|
Menelusuri Jejak Sejarah Teks Kitab Suci,
Megenang Taufik Adnan Amal dan Kegigihan Akademiknya Ahmad Baedowi : Direktur Eksekutif Yayasan Sukma, Jakarta. |
MEDIA INDONESIA, 05 Oktober 2026
|
HARI ini, Senin 5 Oktober 2026, berita duka itu
sampai ke mata saya dinihari tadi lewat pesan Nukila Amal, adik dari Taufik
Adnan Amal. Taufik menyusul Samsu Rizal Panggabean menemui Tuhannya,
meninggalkan kesan panjang perjalanan kami yang sangat sublim dalam menemukan
jejak Muhammad sebagai pembawa wahyu. Dengan keinginan yang sangat dalam,
diskusi tentang “membumikan al-Qur’an” dari zaman klasik hingga modern
merupakan diskusi harian yang renyah di awal-awal berdirinya Kelompok Diskusi
Al-Jami’ah. Riset kami tentang sejarah tafsir di Indo-Pakistan dan Mesir di tahun
80-an membawa kami berkenalan sangat akrab dengan tradisi besar pemikiran Sir
Muhammad Iqbal, Sayyid Ahmad Khan hingga Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh
hingga perjumpaan akademis dengan pemikiran Fazlur Rahman lewat beberapa
karyanya. Awal mula di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta,
labirin diskusi minggunan kami menumbuhkan benih-benih pemikiran kritis
Taufik Adnan Amal yang mulai berkecambah subur ketika ia menapaki dunia
akademik di lingkungan Kelompok Diskusi Al-Jami’ah. Di sinilah, atmosfer
pemikiran Islam neo-modernisme yang hangat mempertemukannya dengan lingkaran
sahabat sepemikiran, di antaranya dengan Samsu Rizal Panggabean. Hubungan
kolaboratif Taufik dengan para sahabatnya, terutama Samsu Rizal Panggabean
terjalin sangat erat. Bersama Rizal, Taufik melahirkan karya Tafsir
Kontekstual al-Quran pada tahun 1989. Persahabatan intelektual ini bukan
sekadar kedekatan personal, melainkan sebuah ruang dialektika. Rizal—yang
kemudian hari dikenal luas sebagai penyunting setia dari buku Rekonstruksi
Sejarah Al-Qur'an—menjadi teman diskusi terdekat yang menantang dan
mempertajam metodologi penelitian Taufik. Di sudut-sudut kampus inilah,
mereka berdua merumuskan pendekatan rasional-eklektik untuk menjembatani teks
suci dengan realitas modernitas. Dunia studi Islam kontemporer di Indonesia tidak
akan pernah sama tanpa kehadiran Taufik Adnan Amal. Lewat karya monumentalnya
yang mengguncang sekaligus mencerahkan, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, pria
kelahiran Bandung, 12 Agustus 1962 ini menancapkan namanya sebagai salah satu
pelopor studi kritis Al-Qur'an paling tekun di tanah air. Artikel ini ditulis
untuk mengenang perjalanan intelektual Nyong Taufik, sebuah pengembaraan
sunyi yang melintasi koridor-koridor kampus IAIN hingga
perpustakaan-perpustakaan tua di Jerman. Menelusuri Jejak Goldziher dan Nöldeke Ketekunan Taufik Adnan Amal tidak berhenti pada
literatur Islam klasik yang jamak dijumpai di perpustakaan lokal. Ia
menyadari bahwa untuk merekonstruksi sejarah teks Al-Qur'an dengan objektif,
ia harus berdialog langsung dengan tradisi kritisisme Barat. Langkah berani
ini membawanya melakukan pengembaraan intelektual hingga ke Jerman. Di
Jerman, Taufik menapaki kembali rekam jejak para raksasa orientalisme abad
ke-19 dan ke-20. Ia menelusuri pemikiran Theodor Nöldeke (1836–1930), sarjana
Jerman legendaris yang memelopori pendekatan historis-kritis terhadap
kronologi pewahyuan lewat masterpiace-nya, Geschichte des Qorans (The History
of the Qur'an). Taufik memeriksa bagaimana Nöldeke membedah struktur retorika
dan periodisasi surah-surah makiyah serta madaniah. Tidak hanya Nöldeke, pengembaraanannya juga
bersinggungan dengan warisan metodologis Ignaz Goldziher, sarjana asal
Hungaria yang tulisan-tulisan kritisnya mengenai sejarah tafsir klasik banyak
dipelajari dan dikembangkan di universitas-universitas Jerman. Taufik dengan
teliti membaca, memilah, dan menguji argumen-argumen para orientalis ini. Ia
tidak menelan mentah-mentah skeptisisme Barat, melainkan menggunakannya
sebagai pisau analisis untuk menguji sejauh mana sejarah teks Al-Qur'an mampu
bertahan terhadap kritik sejarah yang ketat. Salah satu sumbangsih paling berani—sekaligus
memicu polemik hebat—dari Rekonstruksi Sejarah Al-Qur'an adalah gugatan
Taufik terhadap status rasm Utsmani. Jika mayoritas ulama muslim tradisional
memandang pola penulisan rasm Utsmani bersifat tawqifi (baku dan bersumber
langsung dari petunjuk Nabi), Taufik justru melihatnya sebagai produk
historis atau ijtihad para sahabat yang tidak luput dari keterbatasan
ortografi Arab pada abad ke-7. Karena teks awal Utsmani belum memiliki tanda
baca (titik) dan diakritik (harakat), Taufik berargumen bahwa ragam bacaan
(qira'at) justru lahir sebagai akibat logis untuk melengkapi keterbatasan
ortografi rasm Utsmani tersebut. Ketekunannya meneliti sejarah teks membawanya
pada kesimpulan ekstrem bagi sebagian kalangan: ia menilai penetapan sistem
qira'at sab'ah (tujuh bacaan) oleh Ibnu Mujahid pada abad ke-4 Hijriah
memiliki kelemahan transmisi dan justru memutus proses unifikasi Al-Qur'an
yang alami. Kritik tajam ini melahirkan gagasan radikalnya tentang perlunya
sebuah “Al-Qur’an edisi kritis” untuk melacak varian bacaan terbaik, sebuah
konsep yang langsung memantik konter akademis dari berbagai lembaga ilmu
Al-Qur'an di Indonesia karena dianggap menggoyang keyakinan otentisitas
mutlak teks suci. Pengaruh pengembaraan Taufik ke Jerman terasa
sangat kental pada struktur metodologis bukunya yang mengadopsi teori tartib
nuzuli (kronologi pewahyuan) dari Theodor Noldeke. Nöldeke dalam Geschichte
des Qorans membagi penurunan ayat ke dalam empat periode berdasarkan analisis
gaya bahasa, struktur retorika, dan evolusi tema: tiga periode Mekah (awal,
pertengahan, akhir) dan satu periode Madinah. Taufik menggunakan pisau
analisis historis-kritis ini untuk menyusun bab-bab awal bukunya yang
membedah fase-fase pewahyuan Al-Qur'an. Dengan mengikuti kerangka Nöldeke,
Taufik memperlihatkan bagaimana teks Al-Qur'an bertransformasi dari ayat-ayat
pendek berirama puitis yang penuh sumpah pada periode Makkah awal, menjadi
teks khotbah yang lebih panjang dan sarat regulasi hukum serta dinamika
sosial-politik pada periode Madinah. Melalui pendekatan ini, Taufik berhasil
menyajikan Al-Qur'an bukan sekadar sebagai kitab yang turun dari ruang hampa,
melainkan sebagai teks suci yang secara aktif berdialog dan merespons
realitas kultural serta sosiologis masyarakat Arab dari waktu ke waktu. Sebagai solusi praktis untuk mempermudah
pembacaan Al-Qur'an bagi masyarakat modern, Taufik Adnan Amal menjadi salah
satu pemikir yang secara terbuka mendukung penggunaan Rasm Imla'i (ortografi
konvensional). Perbedaan mendasar dari penulisan ini terletak pada bagaimana
sebuah kata direpresentasikan secara visual. Taufik melihat bahwa
mempertahankan kerumitan rasm Utsmani tanpa kontekstualisasi sering kali
membebani pembaca kontemporer non-Arab. Sebaliknya, rasm imla'i
memprioritaskan kejelasan fonetis sehingga mengurangi risiko kesalahan baca
bagi umat Muslim awam. Pujian dan defensif Penerbitan tesis-tesis kritis Taufik tidak luput
dari perhatian para pemikir besar tanah air. Salah satu tanggapan paling
elegan datang dari pakar tafsir terkemuka, Prof Dr M Quraish Shihab, yang
bersedia memberikan kata pengantar langsung pada buku tersebut. Quraish
Shihab memuji ketekunan riset Taufik sebagai kontribusi berharga yang
memperkaya khazanah intelektual Islam di Indonesia. Namun, beliau memberikan
catatan kritis yang tajam: buku Taufik dirasa terlalu banyak bersandar pada
kutipan karya orientalis Barat seperti Nöldeke, Jeffery, dan Bell, tanpa
diimbangi secara proporsional dengan argumen dari spesialis Al-Qur'an dari
kalangan internal Islam klasik. Quraish Shihab menegaskan bahwa perbedaan
persepsi ini wajar, dan menyarankan agar publik merespons karya Taufik dengan
argumen ilmiah tandingan dalam bentuk tulisan atau buku, bukan dengan luapan
emosi keagamaan. Respons ini mencerminkan dinamika khas Indonesia:
di satu sisi, metodologi Barat diterima sebagai pemantik diskusi orisinal,
namun di sisi lain, otoritas keagamaan arus utama tetap menjaga agar bangunan
keimanan terhadap teks Al-Qur'an tidak runtuh akibat dekonstruksi sejarah
yang radikal. Buah dari ketekunan luar biasa, perdebatan di IAIN, serta
pengembaraan literatur ke Jerman tersebut pada akhirnya melahirkan sebuah
tonggak akademik yang kokoh. Sebagai dosen ulum Al-Qur'an di Fakultas Syariah
IAIN (kini UIN) Alauddin Makassar, ia telah mewariskan standar baru bagi
generasi muda Indonesia dalam memperlakukan sejarah Islam: bahwa keimanan
pada kitab suci tidak harus membuat kita gentar menghadapi fakta-fakta
sejarah. Buah dari ketekunan luar biasa, perdebatan di
IAIN, serta pengembaraan literatur ke Jerman tersebut mengerucut pada
lahirnya buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur'an. Buku ini menjadi sangat
monumental karena berani mendiskusikan topik-topik sensitif seperti sejarah
kodifikasi mushaf, variasi bacaan (qiraat), hingga rasm ortografi Al-Qur'an
dengan pendekatan historis yang metodis. Meski memicu perdebatan sengit dan
kontroversi di kalangan sarjana muslim tradisional karena banyak mengutip
sarjana Barat seperti Nöldeke, Arthur Jeffery, dan Richard Bell, karya Taufik
dipuji karena kejujuran akademisnya. Mengenang Taufik Adnan Amal adalah mengenang
sebuah ketekunan yang sunyi. Ia adalah tipe ilmuwan yang memilih tenggelam di
balik tumpukan manuskrip demi memberikan perspektif yang segar, ilmiah,
sekaligus islami bagi masa depan studi kitab suci kaum muslimin. Dalam
kesunyian dan tumpukan manuskrip yang kerap dia banggakan ketika menemukan
sebuah hipotesis baru dari bacaannya yang tak pernah berhenti, kami bertiga
dengan almarhum Samsu Rizal Panggabean selalu berhenti ketika menikmati Firth
of Fifth dari Genesis dan Comfortably Numb-nya Pink Floyd. Selamat Jalan,
Nyong. Mengopi dan merokoklah Bersama Rizal disudut Café Surgawi yang telah
kau tapaki jejaknya. Aku akan bergabung pada saatnya nanti, persis seperti di
kosan bak asrama yang telah kau tuliskan panduannya untuk Sekolah Sukma
Bangsa di Aceh. Igfirlahuma warhamhuma wa’afihuma. Amin. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar