|
Editorial Intelligence - Ketika Ruang Redaksi Tidak Lagi Berpikir
Sendiri Edhy Aruman : Wartawan
Senior, Kolumnis Jam 6 Teng. |
ORBIT INDONESIA, 21 Juli 2026
|
Beberapa
kali dalam dua tahun terakhir saya mendapat kesempatan menjadi peer reviewer
untuk dua artikel yang akan diterbitkan di jurnal internasional bereputasi.
Artikel pertama sudah terbit, sedangkan artikel kedua masih menunggu giliran
untuk dipublikasikan. Keduanya
ditulis oleh peneliti yang berbeda, tetapi membahas tema yang hampir sama:
bagaimana kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai masuk ke ruang
redaksi dan mengubah praktik jurnalistik di Indonesia. Pada
waktu yang hampir bersamaan, seorang mahasiswa postgraduate LSPR yang saya
bimbing sedang meneliti sesuatu yang tidak kalah menarik. Ia tidak bertanya
apakah AI bisa menulis berita. Ia justru mengamati bagaimana wartawan senior
memutuskan apakah sebuah naskah yang disusun dengan bantuan AI layak untuk
diterbitkan. Semakin
saya membaca artikel-artikel ilmiah itu dan semakin sering berdiskusi dengan
mahasiswa tersebut, semakin saya merasa bahwa kita sedang memperdebatkan hal
yang keliru. Selama
ini kita sibuk bertanya, "Apakah AI akan menggantikan wartawan?" Padahal,
mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah: "Siapa
yang sebenarnya sedang memengaruhi cara editor mengambil keputusan?" Pertanyaan
itu terdengar sederhana. Namun, jawabannya dapat menentukan masa depan
jurnalisme. Dulu,
rapat redaksi hampir selalu dimulai dengan cerita para reporter. Mereka
membawa hasil liputan, editor mengajukan pertanyaan, lalu bersama-sama
menentukan berita mana yang paling penting bagi publik. Hari
ini suasananya mulai berubah. Sebelum
rapat dimulai, layar komputer sudah berbicara lebih dulu. Ada daftar topik
yang sedang tren. Ada grafik perilaku pembaca. Ada rekomendasi judul. Ada
prediksi jumlah klik. Bahkan ada perkiraan kapan berita sebaiknya
dipublikasikan agar menjangkau lebih banyak orang. Semua
itu dihasilkan oleh AI. Editor
datang ke rapat bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan berbagai
rekomendasi yang disusun oleh algoritma. Perubahan
seperti itu bukan lagi cerita masa depan. The
Washington Post menggunakan AI untuk membantu pembaca memperoleh jawaban dari
arsip berita yang telah diverifikasi redaksi. Reuters memanfaatkan AI untuk
mentranskrip wawancara, menerjemahkan dokumen, dan mengolah informasi dalam
jumlah besar. Associated Press telah lama mengotomatisasi laporan keuangan
dan olahraga agar wartawannya memiliki lebih banyak waktu untuk mengerjakan
liputan yang membutuhkan investigasi dan analisis. Bloomberg dan BBC juga
mulai mengintegrasikan AI ke dalam berbagai proses editorial. Kalau
diperhatikan, tidak satu pun dari media itu menyerahkan ruang redaksinya
kepada AI. Mereka
menyerahkan pekerjaan. Bukan
keputusan. Di
sinilah saya melihat paradoks yang jarang dibahas. Semakin
pintar AI membaca data, semakin besar godaan bagi manusia untuk berhenti
membaca realitas. Ketika
algoritma mengatakan sebuah berita akan menjadi viral, apakah editor masih
berani memilih berita lain yang mungkin hanya dibaca oleh sedikit orang,
tetapi jauh lebih penting bagi masyarakat? AI
tidak akan pernah menjawab pertanyaan itu. Karena
AI tidak mengenal kepentingan publik. AI
hanya mengenal pola. Teori
gatekeeping yang diperkenalkan David Manning White lebih dari tujuh puluh
tahun lalu menjelaskan bahwa editor adalah penjaga gerbang informasi. Mereka
menentukan berita mana yang boleh masuk ke ruang publik dan mana yang tidak
(White, 1950). Shoemaker
dan Vos kemudian menunjukkan bahwa keputusan tersebut dipengaruhi oleh nilai
profesional, rutinitas organisasi, dan lingkungan sosial tempat media bekerja
(Shoemaker & Vos, 2009). Hari
ini gerbang itu masih ada. Editornya
juga masih ada. Yang
berubah adalah kini ada "penasihat" baru yang setiap saat
membisikkan rekomendasi. Namanya
algoritma. Berbagai
penelitian terbaru menunjukkan bahwa AI memang semakin banyak digunakan dalam
proses jurnalistik. AI membantu mencari ide liputan, menyusun ringkasan,
menulis draf awal, menyunting bahasa, hingga mendistribusikan berita kepada
audiens. Namun
para peneliti juga sampai pada kesimpulan yang sama: keputusan editorial
tetap harus berada di tangan manusia melalui pendekatan human-in-the-loop. Penelitian
lain bahkan menunjukkan bahwa seiring berkembangnya AI, semakin penting pula
kemampuan yang tidak dimiliki mesin, yaitu intuisi, empati, kreativitas, dan
tanggung jawab moral. AI
dapat mengenali pola dari miliaran data, tetapi belum mampu memahami mengapa
sebuah berita kecil tentang warga miskin kadang lebih penting daripada berita
yang sedang ramai diperbincangkan. Semua
itulah yang membuat saya merasa bahwa kita memerlukan cara pandang baru. Selama
ini kita hanya berbicara tentang Artificial Intelligence. Padahal,
yang sesungguhnya sedang diuji bukanlah kecerdasan mesin. Yang
sedang diuji adalah kecerdasan ruang redaksi. Saya
menyebutnya Editorial Intelligence. Editorial
Intelligence bukan teknologi baru. Ia
adalah kemampuan editor untuk menggunakan AI tanpa menyerahkan penilaiannya kepada
AI. Ia
adalah keberanian untuk berkata, "Algoritma mungkin benar menurut data,
tetapi belum tentu benar menurut kepentingan publik." Di
era ketika hampir semua keputusan dapat dihitung oleh mesin, mungkin kualitas
jurnalisme tidak lagi ditentukan oleh seberapa canggih AI yang dimiliki
sebuah media. Kualitas
jurnalisme justru ditentukan oleh kapan editor memutuskan untuk tidak
mengikuti AI. Pembaca
tidak datang ke media hanya untuk memperoleh informasi. Mereka
datang karena percaya bahwa di balik setiap berita masih ada manusia yang
berpikir. Dan
mungkin, itulah pekerjaan terakhir yang tidak akan pernah bisa sepenuhnya
diambil alih oleh kecerdasan buatan. Sebab
bahaya terbesar AI bagi jurnalisme bukan ketika mesin mulai menulis berita,
melainkan ketika editor berhenti meragukan jawaban mesin. ● Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/zNkZRbz6FQ/edhy-aruman-editorial-intelligence-ketika-ruang-redaksi-tidak-lagi-berpikir-sendiri
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar