Senin, 01 Agustus 2022

 

Citayam, Bukan Sekadar "Fashion" Jalanan

Sonny Eli Zaluchu: Mahasiswa program doktoral sosiologi agama Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

KOMPAS, 29 Juli 2022

 

                                                

 

 Fenomena sosial perkotaan "Citayam Fashion Week" (CFW) di kawasan Sudirman, Jakarta, adalah kejadian unik, yang menarik untuk dicermati. Fenomena ini sekaligus juga gugatan terhadap masalah sosial yang selama ini ada di masyarakat.

 

Sepintas, CFW dapat dilihat dari dua hal. Pertama, ide menyelenggarakan CFW tersebut digagas dan digulirkan oleh anak-anak muda yang notabene berasal dari daerah pinggir penyangga Jakarta seperti Depok, Bojong Gede, Bogor dan Citayam sendiri.

 

Kedua, aktivitas yang ditampilkan para anak muda ini dianggap nyeleneh, unik. Bahkan, sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Dr Drajat Tri Kartono, menyebutnya sebagai “subversif” (Kompas.com 18/7/2022), tentunya dalam konteks non-agresif.

 

Semakin menyita perhatian ketika ajang kumpul-kumpul ini kemudian dimasuki oleh para pesohor politik, artis dan penggiat media sosial. Media kemudian ramai-ramai mengangkat “fashion street” ini.

 

Fenomena CFW seharusnya memiliki penjelasan yang melampaui fenomena di atas. Penulis akan mengkajinya dari dua sudut aspek yang saling berkaitan.

 

Perubahan sosial

 

Dari sudut pandang sosiologis, CFW adalah hasil dari berlangsungnya proses perubahan sosial di tengah masyarakat. Hanya saja, perubahan itu tidak dipimpin oleh para aktor politik atau pelaku ekonomi, bahkan bukan pula oleh elite yang ada di masyarakat. Para aktor CFW justru datang dari pinggiran kota, rata-rata putus sekolah dan tidak memiliki sumber daya ekonomi.

 

Dalam stratifikasi sosial, kelompok penggiat CFW justru adalah anak-anak muda kelas bawah. Mereka selama ini mungkin tersisih oleh elite perkotaan karena tidak memiliki daya saing atau keunggulan komparatif. Mereka sangat jauh berbeda dibandingkan anak-anak muda kota Jakarta yang identik dengan identitas milenial seperti teknologi, pendidikan dan gaya hidup papan atas.

 

CFW justru dimotori oleh agen-agen pinggiran yang melakuan blitzkrieg ke dalam pusat tatanan sosial masyarakat metropolitan. Mereka hanya bermodalkan solidaritas kelompok, keberanian dan pola pikir terminal. Tetapi ketika mereka mewujudkannya, agen-agen sosial ini ternyata mampu mengguncang masyarakat dan menciptakan sebuah panggung sosial yang sangat asli.

 

Anak anak muda Citayam ini turun ke jalan, mengekspresikan kebebasan, dan mendobrak tatanan dengan cara yang elegan, menghasilkan tatanan baru yang bebas dari formalitas, tanpa campur tangan elite politik-ekonomi, bahkan tradisi. Sebagaimana kita baca di berbagai media, pemain utamanya adalah Bonge dan kawan-kawannya.

 

Strategi perubahan sosial yang diusung kelompok ini adalah menciptakan panggung baru melalui usaha rekonstruksi ulang stratifikasi sosial.

 

Anak-anak muda yang semula berada di level terendah, bergerak menohok ke lapisan paling atas, dan kemudian menjadi trend setter. Mereka berhasil. Buktinya para pembuat konten (content creator), pesohor, politikus, dan YouTuber, berlomba-lomba hadir, “turun” dari posisi mereka, masuk ke dalam panggung buatan anak-anak muda tersebut.

 

Mereka menyesuaikan diri ke dalam fenomena CFW, yang awalnya sebenarnya tidak diciptakan oleh mereka. Bahkan para pelaku ekonomi kini mulai ramai menggunakan agen-agen CFW ini menjadi pelaku endorsement produk yang murah meriah.

 

Mengapa hal ini bisa terjadi? Jika dilihat dari perspektif sosiologis, perubahan sosial merupakan hal yang wajar terjadi di dalam sebuah masyarakat, di semua tingkat kompleksitas internalnya.

 

Pada aras makro, misalnya, perubahan dapat terjadi dalam konteks kebijakan ekonomi, politik dan budaya. Di tingkat mezo, perubahan tersebut terjadi pada tingkat kelompok-kelompok, komunitas dan organisasi-organisasi. Sedangkan pada level mikro, perubahan sosial pun dapat terjadi melalui individu dan melibatkan interaksi antar-individu.

 

Mengacu pada teori yang disusun oleh Sztompka (2017), semua hal tersebut terjadi karena masyarakat tidak statis, tetapi sebaliknya, melakukan respons atas situasinya. Mereka berikhtiar melahirkan cara-cara baru, dan membuang tradisi-tradisi lama.

 

Dari konsep inilah maka kita mengerti bahwa pola-pola baru ala CFW lahir dan menjadi respons atas agen-agen sosial di masyarakat. Ia tidak tercipta atau berkembang dengan sendirinya secara bebas, tetapi diciptakan, diciptakan ulang, dan dikonstruksikan oleh masyarakat itu sendiri melalui sejumlah agen. Hasilnya, tren sosial baru hadir di tengah masyarakat, yang muncul tiba-tiba dan membuat kita bertanya-tanya, “Ada apa di Sudirman?”.

 

Lalu apa yang memicu agen-agen sosial tadi? Sejumlah hal dapat kita daftarkan sebagai alasannya. Bisa jadi ada kejenuhan di tengah masyarakat yang lelah menghadapi isolasi dan gelombang pandemi Covid-19 yang terus menerus datang dengan berbagai varian terbaru.

 

Juga termasuk di dalamnya situasi politik yang mulai memanas dan memperlihatkan bagaimana kekuasaan diperebutkan menjelang pemilu yang makin mendekat. Bahkan isu-isu sosial dan kontroversial di tengah masyarakat —seperti aksi pelecehan seksual di ruang publik, perbuatan mesum tokoh agama, kontroversi kasus pembunuhan yang melibatkan aparat keamanan, isu-isu kenaikan harga BBM, naiknya harga bahan makanan, soal pajak, dan sebagainya. Itu semua merupakan faktor internal.

dengan busananya ini memunculkan istilah Citayam Fashion Week.

 

Bagaimana dengan faktor eksternal? Angin resesi global yang mulai bertiup telah memunculkan kekuatiran atas situasi ekonomi Indonesia. Kasus bangkrutnya negara seperti Sri Lanka dan kemungkinan terulangnya kasus ini di negara-negara lain, telah menjadi isu sosial di ruang publik.

 

Bagaimana dengan Indonesia? Semua faktor tersebut telah menjadi variabel yang berpengaruh langsung dan tidak langsung dalam menciptakan beban bagi masyarakat. Terjadi kebuntuan atas persoalan-persoalan kehidupan keseharian, yang kemudian menciptakan perilaku ekspresif di ruang publik, sebagaimana CFW di kawasan Sudirman.

 

Revolusi sosial

 

Dalam bukunya yang terkenal, Political Order in Changing Societies (1968) Samuel P Huntington menjelaskan bahwa ketika terjadi sebuah perubahan tiba-tiba secara domestik di tengah masyarakat, dan melibatkan perubahan transformatif terhadap nilai-nilai dominan dan mitos dalam masyarakat itu, termasuk di dalamnya perubahan dalam struktur sosial, maka dapat dipastikan bahwa di dalam masyarakat itu sedang berlangsung revolusi sosial.

 

Revolusi selalu bermula dari berbagai gejolak di tengah masyarakat yang tidak terselesaikan. Masalah-masalah ketimpangan sosial, stratifikasi antar kelompok yang tajam, pembiaran masalah sosial dan ketidakadilan hukum, kelas pekerja yang selalu menjadi korban para pemilik modal, para pemimpin yang oportunis, aspirasi yang tak tersalurkan, adalah pemicu alami kehadiran krisis kepercayaan di tengah masyarakat.

 

Pandangan Huntington di atas membuat kita harus melihat CFW dari sudut pandang yang “tidak biasa”. CFW justru adalah sebuah peringatan. Di atas kertas, CFW adalah sebuah fenomena unik. Kreatif. Tetapi menggunakan analisis Huntington, CFW adalah sebuah produk revolusi sosial yang mencoba melawan kemapanan melalui jalur alternatif dengan memilih pentas jalanan sebagai ‘medan pertempuran’, menabrak ide mengenai panggung yang selama ini kita kenal, serta sangat anti-elitis.

 

CFW melawan raksasa-raksasa ekonomi yang selama ini mungkin telah memarjinalkan mereka dan orang-orang seperti mereka, mengisap kekuatan ekonomi mereka, dan yang selama ini hanya menjadikan mereka kuli dan pekerja rodi di dalam sistem kapitalisme.

 

CFW juga terlihat melakukan perlawanan terhadap ruang-ruang publik yang selama ini dijadikan komoditas mahal di Jakarta, yang mustahil diakses jika hanya bermodal keringat. Dengan menjadikan jalanan sebagai aset ekonomi, CFW melawan kemapanan tersebut.

 

Dan CFW juga melawan pandangan elite yang selama ini lebih suka mengkapitalisasi diri menggunakan berbagai macam cara untuk menaikkan citra dan mempertahankan diri di papan atas Ibukota. Di jalanan CFW, keaslian terlihat, terbuka, dan menjadi panggung baru bagi yang beruntung.

 

Kita tidak tahu seperti apa CFW ini akan berkembang di masa depan. Para peneliti sosial dan pakar perilaku manusia seharusnya bisa melakukan pendekatan-pendekatan yang spesifik untuk kemudian mengajukan sebuah konsep yang lebih egaliter pada setiap orang, di level manapun mereka berada.

 

Jangan sampai fenomena CFW ini justru hanya sekadar ditunggangi oleh berbagai macam kepentingan, tanpa merespons motif sosial dan suara revolusi yang sedang disampaikan dengan cara yang unik oleh para agen sosialnya.

 

Sumber :  https://www.kompas.id/baca/opini/2022/07/28/citayam-bukan-sekadar-fashion-jalanan

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar