|
Narsisme di Ruang Belajar Victor Yasadhana : Direktur Kerja Sama Antarlembaga. |
MEDIA INDONESIA, 05 Oktober 2026
|
NARSISME dikaitkan dengan rasa berhak, memusatkan
perhatian berlebihan pada diri sendiri, ekspektasi muluk, serta kebutuhan
untuk selalu menonjolkan diri (Wink: 1991; Rogoza dan Fotfouta: 2019). Dalam
pendidikan, gelagat itu perlu diperhatikan serius karena berpotensi mengancam
proses belajar. Narsisme dapat muncul pada murid, guru, dan lembaga. Meskipun
tidak selalu buruk, kemampuan memahami dan meresponsnya penting untuk
menjamin pendidikan yang lebih baik. KASATMATA DAN TERSELUBUNG Salah satu bentuk yang paling mudah dikenali
ialah narsisme kasatmata (overt), yang tampak pada pendidik yang menjadikan
kelas sebagai ajang pemujaan diri melalui cerita masa lalu, prestasi, atau
kelebihannya demi mengundang kagum anak didik. Praktik lain ialah menempatkan
anak didik sebagai properti untuk konten media sosial sebagai pendidik
'baik', 'ramah', atau 'ideal' tanpa mempertimbangkan privasi dan kenyamanan
psikologis mereka. Tidak membuka ruang dialog, antikritik, merasa
satu-satunya sumber pengetahuan, serta menganggap orang lain inferior juga
merupakan cerminan narsistik yang merugikan. Sementara itu, di kalangan murid, narsisme tampak
sebagai percaya diri berlebihan; menganggap murid lain tidak sehebat dirinya,
meminta perlakuan khusus, mendominasi diskusi, memotong ucapan orang lain,
atau merespons kritik secara arogan dengan mengancam, membalas, atau
menghina. Selain bentuk kasatmata, narsisme bisa
terselubung (covert atau introverted), ditandai dengan menempatkan diri
sebagai korban, sensitif terhadap kritik, pasif-agresif, dan kurang empati.
Guru atau murid bisa tampak diam saat dikritik, tetapi diam-diam tersinggung,
stres, atau marah, menganggap kritik sebagai serangan pribadi, lalu
mendiamkan, menghindar, menyindir, atau mengeluh atas masukan yang dianggap
tidak adil. Jika pada tingkat individu narsisme tampak pada
guru dan murid, pada tingkat yang lebih luas, narsisme sekolah tecermin pada
budaya organisasi. Sebagai lembaga, sekolah tidak memiliki gangguan
kepribadian. Narsisme di sini dipahami sebagai pola organisasi yang berulang
dan berpusat pada prestise, citra, superioritas, atau penghindaran kritik,
dengan mengorbankan pembelajaran, keadilan, dan kesejahteraan murid dan guru.
Praktik yang sering ditemui: mencitrakan sekolah sebagai 'elite', 'unggul',
dan 'lebih baik' daripada sekolah lain; publikasi capaian murid berlebihan
tanpa mempromosikan proses dan progres; serta menampilkan keberhasilan murid
sebagai kontribusi sekolah semata. Seperti pada individu, narsisme kelembagaan juga
punya bentuk terselubung. Itu tampak dari budaya yang memandang kritik,
masukan, dan saran orangtua serta masyarakat sebagai ancaman dan
ketidaksetiaan; atau menyembunyikan kesalahan demi mempertahankan citra
kompetensi dan kesempurnaan. Lalu bagaimana melawan narsisme di sekolah? PENYANGGA DAN FONDASI Untuk menjawab pertanyaan itu, penting merujuk
pada metafora pendidikan yang dikemukakan Chad Mason dan Karen Brackman dalam
Educating Today's Overindulged Youth: Combat Narcissism by Building
Foundations, not Pedestals (2009). Mereka menawarkan analogi tiang penyangga
(pedestals) dan fondasi (foundations). Untuk melawan narsisme pada murid,
pendidik dan keluarga perlu membangun 'fondasi' tanggung jawab, kemandirian,
ketahanan, dan kepedulian terhadap sesama, daripada 'penyangga' berupa
perlindungan, akomodasi, atau pujian berlebihan. Yang menarik, saran Mason dan Brackman itu
bertentangan dengan anggapan umum orangtua. Mereka justru menyarankan
mengurangi perhatian dan pujian yang berlebihan. Sekolah dan orangtua perlu
menghindari ajaran yang membuat anak merasa superior dan perlu diperlakukan
khusus. Ide itu diperkuat penelitian longitudinal Eddie Brummelman dan
Constantine Sedikides (2020): penilaian orangtua yang berlebihan, mengatakan
anak lebih istimewa dan lebih berhak daripada anak lain, mendorong ciri
narsistik pada kemudian hari. Sebaliknya, kehangatan orangtua menumbuhkan
harga diri (self-esteem). Implikasi temuan itu bagi sekolah sangat jelas:
cara memaknai pujian harus diubah. Pujian berlebihan dan membandingkan selalu
menyampaikan pesan keunggulan. 'Kamu mengerjakan tugas ini dengan kreatif'
membangun kompetensi; 'Kamu hebat melebihi semua kawanmu' membangun identitas
rapuh. Apa yang dapat dilakukan sekolah? Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Pertama, sekolah harus menciptakan budaya penilaian dan umpan balik
(feedback) yang realistis dan spesifik. Guru memuji usaha, strategi,
kemajuan, kerja sama, dan ketekunan, bukan pujian kosong atas hasil. Umpan
balik yang baik berorientasi pada pertumbuhan: murid menyadari kelemahan dan
tahu apa yang perlu diperbaiki. Kedua, sekolah harus mengajarkan tanggung jawab
melalui partisipasi bermakna, refleksi, dan upaya perbaikan. Melibatkan siswa
dalam pengambilan keputusan memberi kesempatan belajar sekaligus meningkatkan
rasa percaya diri. Selain partisipasi, sekolah perlu menetapkan
batas yang jelas. Ketiga, aturan yang tegas harus tetap memanusiakan murid
sehingga mereka merasa menjadi bagian penting dari sekolah. Saat menghadapi
pelanggaran misalnya, pesan yang perlu disampaikan ialah 'kamu ialah bagian
dari sekolah ini, tetapi perilaku (yang dilanggar) tidak dapat diterima'.
Membangun logika bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi akan memperkuat
kesadaran tentang batas yang jelas antara hak dan kewajiban mereka. Keempat, sekolah harus mengajarkan keterampilan
emosional dan sosial. Murid perlu memahami rasa kecewa, gagal, berbeda
pendapat, iri, atau malu. Kemampuan mengelola konflik damai ialah
keterampilan dasar yang terus dikembangkan. Agar upaya itu berkelanjutan, sekolah juga perlu
melibatkan orangtua. Kelima, kemitraan harus berfokus pada prinsip dan
kesepakatan bersama, bukan pada saling menyalahkan. Dari semua langkah itu, upaya terbaik untuk
melawan narsisme ialah membangun harga diri (self-esteem). Murid
mengembangkan kepercayaan diri yang kukuh ketika mereka mengalami rasa aman,
mendapat masukan atau penilaian yang jujur, diberi tantangan yang terukur,
dan tanggung jawab yang nyata. Mereka tidak perlu dimanjakan dengan pujian
yang berlebihan. Mereka perlu belajar dari kegagalan-kegagalan karena mereka
berkesempatan untuk belajar, melakukan perbaikan, bekerja sama, dan
bermanfaat bagi orang lain. Pesan pentingnya ialah mereka selalu berharga,
tetapi memiliki rasa tanggung jawab ialah sesuatu yang harus ada dan perlu
terus dijaga. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/940610/narsisme-di-ruang-belajar
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar