|
ACT III – Eksplikatio Filsafat Ilmu Elkata
Agustinus Batistuta Atua : Penggiat
Teori Kekuasaan, Post-Modernisme/Positivisme, Filsafat Hubungan
Internasional. |
KUMPARAN, 27 September 2026
|
Saya akan membuka ziarah
kognitif yang menjadi kontinuitas dari risalah sebelumnya dengan melakukan
pemetaan kembali atas pondasi-pondasi awal yang telah diletakkan. Pada diskursus awal,
dialektika dipusatkan pada hakikat pengetahuan dan penalarannya. Pengetahuan,
dalam lanskap pemikiran tradisional, bahkan termasuk tradisi pemikiran India,
senantiasa berkelindan dengan pelacakan terhadap kebenaran. Akan tetapi, kebenaran
itu bukanlah sebuah entitas tunggal yang monoton, ia adalah sebuah
batas-batas kebenaran yang senantiasa diuji oleh kapasitas rasionalitas
manusia. Dalam dua risalah
terdahulu yang ekstensif sudah saya paparkan, terdapat rekapitulasi bagaimana
penjelajahan ini mengarah pada penelusuran atas tiga ranah posibilitas kerja
sains. Pembagian ranah menjadi
pengakuan atas limitasi sekaligus daya jangkau operasional dari sains itu
sendiri. Sains secara imanen beroperasi dalam ranah fisis, domain
materialitas yang terukur dan terlokalisasi dalam kerangka ruang dan waktu. Namun, efektivitas sains
tidak usai pada observasi empiris yang telanjang, karena ia menerobos masuk
ke dalam data fisis yang kerap kali tersusun atas asumsi-asumsi mendasar yang
bertindak sebagai perancah teori. Perancah ini adalah
konstruksi epistemik yang tidak nampak secara kasat mata pada permukaan
empiris, tetapi ia menjadi fundamen tak terhentikan yang membuat seluruh
bangunan teori ilmiah itu berdiri kokoh. Seorang pekerja sains
yang sejati tidak boleh terjerat dalam naivitas positivistik yang hanya
mengagungkan fenomena permukaan. Kerja sains yang kritis menuntut keberanian
untuk mengejar pengetahuan hingga ke akar-akar asumsinya, melakukan
dekontruksi terhadap pra-andaian yang membungkai cara pandang ilmiah. Keberanian ini memerlukan
fine-mindedness dan keluasan horison intelektual. Namun, di tengah akselerasi
capaian sains yang spektakuler, terselubung sebuah problem metodologis yang
seakan kekal, yaitu pencarian kebenaran tetaplah sebuah problem. Kebenaran ideal, yaknj
sebuah kebenaran absolut yang imutabel dan serba lengkap, tetap menjadi
bayang-bayang yang tak pernah sepenuhnya tergenggam oleh pengamatan langsung. Apa yang berhasil diraih
oleh sains bukanlah realitas an sich, tapi relasi-relasi antar-fenomena,
skema korelasi, serta model-model matematis yang merepresentasikan
aspek-aspek tertentu dari dunia material. Aspek limitatif ini,
ironisnya, tidak melumpuhkan sains. Justru di dalam keterbatasan objektif
inilah sains membuktikan daya metamorfisisnya yang masif. Sains mendikte dan
memandu perubahan-perubahan besar dalam sejarah peradaban, merekayasa dunia
material lewat berbagai penciptaan perangkat-perangkat teknologis, dan
merestrukturisasi medan eksistensi manusia secara menyeluruh. Keberhasilan praksis
sains ini berakar pada pemahaman bahwa makna kebenaran ilmiah sangat dependen
pada orientasi ekosistemis atau orientasi epistemik yang dihidupi oleh para
pelakunya. Tanpa mengenali bingkai
epistemik ini, analisis terhadap diskursus sains akan selalu terancam oleh
kemerosotan menjadi perdebatan emosional dan destruktif. Pengenalan terhadap
orientasi epistemik ini bertindak sebagai alat navigasi kritis. Ketika saya menelaah
karya-karya pemikir seperti Richard Dawkins yang polemis, Immanuel Kant yang
kritis, René Descartes yang rasionalis-deduktif, atau Stephen Hawking yang
kosmologis, seorang pembelajar filsafat tidak boleh secara gebyah-uyah
mengompilasi seluruh pandangan tersebut ke dalam satu kuali reduksionis. Masing-masing pemikir
beroperasi di atas fondasi epistemik yang spesifik, dengan asumsi-asumsi
metafisis, batas-batas metodologis, dan klaim kebenaran yang berbeda. Di
titik perpotongan inilah kita diperkenalkan pada persoalan paling elementer
yang menjadi fokus inti risalah ini, yakni tumpang tindih makna kebenaran
antara sains, teologi, dan filsafat. Ketiga disiplin besar ini
menjadi wilayah-wilayah intelektual yang saling mengarsir, saling
menginterogasi, dan tak jarang saling bersitegang sepanjang sejarah
kebudayaan manusia. Untuk memahami dinamika
irisan ini, eksplanasinya mensyaratkan pelacakan historis-filosofis hingga ke
masa Abad Pertengahan, era di mana perdebatan teologis justru menjadi pemicu
utama bagi sekularisasi sains dan kelahiran empirisisme modern. Untuk memaknai pergeseran
historis tersebut, kita mesti terlebih dahulu membedakan secara rigoris
topografi kognitif dari ketiga ranah ini, sains, filsafat, dan teologi.
Ketiganya beroperasi dengan objek material, objek formal, serta teori
kebenaran yang memiliki genealogi dan implikasi yang sangat berbeda. Sains, dalam pengertian
modernnya, diturunkan secara etimologis dari diksi Latin scientia. Tetapi,
perkembangan evolusioner makna kata ini memperlihatkan sebuah patahan yang
tajam. Scientia pada Abad
Pertengahan tidak dapat disamakan begitu saja dengan sains modern. Pada era
Yunani Kuno, konsep pengetahuan dirumuskan melalui kategorial episteme, yaitu
pengetahuan yang sistematis, teratur, dan terjustifikasi, yang dibedakan
secara tegas dari techne (keterampilan rekayasa atau seni). Dalam evolusinya, sains
membagikan dirinya ke dalam beberapa manifestasi operasional. Pertama, Sains
Real/Empiris yang meliputi ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan ilmu-ilmu
sosial/humaniora yang mengkaji entitas-entitas konkret di dalam kerangka
ruang dan waktu. Sains dalam ranah ini melacak kebenaran ilmiah melalui
observasi, eksperimentasi, dan verifikasi faktual. Kedua, Sains Formal yang
meliputi logika dan matematika, yang tidak mengkaji entitas empiris secara
langsung, tapi mengartikulasikan struktur-struktur hubungan formal dan
abstraksi rasional. Ketiga, Sains Terapan dan
Rekayasa, dimana penerapan prinsip-prinsip sains murni untuk merekayasa dunia
material. Di sini dibedakan secara tegas antara ilmu rekayasa dan teknologi. Teknologi memiliki
cakupan makna yang jauh lebih luas, melingkupi dimensi kebudayaan,
kelembagaan, dan alat-alat mekanis. Kebenaran dalam sains alam dan sosial
beroperasi di bawah prinsip veritas, yaitu sebuah pengertian yang berakar
pada tradisi hukum Romawi. Kebenaran ilmiah
merupakan tested truth, yang membutuhkan bukti-bukti empiris dan keterujian
metodologis. Corak kebenaran ini bersifat manusiawi, fana, dan tentatif. Kebenaran ilmiah tidak
pernah mengklaim status absolut, karena ia senantiasa terbuka untuk
dikoreksi, direvisi, atau ditumbangkan oleh penemuan-penemuan baru di masa
depan. Di sisi lain, filsafat
bergerak pada aras refleksi terhadap realitas secara menyeluruh. Filsafat
tidak mengumpulkan data empiris tingkat pertama, tapi melakukan refleksi
kritis tingkat kedua (second-order reflection) terhadap data dan asumsi yang
dihasilkan oleh sains serta pengalaman eksistensial manusia. Ruang gerak filsafat
terbagi ke dalam skema ontologis dan aksiologis yang luas. Ada bagian
Ontologi dan Metafisika, yang tugasnya menjejaki hakikat dari "yang
ada" (being), baik yang tercerap oleh indera (sensible reality) maupun
yang tidak tercerap oleh indera (meta-sensible reality). Ada juga cabang
Epistemologi dan Filsafat Ilmu, yang berfokus untuk menelaah syarat-syarat
posibilitas dan probabilitas pengetahuan, batas-batas apa yang dapat
diketahui manusia dari realitas, serta metode-metode ilmiah yang dipandu oleh
logika. Dan yang berikutnya
adalah Aksiologi, yang mencakul etika dan estetika, yang merefleksikan
nilai-nilai kebaikan, tindakan rasional, serta keindahan. Pengertian
kebenaran dalam filsafat menyentuh kategorial Yunani aletheia, penyingkapan
atas apa yang tadinya tersembunyi. Kebenaran filosofis
merupakan kebenaran epistemik yang dicapai lewat ketajaman penalaran,
analisis konseptual, dan sintesis metafisis. Sama seperti sains, corak
kebenaran filosofis bersifat manusiawi dan epistemis, berumpu pada kapasitas
daya nalar manusia di dalam mengartikulasikan struktur eksistensi. Sementara itu, teologi,
yang secara harfiah berasal dari kata theos (Tuhan) dan logos
(perkataan/wacana), menghadapi problematika ontologis yang unik. Subjek pengetahuannya
adalah manusia, tali objek kajiannya adalah Yang Ilahi. Ini yang saya sering
ucapkan bahwa karena manusia terbatas secara radikal, pemahaman teologis
didasarkan pada wahyu yang lalu ditanggapi oleh manusia melalui pengalaman
iman. Dalam perkembangannya,
teologi diorganisasikan sebagai sebuah refleksi sistematis atas pengalaman
iman tersebut. Perlu diingat bahwa, struktur teologi terbagi ke dalam
beberapa cabang utama. Ada Teologi Dasar yang
mengkaji wahyu, hakikat iman, serta hubungan mendasar antara iman dan akal
budi (fides et ratio). Berikutnya Eksegese dan Hermeneutika Kitab Suci,
dimana terdapat tafsir kritis atas teks-teks sakral dengan memanfaatkan
ilmu-ilmu bantu seperti linguistik, filologi, dan analisis sastra. Lalu Teologi Dogmatik
yang berfokus untuk mengartikulasikan ajaran-ajaran pokok iman, hakikat
pencipta, eskatologi, dan doktrin keselamatan (soteriologi). Serta Teologi
Praksis, yang meliputi teologi moral, liturgi, dan spiritualitas yang
mengarahkan kehidupan komunitas beriman di dunia. Kebenaran dalam teologi
mengakar pada konsep Ibrani emet (atau amin), yang menandakan kepastian,
keandalan, keutuhan, dan kesetiaan janji ilahi. Kebenaran teologis itu
sifatnya kudus, ajeg, dan tidak batal. Kendati demikian, metoda
kajian teologi tetap bersifat metodis, sistematis, dan koheren. Teologi
memerlukan ketajaman argumentatif, karena mengkalkulasi kaidah-kaidah logika,
menguji konsistensi premis, dan mengartikulasikan doktrin secara
komprehensif. Ketiga disiplin ini tidak
berdiri secara terpisah tanpa komunikasi. Sebaliknya, terdapat irisan-irisan
ontologis dan praksis yang tidak terhindarkan. Baik sains, filsafat, maupun
teologi dipraktikkan oleh subjek pengetahu yang sama, yakni manusia yang
hidup di dunia fisis. Irisan ini tampak sangat
jelas pada kawasan-kawasan seperti kosmologi. Dalam serpihan paparan yang
saya ambil dari Dr. Karlina Supelli, kosmologi saintifik yang mengkaji
struktur ruang-waktu serta gaya-gaya fundamental alam semesta (seperti
gravitasi, elektromagnetisme, gaya nuklir kuat, dan gaya nuklir lemah)
bersentuhan secara langsung dengan refleksi filsafat ketuhanan dan teologi
penciptaan. Penemuan saintifik
mengenai fenomena fine-tuning (penetapan yang sangat halus dari
konstanta-konstanta alam semesta yang memungkinkan lahirnya kehidupan)
menjadi bahan refleksi filosofis untuk menalar apakah ketertataan tersebut
adalah kebetulan yang acak atau petunjuk atas sebuah prinsip rasional yang
melampaui alam material. Untuk memaknai bagaimana
sains modern melepaskan diri dari teologi dan filsafat, kita mesti kembali ke
titik balik sejarah pada Abad Pertengahan, khususnya pada akhir abad ke-13. Sebuah narasi populer
yang kerap terepetisi di ruang publik menyatakan bahwa sekularisasi lahir
dari agresi sains kontemporer terhadap dogmatisme teologi. Akan tetapi, analisis
historis-filosofis yang cermat mendekonstruksi naivitas mitos tersebut. Benih
utama dari sekularisasi sains malah lahir dari interior teologi itu sendiri,
sebagai hasil dari upaya para teolog Abad Pertengahan untuk memecahkan dilema
teologis terkait kemahakuasaan Tuhan. Pada puncak Abad
Pertengahan, peripatetisisme Aristoteles masuk kembali ke dalam dunia Barat
Kristen lewat terjemahan dan komentari dari para filsuf Islam seperti Ibn
Sina (Avicenna) dan Ibn Rusyd (Averroes). Logika Aristotelian
menawarkan skema rasionalitas yang begitu luar biasa ketat, yang segera
diadopsi oleh para skolastik untuk membangun teologi yang rasional (fides
quaerens intellectum, iman mencari pemahaman). Akan tetapi, saya berkonklusi
bahwa kosmologi Aristoteles membawa implikasi filosofis yang sangat berbahaya
bagi ortodoksi Kristiani. Aristoteles mengajarkan
bahwa alam semesta ini bersifat kekal, terbatas, dan berbentuk bola bundar
sempurna, di mana tidak ada ruang kosong ataupun eksistensi di luar batas
alam semesta tersebut. Menurut logika
peripatetik, pergerakan alam semesta haruslah melingkar sempurna, karena
pergerakan lurus akan memerlukan ruang ekstra di luar alam semesta, sesuatu
yang secara logis ditolak oleh Aristoteles. Implikasi teologis dari
filsafat ini sangat radikal, karena bila alam semesta dibatasi oleh
determinisme mekanis dan logika Aristotelian, di manakah posisi Tuhan? Apakah
Tuhan terikat oleh hukum-hukum logika yang diciptakan-Nya sendiri? Hal ini sempat saya
dedahkan dalam risalah awal kosmologi yang saya tulis. Perdebatan ini
memuncak pada terbitnya Kondemnasi Paris 1277 oleh Uskup Etienne Tempier.
