Senin, 19 Desember 2016

Berseni Pancasila

Berseni Pancasila
Bandung Mawardi   ;   Kritikus Sastra
                                              KORAN SINDO, 18 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pada masa 1950-an, Pancasila diajarkan di sekolah, kursus, dan seminar. Penerbitan buku-buku bertema Pancasila semakin bertambah. Politikus, intelektual, militer, sastrawan, guru, dan ulama mulai memberi tafsiran beragam atas Pancasila. Soekarno tentu jadi pusat pengisahan dan penjelasan Pancasila. Di pers dan partai politik, persaingan terjadi demi Pancasila. Kubu-kubu berseberangan mengaku paling mengerti Pancasila. Arus perkembangan sastra juga mengacu ke penerimaan atau penolakan Pancasila. Iwan Simatupang (1953) turut berkomentar dimulai sejenis ragu: ”Pancasila sebagai lebensanchauung , sebagai ekstraksi dari undang-undang dasar (sementara) kita, harus membaui segala- galanya dari kita, ungkapan batin kita, dus juga puisi kita?” Iwan Simatupang mengulas politik, moralitas, agama, filsafat, ekonomi, dan seni mengacu ke pemahaman atas Pancasila.

Kalimat-kalimat sinis dan keras bermunculan agar pembaca sadar atas perebutan makna Pancasila oleh pelbagai seniman, politikus, dan moralis. Orang gampang fanatik dan silau pada Pancasila. Pengajuan pemikiran dan argumentasi malah membuat Pancasila berada di persengketaan. Pancasila dijadikan dalih revolusi belum selesai, berdagang demi untung melimpah, menghancurkan partai politik, mengantar orang ke penjara, atau menghindarkan negara dari perang. Para seniman pun turut dalam kancah perdebatan melalui sajian seni.

Iwan Simatupang berpendapat: ”Pancasila datang membawa batas-batas, dan memberikan luasan kecil yang dimensi-dimensinya lekas-lekas berikan kesan arrive pada kita. Sedang kita ingin puisi kita, puisi Indonesia, subur, tak punyai ambisi jadi puisi keluaran kulturkammer . Kita ingin puisi, sedemikian banyaknya hingga bikin tipolog-tipolog dan mereka tukang cari-cari sesuatu isme dalam setiap ciptaan seni, ciptaan puisi-geleng kepala!” Kita mulai agak mengerti berseni atau berpuisi Pancasila setelah membaca kalimat-kalimat rumit dan dipaksakan filosofis. Pada tahun-tahun sebelum keruntuhan kekuasaan Soekarno, sengketa Pancasila dalam seni semakin gawat.

Di majalah Sastra , Nomor 9-10, Tahun III, 1963, para seniman mengumumkan Manifes Kebudayaan, bertanggal 17 Agustus 1963. Kalimat terakhir: ”Pancasila adalah falsafah kebudayaan kami.” Pancasila memang jadi idaman semua pihak. Pembela Pancasila merasa berhak menghancurkan atau menistakan para musuh Pancasila. Pancasila gampang rancu dipahami sebagai dasar negara, pandangan hidup, cap, atau pemanis. Sengketa politikdan seni bersumber dari persaingan paling memiliki Pancasila. Sejak kemunculan Soeharto sebagai tokoh besar, Indonesia masuk ke masa subur berseni Pancasila.

Soeharto memberi petunjuk agar seniseni tradisional dan modern mengumumkan Pancasila. Publik mulai ”dipatuhkan” sebagai konsumen atau apresiator Pancasila melalui wayang kulit, ketoprak, macapat, l u d r u k , lagu, novel, puisi, film, dan teater. Berseni Pancasila menjadi kerja kolosal dan paling sukses selama masa Orde Baru. Seni tanpa Pancasila bisa menghasilkan pembakaran buku, pelarangan pentas teater, sensor film, dan pemenjaraan. Berseni Pancasila malah mulai disajikan ke bocah-bocah. Pembuatan inpres pengadaan buku bacaan anak pada masa 1970-an menjadikan sastra anak semakin berbobot dan bercap Pancasila. Berseni harus Pancasila.

Perwujudan berseni Pancasila juga berpengaruh besar melalui gubahan lagu-lagu bertema Pancasila. Pada 1991, Amris Cipta Sarana menerbitkan buku berjudul Irama dan Lagu sebagai Upaya Melestarikan Pancasila . Propaganda penerbit: ”Diharapkan melalui keikutsertaan masyarakat, khususnya kalangan generasi muda, secara aktif turut mendendangkan lagu-lagu bernafaskan P-4 ini, maka usaha pemasyarakatan P-4 dapat lebih ditingkatkan penyebarluasannya.” Buku memuat 25 lagu.

Sekian judul lagu terasa gamblang mengumumkan Pancasila: ”Mengamalkan Pancasila” oleh AT Mahmud, ”Negara Pancasila” oleh A Simanjuntak, ”Lestarikan Pancasila” oleh Janner Sinaga, ”Bahana Pancasila” oleh Budiman BJ, dan ”Insan Pancasila” oleh AR Pakaja. Berseni Pancasila berlanjut setelah keruntuhan rezim Orde Baru, 1998. Kisruh politik dan krisis mengingatkan publik untuk semakin memahami dan mengamalkan Pancasila. Para seniman tampil dengan pelbagai ekspresi seni. Kegandrungan berseni Pancasila turut menentukan corak pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla meski ada ”pemaksaan” tafsir.

Pementasan teater tentang Tan Malaka dan pemutaran film tentang Pula Buru dilarang oleh ormas-ormas berdalih membangkitkan PKI. Mereka memusuhi seni jika mengandung ajaran komunis. Tuduhan tanpa penelitian dan argumentasi. Seni-seni untuk kesadaran sejarah dan perwujudan nilainilai kemanusiaan justru dilarang berdalih Pancasila dan agama. Seni perlahan ada di jalan rawan saat pengecapan Pancasila berlaku dengan pemaksaan. Sekarang, jalinan seni dan Pancasila masih berlanjut dengan pelbagai ironi dan kegagalan memahami sejarah. Begitu.