Senin, 13 Februari 2017

Pesan Profetik

Pesan Profetik
Jannus TH Siahaan  ;  Pengamat Sosial Kemasyarakatan;
Tinggal di Pinggiran Bogor, Jawa Barat
                                                     KOMPAS, 13 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ada pesan menarik dari Soeharto sebelum ia benar-benar melepas baju kebesarannya sebagai presiden negeri ini. Tentu, baginya bukan perkara mudah berpisah dari baju kekuasaan yang telah ia kenakan hampir 32 tahun.

Menjelang lengser keprabon, dengan sisa-sisa suaranya yang sudah tak bertenaga, ia menyatakan akan segera turun dan siap ”mandito”, menjadi pendeta. Ya, menjadi pendeta dalam maknanya yang luas. Menjadi pendeta bermakna menjalani kehidupan penuh kesucian diri.

Dua kosakata dalam dua ungkapan; lengser keprabon dan madeg pandito adalah kata-kata yang populer dari Soeharto saat diucapkannya di hadapan kaderkader Golkar. Arti lengser keprabon adalah mengundurkan diri secara sukarela dari kedudukan presiden. Adapun madeg pandito dimaksudkan sebagai orang tua yang bijaksana, yang akan tinggal di sebuah ”pertapaan” dan selalu bersedia memberi nasihat kepada siapa pun yang membutuhkan. Pak Harto ingin jadi pandito; tempat memohon nasihat.

Menjadi manusia suci

Seandainya setiap pemimpin mengawali tugas-tugas kepemimpinan dan pelayanan kepada rakyat dengan konsep mandito, tentu roda kehidupan akan terus berputar tak jauh dari centrumnya: Tuhan. Sungguh! Seandainya Soeharto me-mandito-kan diri sejak hari pertama menjadi presiden, akhir kepemimpinannya akan jadi catatan suci bagi bangsanya. Sejatinya, setiap orang yang memanggul amanah kepemimpinan dan pelayanan adalah pemangku pesan profetik dari Tuhan.

Setiap pemimpin yang telah diambil sumpah jabatannya, ia sudah mengenakan busana ketuhanan, mewarisi tugas-tugas kenabian dan menjadi manusia suci yang siap menjadi tangan-tangan Tuhan yang maha pemurah. Pantang baginya melakukan sesuatu mengatasnamakan golongan, apalagi ambisi pribadi dan keluarganya. Seperti para nabi yang saleh, maka seorang pemimpin, dan terutama pemimpin bangsa, adalah manusia paling saleh dan paling suci dari kalangannya.

Tentu tidak layak orang yang penuh kotoran berambisi mengenakan jubah kenabian. Busana kenabian, jika jatuh dan digunakan oleh orang-orang tak bertanggung jawab, akan melahirkan kenestapaan bagi orang lain. Untuk mengurai benang kusut kehidupan, setiap bangsa membutuhkan turun tangannya orang-orang suci. Orang-orang suci bukan semata mereka yang disematkan ”jabatan” pendeta pada dirinya. Sifat kependetaan bisa melekat kepada siapa saja.

Thomas Merton dalam Mysticism in the Nuclear Age memberikan peringatan yang pas untuk kita renungkan saat ini: saat di mana orang-orang yang seharusnya sudah mandito, tetapi masih ikut terlibat, dan bahkan menambah kusut persoalan bangsa. ”Anda tidak bisa menyelamatkan dunia hanya dengan sebuah sistem. Anda tak dapat meraih kedamaian tanpa kedermawanan. Anda tidak bisa mendapatkan keteraturan sosial tanpa hadirnya orang-orang suci, kaum moralis dan para nabi.”

Kedermawanan adalah sifat para nabi, manusia suci dan mereka yang istikamah yang berputar-putar hanya di sekitar rumah Tuhan. Memberi kesempatan kepada setiap orang agar dapat memimpin dengan benar dan baik adalah sifat kedermawanan. Sifat ini dapat juga dilihat dari kebesaran hati seseorang untuk tidak mengganggu ketika semua orang tengah berjuang menyelamatkan biduk di tengah gelombang kehidupan yang ganas. Tidak dermawan seseorang jika lebih senang mendahulukan diri, keluarga, dan kelompoknya daripada kepentingan khalayak.

Kedermawanan hanya dapat tumbuh dengan baik dalam diri manusia yang baik pula. Manusia yang berkembang secara jasmaniah dan rohaniah. Bukan hanya subur tubuhnya, melainkan kering rohnya. Bukan yang menjulang secara teori, tetapi menukik moralnya. Ia adalah tipikal manusia yang menjalani kehidupan material dan spritual sekaligus. Kalau tidak, maka kecemasan Jean Jacques Rousseau akan jadi kenyataan: ”Semakin banyak orang pandai, semakin sulit dicari orang jujur.”

Bagi filosof kenamaan Perancis ini, manusia masa kini lebih senang mengembangkan akal kognitifnya ketimbang mempertajam sentuhan akal rohaninya. Akibatnya, setiap kesengsaraan rakyat hanya diukur dengan angka dalam statistik. Jumlah rakyat yang miskin cuma berarti angka dan uang. Semakin besar jumlah angka kemiskinan semakin berlipat keuntungan yang siap mereka peroleh. Semakin lebar jurang disparitas si kaya yang si miskin, semakin panjang harapan menumpuk harta dan mempertahankan kekuasaan.

Sifat dan sikap semacam ini menghinggapi nyaris semua pemimpin dari semua kalangan dan profesi. Sebuah kejahatan yang sistemik dan dilakukan secara berjemaah. Seperti dogma. Dari legislatif, eksekutif, hingga yudikatif. Dari pimpinan organisasi politik hingga organisasi keagamaan. Dari pimpinan organisasi kemasyarakatan pemuda hingga mereka yang memimpin komunitas veteran. Veteran perang, veteran agamawan, hatta para mantan lulusan sekolah tertentu yang sudah jadi veteran. Mereka bergerak sesuai dogma. Masif! Seragam. Masing-masingmemaksakan kehendaknya kepada yang lain yang juga bangsanya sendiri.

Mereka pelayan rakyat

Sejatinya setiap orang lahir membawa pesan kenabian. Pesan kemaslahatan untuk diri, keluarga dan lingkungannya. Pesan untuk saling menyelamatkan dan saling membahagiakan. Sebab, tak ada kebahagiaan seseorang tanpa campur tangan orang lain. Pesan agar bisa saling menghormati bukan saling menistakan. Pesan untuk siap menerima perbedaan di antara kesamaan. Bukan pesan yang hanya membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain.

Manusia adalah makhluk dua dimensi. Radio dua band yang dianugerahi kemampuan menangkap pesan gelombang pendek dan gelombang panjang. Karena terdiri dari fisik dan nonfisik, manusia bisa menyimpan firman Tuhan dalam dirinya. Ia bisa merasakan deras air mata si miskin di tengah gemerlap kehidupan yang menipu. Ia harusnya mampu menangkap pesan kenabian dan isyarat dari Tuhan yang mahaperkasa di tengah keteraturan alam semesta.

Hari Rabu, tanggal 15 Februari 2017, pemilihan kepada daerah diselenggarakan serentak. Ini akan jadi momentum menunggu calon-calon manusia suci dari seluruh Tanah Air. Kepada mereka, akan dititipkan masa depan kehidupan kita, paling kurang untuk lima tahun ke depan. Mereka adalah para pelayan yang tengah dipersiapkan mengenakan busana kenabian.

Camkan dan ingatlah! Kalian akan mengemban pesan profetik. Jangan berandai-andai akan mandito ketika sesal sudah tak berguna. Mari tetap berharap kita tidak jauh dari Tuhan.