|
Nilai Tukar Rupiah & BI ke Depan Prof. Didik J
Rachbini, Ph.D. : Ekonom Senior Indef, Rektor Universitas
Paramadina. |
ORBIT INDONESIA, 27 Juli 2026
|
Apa
tugas Bank Indonesia (BI) sesuai dengan Undang-Undang? Jawabnya tunggal yaitu
menjaga nilai rupiah. Bagaimana dengan nilai tukar rupiah yang terpuruk saat
ini? Jawabnya terkait langsung dengan tugas Bank Indonesia. Di
media mainsteam, media online dan media sosial terjadi salah paham, kesalahan
kebijakan ditujukan kepada Menteri Keuangan, yang selalu disorot media
sebagai lembaga yang paling bertanggung jawab terhadap kejatuhan nilai tukar
rupiah saat ini. Nilai
tukar naik dan turun ada di bawah tanggung jawab Bank Indonesia dan tentu
pemerintah secara keseluruhan. Bank Indonesia lah yang bertanggung jawab
terhadap nilai tukar yang terpuruk pada saat ini. Jadi
ke depan Gubernur Bank Indonesia yang baru adalah pejabat yang paling
bertanggung jawab terhadap masa depan stabilitas nilai tukar rupiah. Tentu
saja Bank Indonesia tidak sendiri dan memang tidak pernah ada di muka bumi
ini lembaga pemerintah yang bekerja sendiri dalam menyelesaikan masalah
tanggung jawab dan kebijakannya. Bank
Indonesia diwajibkan oleh Undang-Undang untuk berkoordinasi dengan
pemerintah. Bank Indonesia tidak dapat menjaga rupiah sendiri sehingga perlu
koordinasi dengan Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Investasi
dan Perindustrian. Nilai tukar rupiah kuat atau lemah sangat berhubungan
dengan kinerja perdagangan internasional, investasi dan fiskal - tetapi
kinerja nilai tukar ada di dalam tanggung jawab Bank Indonesia. Meskipun
sebab nilai tukar jatuh seperti sekarang karena pengaruh sektor rill
(perdagangan, investasi dan devisa) tetapi itu tidak meniadakan tanggung
jawab Bank Indonesia. Karena itu, koordinasi adalah keharusan dan mutlak
menjadi tanggung jawab Bank Indonesia untuk menjaga nilai tukar. Gubernur
Bank Indonesia yang baru tidak boleh pasif dalam koordinasi ini (hanya
melaksanakan tugas moneter saja) tetapi perlu memainkan peran untuk memimpin
koordinasi di depan dengan kementrian lain untuk memastikan nilai tukar tidak
terpuruk seperti sekarang. Mengapa
harus memimpin di depan, karena kinerja nilai tukar adalah tanggung jawab
utamanya. Karena
itu, Gubernur BI ke depan perlu melakukan transformasi peranannya hanya
dominan peran dalam kebijakan moneter menjadi pemimpin di depan dalam menjaga
nilai tukar rupiah. Peran
ini harus dilakukan agar nilai tukaar tidak terus tepuruk seperti seklarang
ini. Transformasi kepemimpinan BI ini perlu dilakukan karena tantangannya
sangat berat dari gabungan masalah moneter dan non-moneter. Tugas
menjaga kecukupan cadangan devisa jelas tidak bisa dilakukan sendiri oleh
Bank Indonesia karena cadangan devisa tersebut datang dari aktivitas ekonomi
di sektor riil. Cadangan devisa sebagai instrumen dipakai untuk intervensi,
pembayaran utang luar negeri pemerintah, menjaga kepercayaan pasar. Tetapi
untuk memperkuat cadangan devisa, Bank Indonesia dan pemerintah perlu bekerja
bersama agar kinerja sektor riil dan perdagangan meningkat serta memastikan
hasil devisanya parkir di dalam negeri. Jadi,
sebab nilai tukar lemah sudah pasti datang dari sebab faktor moneter atau
faktor ekonomi di sektor riil. Jika sebab nilai tukar terjadi karena faktor
ekonomi riil, tidak berarti Bank Indonesia lepas tangan. Jika pelemahan nilai
tukar karena masalah cadangan devisa, defisit perdagangan dan defisit
transaksi berjalan sudah jelas akan mengancam nilai tukar. Bank
Indonesia tidak bisa bekerja sendiri tetapi mutlak perlu berkoordinasi dengan
Pemerintah agar meningkatkan ekspor bernilai tambah, impor yang mana harus
dikurangi, memperkuat industri untuk outward looking dan bersama-sama menarik
investasi langsung (FDI). Tugas
Bank Indonesia tidak cukup hanya menetapkan dan melaksanakan kebijakan
moneter menaikkan dan menurunkan suku bunga, meskipun merupakan tugas
utamanya. Juga tidak cukup hanya mengatur dan menjaga kelancaran sistem
pembayaran saja, seperti RTGS, QRIS, dan penerbitan dan pengedaran uang
rupiah. Tetapi
ketika masalah nilai tukar kritis harus tampil dalam kepemimpinan moneternya
dan melakukan koordinasi dengan pemerintah. Jika nilai tukar terpuruk,
meskipun sebab-sebabnya berasal dari sektor non-meneter, tetapi kinerja nilai
tukar adalah tanaggung jawab Bank Indonesia. Bukti
terkini, intrumen BI dengan menaikkan suku bunga ternyata tidak mengubah
apa-apa. Bahkan dampak dari kebijakan moneter tersebut justru menguras
likuditas,mengorbanan sektor riil dan mengarahkan dana ke intrumen keuangan
karena insentif bunga tinggi. Di
sinilah interumen moneter dan non-moneter harus dilakukan bersama. Untuk itu
diperlukan transformasi peran dan kepemimpinan Gubernur BI ke depan. ● Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/nsbVEcRgSN/didik-j-rachbini-nilai-tukar-rupiah-bi-ke-depan
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar