Senin, 01 Agustus 2022

 

Ketidakpastian Global

A Prasetyantoko: penulis artikel ekonomi

KOMPAS, 26 Juli 2022

 

                                                

 

Ketidakpastian adalah musuh terbesar perencanaan. Dan, ekonomi adalah soal proyeksi serta kalkulasi strategi yang diturunkan dalam anggaran. Semakin hari, proyeksi ekonomi makin tak pasti sehingga diperlukan imajinasi tentang masa depan berbasis data yang tersedia saat ini. Akhirnya, perencanaan adalah dialektika antara visi (cita-cita) dan realitas yang bisa dengan cepat berganti sesuai dengan perubahan situasi.

 

Pendekatan ini dikenal sebagai perencanaan berbasis skenario (scenario planning). Perusahaan Royal Dutch Shell sudah sejak 1970-an mengembangkan pendekatan ini saat menghadapi ketidakpastian harga minyak akibat konflik politik di kawasan Timur Tengah dan era hiper-inflasi. Tampaknya pendekatan ini sangat relevan dengan perkembangan terkini saat ketidakpastian kian meninggi.

 

Sejauh ini konsensus proyeksi perekonomian global beberapa tahun ke depan adalah stagflasi atau era di mana pertumbuhan ekonomi rendah, sementara inflasi tinggi. Konsekuensinya, tingkat kesejahteraan akan menurun. Stagflasi telah menjadi baseline scenario atau situasi yang paling mungkin terjadi. Di beberapa negara, resesi menjadi skenario terburuk (worst-case scenario) yang mungkin terjadi.

 

Perekonomian global bisa terhindar dari stagflasi jika mampu melakukan transformasi sisi penawaran, seperti efisiensi faktor produksi dan perbaikan sistem logistik. Sayangnya, justru aspek ini yang terus memburuk sejak perang dagang, pandemi, dan kini diperparah dengan krisis Ukraina. Dengan kata lain, skenario terbaik (best-case scenario) secara global nyaris tak mungkin terjadi.

 

Bagaimana skenario perekonomian domestik di tengah ketidakpastian global? Dan, apakah kita mampu menciptakan best-case scenario?

 

Skenario Indonesia

 

Bank Pembangunan Asia baru saja menerbitkan laporan tambahan Asian Development Outlook edisi Juli 2022. Laporan ini merevisi ke bawah pertumbuhan kawasan Asia yang pada April lalu diproyeksikan 5,2 persen menjadi 4,5 persen terseret perlambatan global. Sementara Asia Timur direvisi dari 4,7 persen menjadi 3,8 persen akibat perlambatan pertumbuhan China yang diperkirakan hanya akan tumbuh 4 persen saja tahun ini. Pertumbuhan kawasan Asia Selatan juga direvisi dari 7 persen menjadi 6,5 persen.

 

Stagflasi global telah menyeret kinerja pertumbuhan ekonomi di hampir semua kawasan Asia. Meski begitu, kawasan Asia Tenggara justru mengalami kenaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi dari 4,9 persen menjadi 5 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh ADB proyeksinya dinaikkan dari perkiraan semula sebesar 5 persen menjadi 5,2 persen.

 

Kuatnya permintaan domestik dan peningkatan ekspor disebut sebagai faktor utamanya perbaikan kinerja perekonomian Indonesia. Pulihnya aktivitas ekonomi pascapandemi telah mendorong penciptaan lapangan kerja yang secara agregat telah menciptakan penerimaan masyarakat. Dan, penguatan penerimaan ini pada gilirannya mendorong permintaan pada barang dan jasa yang direspons dengan optimisme sektor dunia usaha. Optimisme dunia usaha ditandai dengan peningkatan kredit sektor swasta yang pada gilirannya mendorong aktivitas investasi.

 

Selain didorong perbaikan permintaan domestik, peningkatan proyeksi pertumbuhan ekonomi ditopang penguatan kinerja ekspor. Penerimaan ekspor meningkat seiring lonjakan harga komoditas, seperti batubara, minyak sawit, dan nikel. Kenaikan harga minyak juga punya implikasi terhadap pembengkakan subsidi bensin, listrik, dan gas, tetapi sejauh ini peningkatan penerimaan fiskal masih lebih besar. Meski begitu, pertanyaannya apakah fiskal akan terus menopang subsidi atau dialihkan untuk alokasi yang lebih produktif.

 

Skenario stagflasi global ternyata memberikan efek yang tidak seragam. Tidak demikian dengan dampak kenaikan harga, hampir semua negara di seluruh dunia tak mampu mengelakkannya. Inflasi kawasan Asia Tenggara dinaikkan perkiraannya dari 3,7 persen menjadi 4,7 persen. Sementara inflasi Indonesia yang semula diperkirakan 3,7 persen dinaikkan menjadi 4 persen.

 

Masalahnya, jika inflasi terus tinggi dan suku bunga mulai naik, pada gilirannya pertumbuhan ekonomi juga akan tergerus. Salah satu kunci mempertahankan pertumbuhan adalah mengelola kebijakan moneter yang pro-pertumbuhan sekaligus pro-stabilitas. Itulah mengapa, meskipun inflasi Juni sudah mencapai 4,3 persen, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga acuan sebesar 3,5 persen.

 

Inflasi Juni lebih banyak didorong volatilitas harga pangan yang cenderung meningkat, sementara inflasi inti dan harga yang dipengaruhi pemerintah masih relatif terkendali. Persoalannya, situasi global tak menunjukkan perbaikan situasi sehingga potensi harga pangan dan energi tinggi akan terus terjadi.

 

Situasinya mirip dengan Amerika Serikat dan negara maju lainnya di mana respons kebijakan bank sentral dinilai terlambat oleh satu kubu pendapat. Namun, kubu lain berpendapat, inflasi kali ini tak disebabkan ekses likuiditas, tetapi inefisiensi produksi. Akibatnya, suku bunga saja tak akan mampu menyelesaikan persoalan sehingga tak perlu terburu-buru menaikkannya.

 

Situasi global memang mengkhawatirkan. Perang tak memberikan keuntungan pada satu negara pun. Masa depan sungguh dipertaruhkan dengan begitu tingginya ketidakpastian. Kita beruntung, perekonomian domestik tak mengalami tekanan sebagaimana dialami banyak negara lain. Meski begitu, jika situasi ketidakpastian ini tak segera selesai, tak ada jaminan situasi kita akan aman. Bisa jadi skenario buruk yang terjadi.

 

Dalam situasi seperti ini, kebijakan moneter dan fiskal harus terkoordinasi dengan baik agar kenaikan suku bunga meski tak bisa dihindari tidak mengorbankan pertumbuhan. Begitu pula dengan kebijakan fiskal yang harus lebih fleksibel dengan tetap berorientasi pada peningkatan produktivitas domestik. Pengalihan subsidi kepada kelompok menengah atas serta mengalihkannya untuk kelompok menengah bawah perlu dilakukan secara proporsional.

 

Respons terhadap ketidakpastian adalah kelenturan dalam menyusun perencanaan. Dan, untuk itu dibutuhkan kemampuan imajinasi yang kuat tentang masa depan atau yang dikenal sebagai ”What-If Scenario”.

 

Sumber :  https://www.kompas.id/baca/opini/2022/07/25/ketidakpastian-global

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar