|
Belajar dari Shenzhen–Hong Kong: Inovasi Tak
Mengenal Batas Eko
Ruddy Cahyadi : Dosen Departemen Manajemen IPB University |
KOMPAS.COM, 22 September 2026
|
Pada pertengahan September 2026, saya berkesempatan mendampingi
mahasiswa Program Magister Ilmu Manajemen IPB University dalam kunjungan
akademik internasional ke Shenzhen dan Hong Kong. Melalui perjalanan ini kami belajar secara langsung manajemen
inovasi dan teknologi dari universitas kelas dunia, perusahaan AI, serta
inkubator bisnis yang telah terbukti menghasilkan ekosistem inovatif global. Shenzhen merupakan pusat teknologi dan inovasi global. Klaster
inovasi Shenzhen–Hong Kong–Guangzhou kembali menempati peringkat pertama
dunia dalam Global Innovation Index 2026 yang dirilis World Intellectual
Property Organization (WIPO), mengungguli Tokyo–Yokohama dan Silicon Valley. Pada 2025, Shenzhen mencatat 21,45 juta paten yang diberikan
(delapan tahun berturut-turut nomor satu di Tiongkok), 19.660 permohonan PCT
internasional (22 tahun berturut-turut teratas di tingkat kota), serta lebih
dari 26.000 perusahaan high-tech. R&D intensity Shenzhen mencapai 6,67 persen, tertinggi di
antara kota-kota Tiongkok, dengan kontribusi perusahaan mencapai lebih dari
90 persen. Hong Kong, di sisi lain, adalah hub perdagangan, keuangan, dan
investasi. Kota ini mempertahankan posisi sebagai pusat keuangan Asia nomor
satu dan global nomor tiga dalam Global Financial Centres Index 2026. Aset under management industri wealth dan asset management Hong
Kong mencapai rekor 42,2 triliun dollar AS (sekitar 5,4 triliun dollar AS)
pada akhir 2025, dengan net inflow yang melonjak tajam. Hong Kong juga menjadi pasar IPO terbesar dunia pada 2025 dan
pusat bisnis RMB offshore terbesar. Kombinasi Shenzhen sebagai “pabrik
inovasi” dan Hong Kong sebagai “jendela modal serta konektivitas global”
menciptakan sinergi yang jarang ditemukan di tempat lain. AI Bukan Lagi Sekadar Teknologi Pendukung Salah satu pembelajaran penting datang dari School of Management
and Economics (SME), CUHK-Shenzhen. SME menunjukkan bagaimana AI dapat diintegrasikan ke dalam
pendidikan ekonomi dan manajemen, bukan sekadar diajarkan sebagai mata kuliah
teknologi. Pendekatan kuantitatif, machine learning, data analytics, dan
riset menjadi bagian dari cara memahami persoalan ekonomi dan bisnis. Pendekatan tersebut diperkuat dengan keberadaan School of
Artificial Intelligence (SAI) yang didirikan pada 2025. Fokusnya mencakup
cognitive science, generative AI, embodied intelligence, dan aplikasi lintas
disiplin. Bagi perguruan tinggi seperti IPB University, pelajaran
pentingnya bukan semata-mata membangun program studi AI. Yang lebih penting adalah bagaimana AI ditempatkan sebagai
kemampuan lintas disiplin untuk memecahkan persoalan sektor yang menjadi
kekuatan institusi, termasuk pertanian, pangan, lingkungan, dan sumber daya
alam. Data Geospasial Jadi Jembatan antara AI dan Pertanian Peluang tersebut terlihat lebih konkret dalam diskusi dengan
Ambit Geospatial Solution. Perusahaan tersebut mengembangkan teknologi yang menggabungkan
data geospasial, pemetaan 3D, LiDAR, drone, dan AI. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa nilai teknologi bukan hanya
terletak pada kemampuan mengumpulkan data, tetapi pada kemampuan mengubah
data spasial menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil
keputusan. Kombinasi ini memiliki relevansi langsung dengan sektor pertanian
Indonesia. IPB memiliki keahlian dalam agronomi, epidemiologi tanaman,
sistem pertanian tropis, serta jaringan dan pengetahuan lapangan. Sementara
teknologi geospasial dapat menyediakan data mengenai kondisi lahan secara
lebih detail. Jika keduanya diintegrasikan, teknologi AI dapat diarahkan untuk
berbagai kebutuhan, seperti deteksi dini penyakit tanaman, prediksi potensi
kebakaran, optimasi irigasi, hingga pemetaan produktivitas lahan. Dengan demikian, AI tidak berhenti sebagai teknologi analisis,
tetapi menjadi bagian dari sistem pengambilan keputusan di tingkat lahan. Drone Bagian dari Sistem Hal serupa terlihat dari diskusi dengan World UAV Federation
(WUAVF). Drone kini digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari smart city,
penanganan kebakaran hingga pertanian. Bagi Indonesia, perkembangan tersebut relevan karena karakter
geografis yang luas dan kondisi lahan yang beragam membuat pengumpulan data
lapangan menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan pertanian. Namun, nilai strategis drone bukan semata-mata pada perangkatnya.
Integrasi drone dengan sensor, data geospasial, cloud computing, dan AI
memungkinkan data lapangan diolah menjadi informasi yang dapat digunakan
untuk pemantauan dan prediksi. Artinya, perkembangan teknologi perlu dilihat sebagai sebuah
rantai nilai data, mulai dari akuisisi, pengolahan, analisis hingga
pengambilan keputusan. Ekosistem Inovasi Pembelajaran lain datang dari Cyberport Hong Kong. Sebagai
ekosistem startup digital, Cyberport mempertemukan perusahaan rintisan dengan
pendanaan, mentor, teknologi, dan jejaring pasar. Pertemuan dengan sejumlah startup di sana menunjukkan bahwa
inovasi tidak hanya membutuhkan ide dan teknologi. Akses terhadap ekosistem
menjadi faktor penting agar inovasi dapat berkembang menjadi bisnis dan
kemudian masuk ke pasar. Keterbukaan terhadap talenta dan jejaring internasional juga
menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Dalam konteks Indonesia, model
seperti ini dapat menjadi referensi untuk memperkuat hubungan antara
perguruan tinggi, startup, industri, investor, dan pemerintah. Peran diaspora juga menarik. Dennis Tedja, Cyberport Ambassador
untuk Indonesia, memfasilitasi pertemuan dengan sejumlah startup sehingga
hubungan antar-ekosistem tidak berhenti pada kunjungan, tetapi dapat membuka
ruang komunikasi dan penjajakan kolaborasi. Dari Teknologi menjadi Ekosistem Dari Shenzhen dan Hong Kong, terdapat setidaknya tiga hal yang
relevan bagi Indonesia. Pertama, AI akan semakin bernilai ketika dipadukan dengan
keahlian sektoral. Teknologi yang sama dapat menghasilkan dampak berbeda
ketika diterapkan pada persoalan yang spesifik, seperti pertanian dan pangan. Kedua, data merupakan infrastruktur penting bagi inovasi. AI,
drone, dan teknologi geospasial membutuhkan data berkualitas agar dapat
menghasilkan keputusan yang dapat digunakan. Ketiga, inovasi membutuhkan ekosistem. Perguruan tinggi tidak
dapat bekerja sendiri. Penelitian membutuhkan akses terhadap teknologi,
industri membutuhkan pengetahuan, startup membutuhkan pasar dan pendanaan,
sementara pemerintah dapat menyediakan kebijakan dan infrastruktur pendukung. Bagi pendidikan tinggi, kombinasi tersebut membuka peluang untuk memperluas
posisi perguruan tinggi bukan hanya sebagai penghasil pengetahuan, tetapi
juga sebagai penghubung antara riset, teknologi, industri, dan kebutuhan
masyarakat. Seperti halnya IPB yang memiliki kekuatan di bidang pertanian dan
pangan, ini dapat menjadi basis untuk mengembangkan kolaborasi teknologi yang
lebih spesifik, terutama dalam menghadapi tantangan produktivitas, perubahan
iklim, ketahanan pangan, dan efisiensi sumber daya. Pada akhirnya, pelajaran utama dari Shenzhen dan Hong Kong bukan
sekadar mengenai seberapa maju teknologi yang digunakan, tetapi bagaimana
teknologi, pengetahuan, data, manusia, dan modal dipertemukan untuk
menghasilkan solusi. ● |
Sumber
: https://money.kompas.com/read/2026/09/22/203031926/belajar-dari-shenzhenhong-kong-inovasi-tak-mengenal-batas?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar