Sabtu, 04 Februari 2017

Australia Day, Pelajaran untuk Kita

Australia Day, Pelajaran untuk Kita
Iqbal Aji Daryono  ;  Praktisi Media Sosial; Penulis; Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi
                                                  DETIKNEWS, 31 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kamis kemarin, saya sekeluarga bersama teman-teman di sini ramai-ramai datang ke tepian Sungai Swan. Hari itu tanggal 26 Januari, resminya merupakan hari terpenting bagi Australia. Tiap tanggal tersebut, segenap kota di sekujur benua ini menggelar perayaan sangat megah, dengan ribuan orang berkostum meriah, dan kembang api raksasa yang jauh lebih warna-warni ketimbang kembang api Tahun Baru.

Australia Day, begitu mereka menyebutnya. Meski saya bukan orang Australia, sebagai turis paruh waktu dan bapak yang ingin momong anak, setiap tahun saya selalu datang menonton. Acara di Perth kemarin batal karena terjadi kecelakaan yang memakan korban jiwa, namun tiap kali Australia Day saya selalu membayangkan adegan semacam ini:

Suatu kali di masa lalu, pintu rumah kakek buyut kita didobrak segerombolan orang. Para pendobrak masuk, tidur di ranjang nenek kita, mengusir yang punya rumah. Ketika kakek-nenek kita menolak pergi, mereka dibunuh oleh para 'tamu'.

Jauh hari setelah masa-masa gelap itu, kita tinggal bersama anak-cucu para perampas rumah, di rumah yang semestinya menjadi hak waris kita. Lalu setiap tahun, dengan sangat megah dan meriah, mereka memperingati hari ketika kakek mereka mendobrak pintu rumah kakek kita. Dan semua peringatan itu digelar di depan hidung kita!

Seperti itulah kira-kira Australia Day di mata penduduk lokal Aborigin. Perih banget, kan? Memang.

Sebagai sebuah negeri yang tak punya hari kemerdekaan, Australia memang membentuk kesadaran kolektif atas nation yang mereka buat dengan memancangkan hari penting yang lain. Maka, dipilihlah 26 Januari, sebagai peringatan atas 26 Januari 1788, ketika armada laut pertama Kerajaan Inggris Raya mendarat di Teluk Sidney lantas mengibarkan The Union Jack di sana.

Bagi orang Eropa dan keturunannya, hari tersebut adalah awal mula dibangunnya sebuah peradaban baru. Sementara, bagi masyarakat lokal, hari itu merupakan grand opening dari rangkaian panjang pesta pora perampasan tanah, perebutan paksa anak-anak dari orangtua mereka, pemerkosaan-pemerkosaan, dan tentu saja pembantaian demi pembantaian atas mereka.

Itulah kenapa, ada dua penyebutan untuk perayaan bernilai jutaan dolar ini. Australia Day untuk mereka di sisi kanan, dan Invasion Day bagi mereka di sisi kiri.

Sisa dari kelamnya masa lalu Australia masih terus mewarnai hari ini. Tiap kali berlangsung perayaan Australia Day, selalu digelar pula demo-demo penolakan. Itu terjadi karena Australia Day masih saja memakai 26 Januari sebagai waktu pelaksanaannya.

Perdebatan terus berlangsung tentang hari kontroversial tersebut. Hingga kemudian muatan maknanya coba dinetralisir. "Sekarang, Australia Day bukan lagi memperingati momentum pendaratan armada Inggris. Ini adalah perayaan atas Australia yang multikutur. Australia adalah milik semua." Begitulah pernyataan resmi pemerintah.

Australia memang sudah menjadi negeri warna-warni. Dominasi kulit putih, itu pasti. Namun para imigran dari berbagai belahan dunia adalah bagian tak kalah penting di tanah ini. Di zaman sekarang, muatan nilai kebhinnekaan pada Australia Day menemukan relevansinya. Jadi sekilas memang masuk akal mengubah makna Australia Day dengan hari multikulturalisme.

Namun persoalan belum selesai. Bagaimana bisa sebuah hari diganti maknanya, sementara tanggalnya tetap persis seperti sedia kala? Lalu apa makna historis 26 Januari bagi kebhinnekaan? Apa mereka bisa menjawabnya? Kenapa nggak diganti tanggal lain saja?

Ingat, kita ini kan selalu sensitif dengan momen-momen bersejarah. Jangan lupa bagaimana berisiknya penetapan Hari Santri Nasional di Indonesia, misalnya. Ingat juga perdebatan tentang hari-hari penting lain, semisal Hari Kebangkitan Nasional. Pendeknya, mengubah makna 26 Januari dari hari pendaratan kapal penjajah menjadi hari multikulturalisme, itu rasanya tak lebih dari aksi penguasa untuk menjalankan strategi kebudayaan yang nanggung dan canggung.

Problem psikologis dari tanggal 26 Januari itu kemarin disikapi oleh pemerintah City of Fremantle, sebuah area administratif setara kecamatan di dekat tempat kami tinggal. Mereka menggeser perayaan ke tanggal 28, dan menempatkan masyarakat Aborigin sebagai elemen dominan perayaan tersebut. Ini langkah maju yang penting, apalagi dukungan publik atas sikap tersebut sangat kuat. Saya menduga, di tahun-tahun berikutnya akan ada daerah-daerah lain yang mengikuti Fremantle.

Secara umum, masyarakat Australia memang tidak denial. Mereka mengakui buruknya masa lalu Australia. Pembentukan kesadaran atas itu pun sudah diajarkan di sekolah-sekolah, perpustakaan, dan sarana pendidikan publik lainnya.

Saya ambil contoh, di museum-museum, ekspresi yang menggambarkan sikap publik seperti ini sudah gampang kita temukan. Di Western Australia Museum dan Maritime Museum, misalnya, dipajang surat-surat tulisan tangan dari anak-anak sekolah, yang menunjukkan rasa sedih dan penyesalan mereka atas gelapnya masa lalu Australia, berikut segala perbuatan tercela nenek moyang mereka.

Di Geraldton Museum, saya melihat satu narasi yang menceritakan bagaimana orang-orang lokal Aborigin menjadi pemandu bagi pendatang Eropa untuk mengeksplorasi, memetakan wilayah, dan membuat rute jalanan baru. Cerita itu diakhiri dengan penekanan: "Ironisnya, bantuan orang Aborigin tersebut justru membuka jalan bagi perampasan atas tanah mereka sendiri oleh orang-orang Inggris."

Seiring pengakuan dan permintaan maaf tersebut, warga Aborigin juga mendapatkan beberapa hak khusus semisal jaring kesejahteraan.

Pengakuan, permintaan maaf, dan jaminan sosial. Selesai? Belum. Di tengah-tengah masyarakat, masih tetap bermunculan bigot-bigot ekstrem yang rasis, anti-imigran, pemuja supremasi kulit putih, dan merasa bahwa hanya orang Eropa yang paling berjasa bagi kemajuan Australia. Lebih parah lagi ketika Tony Abbot, perdana menteri yang lalu, berkata sembrono dan menyatakan bahwa sebelum kedatangan orang kulit putih, di Australia hanya ada semak-semak.

Itu baru tentang pengakuan. Di sisi lain, jaring kesejahteraan memunculkan masalah sosial baru. Angka bolos sekolah tertinggi dipegang anak-anak Aborigin. Di Murdoch University, kata istri saya yang belajar di sana, pun nyaris tak ia jumpai ada mahasiswa Aborigin yang kuliah. Bahkan di dunia kerja rendahan semacam aktivitas saya, situasinya tak beda. Dari pekerjaan saya sebagai sopir merangkap pengantar barang, saya bisa punya banyak teman dari berbagai negara. Mulai Amerika Latin, negara-negara miskin di Eropa Timur, hingga Afrika. Anehnya, tak satu pun saya berjumpa dengan orang Aborigin. Jika saya ketemu mereka, lebih sering orang-orang tersebut menggelandang di jalanan, mabuk, atau mengemis.

Mungkin ada efek ketergantungan di sini. Karena jaminan sosial, need of achievement di kalangan masyarakat Aborigin jadi rendah. Kenapa harus belajar dan bekerja keras, lha wong tanpa itu pun sudah bisa hidup. Barangkali begitu mereka berpikir.

Begitulah. Setidaknya, ada dua pelajaran yang bisa kita ambil dari Australia dan perayaan tanggal istimewanya.

Pertama, kita tidak perlu gumunan, kalau orang Jawa bilang. Tak perlu gampang terpukau. Kadang kita terkagum-kagum melihat kemajuan negara-negara kaya, termasuk Australia. Salah satu kotanya, yakni Melbourne, dinobatkan sebagai kota di dunia yang paling layak ditinggali (most liveable city). Human development index-nya tertinggi nomor dua sedunia. Pengangguran mendapat santunan dari negara. Negara memberikan perhatian sangat tinggi bagi kesejahteraan dan keselamatan anak-anak, manula, dan kaum difabel. Dan sebagainya dan sebagainya.

Namun ternyata, di balik semua gemerlap itu, negeri ini berdiri di atas genangan darah dan tumpukan mayat ratusan ribu manusia.

Kedua, untuk bisa melangkah maju, kita harus mengakui masa lalu. Australia punya masa lalu yang gelap, Indonesia pun punya. Tragedi 1965-1966, peristiwa suram di Aceh, Timor Timur, Papua, dan entah mana lagi, adalah setumpuk PR yang semestinya membuat kita terus berkaca.

Proses menuju pengakuan atas masa lalu yang buruk sudah pasti akan panjang dan tidak gampang. Kondisi di Australia lebih mudah daripada kita. Masa kelam mereka telah lama lewat, dua abad silam, dan para pelaku sejarahnya sudah almarhum semua. Adapun kondisi kita jauh lebih sulit. Masa gelap kita belum seabad berlalu. Banyak pelaku yang masih hidup, masih mengingat situasi emosional di masa-masa itu, sehingga subjektivitas pun masih mendapat posisi kuat. Belum lagi versi sejarah yang tidak tunggal, penuh kontroversi dan pertentangan.

Namun semua upaya untuk berdamai dengan masa lalu tetap harus dijalankan. Orang-orang biasa macam kita pun bisa mendukungnya. Minimal dengan tidak latah mengikuti sikap-sikap paranoid, yang memupuk ketakutan tak beralasan atas kebangkitan hantu-hantu masa silam, yang sesungguhnya tak lagi relevan untuk dikhawatirkan. ●