Kamis, 15 Desember 2016

Energi Demo 212 untuk Korban Gempa

Energi Demo 212 untuk Korban Gempa
Amidhan Shaberah  ;   Ketua MUI (1995-2015); 
Anggota Komnas HAM (2002-2007)
                                              KORAN SINDO, 09 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SEPEKAN setelah Demo Superdamai yang diikuti jutaan umat Islam di Jakarta, bangsa Indonesia kembali mendapat cobaan: gempa bumi dahsyat melanda bumi Serambi Mekkah, Rabu 7 Desember 2016. Akibat gempa bumi berkekuatan 6,5 Skala Richter (SR) itu, ratusan orang tewas, ratusan bangunan (rumah, musala, sekolah, rumah sakit, dan lain-lain) roboh.

Ribuan orang kini kehilangan rumah dan harus mengungsi di tenda-tenda darurat. Mereka adalah saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air dan hampir bisa dipastikan, 100% adalah muslim.

Melihat dahsyatnya gempa tersebut, bangsa Indonesia berduka. Berduka karena saudara-saudaranya tertimpa musibah yang datang tiba-tiba. Bagi bangsa Indonesia, gempa Aceh ini memunculkan kembali kenangan gempa superdahsyat 26 Desember 2004, yang menewaskan sekitar 200.000 jiwa dan meluluhlantakkan Serambi Mekkah.

Saat itu, akibat gempa berskala 9 SR tersebut, Bumi Rencong itu nyaris hancur. Ribuan bangunan hancur diterjang tsunami dahsyat dan ratusan ribu mayat bergelimpangan di mana-mana. Gempa superdahsyat saat itu dikenang sebagai gempa terbesar dalam seratus tahun terakhir di dunia.

Tapi, ada ajaran penting bagi umat Islam yang harus diyakini kebenarannya bahwa setiap musibah adalah ujian dari Allah untuk manusia. Apakah ujian tersebut akan meningkatkan keimanan atau sebaliknya, melemahkan keimanan, bergantung pada manusianya. Sebagai umat yang beriman, bangsa Indonesia selalu menyadari bahwa setiap musibah adalah ujian dan selalu membawa hikmah untuk perubahan yang lebih baik.

Gempa 26 Desember 2004 misalnya membawa hikmah yang luar biasa, yaitu datangnya perdamaian rakyat Aceh. Pihak-pihak yang selama puluhan tahun berselisih di Aceh (yang telah memakan korban ribuan orang) akhirnya sepakat menandatangani pakta perdamaian. Pascamusibah tersebut, kehidupan rakyat Aceh pun tenteram dan damai kembali.

Tak ada lagi letusan senjata. Tak ada lagi darah manusia yang tercecer di Tanah Rencong. Pembangunan makin gempita. Dan, kemakmuran rakyat Aceh kemudian datang bersama munculnya sinar perdamaian itu.

Melihat ending gempa 26 Desember 2004 tersebut, kita pun berharap gempa Rabu 7 Desember 2016 akan berdampak bagi kebaikan dan peningkatan keimanan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat Aceh. Apalagi, bila mengingat gempa beberapa hari lalu hanya berselang lima hari dari peristiwa demo 2 Desember (212) di Jakarta yang mendamaikan itu.

Sungguh suatu keajaiban, demo 2/12 yang diikuti jutaan umat Islam dari seluruh Tanah Air berlangsung aman, damai, dan tertib. Ini sebuah peristiwa langka di dunia, di mana demo yang begitu masif, berakhir dengan damai, bersih, dan saling menyapa dengan penuh senyum.

Para demonstran banyak yang bersalaman dan berpelukan dengan aparat keamanan yang bertugas mengawasi demo. Usai demo, mereka para demonstran, polisi, dan tentara ber-selfie ria. Kapolri Jenderal Tito Karnavian terkagum-kagum dengan ketertiban para demonstran dalam peristiwa 2/12 itu.

"Tidak ada sebatang pohon pun yang tumbang karena terinjak demonstran," kata Tito. Ini luar biasa! Sampai-sampai Presiden Jokowi ikut salat Jumat bersama para demonstran di Monas.

Padahal, isu di "luar yang berkembang", demo 2/12 bertujuan untuk menjatuhkan Presiden Jokowi. Presiden, tanpa sepengetahuan para penasihatnya, berani melaksanakan salat Jumat bareng sama demonstran 2/12 karena beliau yakin mereka yang berdemo bertujuan baik: mendoakan bangsa Indonesia terlepas ari azab dan murka Allah akibat dosa-dosanya selama ini.

Setiap manusia pasti punya dosa. Insan, kata peribahasa Arab, mahallul khoto wannisyaan (tempatnya alpa dan lupa). Karena itu, manusia selalu memanjatkan doa minta ampun kepada Allah atas dosa dan kesalahan-kesalahannya baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak.

Perihal meminta ampunan atas dosa-dosa itu, Nabi Muhammad SAW yang hidupnya tanpa dosa pun selalu memohon ampunan atas dosa-dosanya kepada Allah tiap habis salat. Bahkan minta ampun dengan intensitas yang lebih banyak daripada umatnya.

Itulah indahnya Islam. Umat Islam seharusnya memohon ampun kepada Allah lebih banyak dari umat mana pun seperti dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Dalam kerangka itu pula, pada demo 2/12 umat Islam berzikir mengagungkan nama Allah dan minta ampun kepada Sang Maha Kuasa agar dosa-dosa bangsa Indonesia dihilangkan dan selanjutnya dibimbing untuk menjadi umat yang baik, ramah, dan rahmah.

Dari perspektif inilah, rupanya Presiden Jokowi meyakini betul bahwa demo 2/12 tidak untuk menggulingkan dirinya dari Istana, tapi untuk mendoakan bangsa agar tidak tertimpa marabahaya dan laknat dari Allah akibat perbuatan dosa-dosanya. Itulah sebabnya kasus penafsiran Al-Maidah 51 oleh Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) oleh umat Islam ditanggapi dengan cara demo masif dengan zikir dan minta ampunan kepada Allah tadi.

Itulah ajaran Islam: setiap peristiwa yang terjadi harus diserahkan kepada Allah dan mohon petunjuk-Nya agar masalah tersebut selesai sesuai dengan kehendak Allah, tanpa mengurangi usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk menyelesaikan permasalahannya. Umat Islam percaya, manusia memang harus berusaha menyelesaikan setiap persoalan yang menimpanya meski akhirnya skenario Allah yang akan berlaku dalam menyelesaikan peristiwa tersebut.

Kembali pada masalah gempa 8/12 Aceh. Jika gambaran gempa 8/12 di atas dikaitkan dengan energi demo 2/12, kita melihat harapan cerah: umat Islam akan bahu-membahu membantu masyarakat Aceh mengatasi kegetiran dan kehilangan pascagempa.

Energi jutaan umat di Monas dalam demo 2/12 ini, jika ditransformasikan dalam pengerahan bantuan sosial secara massal untuk mengatasi problem kemanusiaan pascagempa 7/12, niscaya hasilnya akan luar biasa. Korban terselamatkan dari derita berkepanjangan pascagempa.

Ulama dalam demo 2/12 telah berhasil menunjukkan betapa umat Islam itu cinta damai dan kemanusiaan bahkan cinta alam (demo yang ecofriendly, pinjam kata-kata aktivis lingkungan hidup). Demo semacam itu niscaya mudah dilakukan lagi untuk membantu rakyat Aceh yang menderita akibat gempa.

Tentu metodenya berbeda dengan demo 2/12. Selain salat jamaah bersama, utamanya Jumat, lalu zikir dan doa, tak lupa menggalang bantuan material dan finansial untuk membangun kembali puing-puing yang terserak akibat gempa. Yakinlah, umat Islam yang berhasil melakukan demo aman dan damai di Jakarta tempo hari akan berhasil melakukan hal yang sama untuk solidaritas rakyat Aceh. Amin.