Kamis, 08 Desember 2016

Perang Siber dan Aksi Massa

Perang Siber dan Aksi Massa
Iswandi Syahputra  ;   Dosen Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
                                              KORAN SINDO, 06 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

AKSI Bela Islam III pada 2 Desember 2106 dapat disebut aksi paling besar dan paling damai dalam sejarah Indonesia, bahkan dunia. Tidak mudah dan tidak murah menggelar aksi yang dihadiri jutaan manusia dengan damai, tertib, aman, dan bersih.

Setidaknya terdapat tiga kesulitan besar untuk menghadirkan aksi massa tersebut. Pertama, mengemas isu yang dapat menarik perhatian dan mendorong khalayak luas untuk hadir dalam aksi massa. Kedua, biaya yang dibutuhkan untuk menggelar aksi tersebut. Ketiga, secara teknis terkait pengawasan keamanan, ketertiban, dan kebersihan saat aksi digelar.

Nyatanya, aksi tersebut terselenggara dengan aman, tertib, bersih, dan superdamai. Khalayak dari segala penjuru Indonesia berduyun-duyun mendatangi Monumen Nasional (Monas) di Jakarta sebagai pusat lokasi aksi massa.

Kendati dengan berbagai cara dihalangi untuk hadir dalam aksi, mereka tidak peduli hingga memilih berjalan kaki. Mereka datang dengan biaya sendiri atau donasi dari pihak yang baik budi.

Mereka mengorganisasi sendiri keamanan, ketertiban, dan kebersihan saat menggelar aksi. Hal ini menarik untuk diteliti. Apa penyebab aksi massa umat Islam tersebut berlangsung superaman, supertertib, superbersih, dan superdamai? Tulisan ini merupakan sneak peak dari riset yang sedang dilakukan.

Gelombang Perang Siber

Saat ini ruang dan waktu semakin menyempit berkat kemajuan teknologi dan komunikasi berbasis internet. Namun, ruang dan waktu tersebut bukan saja menyempit, tapi juga padat dengan berbagai informasi yang datang silih berganti secara bertubi-tubi.

Kepadatan informasi dalam ruang dan waktu yang sempit tersebut menjelma menjadi dunia baru, dunia hiper-realitas. Dalam dunia hiper-realitas tersebut sesuatu yang tidak penting bisa dibuat menjadi sangat penting, kebutuhan bisa diciptakan, waktu luang bisa disempitkan, kepalsuan bisa dibuat seolah asli, yang jauh terasa dekat, yang dekat terasa rapat, dan kebohongan yang disampaikan terus-menerus bisa menjadi kebenaran. Semua diciptakan melalui berbagai teknik manipulasi realitas, kita mengenalnya dengan sebutan hoax.

Hoax menjadi produk industri kreatif dalam budaya politik kontemporer yang bertemu dengan kemajuan teknologi komunikasi yang pesat. Hoax menjadi mudah menyebar, diterima sebagai kebenaran, menjadi hiburan saat diketahui sebagai kesalahan pada kultur masyarakat yang tidak memiliki tradisi pengelolaan informasi yang sehat.

Informasi menjadi kotor karena digunakan sebagai alat untuk meraih kekuasaan. Ini pangkal mula hal yang dapat memicu terbukanya perang siber, hingga mampu mengantarkan khalayak hadir berduyun-duyun dalam Aksi Bela Islam.

Jejak perang tersebut dapat ditelusuri pada 2012, menyusul kemudian pada 2014. Pada 2012 secara singkat dapat digambarkan sebagai situasi masa awal perang siber dimulai. Saat itu perang siber digunakan sebagai strategi memenangkan pertarungan politik.

Melalui organisasi yang rapi dan profesional, kekuatan siber tersebut mampu mengendalikan opini publik lewat media sosial, terutama Twitter dan Facebook. Pengendalian opini di media sosial tersebut diyakini mampu memengaruhi pilihan politik khalayak.

Dengan intensitas berbeda, hal serupa kurang lebih sama terjadi pada 2014. Gelombang perang siber pada 2012 dapat digambarkan berlangsung dengan sangat tidak seimbang. Satu kelompok menyiapkannya dengan sangat matang, sementara kelompok lain belum siap, bahkan dapat disebut baru mengenal media sosial.

Namun, pada gelombang perang siber 2014 mulai sedikit ada perlawanan. Namun, tetap saja perang siber tersebut tidak berimbang karena faktor pengalaman, pengorganisasian, pelibatan, dan pengerahan pasukan robot melalui akun anonim dalam jumlah besar.

Veteran yang kalah perang siber pada era 2012 dan 2014 tersebut saat ini pada 2016 bangkit mengorganisasi diri dengan lebih baik. Muncul kesadaran baru pentingnya pengendalian informasi dan opini melalui media sosial.

Dengan begitu, perang siber pada 2016 memang terlihat jauh lebih seru karena berjalan cukup seimbang. Masing-masing pihak saling melempar wacana yang diviralkan seolah menjadi agenda publik. Masing-masing pihak mencari kesalahan dan kekeliruan untuk disebarkan sebagai modus tekanan.

Sebaliknya, masing-masing pihak juga berusaha mencari kekuatan baru saat mendapat tekanan. Dengan demikian, tidak heran soal sepetak taman yang rusak saat aksi menjadi viral, jaket bomber yang dipakai Presiden menjadi viral, atau kotoran sampah seusai aksi massa juga menjadi bahan untuk mengendalikan opini.

Gelombang Aksi

Fisikawan Albert Einstein pernah meramalkan bahwa perang masa depan akhirnya akan kembali menggunakan cara konvensional. Dalam makna dan konteks yang berbeda, demikian pula yang terjadi saat ini.

Berbagai perang opini melalui media sosial yang semula bersifat virtual pada 2012 dan 2014 pada akhirnya mendorong terjadi perang aksi massa yang bersifat real. Satu kelompok menggelar aksi damai, tidak lama kemudian kelompok lain menggelar aksi serupa. Berbagai aksi real tersebut kemudian menjadi materi untuk bahan perang virtual di media sosial.

Dua dunia, antara real dan virtual tersebut, seperti pasangan yang saling merangsang. Keduanya saling menstimulasi gairah untuk lebih aktif dalam mengorganisasi isu, opini, dan aksi massa.

Dalam konteks pelibatan massa aksi ini, satu kelompok tampak sangat jauh lebih unggul, lebih damai, lebih aman, lebih bersih, dan lebih besar jumlahnya. Hal ini terjadi karena kelompok ini memiliki keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki oleh kelompok lainnya.

Keunggulan tersebut adalah nilai yang menjadi keyakinan kuat dan tertanam dalam dasar hati dengan cukup kokoh. Nilai tersebut pula yang mendorong sekelompok santri asal Ciamis bersedia sukarela jalan kaki menuju Jakarta, memicu orang tua dan anak-anak bergabung, dan pedagang kecil memberi gratis makanan dan dagangannya pada peserta aksi lainnya.

Aksi damai yang semakin meluas tersebut menuai banyak simpati dan memiliki kemampuan menyerap empati publik. Hal ini menunjukkan– setidaknya dapat dibaca sebagai–kemenangan dunia real atas dominasi dunia virtual.

Berbagai keramaian dan kebisingan di dunia media sosial belum tentu merepresentasikan jumlah orang yang terlibat. Sebab, dalam media sosial satu orang dapat mengendalikan puluhan, ratusan, bahkan ribuan akun palsu.

Dengan demikian, aksi damai dalam jumlah besar yang berlangsung aman, tertib, dan bersih tersebut seakan menawarkan rute jalan untuk kembali ke akal sehat, kembali ke dunia nyata, dunia real. Ini merupakan kritik bagi berbagai dominasi virtual di ruang media sosial pada era perang siber 2012 dan 2014 yang seolah ramai, padahal cuma buatan.

Hal ini juga dapat menjadi pintu masuk bagi terbangunnya kesadaran baru bahwa dunia virtual adalah dunia yang penuh dengan kepalsuan dan tipu daya. Dibutuhkan literasi untuk memahami perang opini pada era media sosial saat ini.