Kamis, 24 September 2026

 

Belajar dari Shenzhen–Hong Kong: Inovasi Tak Mengenal Batas

Eko Ruddy Cahyadi :  Dosen Departemen Manajemen IPB University

KOMPAS.COM, 22 September 2026

 

 

                                                           

Pada pertengahan September 2026, saya berkesempatan mendampingi mahasiswa Program Magister Ilmu Manajemen IPB University dalam kunjungan akademik internasional ke Shenzhen dan Hong Kong.

 

Melalui perjalanan ini kami belajar secara langsung manajemen inovasi dan teknologi dari universitas kelas dunia, perusahaan AI, serta inkubator bisnis yang telah terbukti menghasilkan ekosistem inovatif global.

 

Shenzhen merupakan pusat teknologi dan inovasi global. Klaster inovasi Shenzhen–Hong Kong–Guangzhou kembali menempati peringkat pertama dunia dalam Global Innovation Index 2026 yang dirilis World Intellectual Property Organization (WIPO), mengungguli Tokyo–Yokohama dan Silicon Valley.

 

Pada 2025, Shenzhen mencatat 21,45 juta paten yang diberikan (delapan tahun berturut-turut nomor satu di Tiongkok), 19.660 permohonan PCT internasional (22 tahun berturut-turut teratas di tingkat kota), serta lebih dari 26.000 perusahaan high-tech.

 

R&D intensity Shenzhen mencapai 6,67 persen, tertinggi di antara kota-kota Tiongkok, dengan kontribusi perusahaan mencapai lebih dari 90 persen.

 

Hong Kong, di sisi lain, adalah hub perdagangan, keuangan, dan investasi. Kota ini mempertahankan posisi sebagai pusat keuangan Asia nomor satu dan global nomor tiga dalam Global Financial Centres Index 2026.

 

Aset under management industri wealth dan asset management Hong Kong mencapai rekor 42,2 triliun dollar AS (sekitar 5,4 triliun dollar AS) pada akhir 2025, dengan net inflow yang melonjak tajam.

 

Hong Kong juga menjadi pasar IPO terbesar dunia pada 2025 dan pusat bisnis RMB offshore terbesar. Kombinasi Shenzhen sebagai “pabrik inovasi” dan Hong Kong sebagai “jendela modal serta konektivitas global” menciptakan sinergi yang jarang ditemukan di tempat lain.

 

AI Bukan Lagi Sekadar Teknologi Pendukung

 

Salah satu pembelajaran penting datang dari School of Management and Economics (SME), CUHK-Shenzhen.

 

SME menunjukkan bagaimana AI dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan ekonomi dan manajemen, bukan sekadar diajarkan sebagai mata kuliah teknologi. Pendekatan kuantitatif, machine learning, data analytics, dan riset menjadi bagian dari cara memahami persoalan ekonomi dan bisnis.

 

Pendekatan tersebut diperkuat dengan keberadaan School of Artificial Intelligence (SAI) yang didirikan pada 2025. Fokusnya mencakup cognitive science, generative AI, embodied intelligence, dan aplikasi lintas disiplin.

 

Bagi perguruan tinggi seperti IPB University, pelajaran pentingnya bukan semata-mata membangun program studi AI.

 

Yang lebih penting adalah bagaimana AI ditempatkan sebagai kemampuan lintas disiplin untuk memecahkan persoalan sektor yang menjadi kekuatan institusi, termasuk pertanian, pangan, lingkungan, dan sumber daya alam.

 

Data Geospasial Jadi Jembatan antara AI dan Pertanian

 

Peluang tersebut terlihat lebih konkret dalam diskusi dengan Ambit Geospatial Solution.

 

Perusahaan tersebut mengembangkan teknologi yang menggabungkan data geospasial, pemetaan 3D, LiDAR, drone, dan AI.

 

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa nilai teknologi bukan hanya terletak pada kemampuan mengumpulkan data, tetapi pada kemampuan mengubah data spasial menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.

 

Kombinasi ini memiliki relevansi langsung dengan sektor pertanian Indonesia.

 

IPB memiliki keahlian dalam agronomi, epidemiologi tanaman, sistem pertanian tropis, serta jaringan dan pengetahuan lapangan. Sementara teknologi geospasial dapat menyediakan data mengenai kondisi lahan secara lebih detail.

 

Jika keduanya diintegrasikan, teknologi AI dapat diarahkan untuk berbagai kebutuhan, seperti deteksi dini penyakit tanaman, prediksi potensi kebakaran, optimasi irigasi, hingga pemetaan produktivitas lahan.

 

Dengan demikian, AI tidak berhenti sebagai teknologi analisis, tetapi menjadi bagian dari sistem pengambilan keputusan di tingkat lahan.

 

Drone Bagian dari Sistem

 

Hal serupa terlihat dari diskusi dengan World UAV Federation (WUAVF). Drone kini digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari smart city, penanganan kebakaran hingga pertanian.

 

Bagi Indonesia, perkembangan tersebut relevan karena karakter geografis yang luas dan kondisi lahan yang beragam membuat pengumpulan data lapangan menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan pertanian.

 

Namun, nilai strategis drone bukan semata-mata pada perangkatnya. Integrasi drone dengan sensor, data geospasial, cloud computing, dan AI memungkinkan data lapangan diolah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk pemantauan dan prediksi.

 

Artinya, perkembangan teknologi perlu dilihat sebagai sebuah rantai nilai data, mulai dari akuisisi, pengolahan, analisis hingga pengambilan keputusan.

 

Ekosistem Inovasi

 

Pembelajaran lain datang dari Cyberport Hong Kong. Sebagai ekosistem startup digital, Cyberport mempertemukan perusahaan rintisan dengan pendanaan, mentor, teknologi, dan jejaring pasar.

 

Pertemuan dengan sejumlah startup di sana menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya membutuhkan ide dan teknologi. Akses terhadap ekosistem menjadi faktor penting agar inovasi dapat berkembang menjadi bisnis dan kemudian masuk ke pasar.

 

Keterbukaan terhadap talenta dan jejaring internasional juga menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Dalam konteks Indonesia, model seperti ini dapat menjadi referensi untuk memperkuat hubungan antara perguruan tinggi, startup, industri, investor, dan pemerintah.

 

Peran diaspora juga menarik. Dennis Tedja, Cyberport Ambassador untuk Indonesia, memfasilitasi pertemuan dengan sejumlah startup sehingga hubungan antar-ekosistem tidak berhenti pada kunjungan, tetapi dapat membuka ruang komunikasi dan penjajakan kolaborasi.

 

Dari Teknologi menjadi Ekosistem

 

Dari Shenzhen dan Hong Kong, terdapat setidaknya tiga hal yang relevan bagi Indonesia.

 

Pertama, AI akan semakin bernilai ketika dipadukan dengan keahlian sektoral. Teknologi yang sama dapat menghasilkan dampak berbeda ketika diterapkan pada persoalan yang spesifik, seperti pertanian dan pangan.

 

Kedua, data merupakan infrastruktur penting bagi inovasi. AI, drone, dan teknologi geospasial membutuhkan data berkualitas agar dapat menghasilkan keputusan yang dapat digunakan.

 

Ketiga, inovasi membutuhkan ekosistem. Perguruan tinggi tidak dapat bekerja sendiri. Penelitian membutuhkan akses terhadap teknologi, industri membutuhkan pengetahuan, startup membutuhkan pasar dan pendanaan, sementara pemerintah dapat menyediakan kebijakan dan infrastruktur pendukung.

 

Bagi pendidikan tinggi, kombinasi tersebut membuka peluang untuk memperluas posisi perguruan tinggi bukan hanya sebagai penghasil pengetahuan, tetapi juga sebagai penghubung antara riset, teknologi, industri, dan kebutuhan masyarakat.

 

Seperti halnya IPB yang memiliki kekuatan di bidang pertanian dan pangan, ini dapat menjadi basis untuk mengembangkan kolaborasi teknologi yang lebih spesifik, terutama dalam menghadapi tantangan produktivitas, perubahan iklim, ketahanan pangan, dan efisiensi sumber daya.

 

Pada akhirnya, pelajaran utama dari Shenzhen dan Hong Kong bukan sekadar mengenai seberapa maju teknologi yang digunakan, tetapi bagaimana teknologi, pengetahuan, data, manusia, dan modal dipertemukan untuk menghasilkan solusi. ●

 

Sumber : https://money.kompas.com/read/2026/09/22/203031926/belajar-dari-shenzhenhong-kong-inovasi-tak-mengenal-batas?page=all#page2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar