Jumat, 17 Februari 2017

Pilih Satu demi Semua

Pilih Satu demi Semua
Radhar Panca Dahana  ;    Budayawan
                                           MEDIA INDONESIA, 15 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

BILA ada pendapat menyatakan there's no life with no problems, sebenarnya ia bermakna bukan hanya hidup identik dengan masalah. Namun, hikmah atau makna-sembunyi di balik itu ialah 'hidup itu memilih'.

Sesungguhnyalah ini hikmah atau makna terdalam dari (keber)ada(an)nya manusia, sebagai makhluk berpikir, berbudaya di kemudiannya, dan beradab pada akhirnya. 'Memilih' (bisa jadi) ialah sebuah kodrat (given), pemberian atau anugerah dari Dia yang Mencipta, yang membedakan manusia dari makhluk atau ciptaan lainnya. Malaikat hingga segala binatang, renik, atau tumbuhan hidup tercipta tanpa pilihan, tanpa kapabilitas un tuk memilih.

Ketika Iblis dengan takabur mengajukan 'pilihan' untuk tidak meninggikan Adam, Yang Kuasa langsung menghukum, memberinya azab sepanjang masa. Kitab-kitab suci samawi pun sebenarnya memberi tahu kita bila manusia ada, berkembang hingga miliar jumlahnya, menghuni, dan menguasai di kemudian hari juga karena kapasitas 'memilih'.

Kapasitas yang pada momen tertentu menjadi 'dosa'. Seperti saat Adam memilih nafsu dan ambisinya untuk memakan buah khuldi, lalu dicemplungkan ke bumi dan melahirkan bangsa-bangsa, termasuk kita. Namun, lihatlah juga mitologimito logi dunia, mulai Skandinavia, Yu nani, Arya/India, Semit, hingga Tiongkok. Bukankah pencapaian besar peradaban dunia, momenmo men teragungnya hingga tragis dan melodrama disebabkan sebuah 'pilihan'?

Promotheus, Hercules, Aries dari Yunani, Hamlet Denmark, Bagawad Gita, hingga Konfucius di Tiongkok atau Gajah Mada di Nusantara, tidakkah ditentukan apa yang mereka pilih sehingga mereka menjadi besar dan agung, atau kerdil di ketika lain?

Dapatkah Anda melihat dan memeriksa bagaimana momen-momen penting, seperti turning-point, dalam hidup Anda tersebab oleh pilihan yang Anda ambil, sengaja atau tak, tersadari atau tidak?

Hidup itu memilih. Karena Dia yang Mahaanugerah memberi kita akal, hanya pada species kita, sehingga dengan itu kita pun menurunkan sifat jaiz-Nya, sebagai risikonya.

Hanya manusia memiliki warisan ilahiah untuk 'boleh': berkata, bersikap, bertindak, dalam arti memilih apa yang harus kita tetapkan itu. Dengan segala konsekuensi di belakangnya: menjadi ulama atau mafia. Dipasung seperti Promotheus, disiksa derita perjalanan Konfucius, atau Adam yang dicemplungkan ke dunia. Di setiap momen hidup kita, mau tak mau kita harus memilih.

Pilihan terkondisi

Kini, di sini, di negeri ini, sebagian besar dari kita, di 101 wilayah Indonesia, dihadapkan kembali (juga) oleh satu momen yang imperatif, bahkan represif karena ada sanksi pidana maupun moralnya untuk memilih.

Satu di antara beberapa figur yang telah ramai, letih, juga sebagian dipaksakan ditawarkan pada kita untuk menjadi umara, jadi pemimpin yang akan membawa dan menentukan kemana kita pergi ke masa depan. Setidaknya di wilayah di mana berlangsung pilu kerah (pemilihan umum kepala daerah), pilkada dalam abreviasi umumnya.

Momen seperti ini memang berbeda dengan saat-saat kita harus memilih nasib hidup kita sendiri. Dalam jargon (demokrasi) yang melatari (segala) pemilihan umum (semacam) ini, pilihan itu tidak muncul sebagai need, apalagi basic need yang berkait langsung secara praktis dan pragmatis dengan hidup keseharian.

Pilihan dan kewajiban memilih ini ada pada kita karena terkondisi oleh keadaan yang teregulasi dan tersistemisasi. Ia menjadi tuntutan yang tidak personal, tapi masif, komunal atau nasional.

Karena itu, ia pun berkait dengan kepentingan, juga need masif. Kepentingan komunal juga nasional. Ia pun menjadi momen penanda kekuatan naluri atau insting komunal serta sosial. Naluri atau insting atau pula watak dasar primordial kita sebagai manusia (beradab) bahari.

Sebagai manusia yang tumbuh dan terkondisikan oleh realitas geografis kepulauan, kita tertradisikan dan teradabkan oleh budaya bandar, yang kosmopolit, terbuka, dan egaliter. Modal dasar budaya yang menciptakan nilai-tak-terelak interdependen, saling bergantung: kerja sama dan gotong royong. Dengan empati, bukan imperasi.

Jadi, kita dapat menempatkan kewajiban memilih (secara politis-demokratis) ini sebagai modus dengan nilai yang mengutuhkan, mengguyubkan, atau meneguhkan interdependensi atau gotong royong. Tidak sebaliknya, karena ia bukan hanya mengkhianati naluri dan watak dasar kita di atas, tapi juga justru meluluhlantakkannya. Bagaimana arwah kita akan mempertanggungjawabkan kehancuran diri itu pada anak cucu kita nanti?

Kontestasi prapemilu (pilkada) yang begitu ramai, bising, penuh agitasi, termasuk hoax, tentu saja sekadar rempah-rempah di jamuan wajib pemilihan dalam finalnya. Yang terjebak dalam bumbu, atau selebrasi bahkan artifisialisi kampanye, tentu akan mengerdilkan dirinya sendiri.

Apalagi yang membawa kekerdilan itu dalam momen memilih ini hari, ia tidak hanya mementahkan kebersamaan, tapi juga melawan kebersamaan (nasional). Silakan memilih dengan kesadaran luhur bahwa ini untuk kemaslahatan dan masa depan bersama. Pemimpin dengan kejujuran hati, ketegasan sikap dan tindakan serta kecerdasan gagasan seperti itulah jadi pilihan terbaik kita, juga Anda.