Selasa, 06 Oktober 2026

 

Menelusuri Jejak Sejarah Teks Kitab Suci, Megenang Taufik Adnan Amal dan Kegigihan Akademiknya

Ahmad Baedowi  :   Direktur Eksekutif Yayasan Sukma, Jakarta.

MEDIA INDONESIA, 05 Oktober 2026

 

                                                

 

HARI ini, Senin 5 Oktober 2026, berita duka itu sampai ke mata saya dinihari tadi lewat pesan Nukila Amal, adik dari Taufik Adnan Amal. Taufik menyusul Samsu Rizal Panggabean menemui Tuhannya, meninggalkan kesan panjang perjalanan kami yang sangat sublim dalam menemukan jejak Muhammad sebagai pembawa wahyu. Dengan keinginan yang sangat dalam, diskusi tentang “membumikan al-Qur’an” dari zaman klasik hingga modern merupakan diskusi harian yang renyah di awal-awal berdirinya Kelompok Diskusi Al-Jami’ah. Riset kami tentang sejarah tafsir di Indo-Pakistan dan Mesir di tahun 80-an membawa kami berkenalan sangat akrab dengan tradisi besar pemikiran Sir Muhammad Iqbal, Sayyid Ahmad Khan hingga Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh hingga perjumpaan akademis dengan pemikiran Fazlur Rahman lewat beberapa karyanya.

 

Awal mula di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, labirin diskusi minggunan kami menumbuhkan benih-benih pemikiran kritis Taufik Adnan Amal yang mulai berkecambah subur ketika ia menapaki dunia akademik di lingkungan Kelompok Diskusi Al-Jami’ah. Di sinilah, atmosfer pemikiran Islam neo-modernisme yang hangat mempertemukannya dengan lingkaran sahabat sepemikiran, di antaranya dengan Samsu Rizal Panggabean. Hubungan kolaboratif Taufik dengan para sahabatnya, terutama Samsu Rizal Panggabean terjalin sangat erat. Bersama Rizal, Taufik melahirkan karya Tafsir Kontekstual al-Quran pada tahun 1989. Persahabatan intelektual ini bukan sekadar kedekatan personal, melainkan sebuah ruang dialektika. Rizal—yang kemudian hari dikenal luas sebagai penyunting setia dari buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur'an—menjadi teman diskusi terdekat yang menantang dan mempertajam metodologi penelitian Taufik. Di sudut-sudut kampus inilah, mereka berdua merumuskan pendekatan rasional-eklektik untuk menjembatani teks suci dengan realitas modernitas.

 

Dunia studi Islam kontemporer di Indonesia tidak akan pernah sama tanpa kehadiran Taufik Adnan Amal. Lewat karya monumentalnya yang mengguncang sekaligus mencerahkan, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, pria kelahiran Bandung, 12 Agustus 1962 ini menancapkan namanya sebagai salah satu pelopor studi kritis Al-Qur'an paling tekun di tanah air. Artikel ini ditulis untuk mengenang perjalanan intelektual Nyong Taufik, sebuah pengembaraan sunyi yang melintasi koridor-koridor kampus IAIN hingga perpustakaan-perpustakaan tua di Jerman.

 

Menelusuri Jejak Goldziher dan Nöldeke

 

Ketekunan Taufik Adnan Amal tidak berhenti pada literatur Islam klasik yang jamak dijumpai di perpustakaan lokal. Ia menyadari bahwa untuk merekonstruksi sejarah teks Al-Qur'an dengan objektif, ia harus berdialog langsung dengan tradisi kritisisme Barat. Langkah berani ini membawanya melakukan pengembaraan intelektual hingga ke Jerman. Di Jerman, Taufik menapaki kembali rekam jejak para raksasa orientalisme abad ke-19 dan ke-20. Ia menelusuri pemikiran Theodor Nöldeke (1836–1930), sarjana Jerman legendaris yang memelopori pendekatan historis-kritis terhadap kronologi pewahyuan lewat masterpiace-nya, Geschichte des Qorans (The History of the Qur'an). Taufik memeriksa bagaimana Nöldeke membedah struktur retorika dan periodisasi surah-surah makiyah serta madaniah.

 

Tidak hanya Nöldeke, pengembaraanannya juga bersinggungan dengan warisan metodologis Ignaz Goldziher, sarjana asal Hungaria yang tulisan-tulisan kritisnya mengenai sejarah tafsir klasik banyak dipelajari dan dikembangkan di universitas-universitas Jerman. Taufik dengan teliti membaca, memilah, dan menguji argumen-argumen para orientalis ini. Ia tidak menelan mentah-mentah skeptisisme Barat, melainkan menggunakannya sebagai pisau analisis untuk menguji sejauh mana sejarah teks Al-Qur'an mampu bertahan terhadap kritik sejarah yang ketat.

 

Salah satu sumbangsih paling berani—sekaligus memicu polemik hebat—dari Rekonstruksi Sejarah Al-Qur'an adalah gugatan Taufik terhadap status rasm Utsmani. Jika mayoritas ulama muslim tradisional memandang pola penulisan rasm Utsmani bersifat tawqifi (baku dan bersumber langsung dari petunjuk Nabi), Taufik justru melihatnya sebagai produk historis atau ijtihad para sahabat yang tidak luput dari keterbatasan ortografi Arab pada abad ke-7. Karena teks awal Utsmani belum memiliki tanda baca (titik) dan diakritik (harakat), Taufik berargumen bahwa ragam bacaan (qira'at) justru lahir sebagai akibat logis untuk melengkapi keterbatasan ortografi rasm Utsmani tersebut.

 

Ketekunannya meneliti sejarah teks membawanya pada kesimpulan ekstrem bagi sebagian kalangan: ia menilai penetapan sistem qira'at sab'ah (tujuh bacaan) oleh Ibnu Mujahid pada abad ke-4 Hijriah memiliki kelemahan transmisi dan justru memutus proses unifikasi Al-Qur'an yang alami. Kritik tajam ini melahirkan gagasan radikalnya tentang perlunya sebuah “Al-Qur’an edisi kritis” untuk melacak varian bacaan terbaik, sebuah konsep yang langsung memantik konter akademis dari berbagai lembaga ilmu Al-Qur'an di Indonesia karena dianggap menggoyang keyakinan otentisitas mutlak teks suci.

 

Pengaruh pengembaraan Taufik ke Jerman terasa sangat kental pada struktur metodologis bukunya yang mengadopsi teori tartib nuzuli (kronologi pewahyuan) dari Theodor Noldeke. Nöldeke dalam Geschichte des Qorans membagi penurunan ayat ke dalam empat periode berdasarkan analisis gaya bahasa, struktur retorika, dan evolusi tema: tiga periode Mekah (awal, pertengahan, akhir) dan satu periode Madinah. Taufik menggunakan pisau analisis historis-kritis ini untuk menyusun bab-bab awal bukunya yang membedah fase-fase pewahyuan Al-Qur'an. Dengan mengikuti kerangka Nöldeke, Taufik memperlihatkan bagaimana teks Al-Qur'an bertransformasi dari ayat-ayat pendek berirama puitis yang penuh sumpah pada periode Makkah awal, menjadi teks khotbah yang lebih panjang dan sarat regulasi hukum serta dinamika sosial-politik pada periode Madinah. Melalui pendekatan ini, Taufik berhasil menyajikan Al-Qur'an bukan sekadar sebagai kitab yang turun dari ruang hampa, melainkan sebagai teks suci yang secara aktif berdialog dan merespons realitas kultural serta sosiologis masyarakat Arab dari waktu ke waktu.

 

Sebagai solusi praktis untuk mempermudah pembacaan Al-Qur'an bagi masyarakat modern, Taufik Adnan Amal menjadi salah satu pemikir yang secara terbuka mendukung penggunaan Rasm Imla'i (ortografi konvensional). Perbedaan mendasar dari penulisan ini terletak pada bagaimana sebuah kata direpresentasikan secara visual. Taufik melihat bahwa mempertahankan kerumitan rasm Utsmani tanpa kontekstualisasi sering kali membebani pembaca kontemporer non-Arab. Sebaliknya, rasm imla'i memprioritaskan kejelasan fonetis sehingga mengurangi risiko kesalahan baca bagi umat Muslim awam.

 

Pujian dan defensif

 

Penerbitan tesis-tesis kritis Taufik tidak luput dari perhatian para pemikir besar tanah air. Salah satu tanggapan paling elegan datang dari pakar tafsir terkemuka, Prof Dr M Quraish Shihab, yang bersedia memberikan kata pengantar langsung pada buku tersebut. Quraish Shihab memuji ketekunan riset Taufik sebagai kontribusi berharga yang memperkaya khazanah intelektual Islam di Indonesia. Namun, beliau memberikan catatan kritis yang tajam: buku Taufik dirasa terlalu banyak bersandar pada kutipan karya orientalis Barat seperti Nöldeke, Jeffery, dan Bell, tanpa diimbangi secara proporsional dengan argumen dari spesialis Al-Qur'an dari kalangan internal Islam klasik. Quraish Shihab menegaskan bahwa perbedaan persepsi ini wajar, dan menyarankan agar publik merespons karya Taufik dengan argumen ilmiah tandingan dalam bentuk tulisan atau buku, bukan dengan luapan emosi keagamaan.

 

Respons ini mencerminkan dinamika khas Indonesia: di satu sisi, metodologi Barat diterima sebagai pemantik diskusi orisinal, namun di sisi lain, otoritas keagamaan arus utama tetap menjaga agar bangunan keimanan terhadap teks Al-Qur'an tidak runtuh akibat dekonstruksi sejarah yang radikal. Buah dari ketekunan luar biasa, perdebatan di IAIN, serta pengembaraan literatur ke Jerman tersebut pada akhirnya melahirkan sebuah tonggak akademik yang kokoh. Sebagai dosen ulum Al-Qur'an di Fakultas Syariah IAIN (kini UIN) Alauddin Makassar, ia telah mewariskan standar baru bagi generasi muda Indonesia dalam memperlakukan sejarah Islam: bahwa keimanan pada kitab suci tidak harus membuat kita gentar menghadapi fakta-fakta sejarah.

 

Buah dari ketekunan luar biasa, perdebatan di IAIN, serta pengembaraan literatur ke Jerman tersebut mengerucut pada lahirnya buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur'an. Buku ini menjadi sangat monumental karena berani mendiskusikan topik-topik sensitif seperti sejarah kodifikasi mushaf, variasi bacaan (qiraat), hingga rasm ortografi Al-Qur'an dengan pendekatan historis yang metodis. Meski memicu perdebatan sengit dan kontroversi di kalangan sarjana muslim tradisional karena banyak mengutip sarjana Barat seperti Nöldeke, Arthur Jeffery, dan Richard Bell, karya Taufik dipuji karena kejujuran akademisnya.

 

Mengenang Taufik Adnan Amal adalah mengenang sebuah ketekunan yang sunyi. Ia adalah tipe ilmuwan yang memilih tenggelam di balik tumpukan manuskrip demi memberikan perspektif yang segar, ilmiah, sekaligus islami bagi masa depan studi kitab suci kaum muslimin. Dalam kesunyian dan tumpukan manuskrip yang kerap dia banggakan ketika menemukan sebuah hipotesis baru dari bacaannya yang tak pernah berhenti, kami bertiga dengan almarhum Samsu Rizal Panggabean selalu berhenti ketika menikmati Firth of Fifth dari Genesis dan Comfortably Numb-nya Pink Floyd. Selamat Jalan, Nyong. Mengopi dan merokoklah Bersama Rizal disudut Café Surgawi yang telah kau tapaki jejaknya. Aku akan bergabung pada saatnya nanti, persis seperti di kosan bak asrama yang telah kau tuliskan panduannya untuk Sekolah Sukma Bangsa di Aceh.

 

Igfirlahuma warhamhuma wa’afihuma. Amin. ●

Sumber :   https://mediaindonesia.com/opini/940695/menelusuri-jejak-sejarah-teks-kitab-suci-megenang-taufik-adnan-amal-dan-kegigihan-akademiknya  

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar