Selasa, 06 Oktober 2026

 

Fungsi Memori Ternyata Tidak Hanya pada Otak

Deonisia Arlinta :  Jurnalis Kompas.

KOMPAS, 11 November 2024

 

 

                                                           

Selama ini, kita memahami bahwa fungsi memori pada tubuh kita terletak pada otak, khususnya sel-sel otak. Namun, sekelompok peneliti memberikan pemahaman baru akan sistem memori kita.

 

Penelitian tersebut dinilai telah membuka jalur baru dalam memahami cara kerja memori pada tubuh. Hal ini dapat dimanfaatkan dalam upaya memaksimalkan sistem pembelajaran dan pengobatan gangguan fungsi memori pada seseorang. Hasil dari penelitian ini telah dipublikasikan pada jurnal Nature Communications pada 7 November 2024.

 

”Ketika belajar dan mengingat umumnya dikaitkan dengan otak dan sel-sel otak saja, tetapi penelitian kami menunjukkan bahwa sel-sel lain dalam tubuh juga bisa belajar dan membentuk ingatan,” ujar Nikolay V Kukushkin, penulis utama dari penelitian tersebut yang juga profesor di Pusat Ilmu Saraf New York University.

 

Sebelumnya, Nikolay dan tim peneliti ingin memahami apakah sel-sel yang berada di luar otak juga bisa memiliki fungsi memori. Fungsi memori tersebut khususnya yang bersifat neurologis dengan efek massa-jarak (massed-spaced effect).

 

Efek massa-jarak ini yang menunjukkan bahwa seseorang biasanya dapat mengingat suatu informasi lebih baik saat mempelajarinya dalam interval waktu tertentu. Hal ini dibandingkan dengan mempelajarinya dalam satu sesi intensif atau biasa dikenal dengan sistem kebut semalam.

 

Untuk membuktikan hal tersebut, para ilmuwan melakukan penelitian di laboratorium pada dua sel non-otak pada manusia, yakni sel pada jaringan saraf dan sel pada jaringan ginjal. Sel-sel tersebut diuji untuk menghasilkan pola sinyal kimia tertentu yang terjadi seperti saat sel otak terpapar pola neurotransmitter ketika mempelajari informasi baru.

 

Para ilmuwan memantau proses memori dan pola pembelajaran dengan melakukan rekayasa pada sel-sel non-otak. Protein yang berada pada sel-sel non-otak itu dibuat bercahaya ketika sel tersebut mengaktifkan gen memori.

 

Hasilnya, sel-sel tersebut ternyata menunjukkan adanya pola neurotransmitter yang sama seperti yang terjadi di otak. Pola tersebut terjadi saat denyut kimia diberikan secara berulang, bukan saat dilakukan secara sekaligus.

 

Denyut kimia tersebut yang menjadi gambaran saat pembelajaran dan informasi diberikan kepada seseorang. Denyut kimia yang diberikan secara bertahap dengan waktu yang lebih lama bisa lebih kuat mengaktifkan gen memori daripada saat denyut kimia diberikan sekaligus.

 

”Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk belajar dengan cara pengulangan tidak hanya dimiliki oleh sel-sel di otak. Kemampuan ini bisa jadi ternyata merupakan sifat dasar dari semua sel,” kata Nikolay.

 

Potensi kesehatan

 

Temuan ini dinilai tidak hanya berhasil mengungkapkan cara baru dari proses mengingat, tetapi juga berpotensi untuk dimanfaatkan untuk mendukung kesehatan manusia. Dengan menemukan cara kerja memori, dapat memaksimalkan pola pembelajaran pada seseorang. Selain itu, temuan ini juga bisa digunakan untuk membantu mengatasi masalah memori.

 

”Pada saat yang sama, hal ini menunjukkan bahwa di masa mendatang, kita perlu memperlakukan tubuh kita lebih seperti otak. Itu seperti dengan melatih ingatan pankreas tentang pola makanan dalam mempertahankan kadar glukosa darah atau melihat ingatan sel kanker tentang pola kemoterapi,” ujar Nikolay.

 

Pembentukan memori

 

Dalam studi lain mengungkapkan pula bahwa jaringan memori akan semakin berkembang seiring bertambahnya usia. Kondisi tersebut membuat manusia memiliki kemampuan yang lebih baik dalam membentuk memori yang bertahan lama di usia dewasa dibandingkan dengan saat anak-anak dan remaja.

 

Studi tersebut diterbitkan dalam jurnal Current Biology pada 15 Februari 2022. Para ilmuwan dari Northwestern Medicine dan Wayne State University mengungkapkan bahwa seiring dengan tingkat kematangan otak yang dimiliki, manusia dapat membentuk memori yang bertahan lama secara lebih baik.

 

”Ingatan manusia berkembang sepanjang masa kanak-kanak dan mencapai puncaknya di usia 20-an. Bagi kebanyakan orang, ingatan ini akan menurun seiring bertambahnya usia, bahkan pada mereka yang tidak mengalami demensia,” kata Lisa Johnson, asisten profesor dari medical social sciences and pediatrics di Northwestern University Feinberg School of Medicine, Chicago, AS. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/fungsi-memori-ternyata-tidak-hanya-pada-otak?open_from=Baca_Juga_Card  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar