|
Global NU Care dan Agenda Ekonomi Kerakyatan Munawir Aziz : Sekretaris PCI Nahdlatul Ulama United Kingdom
(2019-2022), penerima beasiswa studi & riset Georgetown University; IVLP
awardee 2026. |
MEDIA INDONESIA, 25 September 2026
|
NAHDLATUL Ulama (NU) telah merampungkan
perhelatan muktamar di Jombang pada Agustus lalu. KH Miftahul Akhyar
melanjutkan kepemimpinan sebagai rais am dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus
Kikin) mendapatkan amanat sebagai ketua umum. Di tengah dinamika sosial politik
yang dihadapi bangsa Indonesia dan kondisi geopolitik global, penting untuk
melihat masa depan Nahdlatul Ulama dalam konteks ekonomi kerakyatan.
Bagaimana menavigasi isu-isu strategis Nahdlatul Ulama di tengah kontestasi
geopolitik dan sosial-politik domestik? Abad kedua Nahdlatul Ulama sudah mulai terbuka
gerbangnya. Jutaan kader Nahdlatul Ulama dengan berbagai profesi, keahlian,
dan latar belakang menjadi kekuatan besar yang bisa dikonsolidasi untuk
mendorong khidmah yang lebih luas. Apalagi dengan kekuatan jemaah yang
jumlahnya sekitar 56%-67% dari populasi warga muslim, atau lebih dari 140-160
juta warga Indonesia (survei Alvara 2025), tentu mereka membutuhkan
kepemimpinan yang solid dan organisasi yang progresif. Pada saat ini, tantangan besar warga Nahdlatul
Ulama terutama di bidang kedaulatan ekonomi, penguatan sumber daya manusia,
dan mendorong infrastruktur pendidikan, kesehatan, dan sosial untuk bisa
memperbaiki kesejahteraan umat. Tentu saja, NU punya banyak keunggulan dalam
konteks community, resiliensi, kohesi sosial, dan nilai-nilai spiritual yang
terwariskan yang memperkukuh ikatan kultural, yang menjadi tautan antara
jemaah dan jam’iyyah, antara warga dan organisasinya. Di tengah dinamika global dan tantangan ekonomi
Indonesia sekarang ini, potensi-potensi Nahdlatul Ulama bisa menjadi kekuatan
yang dikonsolidasi, terutama di sektor sosial ekonomi kerakyatan. Saat ini,
gini ratio Indonesia
tercatat sebesar 0,375 yang menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya
(0,381 pada September 2024 dan 0,379 pada Maret 2024, data BPS). Tren itu
menunjukkan perbaikan ekonomi secara bertahap meski masih sangat rentan
terhadap guncangan. Sementara itu, Indonesia juga mencatat pencapaian SDGs
sebesar 62,5 % yang lebih tinggi daripada rata-rata global sebesar 18% (data
Bappenas 2025). Pada titik itu, Indonesia mempunyai kekuatan sebagai bangsa
yang welas asih. Potensi dana filantropi Indonesia diperkirakan mencapai
lebih dari Rp650 triliun per tahun, yang mengacu pada proyeksi Kementerian
PPN/Bappenas. Potensi filantropi di internal jemaah Nahdlatul Ulama juga
sangat besar, yang masih bisa dikembangkan menjadi kekuatan raksasa untuk
mendorong kesejahteraan warga secara berkesinambungan. GLOBAL NU CARE Sebagai pengalaman, beberapa tahun terakhir,
penulis beruntung terlibat dalam kampanye pembangunan masjid Indonesia di
London dan Belgia. Ada banyak pihak yang terlibat, juga banyak organisasi
yang saling membantu, tapi pengalaman terlibat untuk mendiskusikan konsep,
mengonsolidasi, mendorong kampanye donasi dari dana umat, baik warga muslim
global maupun warga Indonesia yang berdiaspora maupun yang bermukim di Tanah
Air. Terutama bagaimana memahami dinamika filantropi global, ekosistem
digital dan isu-isu yang perlu kita sampaikan ke publik agar menjadi edukasi
untuk menggalang filantropi. Ide-ide itu saya diskusikan beberapa kali dengan
pengurus PBNU dan para pengurus di NU Care, bahwa sudah saatnya filantropi NU
bergerak ke ekosistem global. Penulis juga cukup sering berdiskusi dengan
beberapa aktivis filantropi internasional di London dan dalam kunjungan ke
beberapa negara Eropa, Australia, dan Amerika Serikat, bahwa framework yang
digunakan tidak sekadar mengais dana umat, tapi menggerakkan ekonomi
produktif sebagai ekosistem kesejahteraan. Pada konteks itu, penulis teringat
oleh perjuangan KH Sahal Mahfudh yang mendorong dan memberikan teladan
tentang zakat produktif. Global NU Care yang sudah diluncurkan beberapa
waktu lalu perlu diteruskan dan diperkuat kepemimpinan PBNU berikutnya.
Global NU Care, sebagai ekspansi ekosistem dari lembaga filantropi NU yang
sudah berjalan, yakni NU Care-Lazisnu, perlu dibaca dalam konteks ini: bukan
sekadar memperluas jangkauan penggalangan dana, melainkan juga membangun
arsitektur filantropi yang mengintegrasikan tiga kekuatan sekaligus:
diaspora, ekosistem digital, dan keuangan umat, untuk mendorong agenda
pemberdayaan, ekonomi hijau, dan penguatan tata kelola berbasis ESG
(environmental, social, governance). Kekuatan pertama ialah diaspora. Jejaring PCINU
selama ini lebih banyak berfungsi sebagai simpul silaturahim dan representasi
keagamaan di luar negeri. Padahal, di dalamnya tersimpan kapasitas
profesional yang signifikan, mulai periset di bidang teknologi, praktisi
keuangan syariah, hingga akademisi kebijakan publik. Model diaspora bonds
maupun diaspora giving yang telah terbukti efektif di negara-negara seperti
India dan Filipina bisa menjadi rujukan: dana dan keahlian dari diaspora
tidak sekadar dikirim sebagai remitansi konsumtif, tetapi dikanalisasi ke
dalam instrumen investasi sosial yang mendukung usaha mikro dan kecil di
kampung halaman. Kekuatan kedua ialah ekosistem digital.
Filantropi NU sudah bergerak ke arah yang tepat, mendorong basis ekosistem
digital melalui ekosistem NU Care dan NU Online. Digitalisasi zakat, infak,
dan wakaf telah terbukti meningkatkan volume penghimpunan secara signifikan
di berbagai lembaga filantropi Islam global. Global NU Care ke depan perlu
memperkuat platform digital terintegrasi yang tidak hanya memfasilitasi
donasi, tetapi juga menyediakan transparansi penyaluran secara real-time,
sesuatu yang menjadi prasyarat kepercayaan generasi muda muslim yang semakin
melek digital dan semakin kritis terhadap akuntabilitas lembaga filantropi. Kekuatan ketiga ialah keuangan umat dalam
pengertian yang lebih luas, bukan hanya zakat dan wakaf, melainkan juga
potensi dana yang dikelola, unit usaha milik NU, serta instrumen keuangan
sosial seperti wakaf produktif dan instrumen lain yang bisa dikembangkan.
Konsolidasi ketiganya membuka ruang bagi NU untuk membangun dana abadi
(endowment fund) yang dikelola secara profesional, dengan hasil investasinya
dialokasikan untuk program pemberdayaan ekonomi jangka panjang, bukan sekadar
bantuan karitatif yang habis begitu disalurkan. Kita melihat bagaimana beberapa pengurus cabang
NU menggerakkan koin NU serta program zakat-wakaf yang cukup inspiratif.
Program air bersih, bisnis travel dan
transportasi, wirausaha pangan lokal, pesantren hijau dan kisah-kisah saling
menginspirasi dari cabang-cabang NU Care. Juga, NU Care Jawa Timur yang
berhasil mengelola dana hingga Rp1,5 triliun sepanjang 2025. Jika
dikonsolidasi dengan ekosistem yang kuat, potensi uang yang dikelola bisa
mencapai ratusan triliun dari warga pada tiap tahunnya yang dapat menjadi
instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan umat. EKONOMI HIJAU DAN ESG Kerja strategis yang membuat momentum itu semakin
relevan ialah persinggungannya dengan agenda ekonomi hijau dan ESG. Transisi
energi dan pembiayaan berkelanjutan kini menjadi arus utama kebijakan ekonomi
global, termasuk di Indonesia melalui berbagai komitmen net-zero emission.
Nahdlatul Ulama dengan basis massa yang tersebar hingga ke wilayah perdesaan
dan pesisir memiliki posisi penting untuk menjadi mitra strategis pemerintah
dan lembaga multilateral dalam implementasi program keberlanjutan di tingkat
akar rumput: mulai energi terbarukan skala komunitas, pertanian regeneratif
berbasis pesantren, hingga literasi ESG bagi pelaku UMKM binaan NU.
Filantropi hijau semacam itu sekaligus menjawab tuntutan generasi muda
nahdliyin yang semakin peduli isu iklim, sekaligus membuka akses pendanaan
internasional yang kian mensyaratkan kredensial keberlanjutan. Namun, ambisi itu tidak akan berjalan tanpa tata
kelola yang kredibel. Kisah-kisah dan track record lembaga filantropi global
menunjukkan kepercayaan publik dibangun melalui transparansi laporan
keuangan, audit independen, dan pelaporan dampak yang terstandardisasi, bukan
sekadar narasi keagamaan. Tentu saja, Global NU Care perlu mengadopsi standar
pelaporan yang setara dengan lembaga filantropi internasional, sekaligus
membuka ruang kemitraan dengan lembaga donor global, dana pensiun berbasis
syariah, dan multiinvestor yang mencari mitra implementasi tepercaya di
tingkat lokal. Global NU Care bisa menjadi platform untuk
mengubah jaringan NU internasional menjadi network of solidarity and
opportunity. PCINU di berbagai negara dapat berfungsi sebagai simpul
pengetahuan, jaringan filantropi, dan diplomasi sosial. Pada sisi lain, produk
pesantren dan UMKM tidak berhenti di pasar lokal. Santri yang memiliki
kompetensi digital dapat terhubung dengan mentor global. Peneliti muda dapat
mengakses jaringan akademik internasional serta program-program inovasi di
lingkungan pesantren dan ekosistem Nahdlatul Ulama dapat menemukan momentum
dan peningkatan akses. Dengan kata lain, global network harus menghasilkan
global opportunity. Walhasil, Global NU Care menjadi narasi nyata
tentang mereposisi NU dari organisasi yang selama ini dikenal sebagai
penyedia layanan sosial dan keagamaan menjadi simpul produksi inovasi ekonomi
kerakyatan yang terhubung dengan jaringan global. Jika dikelola dengan
disiplin kelembagaan yang tepat, konsolidasi diaspora, digitalisasi, dan
keuangan umat itu berpotensi menjadikan NU bukan hanya organisasi masyarakat
sipil terbesar di dunia dari sisi jumlah anggota, melainkan juga salah satu
kekuatan filantropi paling berpengaruh dalam mendorong ekonomi kerakyatan
yang menyejahterakan dan pemberdayaan berkelanjutan, yang menjadi khidmah
bersama pada momentum abad kedua. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/937383/global-nu-care-dan-agenda-ekonomi-kerakyatan
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar