                                DETIKNEWS, 07 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saya punya anak, umurnya tujuh tahun, namanya Hayun. Rambutnya panjang, karena anak-anak perempuan di Perth sini memang sangat jarang yang berambut pendek.

Pada suatu rentang waktu, Hayun sangat sebal dengan apa yang namanya sisiran. Sisiran jadi semacam teror untuknya. Nyaris tak pernah ada kejadian ibunya nyisiri rambut Hayun tanpa terjadi keributan kecil-kecilan.

Namun seribet apa pun, kami selalu menasihatkan, agar Hayun menjaga penampilannya. Agar tampak rapi, manis, tidak amburadul. Dasar yang kami ajarkan selalu sederhana saja, yakni kami tidak ingin orang risih melihatnya. Kami tak mau ia mendapatkan sikap tidak hormat dari teman-temannya, gara-gara penampilannya. Kami ingin kehadiran Hayun menjadi kegembiraan dan keindahan bagi lingkungannya.

Lantas, dengan sikap kami yang seperti itu, apakah artinya kami benci kepada anak kami? Apakah kami bersikap "anti" kepada anak kami sendiri? Apakah kami... mmm... Hayun-phobia?

Sama sekali tidak, tentu saja. Kami "mengkritik" Hayun karena Hayun adalah bagian dari diri kami sendiri. Kami memintanya menjaga kehormatan sikap dan penampilan, bukan untuk menjatuhkan dia, melainkan justru untuk memuliakan dirinya. Satu saja alasannya: sebab kami sangat mencintainya.

Cara pandang ala autokritik semacam itu bisa kita contoh dari sosok Aa Gym. Boleh jadi Anda para haters Aa Gym tidak sepakat, tapi mari kita coba cermati baik-baik.

Begini. Tak bisa dimungkiri, kehadiran Aa Gym dan santri-santri beliau di Aksi 411 dan 212 menjadi fenomena tersendiri. Mereka datang bukan sekadar untuk ikut aksi dalam rangka "meluruskan" negara sesuai versi mereka, namun juga untuk "meluruskan" rekan-rekan mereka sendiri di lapangan yang buang sampah sembarangan.

Maka muncullah pasukan Daarut Tauhid dengan senjata andalan berupa sapu dan pengki. Meski peserta aksi yang lain bukan lantas berarti jorok, Aa Gym bersama sapu dan pengki di tangannya adalah ikon paling mencolok dari keindahan akhlak yang satu ini: mengoreksi kesalahan diri dan saudara sendiri, alias autokritik, alias muhasabah.

Ini berat. Yang gampang adalah menuding dan melawan pihak lain, musuh-musuh di luar, lawan-lawan eksternal. Yang sulit adalah melawan diri sendiri, menundukkan ego sendiri, menghancurkan kesombongan di hati sendiri.

Itulah kenapa, simbol kegelapan dalam Islam adalah iblis, dan dosa terbesar iblis adalah takabur, congkak, merasa diri tinggi. Sementara, ajaran tentang jihad terbesar adalah hadis Nabi mengenai puasa Ramadan, yakni pertempuran melawan hawa nafsu di dalam diri kita sendiri. (Catatan: sebagian ulama ada yang menganggap lemah hadis tersebut).

Karena itulah, Indonesia membutuhkan "kloningan" Aa Gym, sosok-sosok muda yang mengikuti jejak Aa Gym dan santri-santri Daarut Tauhid.

Medan perjuangan para "Aa Gym baru" ini terbentang luas. Luas sekali.

Mereka bisa, misalnya, membawa sapu, pengki, dan tas kresek besar-besar, untuk meluruskan rekan-rekan mereka yang sedang mengotori citra Islam dengan egoisme klasik berupa aksi pembubaran ibadah umat lain (sembari melangkahi wewenang pihak berwajib).

Iya, seperti yang barusan terjadi di Bandung. Itu.