Kondemnasi ini mengutuk tesis-tesis Aristotelian yang dianggap membatasi
kebebasan absolut dan kemahakuasaan Tuhan. Dekret ini menegaskan
dikotomi mendasar dalam teologi scholastic, bahwa kemahakuasaan absolut
Tuhan, di mana Tuhan memiliki kebebasan tak terbatas untuk melakukan apa saja
yang secara logis tidak kontradiktif, termasuk melanggar atau mengubah hukum
alam kapan saja Dia menghendakinya. Terdapat juga pandangan
bahwa penyelenggaraan tatanan dunia yang biasa, di mana Tuhan bertindak
melalui hukum-hukum alam yang telah Ditetapkan-Nya. Problem ini menjadi
semakin akut disaat berhadapan dengan fenomena mukjizat. Secara hukum alam, kertas
yang terkena api pasti terbakar, atau manusia yang dimasukkan ke dalam tungku
api yang membara pasti hangus. Namun, bila saya meminjam
teks Alkitab yang merekam peristiwa di mana tiga sahabat Naabi Daniel selamat
di dalam tungku api Nebukadnezar tanpa terbakar sedikit pun, timbul
kuriositas, bagaimana mengoperasionalkan paradoks ini tanpa merusak
konsistensi logika? Di sinilah William dari
Ockham, seorang teolog ordo Fransiskan dari Oxford pada awal abad ke-14,
tampil membawa revolusi konseptual yang meruntuhkan konstruksi metafisika
Abad Pertengahan. Tokoh-tokoh teologi
sebelumnya, seperti Thomas Aquinas (representasi tradisi Thomisme),
menggengam teguh realism metafisis mengenai universalia. Menurut pandangan
realisme skolastik, universalia (konsep-konsep umum seperti keperempuanan,
kekucingan, kemawaran) nerupakan forma metafisis real yang eksis di dalam
benak Tuhan sebagai ide-ide ilahi (ideae divinae) sebelum penciptaan, dan
terwujud di dalam entitas-entitas individual di dunia. Struktur ontologis ini
mengikat dunia material secara erat dengan esensi ilahi, dimana ciptaan
memiliki partisipasi sakral dalam tatanan metafisis ilahi. Ockham memandang bahwa
doktrin universalia ini secara terselubung telah membelenggu kemahakuasaan
Tuhan. Bula Tuhan harus menciptakan dunia berdasarkan esensi-esensi universal
yang mendahului penciptaan, maka kebebasan Tuhan dibatasi oleh blueprint
metafisis tersebut. Untuk membela kebebasan
mutlak Tuhan (Potensia Dei Absoluta), Ockham melakukan penebasan metafisis
yang radikal yang kelak dikenal sebagai Ockham's Razor: Entia non sunt
multiplicanda praeter necessitatem (Asumsi atau entitas tidak boleh
diperbanyak jika tidak benar-benar diperlukan). Ia seakan mendeklarasikan
bahwa universalia sama sekali tidak memiliki eksistensi real di alam semesta
maupun sebagai forma metafisis. Universalia hanyalah nomen (nama), terminus
(istilah), atau abstraksi kognitif yang diciptakan oleh pikiran manusia untuk
mengelompokkan benda-benda partikular yang memiliki kemiripan permukaan. Pandangan inilah yang
nanti melahirkan arus Nominalisme. Implikasi dari nominalisme Ockham sungguh
sangat dahsyat dan memicu devolusi ontologis menyeluruh. Disaat universalia
dihancurkan, ikatan metafisis antara esensi ilahi dan dunia material
terputus. Alam semesta tidak lagi memancarkan esensi-esensi ilahi yang
tersimpan di dalam benda-benda. Dunia lalu menjadi
sekumpulan entitas partikular yang berdiri sendiri secara terisolasi. Dunia
adalah hasil dari kehendak mutlak Tuhan yang sewaktu-waktu dapat diubah,
bukan manifestasi dari tatanan esensial yang abadi. Bila yang ada secara real
hanyalah entitas partikular, maka manusia tidak mungkin mendapatkan
pengetahuan sejati lewat deduksi metafisis a priori terhadap konsep-konsep
universal. Pengetahuan hanya dapat
diperoleh melalui observasi langsung terhadap fakta. Logika deduktif hanyalah
permainan abstraksi di dalam kepala manusia, sementara pengetahuan faktual
tentang dunia fisis mensyaratkan penalaran induktif. Karena induksi selalu
ditarik dari sampel partikular yang limitatif untuk memberi konklusi terhadap
keseluruhan fenomena yang belum sepenuhnya terjadi, maka pengetahuan ilmiah
(scientia) secara radikal kehilangan status kepastian mutlaknya. Kebenaran ilmiah
bermetamorfosis menjadi pengetahuan yang bersifat probable (mentak/tentatif).
Prinsip falsifikasi dan kementakan yang di kemudian hari dirumuskan oleh
David Hume, Karl Popper, ataupun empirisisme modern, sebenarnya telah
menemukan benih rasionalnya di dalam filsafat nominalisme Ockham. Dalam skema nominalis,
Tuhan menjadi sosok yang seutuhnya melampaui rasionalitas manusia, sebagai
entitas yang absconditus (tersembunyi/tak terjangkau oleh nalar). Kehendak Tuhan tidak
dapat dideduksikan lewat argumen-argumen rasional-filosofis. Akibatnya,
teologi terpisah secara fundamental dari filsafat dan sains. Hubungan manusia
dengan Tuhan tidak lagi didasarkan pada fides quaerens intellectum, tapi
bergeser menjadi credo ut intelligam (aku memahami atas dasar kepercayaan),
yang dalam bentuk ekstremnya berisiko merosot menjadi fideisme, iman buta
yang menolak interogasi nalar. Dengan dipangkasnya
metafisika oleh Ockham, filsafat kehilangan wewenangnya untuk membedah
perkara-perkara teologis atau entitas adikodrati. Ontologi dibatasi menjadi
"ontologi minimum". Tugas utama filsafat
disempitkan menjadi analisis logika, klarifikasi hubungan antara nama
(terminus), konsep, dan entitas partikular. Ini lalu menjadi langkah awal
yang di abad ke-20 melahirkan gerakan Positivisme Logis Lingkaran Wina
(Wiener Kreis). Dua abad setelah Ockham
meletakkan fondasi nominalis di Oxford, Francis Bacon, seorang negarawan,
filosof, dan politisi ulung di era Ratu Elizabeth I dan Raja James I di
Inggris, mengambil langkah krusial untuk memutasikan pemikiran tersebut
menjadi sebuah proyek sosial-politik dan metodologis yang masif. Bacon melihat bahwa
metode pengetahuan skolastik Abad Pertengahan telah mengalami pembusukan
intelektual. Dalam metafora Bacon yang sangat terkenal, ia membagi pendekatan
pengetahuan ke dalam tiga tipe: Laba-laba (Pendekatan
Skolastik/Rasionalis). Laba-laba membangun sarang yang terlihat sangat indah,
kokoh, dan rumit, namun seluruh jaring tersebut ditenun dari cairan ludahnya
sendiri tanpa mengambil bahan dari luar. Demikian pula filsafat skolastik,
mereka membangun sistem teologis-filosofis yang sangat megah melalui
silogisme deduktif, namun tidak menghasilkan pengetahuan baru tentang alam
nyata. Ini adalah scientia demonstrativa, pengetahuan yang hanya pandai mendemonstrasikan
apa yang sudah ada dalam premis. Semut (Pendekatan Empirisis Naif). Semut
hanya mengumpulkan materi dari luar tanpa mengolahnya kembali. Lebah (Sains Operatif Modern). Lebah
mengumpulkan sari bunga dari berbagai jenis tumbuhan, lalu mengolah dan
mentransformasikannya menjadi madu yang manis dan berguna. Inilah model bagi
scientia operativa, sains yang tidak hanya mengobservasi, tetapi membedah,
mengolah, dan merestrukturisasi alam untuk menghasilkan karya nyata. Bacon merumuskan proyek
restorasi pengetahuan secara menyeluruh yang ia beri nama Instauratio Magna
(Restorasi Akbar Pengetahuan). Sampul depan bukunya secara simbolis
menggambarkan sebuah kapal yang melintasi Pillars of Hercules. Tentunya mungkin anda
sudah tahu, bahwa mitologi klasik yang secara faktual dikaitkan dengan Selat
Gibraltar, pilar-pilar ini bertuliskan Ne Plus Ultra (Tidak ada lagi di
luarnya), sebuah simbol batas akhir dari daya jelajah dan pengetahuan
manusia. Bacon melompati batasan
tersebut dengan semboyan Plus Ultra (Lebih jauh ke depan), sebagaimana para
penjelajah samudra seperti Vasco da Gama dan Christopher Columbus telah
membuktikan bahwa Selat Gibraltar dapat ditembus untuk menemukan dunia baru. Bagi saya ini merupakan
langkah paling cerdik dari Francis Bacon dimana ia menyusun legitimasi
keagamaan bagi proyek ilmiahnya. Bacon hidup di tengah
gelombang sektarianisme dan perang agama yang sangat kejam di Inggris
pasca-Reformasi, yang melibatkan faksi Katolik, Anglikan, dan
Puritanisme/Calvinisme. Pada masa itu,
mimbar-mimbar gereja kerap menyuarakan sikap skeptisisme terhadap ilmu
pengetahuan. Pengetahuan dicurigai sebagai racun dan patok bisa ular yang
menyebabkan kejatuhan manusia ke dalam dosa. Narasi keagamaan saat itu
menegaskan bahwa Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden justru karena mereka
tergiur memakan buah dari Pohon Pengetahuan. Bacon, sebagai seorang
Calvinis yang berpandangan tajam, melakukan re-interpretasi hermeneutis
terhadap antropologi teologis Kitab Kejadian untuk membalikkan stigmatisasi
tersebut. Ia berargumen bahwa
pengetahuan Adam di Eden sebelum kejatuhan merupakan pengetahuan yang
sempurna, yang mengompilasi secara utuh antara aksi dan kontemplasi. Buktinya, Tuhan
menugaskan Adam untuk memberi nama kepada seluruh hewan di Taman Eden. Proses
penamaan ini mensyaratkan kontemplasi mendalam terhadap hakikat dan ciri-ciri
hewan tersebut, diikuti oleh tindakan nyata (aksi) memberi nama. Dalam diri Adam, hubungan
antara kata (word) dan benda (object) berada dalam keselarasan yang sempurna.
Peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa merusak hubungan sempurna antara
kata dan benda tersebut. Benak manusia menjadi
sarat akan prasangka, ilusi, dan kesalahan kognitif yang oleh Bacon disebut
sebagai Idola (Idola Cermin, Idola Gua, Idola Pasar, dan Idola Teater). Lebih lanjut, ia
menegaskan bahwa teks Kitab Kejadian mengenai hukuman Tuhan kepada Adam,
"dengan berpeluh keningmu engkau akan mencari makananmu", bukanlah
sebatas kutukan, tapi sebuah janji dan mandates pemulihan. Kening merupakan tempat
bersemayamnya otak dan rasionalitas manusia. Dengan bekerja keras mengolah
alam lewat kerja otak dan eksperimentasi, manusia dapat memulihkan kembali
penguasaan terhadap alam fisis yang sempat hilang akibat kejatuhan Adam. Bila reformasi agama
memulihkan jiwa manusia secara eskatologis, maka Instauratio Magna, restorasi
sains, menjadi jalan keselamatan fisis untuk meliberalisasi manusia dari
kemiskinan, penderitaan, dan penyakit di dunia fisis ini. Metodologi yang
ditawarkan Bacon melampaui observasi pasif, yang biasanya hanya melihat
fenomena sebagaimana adanya, seperti melihat air mengalir dari tempat tinggi
ke tempat rendah. Akan tetapi sains empiris
mensyaratkan eksperimen, atau tindakan intervensi aktif, manipulasi, dan
penyiksaan terhadap alam (torturing nature) agar alam menyingkapkan
rahasia-rahasia terselubungnya yang tidak nampak dalam kondisi alamiah biasa. Air dibendung untuk
menghasilkan daya mekanis, bahan-bahan alamiah dimodifikasi melalui
reaksi-reaksi kimiawi. Sumbangan termasif Bacon bagi sains modern adalah
visinya tentang kelembagaan sains sosial-politik. Sains tidak boleh lagi
dikerjakan oleh individu-individu terisolasi di dalam laboratorium rahasia
mereka, sebagaimana para alkemis Abad Pertengahan. Sains mesti berubah
menjadi kerja kolaboratif, tersistematisasi, dan terorganisasi dalam sebuah
lembaga ilmiah terstruktur. Visi Baconian ini lalu
terwujud secara nyata pada tahun 1660 dengan didirikannya The Royal Society
of London for Improving Natural Knowledge. Lembaga ini menjadi pelopor bagi
institusionalisasi sains modern. Di sinilah lahir
mekanisme peer review, keterbukaan data, verifikasi silang, serta
perlindungan patronase independen terhadap kerja ilmiah. Luar biasanya, pada
masa awalan tersebut, tidak ada konflik antara sains dan agama. The Royal Society
didirikan justru dengan semangat mengembangkan sains untuk menyingkapkan
keagungan Pencipta melalui pembacaan atas The Book of Nature di samping The
Book of Scripture. Restorasi sains menemukan
klimaks kejayaannya melalui sintesis mekanika Sir Isaac Newton. Ia
menggabungkan secara genial dua tradisi epistemologi yang tadinya terpisah,
diantaramya empirisisme eksperimental ala Bacon dari Inggris dan rasionalisme
matematis-deduktif dari Benua Eropa (Descartes, Leibniz). Newton menetapkan metode
filsafat eksperimental, ia berangkat dari observasi fakta-fakta gejala fisis,
merumuskan persamaan matematis universal (seperti Hukum Gravitasi Universal
dan Hukum Gerak), dan lalu menguji kembali deduksi matematis tersebut melalui
eksperimen empiris. Ketika Newton menyatakan
Hypotheses non fingo (Saya tidak merekayasa hipotesis spekulatif), ia
menegaskan bahwa sains hanya berurusan dengan fenomena yang terukur dan
korelasi matematisnya, tidak dengan spekulasi metafisis tentang esensi
tersembunyi di balik materi. Akan tetapi, keberhasilan
mekanika Newtonian dalam mengeksplanasikan gerak planet dan bumi secara
teratur membawa konsekuensi teologis baru. Tuhan yang tadinya dipahami aktif
menyelenggarakan alam semesta, perlahan-lahan terdorong menjadi Pencipta
pasif. Ini melahirkan paham
Deisme, pandangan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta bagaikan seorang
pembuat jam (clockmaker) yang sangat handal, memutarnya sekali, lalu
membiarkannya berjalan sendiri secara mekanis menurut hukum-hukum fisika
tanpa perlu intervensi ilahi lagi. Memasuki abad ke-19,
ketidaknyamanan para ilmuwan terhadap percampuran aduk antara dalil-dalil
teologis dan eksperimen fisis memuncak. Thomas Henry Huxley dan para ilmuwan
Victorian memformalkan apa yang disebut sebagai Naturalisme Metodologis. Aturan permainan sains
ditetapkan secara tegas, dalam mengejawantahkan fenomena alam, sains hanya
boleh mengacu pada entitas, proses, dan hukum-hukum alamiah fisis. Asumsi
adikodrati, intervensi ilahi, atau penjelasan teologis tidak boleh diinfuskan
ke dalam persamaan ilmiah. Perlu saya tegaskan bahwa
naturalisme metodologis merupakan procedural rule, bukan klaim ontologis
bahwa entitas spiritual pasti tidak ada. Namun, radikalisasi terhadap
naturalisme metodologis ini terjadi pada awal abad ke-20 melalui gerakan
Positivisme Logis yang diusung oleh Lingkaran Wina (Wiener Kreis). Terpengaruh oleh telaah
terbatas atas karya Ludwig Wittgenstein (Tractatus Logico-Philosophicus),
para filsuf positivis seperti Moritz Schlick, Rudolf Carnap, dan A.J. Ayer
mengumandangkan perang total terhadap metafisika, teologi, dan etika
kognitif. Positivisme Logis
menetapkan Prinsip Verifiabilitas sebagai kriteria tunggal bagi makna sebuah
pernyataan hanya dianggap bermakna bila ia merupakan tautologi analitis
(seperti dalam matematika dan logika formal) atau dapat diverifikasi secara
empiris lewat pengalaman indrawi. Pernyataan-pernyataan
teologis (seperti "Tuhan itu Maha Kasih") atau pernyataan metafisis
(seperti "Ada Being di balik fenomena") dinyatakan secara radikal
sebagai pernyataan yang nonsense, nir-makna atau tidak memiliki arti kognitif
sama sekali. Tugas filsafat
disempitkan secara ekstrem menjadi the logic of science, sekadar analisis
logis terhadap bahasa sains. Akan tetapi, Positivisme Logis segera mengalami
kebangkrutan internal. Prinsip verifiabilitas
itu sendiri tidak dapat diverifikasi secara empiris, sehingga secara logis
gugur oleh kriterianya sendiri. Selain itu, trajektori historis sains
membuktikan bahwa sains tidak pernah beroperasi secara murni bersih dari
asumsi metafisis. Asumsi-asumsi seperti
kesetaraan hukum alam di seluruh ruang-waktu (uniformity of nature),
keterpahaman alam semesta (intelligibility of the universe), dan prinsip
kausalitas, menjadi asumsi-asumsi metafisis tak terbuktikan yang bertindak
sebagai perancah (scaffolding) utama yang memungkinkan sains itu berdiri.
Pada dekade 1980-an, Metafisika Ilmu lahir
kembali, tidak untuk menghidupkan kembali spekulasi skolastik, tapi mengenali
dan membedah postulat-postulat metafisis yang melandasi setiap teori ilmiah
modern. Perkembangan pasca-Perang
Dunia II membawa perubahan dramatis dalam Filsafat Ilmu. Keterlibatan ilmuwan
secara masif dalam proyek-proyek militer (seperti Proyek Manhattan yang menciptakan
bom atom) membongkar Mitos sains sebagai pencarian kebenaran murni yang
netral nilai. Thomas Kuhn, melalui
karyanya The Structure of Scientific Revolutions (1962), memperlihatkan bahwa
perkembangan sains tidak berjalan secara linear-kumulatif, namun lewat
berbagai lompatan pergeseran paradigma yang dipengaruhi secara kuat oleh
faktor-faktor sosiologis, psikologis, dan historis. Filsafat ilmu kontemporer
menyadari dua dimensi terpadu di dalam sains, diantaranya Dimensi
Konstitutif, dimana struktur internal sains itu sendiri meliputi
epistemologi, logika inferensi, metodologi eksperimental, dan kriteria
validasi empiris. Serta Dimensi
Kontekstual, bercakap tentang lingkungan luar sains yang meliputi kepentingan
politik, pendanaan industri, etika, institusi militer, dan ideologi kultural
yang secara aktif membingkai arah riset dan penerimaan sebuah teori ilmiah. Yang membuat saya menjadi
lebih terpukau adalah di era kontemporer, akselerasi neuroscience melahirkan
cabang baru yang disebut neurophilosophy. Bidang ini menginterogasi
kembali berbagai kuriositas klasik filsafat mengenai kesadaran, kehendak
bebas, bahkan hakikat pikiran melalui pemetaan aktivitas kognitif otak.
Apakah pikiran hanyalah manifestasi material dari reaksi kimiawi dan impuls
listrik di otak? Pertanyaan ini menunjukan
bagaimana sains fisis terus mendesak batas-batas teritori ontologis yang
dulunya dikuasai secara eksklusif oleh filsafat dan teologi. Perlu saya ejawantahkan
juga disini bahwa acap kali saya diperhadapkan pada stagnasi pikiran untuk
menjawab apakah kapasitas manusia untuk berpikir, mengenali dirinya, dan
memahami realitas merupakan bentuk pengejawantahan dari hakikat Tuhan sebagai
Pencipta, sebagaimana manusia menciptakan robot yang diinfusi dengan ide-ide
manusia untuk membantu aktivitasnya. Namun saya bersua pada
konklusi bahwa kita mesti memberikan batas-batas teologis dan antropologis
yang tegas. Dalam tradisi Abrahamik ataupun pemikiran tradisional, manusia
dipahami sebagai Imago Dei, citra Tuhan, bukan pengejawantahan langsung
(incarnation/emanation) dari hakikat substansial Tuhan ke dalam alam
material. Perlu diingat bahwa ada
keberjarakan ontologis yang radikal antara Pencipta (Creator) dan ciptaan
(creation). Citra ini menandakan adanya kapasitas spiritual, kebebasan moral,
dan rasionalitas di dalam diri manusia. Banyak juga narasi
kebudayaan nusantara yang merefleksikan kesadaran intuitif bahwa yang ilahi
menopang kehidupannya melalui alam fisis. Tapi ingin saya ingatkan secara
rigoris bahwa klaim-klaim teologis ini berada di luar jangkauan metodologis
sains empiris, karena sains tidak memiliki alat ukur untuk memverifikasi atau
memfalsifikasi eksistensi Imago Dei atau roh. Dalam perbincangan saya
dengan seorang kolega dialektika yang mempercakapkan Apakah ilmu pengetahuan
akan mengalami evolusi nama setelah tahap 'sains', sebagaimana manusia
berevolusi dari hominid ke Homo sapiens? Apakah doktrin Potensia Dei Absoluta
et Ordinata merupakan anak kandung dari panteisme Hegel? Dan Bagaimana metode
sains menguji konsep teologis causa sui (penyebab yang menyebabkan dirinya
sendiri)? Saya menjawabkan dengan
membuka kembali memori kognisis saya terhadap evolusi pengetahuan, yang mana
menegaskan bahwa metode ilmiah sebetulnya telah dilacak sejak Yunani Kuno. Aristoteles telah
membedakan secara cermat antara episteme (pengetahuan sistematis) dan techne
(seni/rekayasa produk/poiesis), serta memetakan metode-metode yang berbeda
untuk objek alam fisis dan entitas hidup. Sains modern mengalami evolusi
bukan pada penggantian namanya, tapi pada penajaman metodologinya yang
semakin spesifik, eksperimental, dan berbasis instrumen. Mengenai Potensia Dei
Absoluta et Ordinata, sata ingin menolak keras penyamaannya dengan panteisme
Hegel. Teolog skolastik Abad Pertengahan merupaoan personalis-transenden,
mereka mempertahankan pemisahan ontologis yang tegas antara Pencipta dan
dunia material. Gagasan mereka adalah
tentang penataan kehendak ilahi (divine order), bukan peleburan Tuhan ke
dalam proses sejarah material sebagaimana dalam panteisme atau idealisme
mutlak Hegel. Terkait pengujian causa sui (Penggerak Utama yang Tidak
Digerakkan), sains punya batas metodologis yang tak terlintasi. Sains hanya dapat melacak
silsilah kausalitas fisik ke belakang hingga ke titik Big Bang atau kondisi
vakum kuantum, tingkat energi paling rendah yang melahirkan fluktuasi
ruang-waktu. Sehingga bila kuriositasnya bergeser menjadi "Apa yang
menyebabkan vakum kuantum itu ada?", sains secara otomatis terbentur
pada tembok metafisika. Sains tidak dapat menembus pertanyaan tentang
Penyebab Utama tanpa bertransformasi menjadi spekulasi filosofis. Saya merasa akan jauh
lebih nyaman bila ilmu dan filsafat ilmu meminggirkan dulu dalil-dalil agama
dan teologi dalam konteks pemisahan batas metodologis. Bahaya terbesar yang
kerap terjadi dalam wacana publik di Indonesia adalah kecenderungan gampangan
untuk "mencocok-cocokkan" (pseudointegrasi) antara penemuan sains
terkini dengan ayat-ayat kitab suci. Praktik mencocok-cocokkan ini sangat
berbahaya secara epistemik. Dikala sains menemukan
teori Big Bang, para apologis agama terburu-buru mengklaim bahwa kitab suci
telah memprediksi teori tersebut. Akan tetapi, kebenaran ilmiah bersifat
tentatif. Bila nantinya di masa
depan teori Big Bang direvisi atau digantikan oleh model kosmologi kuantum
abadi (seperti loop quantum gravity atau string theory multiverse), maka
legitimasi keagamaan yang ditempelkan pada teori lama tersebut akan ikut
hancur. Agama tidak boleh
dijadikan stempel konfirmasi bagi teori ilmiah yang sedang populis. Saya juga
tak akan letih dalam menyoroti kekacauan praksis di masyarakat di mana
kategori-kategori sosiologis lama (seperti kategorisasi Clifford Geertz
tentang santri, priyayi, abangan) tetap dipakai secara kaku padahal realitas
sosial telah berubah secara kompleks. Pentingnya pendekatan
Transdisiplin, yang berbeda dari multidisiplin (beberapa ilmu melihat satu
masalah dari sudut pandang masing-masing) dan interdisiplin (beberapa ilmu
menggabungkan metode untuk satu masalah), transdisiplin menembus sekat-sekat
akademis dengan melibatkan para pemangku kepentingan riil (stakeholders),
masyarakat lokal, ilmuwan, filsuf, dan teolog secara bersama-sama. Transdisiplin mengakui
eksistensi epistemologi tradisional. Sungguh sebuah kekeliruan rasionalis
bila kita menganggap bangsa Indonesia di masa lalu tidak memiliki
epistemologi ilmiah hanya karena tidak membukukannya dalam format Western. Dalam analogi saya
sebelumnya tentang pembangunan Borobudur yang presisi secara arsitektural
atau pembuatan kapal Pinisi yang tangguh mengarungi samudra mensyaratkan
epistemologi hubungan subjek-objek yang jarak, observasi material atas
karakteristik kayu dan beban fisis, bahkan kalkulasi matematika yang
sistematis. Keberjarakan rasional ini
mendahului ritual spiritual yang dilakukan pada tahap praksis. Hawking, dalam
bukunya The Grand Design, mengklaim bahwa karena adanya hukum seperti
gravitasi, alam semesta dapat dan telah menciptakan dirinya sendiri dari
ketiadaan (spontaneous creation). Sehingga manusia tidak
perlu lagi melibatkan Tuhan untuk mengekpalansikan awal mula alam semesta.
Hawking bahkan mendeklarasikan bahwa "filsafat telah mati". Saya melihat adanya leap
of faith serta reduksionisme yang frustratif dalam konklusi Hawking tersebut.
Hawking mengabaikan bahwa ketika ia menyatakan gravitasi ada dan beroperasi
menciptakan alam semesta, ia telah mengandaikan keberadaan hukum fisika dan
materi dasar, sebuah ketiadaan yang tidak murni nothingness. Ketika Hawking menyatakan
filsafat telah mati, ia justru sedang berfilsafat secara amatir dan
tergelincir ke dalam dogmatisme ilmiah. Sains modern, terlepas dari
kehebatannya, baru menyingkap sekitar 4,7% dari keseluruhan entitas alam
semesta. Sebesar 95,3% sisanya terdiri atas Dark Matter (materi gelap) dan
Dark Energy (energi gelap) yang hingga hari ini belum diketahui hakikat
fisisnya secara pasti. Bahkan, penemuan-penemuan
indikatif terbaru terus mengisyaratkan posibilitas adanya gaya dasar kelima
di luar empat gaya fundamental yang kita kenal. Frustrasi kosmologis para
ilmuwan ateis agresif seperti Hawking atau Richard Dawkins kerap kali berakar
pada kegagalan mereka untuk melakukan demarkasi antara batas metodologis dan
konklusi ontologis. Dikala seorang ilmuwan
menyadari batas-batas radikal sains, respon yang sejati bukanlah kesombongan
positivistik, tali kerendahan hati intelektual (intellectual humility) dan
kedermawanan intelektual (intellectual generosity). Kerendahan hati
intelektual menyadari limitasi horison kognitif diri dan metode yang dipakai,
sementara kedermawanan intelektual mendorong ilmuwan untuk membagikan
kebenaran yang diperoleh bagi kesejahteraan kemanusiaan tanpa keangkuhan
dogmatis. ● Sumber : https://kumparan.com/elkata-a-b-atua/act-iii-eksplikatio-filsafat-ilmu-28D5sJkcmfN/full
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar